Will Greyson tak berkutik. Dia memang mencintai gadis itu, namun untuk menyatakan perasaannya itu tidak mungkin. Membayangkannya saja Will sudah mual. Ia masih takut mengalami hal buruk seperti yang ibunya lakukan dulu. Lalu Will tersenyum tipis dan menyahut dengan datar kepada Kimberley. Will berbicara dengan pikirannya sendiri, meyakinkan dirinya bahwa Kimberley akan mengerti keadaannya. ”Kim, kau adalah orang yang istimewa di hatiku. Apakah itu tidak cukup untukmu?” Kimberley tidak puas dengan jawaban Will. Ia merasa Will sedang mengolok-olok dirinya. Dengan nada kesal Kimberley menyahut Will. ”Apa maksudmu? Kau berharap dengan mengatakan itu, aku akan bahagia? Will, kau tahu jelas bukan itu yang aku inginkan. Apakah sulit mengatakannya?” Jika saja Will menyatakan perasaannya kepada Kimberley, ia bisa saja membatalkan pertunangan itu. Namun, Will malah membuatnya semakin murka. ”Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu. Lalu apa lagi yang kau harapkan?” ”Baiklah. Aku akan menikah dengan pria itu. Itu sudah cukup adil, bukan? Kau memintaku untuk menunggumu, tetapi aku sendiri tidak tahu siapa aku di hatimu? Aku tidak tahu apakah kau mencintaiku atau tidak. Kini aku tidak peduli lagi. Jika sudah selesai, aku ingin segera pulang, mengurus semua keperluan untuk acara pertunangan itu.” Will Greyson menyeruput kopinya dan kemudian melepaskan kembali cangkirnya ke atas meja. Ia masih bersikap tenang dan tatapan matanya sedikitpun tidak bergetar. Walau hatinya ingin menjerit, Will tetap mempertahankan tekadnya. ”Terserah kau saja. Jika kau sudah memilih, untuk apa juga aku menahanmu. Asal itu membuatmu bahagia, lakukan saja” sahut Will dengan datar dan tenang. Selama ini, Will selalu memenuhi keinginan Kimberley. Walaupun gadis itu sangat tempramen, Will sekalipun tidak pernah marah dengannya. Namun, untuk pertama kalinya Will Greyson berkata tegas kepadanya. Ucapan Will seakan menusuk hatinya. Padahal tadinya Kimberley hanya ingin menggertak saja, tetapi berakhir seperti ini. Kimberley masih mengingat jelas saat mereka masih kanak-kanak dulu, Will anak yang pendiam. Hanya berdiri di mana Kimberley berada. Selalu mengikuti Kimberley kemanapun ia pergi, seperti anak ayam yang membuntuti induknya. ”Baiklah, jika itu maumu. Aku pergi,” Kimberley bangkit dari duduknya dan menatap tajam Will Greyson yang sama sekali tidak memandangnya. Will menatap sosok Kimberley yang meninggalkannya sendiri. Wanita itu kini telah pergi dari hadapannya. Tak pernah Will membayangkan hal seperti ini terjadi dalam hidupnya. Sesaat yang lalu ia berharap Kimberley akan mengerti keadaan Will, namun Kimberley adalah wanita yang memiliki tekad yang kuat. Jika ia sudah mengatakannya, ia tidak pernah mundur. Saat ini Hanna sedang berkeliling rumah Will. Siaran Tv tadi tak satupun yang berhasil menyita perhatiannya. Hanna penasaran dengan setiap sudut rumah besar berlantai dua itu. Terkadang ia berseru karena takjub dengan semua barang yang dimiliki Will, tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah ruangan yang terkunci di sayap kiri bangunan. Hanna menebak-nebak apa yang disembunyikan Will di dalam sana. Sudah lima menit Hanna berdiri di depan kamar rahasia itu, namun ia tak juga bisa membuka pintunya. Hanna menyerah. Kini ia hanya perlu pergi ke kamar dan membersihkan tubuhnya. Hanna menaiki anak tangga dan berjalan ke lantai atas. Ia mencari kamar Will. Setelah menemukannya, Hanna bergegas masuk ke dalam. Kamar Will sangat besar dan juga nyaman. Pemandangan dari luar tampak jelas dengan jendela kaca besar yang langsung menghadap balkon. Hanna tersenyum lebar. Tak pernah ia bayangkan akan tinggal di rumah mewah, rasanya seperti mimpi saja. ”Ini nyata. Wah, tempat tidurnya empuk sekali. Aku belum pernah tidur di kasur senyaman ini.” Hanna merebahkan tubuhnya di atas kasur dan berguling-guling di sana. Puas merasakan empuknya tempat tidur, Hanna beranjak ke kamar mandi yang berada di sudut ruangan bersebelahan dengan walk in closet. ”Wah, ini lebih besar dari rumah kami. Hanya untuk tempat mandi saja harus semewah ini. Oh, oh, ini bagus sekali,” Hanna setengah berlari menghampiri jacuzzi bundar yang ada di tengah, kemudian ia berkata, ”sepertinya asik berendam di dalam sini. Mumpung si brengsek itu pergi, aku mandi saja di sini.” Hanna melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam jacuzzi. Ia terlihat gembira. Sesekali ia memercikkan air yang berbusa itu ke udara. Beberapa menit kemudian suara berisik dari pintu yang di banting mengalihkan perhatian Hanna. Ia bergegas menyelesaikan kegiatan mandi busanya. Namun, belum sempat Hanna memakai handuknya, Will tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi. Hanna berteriak kaget sedangkan Will tersenyum licik. Entah apa yang dalam pikiran Will saat ini.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan kak aku suka
16/09/2025
0ceritanya sangat menarik
13/09/2025
0sangat seru
12/09/2025
0Lihat Semua