Beranda/ANAKKU MENJADI SAKSI MATA PERSELINGKUHAN SUAMIKU/
Bab 35
ANAKKU MENJADI SAKSI MATA PERSELINGKUHAN SUAMIKU
BAB 35
"Mbak, kenapa?" tanya Carissa terlihat bingung menatapku dan kemudian beralih menatap Bu Wak.
Aku hanya menggeleng, lidahku rasanya sudah capek dan malas jika harus menjelaskan ulang.
Seakan mengetahui suasana yang terjadi, Carissa menuntun dan membawaku masuk ke dalam kamar.
Bu Wak masih terlihat syok, dia terduduk di lantai sambil terisak. Sepertinya kenyataan yang baru saja terkuak cukup berat menghantam dadanya.
"Minum dulu, Mbak!" kata Carissa menyodorkan segelas air putih kepadaku.
Aku menenggaknya sedikit, lumayan bisa membuatku bernapas lega.
"Kenapa, sih?" tanya Carissa masih terlihat kepo dengan insiden di ruang tengah tadi.
Siapa yang tidak kepo melihat dua orang saling menangis dan terdiam.
"Bu Wak ternyata ibu kandung Rosa, putri Bu Wak yang selama ini kabur dan tak kembali itu Rosa, perusak rumah tanggaku. Dan Vano adalah darah daging Rosa dengan pacarnya dulu. Kenapa dunia rasanya sempit begini ya, Dek?" tanyaku dengan senyum samar.
"Itu yang dinamakan takdir, Mbak. Sejauh apa kita menghindar, pasti akan dihubungkan kembali melalui ikatan takdir. Mbak yang sabar, sekarang apa langkah Mbak selanjutnya?" tanya Carissa seraya mengelus bahuku lembut untuk menenangkan.
"Bantu aku mengurus surat perceraian secepatnya. Apa bukti kemarin belum cukup?" tanyaku menatap Carissa.
Gadis itu tampak berpikir sejenak, "sudah, sih. Tapi kita harus punya bukti yang kuat, yang bisa membuat mereka tak bisa mengelak. Lagian kan Mbak Nayla juga harus mendapatkan hak asuh Cahaya. Jadi kita harus persiapkan matang-matang. Apa benar Rosa dan Mas Frengky akan segera menikah siri?" tanya Carissa sepertinya mempunyai ide.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Kapan?"
"Nggak tahu pastinya, mungkin dalam bulan ini," ujarku sembari mengedikkan bahu.
"Kalau bisa, buat mereka secepatnya menikah dalam minggu ini. Mbak hanya perlu datang untuk mengambil dan merekam video mereka. Dengan begitu, Mbak punya bukti yang kuat dan akurat untuk menang mutlak. Bukankah Mbak juga sudah punya semua bukti rekaman CCTV, mereka yang tinggal satu atap serta waktu mereka terang-terangan diusir RT setempat? Ayo gerak cepat, Mbak. Sebelum semuanya sia-sia!" kata Carissa membuatku berpikir berat.
"Oke, aku akan minta Bu Hajjah untuk mengirimkan video tersebut. Dengan begitu, lengkap sudah semua bukti yang kupunya bahwa mereka selingkuh dan dengan sengaja memanfaatkan kondisiku. Biar aku suruh Gilang aja soal surat pengalihan hak milik Resto. Untuk pengacara kamu sudah ada kenalan 'kan? Untuk membantuku?" tanyaku memastikan.
"Sudah, ada, aman. Bahkan tanpa pengacara sekalipun aku yakin, Mbak. Pasti Mbak menang, aku sudah cukup paham sih perihal hukum seperti ini. Namun tetap saja, kita butuh master dalam bidangnya. Biar lebih maksimal gitu," kata Carissa menyombongkan diri.
"Oke, biar aku hubungi Gilang dulu untuk menyerahkan semua berkas ke notaris. Aku ingin Restoran itu menjadi milikku. Biar saja Mas Frengky jatuh miskin, bahkan aku akan menuntut juga harta gono-gini untuk mobil yang dipakainya. Serta biaya renovasi rumah, sekarang kita cari tahu terlebih dahulu. Kapan rencana mereka akan menikah."
"Tapi, bukannya Bu Romlah belum tahu, Mbak? Mana bisa mereka menikah walau siri? Mau menikah di mana coba?" Alis Carissa terlihat mengkerut. Dia tampak bimbang.
"Udah itu urusan mereka, katamu 'kan kita harus pastikan mereka menikah dengan cepat!"
Carissa tampak mengerti, dia mulai mengangguk-anggukkan kepala.
"Lalu, bagaimana dengan Bu Wak dan Vano?" tanyaku memandang lekat ke arah Carissa.
Jujur saja aku sudah menganggapnya seperti keluargaku sendiri. Mereka pun baik kepadaku, dan aku pun cocok dengan Bu Wak.
Tapi, apakah Bu Wak masih mau bekerja untukku? Dan tinggal di sini?
Ah ... sebaiknya sekarang aku akan memastikan kondisi Bu Wak terlebih dahulu.
Baru saja aku hendak berdiri, tangan Carissa menahanku.
"Eh, Mbak. Mau ke mana?"
"Mau lihat kondisi Bu Wak, kasihan."
"Jangan dulu, biarkan dia tenang dengan pikirannya dulu. Bisa ricuh kalau Mbak muncul sekarang. Tahan, besok pagi kita coba untuk mencari solusi."
"Solusi apa?" giliran keningku sekarang yang mengkerut.
"Ya bagaimana pun kita harus mempertemukan mereka. Kita lihat reaksi Rosa nantinya. Akankah dia mau mengakui Ibu dan anaknya serta jujur akan masa lalu yang sudah dilewatinya," jelas Carissa membuatku terpana.
"Benar juga, wah, kamu cerdas!"
"Sepertinya bukan aku yang cerdas, tapi kamu deh yang lola, Mbak!" tawa Carissa menyeringai.
Keesokan harinya, aku pergi ke Resto untuk mengurus perihal surat dan sertifkat bangunan Restoran. Selangkah lagi Resto akan menjadi hak milik atas namaku. Alhamdulillah, semua dimudahkan dan dilancarkan.
Tapi heran juga, selama ini Mas Frengky sudah tak pernah muncul ke Resto ataupun minta uang keperluan Resto. Mungkin persediaan uangnya masih banyak.
Sengaja aku pergi ke Resto sendirian, Carissa hanya di rumah. Tugasnya menjelaskan kepada Bu Wak untuk menyusun rencana bertemu dengan Rosa. Mempertemukan Vano dengan ibu kandungnya.
Kami memang sepakat berbagi tugas, untung saja Adikku itu sangat cekatan dan cerdas, kehadirannya di sini sangat membantu semua urusanku. Memudahkan juga langkahku untuk bergerak ke masa depan.
Setelah selesai dengan Gilang, aku bergegas pulang ke rumah. Langkahku menuju ke parkiran, di sana aku melihat mobil Mas Frengky yang baru saja masuk pekarangan Resto.
"Baru juga tadi diomongin, sekarang udah muncul aja. Mau ngapain dia ke sini?" lirihku bertanya sendiri.
Aku pura-pura tak melihat kehadirannya, beberapa langkah lagi pasti kami berpapasan. Mengingat mobilku berada di ujung, untuk ke sana sudah pasti akan melewati Mas Frengky yang sedang mengunci mobilnya.
"Loh, Bunda ... ke sini juga? Ngapain?" tanya Mas Frengky ketika langkahku semakin mendekat ke arahnya.
"Cuma lihat perkembangan Resto aja. Kenapa memang?" tanyaku balik.
"Oh, nggak papa," sahutnya singkat.
"Bun ...," lirihnya tapi masih sanggup kudengar.
"Maafin aku sekali lagi, aku nggak pengen pisah denganmu, Bun. Aku rela meninggalkan Rosa demi kamu, asal kamu mau kembali denganku. Kita bangun kembali rumah tangga kita ini, Bun. Aku mohon, kasihan Cahaya," ujar Mas Frengky membuatku muak.
"Kasihan Cahaya? Kamu nggak lihat, Mas. Bukannya Cahaya lebih suka bersama gundikmu dari pada sama aku sebagai ibu kandungnya? Lucu, kamu, Mas!" ujarku terkekeh.
"Aku mohon sekali ini aja, Bun. Aku tahu butik mu nggak bangkrut. Aku juga tahu ini semua akal-akalanmu. Aku dengan ikhlas, Bun, melepas semua hartaku untukmu. Aku ingin kita kembali, tolong pikirkan lagi, Bun!" ujar Mas Frengky dengan wajah memelas.
"Nggak, Mas. Aku ingin sendiri dulu. Tolong kamu hargai keputusanku. Menikahlah dengan Rosa, kuharap kamu bisa bahagia dengannya. Bawa serta Cahaya, satu pintaku, sayangi Cahaya dan berikan yang terbaik untuknya. Jika kamu tak sanggup, kembalikan dia padaku, biar aku yang akan mengurusnya."
"Kamu yakin Bun tak apa-apa jika aku menikah dengan Rosa?"
"Memangnya aku harus kenapa, Mas?" tanyaku heran.
"Kamu nggak cemburu atau mungkin sakit hati?"
"Hahaha, nggak, sama sekali!"
"Andai saja kamu mau di madu, Bun. Kamu masih bisa bekerja dan mengembangkan butikmu. Menjadi wanita karir yang sukses, urusan Cahaya dan rumah serahkan pada Rosa. Tentu kita akan bahagia?" tawarnya tak tahu malu.
"Kamu bener-bener udah nggak waras, Mas. Bisa-bisanya enteng banget ngomong kayak gitu. Kenapa kamu takut berpisah denganku? Karena sumber penghasilanmu akan berhenti? Karena ATM berjalan mu tak lagi bisa digunakan? Nggak modal banget kamu jadi laki, Mas!" Aku melangkah tanpa mempedulikan Mas Frengky yang masih memanggilku untuk berhenti.
"Oke, jika itu memang keputusanmu. Tiga hari lagi aku akan menikah dengan Rosa. Jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu ini, ya, Nayla!" tegas Mas Frengky dengan suara lantang.
Aku terkekeh, sepertinya lelaki yang sedang berteriak di belakangku itu benar-benar kehilangan kewarasan. Bagaimana bisa dia mengajakku kembali, lalu berniat ingin memaduku dan sekarang ingin menikahi madunya dan berpisah denganku.
Sungguh pikiran yang aneh.
Aku berjalan masuk ke dalam mobilku. Mengendarainya pulang ke rumah.
Cukup penat rasanya hari ini, menguras tenaga.
Sesampainya di rumah, aku berniat memberitahukan rencana pernikahan Mas Frengky dengan Rosa yang akan digelar tiga hari lagi, seperti katanya tadi.
Bu Wak pun juga sudah mau menerima keadaan, dia pasrah akan takdir kehidupannya. Dan Bu Wak setuju untuk ikut menghadiri perkawinan mereka, dengan membawa Vano.
Tunggu saja, aku akan mempertemukan mereka sebentar lagi. Aku ingin lihat bagaimana reaksi mereka nantinya setelah bertemu.
Aku harus mengenakan pakaian terbaik, meskipun aku yakin rencana pernikahan mereka sederhana, tapi aku tak boleh berpenampilan sederhana.
Mana berani mereka menggelar pernikahan mewah, mengingat surat cerai dari hakim saja belum ada di tangan. Ketok palu wali hakim pun belum terdengar. Bisa kupastikan mungkin pernikahan mereka akan digelar secara kekeluargaan dan beberapa tetangga saja. Lagian Bu Romlah sudah pasti tak mau mengundang sanak saudara dan kerabatnya. Karena menantunya bukan orang kaya, apalagi mantan asisten rumah tangga. Bisa malu dia, mau ditaruh di mama wajahnya nanti.
Hari yang ditunggu pun tiba. Aku, Bu Wak, Vano bersama Carissa sudah bersiap memakai pakaian terbaik. Bahkan Bu Wak juga sudah aku dandani seperti Ibu-ibu sosialita yang akan menghadiri arisan. Mungkin Rosa akan pangling nantinya, Vano juga aku pakaikan kemeja putih beserta jas dan celana hitam, dengan dasi kupu-kupu. Bocah itu terlihat lucu dan sangat menggemaskan. Aura nya terlihat bersinar, dia tumbuh menjadi anak yang tampan karena terawat. Kulitnya tak lagi kusam, badannya pun sudah berisi, tak sekurus saat tempo lalu.
Kami semua menaiki mobil Alphard bekas mertua yang berhasil kurampas.
Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi mertuaku nanti jika tahu aku tak jadi miskin?
Apa dia akan meminta maaf padaku dan memohon untuk kembali?
Oh, tidak akan semudah itu aku mengiyakannya. Sidang pertama sudah ditentukan, akan dilaksanakan minggu depan. Aku tak akan main-main dengan keputusan yang aku buat. Toh aku juga tak butuh mereka yang hanya menjadikanku sapi perah.
Setelah semua siap, aku sengaja mengajak Gilang turut serta untuk menyopiri kami.
Rombongan kami pun berangkat dengan membawa aneka kue mahal dan beberapa pakaian bermerk yang kuambil dari butik.
Ku lirik Bu Wak yang sedang menampilkan wajah cemasnya. Jari-jarinya saling ditautkan, dia tampak tak tenang. Mungkin saja hatinya berdebar-debar, mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan putri kandungnya.
"Kenapa, Wak?"
"Ibu jadi deg degan gini, Nak. Hati ikut cemas rasanya," kata Bu Wak berusaha tersenyum.
"Sabar, ya, Wak. Tenang," ujarku seraya mengelus lembut lengannya.
Sedangkan Vano asyik menikmati puding yang disuapi Carissa.
"Mbak Nayla nggak deg degan, nih? Lihat suaminya nikah lagi?" goda Gilang dengan senyum yang dibuat-buat.
"Nggak lah, ngapain!" balasku singkat.
"Ciye, cemburu ya. Baru kali ini aku liat istri datang ke pernikahan suami dengan madunya, tapi ekspresi istrinya datar-datar aja. Apa Mbak Nayla udah nggak sayang dan cinta lagi sama Mas Frengky?" tanya Gilang masih terus saja menggoda.
"Kamu kalau masih aja ngelantur, aku timpuk nih pake sepatu, ya!" ujarku kesal.
Bagaimana bisa dia mengejekku seperti itu, ya, pasti ada dong rasa kesal dan nyeri di hati ini. Tapi tentu saja semua terhapus dengan rasa marah, emosi dan kecewa yang mendominasi.
Akhirnya kami sampai juga di pekarangan rumah Bu Romlah. Tak banyak yang hadir, bahkan suasana dalam rumah pun tak begitu mencolok. Bu Romlah, Reni dan Reno juga berpakaian biasa bak pergi ke Mall. Tak memperlihatkan jika mereka tuan rumah yang punya acara.
Tapi, wanita di sebelah Reno itu siapa, ya? Wanita dengan balutan dress pas body yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, rambutnya pun dimodel curly bawahnya dengan make up berkelas. Bukan wanita sembarangan pastinya, apa dia kerabat mereka? Atau mungkin kekasih Reno? Tapi sepertinya nggak mungkin itu kekasih Reno, melihat dari wajahnya, mungkin usianya tak selisih jauh denganku. Masa iya kekasih Reno?
Aku pun bergegas melangkah dengan anggun, masuk ke dalam rumah. Bu Romlah hanya tercengang melihatku, terlebih aku membawa segerombol orang asing yang tak dikenalnya.
Tiba-tiba saja sikapnya berubah menjadi baik, sama seperti jika menginginkan sesuatu dulu.
"Loh, Nayla, sudah datang, Nak? Kamu yang sabar, ya. Namanya juga laki-laki, nafsunya besar. Kamu harus kuat, kalau kamu sabar dan ikhlas, kamu akan dapat ganjaran surga, loh, Nak!" kata Bu Romlah sembari ingin memelukku.
Aku menghindar, aku malas berbasa-basi dengan orang yang munaf!k seperi dirinya.
"Maaf, Bu Romlah. Tapi saya nggak rela tuh dimadu. Jalan menuju surga tak hanya bisa ditempuh melalui poligami, kok," kataku jutek.
Terlihat perubahan wajah dari Bu Romlah.
Tapi dengan terpaksa dia tersenyum simpul.
"Ini siapa, Nay?" tanya Bu Romlah menunjuk ke arah Bu Wak dan Vano.
"Oh, itu Besan Ibu dong, tak lupa juga anak kecil itu cucu Ibu sekarang," jawabku santai.
"Maksudnya?" Bu Romlah tampak bingung.
Hingga bertepatan dengan Rosa yang keluar dari kamar, menuju ke ruang tamu untuk bergegas meresmikan hubungan mereka secara agama.
Rosa mengangkat wajahnya, matanya pas menuju ke arah sini. Dia terlihat kaget saat melihat Bu Wak beserta Vano berdiri di samping ku.
Meskipun dengan balutan make up dan pakaian yang bagus, tentu saja Rosa sebagai anak pasti mengenali ibu kandungnya.
Bu Wak juga tak kalah kaget, dia sampai melotot melihat Rosa dalam balutan kebaya tradisional berwarna putih yang menurutku sangatlah sederhana.
"Nia ...," lirih Bu Wak seraya menyeret kakinya melangkah menuju ke arah Rosa.
Rosa menganga, mulutnya membentuk huruf O besar.
Tak lama bibirnya terkatup dan kembali terbuka, dengan berkata lirih.
"E—Emak?" kata Rosa yang berhasil membuat beberapa pasang mata menatap penasaran ke arah mereka.
Aku hanya menikmati pemandangan di depanku dengan menyilangkan tangan di depan dada.
Selamat bernostalgia!
*****
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh
Maaf Mamak baru update, karena Mamak kecapekan, alhasil kurang enak badan. Ini baru pulang dari suntik.
Makasih buat kalian semua yang udah support dan nungguin karya receh Mamak ini.
Mamak usahakan kasih kalian hiburan gratis yang menyenangkan.
Mohon maaf, ya, untuk berkomentar yang baik dan bijak. Ini hanya karya fiktif belaka. Jika ada yang komen dengan bahasa kasar dan tak enak di hati menurut Mamak, dengan terpaksa akan Mamak block akun kalian. Jadi nggak bisa tengokin deh karya ini.
Bukan apa-apa, karena Mamak selalu baca semua komentar dan masukan dari kalian. Cuma ya, daripada ada salah satu yang jadi kompor dan akhirnya malah bikin Mamak drop. Buat apa?
Toh, di sini Mamak niatnya sekedar menghibur kalian semua yang penat dengan drama kehidupan. So? Nikmati saja dan ikuti alurnya ya! Buat have fun aja😍
Mohon maaf kurang lebihnya, Terima kasih sekali lagi.
Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (149)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus ceritanya ditunggu kelanjutannya ceritanya 🤗
17/12/2021
0ceritanya seru...dpt ilmunya jg
04/12
0bagus
02/06/2025
0Lihat Semua