Beranda/ANAKKU MENJADI SAKSI MATA PERSELINGKUHAN SUAMIKU/
Bab 4
ANAKKU MENJADI SAKSI MATA PERSELINGKUHAN SUAMIKU (S2)
BAB 4
.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanyaku dengan suara yang lirih.
Oh ... hati, ada apa denganmu? Kenapa kamu selalu saja berdesir seperti ini tiap kali ada lelaki yang mendekat.
"Aku di sini? Tentu saja untuk menemui mu gadis pujaan ku," ujar Hendra dengan senyum mengembang.
"Aku serius, apa sekarang kamu sudah berubah menjadi ketua preman?" tanyaku dengan senyum tipis.
"Tidak berlaku jika ada kamu, aku akan menjadi pangeran berkuda putih yang selalu setia menjaga dan menemanimu ke manapun engkau mau!" kata Hendra membuatku geli.
Bahkan beberapa preman lain yang berada di sini, menatap Hendra dengan tatapan bingung. Mereka sepertinya malu, saat mengetahui tiba-tiba bosnya menjadi seperti remaja yang sedang di mabuk cinta.
"Hendra, hentikan semua bualan itu. Saat ini aku tak main-main. Ada hubungan apa kamu dengan suamiku? Oh ... maksudku Mas Frengky," ralatku dengan segera.
Wajah Hendra berubah menjadi sendu, dia menatapku teduh.
"Jadi, Frengky lah suamimu? Aku memang sudah tahu kamu menikah, tapi aku tak tahu jika Frengky adalah suamimu. Semenjak aku kehilangan istri dan anakku, aku jadi sadar, bahwa kamu hanyalah kenangan masa lalu yang tak seharusnya aku gapai lagi. Tapi, aku terlambat menyadari, aku terlalu egois dan ambisi memilikimu. Hingga saat itu, aku berhenti mencari tahu tentangmu, berusaha menutup rapat semua masa lalu bersamamu. Tapi sekarang ... melihatmu kembali membuat hasrat untuk kembali memiliki terasa hidup kembali." Hendra menatapku dalam, membuatku terpana.
"Hendra, aku mohon. Jangan lagi engkau bahas masa lalu, aku hanya ingin tahu, kenapa kamu menyuruh preman-preman ini untuk menghancurkan Restoranku?" tanyaku dengan gamang.
"Aku tak ada niat menghancurkan, apalagi jika tahu Restoran ini ternyata juga milikmu. Nayla ... maafkan aku, ya. Suamimu lah yang terlibat hutang piutang dengan Papaku. Semenjak Papa dan Mama bercerai puluhan tahun yang lalu, aku menjadi berandalan dan hidup sebagai gelandangan dari kota satu ke kota yang lain. Hingga beberapa bulan yang lalu, Papa berhasil menemukanku lalu mengajakku tinggal bersamanya. Dan Papa menyuruhku membantu sedikit pekerjaannya. Salah satunya, ya, ini, menghadapi nasabah atau klien yang mengingkari kesepakatan. Jadi, aku sama sekali tak tahu jika salah satu nasabah Papa adalah suamimu. Di mana suamimu, Nayla? Kenapa dia tega membiarkanmu mengahadapi masalah ini sendiri? Bagaimana jika preman itu bukan aku? Kamu akan terluka, Nay!" kata Hendra tampak cemas.
"Suamiku dipenjara, aku sudah bercerai dengannya. Aduh, Hendra ... kenapa kamu selalu membuat masalah di dalam kehidupanku?" ujarku seraya meremas rambutku.
"Aku? Kenapa bisa aku? Aku tak mengerti apa yang kamu maksud, Nay? Coba jelaskan!" pinta Hendra dengan suara meninggi.
Aku menggeleng, rasanya ini bukan waktu yang pas untuk menjelaskan semuanya. Aku harus fokus terlebih dahulu untuk kesembuhan Cahaya.
"Nggak, lupakan saja. Aku tak ingin terlibat apa pun lagi denganmu. Aku mohon, pergilah. Pergi dari kehidupanku, aku tak ada urusan apa pun denganmu. Jika kamu ingin menagih perihal uang dan kesepakatan itu, temui Mas Frengky sendiri. Jangan libatkan aku, tolong. Aku mohon," ucapku sedikit memelas, berharap Hendra mau mengerti.
"Baiklah, aku mengerti. Demi kebahagiaanmu, aku rela menuruti semua permintaanmu, Nay. Ini kartu namaku, kamu boleh menghubungiku kapan pun kamu butuh dan mau. Siapa tahu nantinya kamu akan membutuhkan bantuanku. Terima, Nay. Aku tidak akan mengganggu mu lagi, maafkan aku, ya, Nay." Hendra menyerahkan secarik kartu nama di depanku.
"Iya, terima kasih sudah mengerti," sahutku sembari menerima kartu dari Hendra dan memasukkannya ke dalam saku gamis ku.
"Oke, aku permisi, Nay. Biar ini semua aku yang akan mengganti, Nay. Aku akan menyuruh anak buahku untuk membersihkan dan merapikan semua ini seperti sedia kala. Jangan bersedih, Nay!" kata Hendra menatapku iba.
Aku tersenyum tipis, berharap dia tahu bahwa aku baik-baik saja dan dia tak perlu lagi mengkhawatirkan kondisiku.
"Loh, bos, ini gimana? Aduh, kok jadi begini, sih?" protes preman yang tadi sempat mengancam ku.
"Udah, kamu bereskan ini semua. Rapikan seperti semula, dan ganti kerusakan barang yang sudah dihancurkan. Gerak cepat, patuhi perintahku sekarang!" ujar Hendra kepada preman tersebut.
Dengan langkah gontai, Hendra meninggalkanku. Dia benar-benar sudah pergi dan tak menoleh sedikitpun padaku.
Ya sudahlah ... mungkin benar ini memang yang terbaik. Karena semua yang berhubungan dengan Hendra kurasa membuatku apes dan hidup jadi tidak tenang.
Gilang hanya tersenyum penuh arti menatapku. Apa maksud dari senyumannya itu?
"Ngapain kamu senyum-senyum gitu?" tegurku pada Gilang.
"Jadi ceritanya cinta lama bersemi kembali, nih?" tanya Gilang seraya menggodaku.
"Apaan sih, iseng banget!" sahutku pura-pura ketus.
"Alah, tapi suka kan?" Gilang masih saja terus menggodaku, membuatku semakin salah tingkah.
"Sumpah, ya, Mbak. Wajah tuh bos preman serem banget, garang gitu, jujur aja tadi nyaliku sempat ciut. Apalagi lihat badannya yang gede, kekar gitu. Wih, pokoknya gagah, deh. Eh tapi ...," kata Gilang menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?" tanyaku penasaran.
"Waktu dia menggoda Mbak dan merayu dengan kata-kata yang aduhai. Rasanya aku ingin sekali tertawa ngakak, deh, Mbak! Masa tampang sama kelakuan bisa kontras banget gitu kalau udah berhadapan sama kamu, Mbak. Asli, dari tadi tuh aku nahan tawa tahu nggak, Mbak! Lucu banget ekspresinya. Ternyata hatinya bisa selembut Hello Kitty, ya. Pantes anak buahnya terheran-heran melihat si bos tiba-tiba melempem tak berdaya bertekuk lutut di depan Mbak Nayla. Jos deh, Mbak, kamu!" kata Gilang sembari terpingkal.
Sialan, bocil ini rupanya senang sekali menggodaku. Awas aja, ya!
"Nggak usah ngeledekin. Kamu sendiri bagaimana kelanjutannya sama Carissa?" tanyaku membalas gurauannya.
"Ya gitu, deh. Carissa itu wanita yang tangguh, dia begitu tegar dan mempesona," kata Gilang terdengar kagum.
"Ciye ... ciye, kenapa nggak langsung ditembak aja, sih? Aku dukung seratus persen!" ujarku bersemangat.
"Mati, dong, anak orang. Aneh-aneh aja kamu, Mbak!" cengir Gilang tampak salah tingkah.
"Lagakmu, sok iye. Udah buruan, sebelum keduluan sama pengacara muda, loh," candaku menggoda Gilang, aku ingin tahu reaksinya akan seperti apa.
"Serius, Mbak? Waduh," kata Gilang seraya menepuk dahinya.
"Makanya, gas dong. Buruan nyatakan kalau emang kamu sayang sama Carissa. Aku tahu kok kamu suka padanya, aku yakin Carissa juga mempunyai rasa yang sama denganmu!" ujarku memberi semangat.
"Nanti, deh, Mbak. Aku belum siap, aku juga perlu berpikir dulu untuk ke depannya. Rasanya kok terlalu cepat, aku nggak mau terburu-buru, Mbak. Nanti kalau waktunya tiba, pasti aku akan menyatakan perasaanku. Lagian timing nya juga belum tepat, nggak memungkinkan. Masih banyak urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan." Gilang terlihat menerawang, seakan memikirkan sesuatu.
"Oh, ya. Kamu ada acara nggak hari ini?" tanyaku pada Gilang.
"Kenapa?" Gilang balas bertanya.
"Aku mau minta tolong, antarkan aku ke kantor polisi, ya. Aku mau mengabari Mas Frengky perihal kondisi Cahaya. Aku pengen dia tahu, jika anaknya dalam situasi di antara hidup dan mati. Aku ingin tahu, bagaimana reaksi Mas Frengky nanti, apakah dia akan menyesal?" Tatapanku lurus ke arah depan, pikiranku menerawang.
"Kenapa nggak minta antar Abang Hendra saja?" tanya Gilang sembari memainkan mata menggodaku.
"Nggak usah mulai, ya. Sekali lagi kamu menggodaku dengan Hendra, akan aku pastikan Carissa tak akan menerima mu," balasku sembari tersenyum licik.
"Ya, jangan gitu, dong, Mbak! Nggak asyik ah. Ya udah ayo aku anterin, tapi aku tunggu di parkiran saja, ya? Males berurusan dengan pribadi orang," kata Gilang terpaksa.
"Oke, deh. Yuk berangkat, nanti setelah dari Kantor Polisi, kita ke rumah sakit, ya. Nggak papa, kan?" tanyaku memastikan.
"Iya, deh, iya!" sahut Gilang dengan senyum yang terpaksa.
"Sip, calon adik ipar yang baik. Top lah!" seruku sembari tersenyum penuh kemenangan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kami tiba di Kantor Polisi. Sesuai tadi yang diinginkan, Gilang benar-benar menungguku di parkiran. Dia tak mau ikut masuk ke dalam.
Aku bergegas melapor kepada petugas yang sedang berjaga, menyampaikan niat dan tujuanku datang ke sini, yakni untuk mengajak Mas Frengky menjenguk buah hatinya.
Setelah berhasil bertemu dengan Mas Frengky, aku menghembuskan napas panjang. Bingung memulai dari mana.
"Cahaya sedang kritis, dia sekarang koma di Rumah Sakit. Apa kamu tak ada niat untuk menjenguknya?" tanyaku dengan suara sedikit bergetar.
Hatiku pilu, aku masih belum sepenuhnya percaya, bahwa rumah tanggaku sudah kandas di tengah jalan. Aku juga masih setengah percaya jika lelaki yang sedang berdiri di hadapanku ini bukan lagi menyandang status sebagai suamiku. Ternyata berat juga, ya, perceraian itu.
"Apa? Koma? Bolehkah aku menjenguknya?" tanya Mas frengky serak, seperti sedang menahan tangis.
Aku mengangguk, "Boleh, silakan datang. Tentu saja melalui pengawasan dan penjagaan dengan ketat."
"Nggak papa, asal aku bisa menengok anakku. Penyesalan ini sungguh dalam sekali, Nay. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, bahkan memasukkan makanan sesuap ke dalam mulutku saja rasanya aku sudah tidak sanggup. Aku benar-benar tolol, Nay. Harusnya Cahaya tidak memiliki Ayah seperti diriku. Aku malu, dengan kelakuan ku sendiri." Mas Frengky terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sudahlah, Mas. Tak usah menyesal saat ini. Silakan kamu meminta ijin beberapa jam saja, untuk pergi ke Rumah Sakit. Mungkin dengan kehadiranmu, Cahaya mau sadar dan akan segera sembuh," ujarku seraya menahan sebak yang semakin dalam di dada ini.
"Baiklah, temani aku untuk meminta ijin sebentar kepada petugas," ujar Mas Frengky sembari mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Ya Allah, Mas ... belum apa-apa aku sudah tak sanggup. Akankah kami bisa hidup tanpa kehadiranmu nantinya, Mas?
Bagaimana jika Cahaya bertanya tentangmu? Akankah aku sanggup untuk menjelaskan nanti?
*****
..
..
Bab berikutnya akan full tentang Cahaya, hanya malam ini. Jangan lupa saksikan ketika tayang!
Karena kita akan dibuat tercengang malam nanti. Penasaran?
Pantau terus dan tetap staytune, ya!
Mamak masih sayang kalian semua banyak-banyak, hehe.
Mwah😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍🥵🥵🥵🥵🥵🥵🥵🥵🥵🥵🥵🥵Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (149)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus ceritanya ditunggu kelanjutannya ceritanya 🤗
17/12/2021
0ceritanya seru...dpt ilmunya jg
04/12
0bagus
02/06/2025
0Lihat Semua