Bab 44

ANAKKU MENJADI SAKSI MATA PERSELINGKUHAN SUAMIKU
BAB 44
"Kenapa Carissa tak kunjung kembali?" tanyaku lirih. Tiba-tiba saja aku jadi khawatir. Mendadak hatiku cemas, karena tak biasanya dia mengabaikan pesan maupun panggilan telefon dariku.
Klek ... kriet ....
Suara pintu terbuka dari luar, Carissa muncul dengan wajah lelah dan napasnya ngos-ngosan. Gilang berdiri di belakangnya dengan wajah serius.
"Alhamdulillah, syukurlah kamu udah datang. Nggak kenapa-kenapa, kenapa mukamu tegang?" tanyaku penasaran.
"Gawat, Mbak!" ujar Carissa masih dengan wajah tegang.
"Gawat kenapa? Duduk, sini dulu. Yuk, minum!" ajakku meraih tangannya untuk duduk di sofa.
"Ini siapa?" tanya Ayah menunjuk ke arah Gilang.
"Oh, maaf, Pak. Perkenalkan nama saya Gilang, karyawan di Resto Mas Frengky," ujar Gilang menyalami tangan Ayah sembari menunduk. Bibirnya mengulas senyum tipis, terkesan santun.
"Oh, ya ... duduk!" kata Ayah menepuk pundak Gilang pelan.
"Apa apa, sih?" tanyaku setelah memastikan Carissa sedikit lebih tenang.
"Gawat, Mbak! Mas Frengky sama Rosa nggak ada di rumah, mereka kabur!" jawab Carissa.
"Apa? Kenapa bisa? Kata siapa?" tanyaku memberondong.
"Tadi, sewaktu aku bersama Gilang menemui Dokter Ellen untuk mengambil berkas Cahaya, tiba-tiba saja Mas Frengky menelepon Gilang untuk meminta transferan sejumlah uang. Aku menyuruh Gilang untuk meng-loudspeakernya. Dan Mbak Nayla tahu? Mas Frengky akan pergi bersama Rosa ke suatu tempat, dia mengaku pada Gilang jika Mbak Nayla sering mengganggu Rosa dan mengajaknya ribut, sehingga Mas Frengky berniat mengungsikan Rosa untuk sementara. Tapi aku tahu, tentu saja itu hanya alasan semata. Aku berpikir mereka mau melarikan diri, menghindar jadi tersangka. Kita harus gerak cepat, Mbak! Untung saja Mas Frengky tak tahu jika Gilang sedang bersamaku tadi, sepertinya Mas Frengky juga belum tahu kalau Gilang berada di kubu kita. Bagaimana langkah kita selanjutnya?" tanya Carissa membuatku bingung.
"Kita harus segera suruh orang untuk menemukan mereka, berikan upah yang besar agar mereka mau bekerja secara maksimal. Apa dia tak memberitahu Gilang, ke mana mereka akan pergi?" ujarku balik bertanya.
"Tidak, Mbak. Mas Frengky hanya berpesan menyuruh Gilang segera transfer ke nomor rekeningnya. Gilang beralasan belum melakukan setor tunai. Jadi dia menunda, sekaligus ingin melacak keberadaan mereka. Tadi aku dan Gilang sudah melaporkan tentang kejadian ini ke pihak kepolisian, kebetulan ada Pak RT juga di sana, sebagian bukti juga sudah kami serahkan. Kita tinggal menunggu aja surat perintah lanjutan dari pihak kepolisian," kata Carissa.
"Baik, sekarang segera hubungi bodyguard kolegamu, bukankah teman-temanmu macam Ipan ada banyak?" tanyaku menatap ke arah Gilang yang sedari tadi hanya menyimak.
"Baik, Mbak. Aku sudah mencoba menghubungi komplotan Ipan tadi, tapi nomornya tidak aktif. Biar aku coba lagi aja, ya, sekarang?" Gilang mengambil ponsel dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu di atas keypad.
"Nggak usah!" kata Ayah membuat kami serempak menoleh ke arah lelaki setengah baya yang rambutnya sedikit beruban itu.
"Maksudnya?" tanyaku seraya menautkan alis.
"Ayah sudah telefon Pak Trisna untuk membereskan semua. Ayah juga sudah menceritakan kronologi yang terjadi, beruntung putranya bersama komunitasnya mau turun tangan serta untuk membantu. Ayah bisa pastikan dalam waktu kurang dari 2 hari, baj1ngan itu akan muncul di depan wajah!"
"Apa?" tanya Ibu dengan mata membelalak.
"Pak Trisna temen Ayah yang pengacara?" tanyaku dengan heran.
"Iya, dia mau membantu Ayah, anaknya pun ikut serta!" jawab Ayah bangga.
"Bukannya anaknya Pak Trisna itu pembunuh bayaran, Yah?" tanya Carissa menggelengkan kepala.
"Apa?" Aku sedikit terlonjak mengetahui kenyataan.
"Iya, sengaja Ayah melakukan itu. Ayah ingin sedikit bermain dengan suamimu beserta selingkuhannya."
"Bukan main, nih, Ayahku. Emang te o pe be ge te!" kata Carissa mengacungkan jempolnya.
"Kalau gini kan enak. Aku bisa tidur nyenyak, nggak perlu capek dan susah mikir untuk memberi pelajaran pada para baj1ngan." Carissa meletakkan kepalanya pada lengan sofa.
Gilang hanya terdiam, ia masih sibuk mengutak-atik ponselnya.
Aku masih menggeleng tak percaya. Orang sesabar Ayah bisa juga melakukan hal yang tak pernah aku duga bahkan berpikiran pun tidak.
Memang benar, kecewa dan marahnya orang sabar dan pendiam akan lebih berbahaya jika dibandingkan orang yang cerewet dan suka meledak-ledak.
"Ayah nggak berniat bunuh Mas Frengky sekarang kan?" tanyaku hati-hati. Aku takut menyinggung perasaan Ayah.
"Kenapa? Kamu masih berharap bisa kembali hidup rukun bersamanya?" sindir Ayah dengan sorot mata tajam.
"Bukan begitu, tapi ...," ujarku menelan saliva dengan susah payah.
Jujur saja aku takut, Ayah terlanjur dikuasai emosi set@n dan akan melakukan tindakan berbahaya lain di luar nalar.
"Tapi kenapa? Kamu masih khawatir akan kondisinya?" tanya Ayah tepat sasaran!
Ya ... sedikit di dalam relung hatiku, memang aku masih menyimpan rasa khawatir pada Mas Frengky.
Bagaimana pun juga, dia pernah ada di dalam hatiku, menemani hari-hariku dan hidup bersama denganku selama beberapa tahun ini.
Tentu saja tidak mudah untuk melupakan semuanya, terlebih lagi di antara kami sudah ada Cahaya.
Aku menghela napas berat, hingga terdengar oleh beberapa orang, karena di dalam ruangan hening, semua sedang sibuk berkelana dengan pikiran masing-masing.
Aku menggeleng lemah.
"Udah, nggak usah panik gitu. Ayah tahu apa yang harus dilakukan. Ayah nggak akan gegabah kok, hanya saja Ayah ingin sedikit bermain dengan pengkhianat itu. Biarkan Ayah memberinya pelajaran karena sudah berani menyakiti anak perempuan dan cucu Ayah satu-satunya," jawab Ayah seraya tersenyum tipis.
Sedikit lega, ada perasaan plong di dalam hati. Aku tersenyum.
"Sudahlah, kalian semua istirahatlah, biar Ayah yang stand by jika ada Suster maupun Dokter yang membutuhkan sesuatu. Ayah masih bisa menanganinya," titah Ayah seraya mengambil tempat duduk di kursi kecil yang berada di samping sofa, berdekatan dengan pintu ruang inap.
Carissa beranjak dari sofa, dia merebahkan tubuhnya di atas brankar, tak lama matanya terpejam. Mungkin adik perempuanku itu benar-benar lelah.
Biarlah dia beristirahat sejenak, setelah akhir-akhir ini pontang-panting untuk membantuku. Mungkin waktu istirahatnya menjadi berkurang.
Ibu pun menyusul naik ke brankar, merebahkan tubuhnya di samping Carissa.
Memang di kelas VVIP ini ada dua brankar yang cukup lebar, satu untuk pasien dan satu lagi untuk penunggu serta dilengkapi sofa yang cukup panjang.
Aku pun ikut selonjoran, merebahkan tubuhku ke atas brankar pasien, mumpung Cahaya sedang melalui serangkaian persiapan menuju operasi di ruang lain.
Kulihat dari celah gorden, Gilang duduk di atas sofa berhadapan dengan Ayah yang duduk di kursi.
"Kamu nggak istirahat juga? Tidurlah sejenak, mungkin kamu lelah," ujar Ayah kepada Gilang masih jelas kudengar dari sini.
"Nggak, Pak. Biar Gilang di sini saja menemani Bapak," kata Gilang dengan sopan.
Ah ... mereka cukup akur juga rupanya. Ya sudah biarkan saja mereka bercengkrama.
Sayup kudengar, Ayah dan Gilang mulai memasuki obrolan seru. Sesekali mereka saling tertawa dan melempar ejekan.
Aku pun asyik memainkan game di ponselku untuk membunuh waktu. Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara deringan telefon dari arah luar. Mungkin milik Gilang atau Ayah? Belum selesai aku menebak, suara Ayah terdengar menyapa si telefon.
Oh ... ponsel Ayah rupanya yang berbunyi.
Siapa yang telefon?
Hal itu tak luput menjadi perhatianku, aku pun mendengarkan semua yang Ayah bicarakan dengan si penelpon di ujung sana. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi nampaknya cukup serius, mengingat Ayah beberapa kali menyebutkan nada untuk memerintahkan.
"Ya ... bawa mereka ke tempat yang sudah saya infokan tadi. Jangan sentuh apa pun sebelum ada perintah. Secepatnya saya akan datang ke sana. Jaga baik-baik, jangan sampai lolos lagi. Terima kasih banyak sudah mau membantu!" kata Ayah mengakhiri percakapan.
Kusibak sedikit gorden yang membatasi ruang tidur dengan ruang tunggu di dalam kamar inap ini.
Aku melihat Ayah sedang mengambil jaket, Gilang ikut beranjak dan mengambil kunci mobil.
"Loh ... mau ke mana mereka?" ucapku dengan lirih agar tak membuat gaduh. Kasihan Carissa dan Ibu sedang terlelap. Aku tak inggin mengganggu mereka.
Tapi, aku terlanjur penasaran, bukannya tadi Ayah bilang akan stand by di sini sementara para wanita disuruh istirahat? Lalu, sekarang dia hendak pergi. Entah ke mana.
Kututup kembali celah gorden dan segera aku terbangun dari posisi tidurku. Hampir saja aku beranjak untuk turun dan menemui mereka. Kemunculan Ayah di hadapanku sanggup membuat hatiku sedikit terlonjak.
"Astaghfirullah ... Ayah, ngagetin aja!" ujarku sembari mengelus dada pelan.
"Kamu nggak tidur? Kebetulan kalau begitu. Tolong kamu jaga di sini, ya. Stand by, kamu bangunkan saja Ibu atau Carissa untuk berjaga sekalian menemanimu. Ayah bersama Gilang mau ke luar sebentar cari angin," kata Ayah tersenyum simpul.
"Aneh banget cari angin dengan begitu niatnya sampai berpakaian rapi? Nayla ikut, ya. Nayla tahu kok tadi Ayah janjian sama seseorang di dalam telefon," ujarku tanpa merasa bersalah.
"Kamu dengar semuanya?" tanya Ayah kaget.
"Nggak, sih, tapi ... Nayla penasaran. Siapa, sih, Yah? Nayla ikut, ya!" kataku dengan senyum mengembang.
"Nggak, nggak usah. Kamu di sini aja, kasihan nanti kalau Cahaya perlu sesuatu atau butuh kamu. Kamu harus stand by di sini!" kata Ayah dengan tegas.
"Memang mau ke mana, sih? Jujur aja sama Nayla. Nayla nggak akan ikut, deh. Beneran!" ujarku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ku membentuk huruf V besar.
Terlihat Ayah menghela napas kasar.
"Ayah sama Gilang mau nemuin Frengky sebentar," kata Ayah seraya mendesah.
"Emang mereka sudah ketemu?" tanyaku heran.
"Sudah, anak Pak Trisna berhasil menemukan mereka di perbatasan kabupaten, mau masuk ke jalan tol. Untung mobil Frengky masih dengan mudah Ayah kenali," sahut Ayah dengan enteng.
"Wah, hebat! Ya udah, Ayah boleh pergi sama Gilang. Jangan lupa kabari Nayla, ya. Ayah nggak boleh gegabah. Nanti khawatir bisa mengganggu kesehatan Ayah juga. Inget!" ujarku memberi peringatan untuk cinta pertamaku dalam hidup tersebut.
"Siap, anak Ayah!" ujar Ayah sembari mengacak rambutku dengan gemas.
Ah ... rasanya aku seperti kembali ke masa anak-anak yang butuh belaian kasih sayang.
Aku mengangguk, Ayah dan Gilang bergegas ke luar. Untuk menyelesaikan misinya.
Misi apa kira-kira?
Akankah Frengky dan Rosa Dibunuhnya?
Atau hanya diberi pelajaran?
*****
Duh, maaf, ya readers kesayangan Mamak. Akhir-akhir ini Mamak disibukkan dengan dunia nyata. Jadi, slow update.
InsyaAllah bakalan update terus diusahakan sehari minimal satu bab. Tapi, ya, gitu. Bisa pagi, siang, sore bahkan tengah malam.
Pokoknya jangan bosen untuk tetap setia pantengin, ya.
Eh, btw, adakah yang mulai bosan?
cung di komentar biar Mamak tahu ini cerbung baiknya lanjut atau kagak hehe😁

Komentar Buku (149)

  • avatar
    NuorthetaAnnissa

    bagus ceritanya ditunggu kelanjutannya ceritanya 🤗

    17/12/2021

      0
  • avatar
    KurniaTintin

    ceritanya seru...dpt ilmunya jg

    04/12

      0
  • avatar
    BjmNazibmkmk6

    bagus

    02/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru