34. Sudah kukatakan, minyak dan air tidak bisa bersatu
”Kim,” ucap Will terbata, air mukanya sudah pucat. Reaksi Will seakan tengah kepergok sedang selingkuh. Sementara Kimberley wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang hendak meledak. Kimberley sengaja datang ke rumah Will karena rasa penasarannya terhadap Hanna. Sebab, sejak ia meninggalkan Will di kafe tadi, pikiran dan hati Kimberley tidak tenang. Walaupun ia bersikap penuh tekad, namun hatinya berharap Will memanggilnya saat itu. Tadinya Kimberley akan mencoba untuk mengerti kondisi Will dan memberinya kesempatan. Namun, apa yang ia lihat tadi sangat mengguncang hatinya. Ia tidak pernah mengira Will akan berbuat hal senonoh seperti tadi. Kimberley berbalik dan meninggalkan Will dan Hanna dengan perasaan yang tak karuan. Will segera bangkit dan mengejar Kimberley dengan selimut yang menutupi bagian bawahnya. ”Kim, mengapa kau datang kemari?” Will menarik lengan Kimberley. Kimberley menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya sambil berkata, ”kau lebih peduli pada alasan aku datang kemari, hah? Kau tidak tahu betapa marahnya aku melihat kau dan dia melakukan; ah lupakan. Tadinya aku berpikir bisa memberikanmu kesempatan” suara Kimberley tersendat kemudian ia melepaskan cengkraman Will dari tangan ”Itu tidak seperti yang kau kira. Itu hanya—,” ”Hanya apa Will? Kau menikmatinya, bukan? Cih! Kau sangat naif!” tukas Kimberley, lalu menurunkan pandangannya ke selimut yang melilit di pinggang Will. Dalam sekejap Kimberley melayangkan tangannya dan mendarat di pipi kiri Will. Bekas merah berbentuk tangan tergambar di wajah Will. Will hanya diam menyentuh pipinya yang sakit. Ia tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Kimberley menatap sinis Will sesaat sebelum ia menuruni anak tangga. Kimberley pergi dengan hati yang hancur sedangkan Will terpaku menatap punggung Kimberley yang semakin menjauh. Dan Hanna menonton pertengkaran mereka di ambang pintu. Entah mengapa Hanna menjadi merasa bersalah terhadap Kimberley. Jika ia mencintai gadis itu katakan saja, apa susahnya. Hanna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar hubungan yang rumit, ah tidak, lebih tepatnya menyedihkan. ”Kau baik-baik saja?” Will tidak menyahut Hanna, ia pergi begitu saja melewati Hanna saat akan kembali masuk ke dalam kamar. Kemudian Hanna berbalik dan menghampiri Will yang terduduk di tepi ranjang. ”Kau tidak mengejarnya? Maksudku kau harus menjelaskan kepadanya. Dia ingin kau mencegahnya, aku seorang wanita jadi aku memahami itu.” ”Bisakah kau diam! Kepalaku seakan mau meledak. Aku tidak ingin melihatmu, enyahlah dari pandanganku!” Hanna membelalakkan matanya. Ia tidak percaya Will mengatakan itu setelah berhubungan dengannya. Dasar pria brengsek. Kurang ajar. ”Kau adalah pria terburuk dari yang terburuk. Mulutmu seperti pisau. Aku benci dengan tipe pria sepertimu. Entah apa hebatnya dirimu. Aih, kasihan sekali dengan gadis itu harus jatuh cinta dengan pria bajingan ini.” Rahang Will mengeras, guratan-guratan nadinya bahkan terlihat jelas dari balik kulit putihnya. Lalu Will berteriak frustrasi sambil melemparkan bantal ke arah Hanna. ”Sudah kukatakan enyahlah dari pandanganku! Gara-gara kau, aku jadi begini.” Hanna mendekati Will kemudian menampar wajah Will dengan keras. ”Kau yang mengejar aku. Kau yang memintaku untuk membantumu. Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku, Will aku muak denganmu. Baiklah, aku akan pergi dan sorry aku tidak mau melihatmu lagi. Ini sudah berakhir,” Hanna segera memakai pakaiannya dengan raut wajah yang kesal. Will menatap Hanna dengan tajam, bahkan ia tidak berniat mencegah Hanna pergi. Baginya Hanna lah penyebab semuanya. Ck! Ck! Dasar pria bajingan. ”Ah, kau jangan mengusik hidupku lagi. Aku tidak peduli dengan semua urusanmu bahkan phobia-mu itu. Biar saja kau menderita seperti itu selamanya,” Hanna melangkah keluar kamar sambil menenteng kopernya. ”Pergi saja! Jangan pernah kembali!” Saat ini tekanan darah Hanna naik sampai membuat jantungnya berdegup kencang karena amarah yang menggunung. Ia tak habis pikir dengan sikap Will yang berubah-ubah, menumpahkan semua kesalahan pada dirinya. Padahal Will yang memulainya. Nyonya Mery sedang bercengkrama dengan para tetangganya. Saat ia melihat Hanna datang membawa koper, ia terlonjak kaget. Nyonya Mery panik melihat putrinya itu tiba-tiba pulang padahal baru dua hari ia menjadi Nyonya Greyson. ”Hanna, mengapa kau datang ke sini? Mana suamimu?” tanya Nyonya Mery diikuti anggukan dari ibu-ibu tetangga. ”Ibu, aku dan dia sudah—” ”Ah, kau pasti lelah. Kita bicara di dalam saja, ya.” Nyonya Mery segera menarik Hanna masuk dan tersenyum kepada para tetangga sesaat sebelum menutup pintu. ”Ada apa? Mengapa kau membawa barang-barangmu? Apa kalian bertengkar?” selidik Nyonya Mery. ”Aku tidak menyukai pria angkuh itu. Tinggal serumah dengannya bisa membuat aku gila. Lebih nyaman di sini dan tentu saja tidak ada si brengsek Will.” ”Dia sudah menjadi suamimu sekarang. Bertengkar adalah hal yang wajar bagi pasangan pengantin. Kembalilah ke sana,” Nyonya Mery mendorong Hanna ke pintu. Hanna menahan berat tubuhnya agar tetap pada tempatnya. Menggoyang-goyangkan badannya agar ibunya tidak mendorongnya lagi. ”Ibu aku tidak mau. Aku putri ibu jangan mengusirku, Bu. Aku tidak mau kembali lagi ke rumah itu, Bu.” Plak! Sebuah ketukan mendarat di kening Hanna. ”Tidak boleh. Kau harus pulang. Jika kau berada di sini bagaimana aku bisa punya cucu. Lagipula tidak baik seorang istri pergi dari rumah suaminya.” Tarik-ulur di antara ibu dan anak itu pun terjadi. Nyonya Mery mendorong tubuh Hanna dengan kuat sedangkan Hanna menahan tubuhnya dengan berpegangan di gagang pintu. Pada akhirnya Nyonya Mery berhasil membuat Hanna berada di luar. Segera Nyonya Mery mengunci pintu agar Hanna tidak masuk lagi. ”Ibu, buka pintunya. Biarkan aku masuk, Bu. Aku akan menjadi anak yang baik selama di sini dan menurut dengan ibu. Kumohon izinkan aku masuk.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan kak aku suka
16/09/2025
0ceritanya sangat menarik
13/09/2025
0sangat seru
12/09/2025
0Lihat Semua