Beranda/Dendam Seorang Janda/
Bab 56 Keterpurukan Frans
"Kamu berniat mengacaukan acara ini dengan memberi racun ini pada makanan ini semua?" tanya Tia.
Frans tidak menjawab malah kabur begitu saja. Dia berlari lewat pintu belakang, Tia tidak akan tinggal diam jika Frans masih nekat. Tia kembali kedepan, Malik tampak mencurigai Tia.
"Ke kamar mandi kok lama sekali?" tanya Malik.
"Aku bertemu pengacau tadi, untung aku memergokinya. Kalau tidak kita sudah keracunan." jawab Tia.
"Maksud kamu apa?" tanya Malik.
Tia lalu menceritakan kejadian tadi pas dia ke kamar mandi. Dia melihat Frans hampir menuangkan racun ke makanan acara Amalia ini.
Tia akan memberitahu Pak Samsul agar Frans diberi sanksi karena hendak melakukan tindakan kriminal.
Frans tampak kebingungan karena dia gagal mengacaukan acara Amalia dan Jaka. Dia menyuruh orang untuk menculik Amalia nanti malam.
***
Di rumah sakit, Sania sudah sadar. Dia bertanya pada perawat apa yang terjadi pada dirinya.
"Maaf Mbak, Mbak mengalami keguguran. Mbak habis meminum obat penggugur kan?" tanya Perawat.
"Tidak tahu Mbak aku hanya diberi minum oleh seseorang tadi siang," ucap Sania.
Perawat itu keluar, Sania mengamuk dia tidak rela harus kehilangan bayinya. Dia berjanji akan menghancurkan masa depan Frans. Sania mengambil ponselnya lalu mengirim vidio mesum Frans ke media sosial. Sania tidak lagi berpikir tentang masa depannya sendiri, karena masa depannya sudah dihancurkan oleh Frans.
"Kamu akan menjadi tontonan semua orang Frans," kata Sania.
Malam ini vidio Frans ditonton oleh banyak orang, tidak berapa lama lagi Frans akan mengalami Keterpurukan.
***
Melihat vidio viral Frans Papanya memutuskan untuk ketempat Frans malam ini juga bersama Mamanya. Karena kemarin gagal berlibur sebab papa frans sibuk kerja, kali ini dia harus bertemu Frans.
"Jika Frans seperti ini maka kita bisa bangkrut Ma, semua relasi bisa lari meninggalkan perusahaan Papa. Apalagi proyek yang baru dengan Pak Samsul juga terancam putus." kata Papa Frans kesal.
"Sabar Pa," kata Mamanya Frans menenangkan suaminya.
Papa Frans melajukan mobilnya dengan cepat dia ingin memberi pelajaran untuk putranya yang ceroboh itu.
***
Sepulang dari acara Amalia, Tia ditelfon salah satu teman kerjanya, dia memberitahu soal vidio Frans. Tia dan Malik segera mengeceknya, tidak lupa Tia memberitahu Pak Samsul. Pak Samsul marah besar karena merusak citra perusahaan.
"Nekat sekali Frans melakukan ini, apalagi vidionya terlihat jelas itu Frans." kata Tia.
"Mungkin dia sudah hilang akal karena mendengar Amalia akan tunangan," kata Malik.
"Papa akan memutuskan kerjasama kita dengan perusahaan dia," kata Tia.
***
Paginya kantor Pak Samsul heboh dengan berita Vidio Frans. Semua karyawan membicarakan Frans dan wanita yang ada dividio itu.
Frans dirumah masih dimarahi Papanya, "Papa tidak habis pikir, kamu ceroboh sekali. Gara-gara ulah kamu beberapa relasi membatalkan kerjasama dengan kita. Termasuk Pak Samsul, perusahaan kita sebentar lagi gulung tikar Frans." kata Papa Frans.
"Pa ini pasti ulah Sania, dia udah mengacamku," kata Frans.
"Kenapa kamu tidak singkirkan mantan kekasih kamu itu," kata Papa Frans. Kamu ngurus satu wanita aja nggak becus, gitu kok mau mimpin perusahaan Papa." bantah Papa Frans.
Papa Frans mengajak Frans ke kantor Pak Samsul, berharap Pak Samsul masih bisa dibujuk agar tidak membatalkan kerjasama mereka.
Sesampainya di kantor Pak Samsul mereka bertemu Pak Samsul dan Tia.
"Pak tolong pertimbangkan keputusan Bapak, jangan sampai kerjasama kita diputus," kata Munif Papa Frans.
"Maaf Pak Munif, anak kamu sudah membuat saya malu. Banyak investor yang mau mundur jika saya tidak mau memutus kerjasama dengan Frans." kata Pak Samsul.
"Itu hanya salah faham Pak, jangan libatkan bisnis kita." kata Pak Munif.
"Tapi Frans sudah membuat masalah Pak, dia juga hampir mengacaukan pertunangan karyawan kami dengan menabur racun ke makanan saat acara. Untung saya memergokinya," kata Tia.
"Frans apa benar itu?" tanya Pal Munif.
"Maaf Pa, aku sakit hati karena wanita itu menolakku," jawab Frans tertunduk.
"Lagi-lagi karena wanita, kamu apa nggak bisa fokus ke kerjaan saja. Papa kecewa sama kamu Frans," kata Pak munif.
Munif dan Frans keluar dari ruangan Pak Samsul. Munif kecewa pada Frans, dua pasrah jika dia harus bangkrut. Fasilitas Frans akan dicabut semua oleh Munif, dia sudah tidak menganggap Frans putranya lagi.
"Papa akan cabut semua fasilitas kamu, perusahaan Papa sudah rugi besar akibat kesalahan kamu Frans. Mulai saat ini kamu bukan anakku lagi." kata Munif marah.
"Pa, jangan terlalu keras pada Frans. Kasihan Frans Pa," kata Mamamu Frans sedih melihat Frans tertunduk lemas.
Rumah dan mobil Frans sudah disita oleh Papanya. Dia sudah tidak punya apapun, kini Frans mencari kontrakan. Sania yang mengetahui hal itu langsung tertawa puas. Dia puas Frans sudah kehilangan segalanya.
"Frans Selamat datang diketerpurukanmu saat ini," ucap Sania.
Amalia sudah melihat vidio Frans, dia merasa beruntung tidak jadi jatuh cinta pada pria seperti Frans. Bagi Amalia Frans hanya butiran debu yang pernah singgah dihatinya sedetik.
***
Frans makan nasi bungkus di kontrakannya, dia meneteskan air mata. Dia yang biasanya makan direstauran kini hanya makan nasi bungkus. Air mata tak terbendung lagi, tapi dia tidak ingin terus terpuruk. Dia akan kembali berjaya lagi seperti kemarin.
"Sania aku akan bunuh kamu," kata Frans kesal membanting sendoknya.
Frans mendatangi kontrakan Sania, tapi Sania tidak ada. Dia membawa sepeda motornya menuju jalan raya, saat dipinggir jalan dia melihat seorang wanita sendirian. Entah sadar atau tidak dia menjambret ponsel wanita itu. Setelah berada ditempat aman dia membuang kartu itu orang, lalu mereset ponsel orang itu. Ponsel itu dia jual, dia senang ketika mendapatkan uang. Dia pergi ke salah satu bar, dia berharap masalahnya akan selesai.
Dia melihat Sania di bar itu, Sania sepertinya menjadi PSK disana. Melihat Sania, Frans tersenyum sinis.
"Ternyata kamu menjadi jalang Sania, apa kamu masih mengandung, atau malah sudah keguguran." kata Frans dihadapan Sania.
"Kamu sudah lihatkan apa yang telah aku lakukan, dalam waktu sehari saja kamu jadi gembel." kata Sania.
"Hah kamu kira aku takut? Tidak akan Sania." kata Frans memegang erat lengan Sania.
"Lepaskan aku!" teriak Sania. Seorang pria mendekati Frans dan memukul Frans. Mereka bertengkar, terpaksa mereka dikeluarkan dari bar.
Frans pulang ke kontrakannya dengan lemas, dia berharap besok dia bisa menjambret lagi. Dia sudah mulai ketagihan menjambret orang. Frans duduk termenung diatas kasur lantai yang menjadi tempat tidurnya sekarang. Frans berjanji akan membalaskan dengannya pada Sania.
***
Sania kesal, Frans mengganggu dia lagi. Sania ingin agar Frans pergi jauh dari kehidupannya. Tapi nyatanya tadi dia dipertemukan dengan Frans di bar.
"Tapi aku senang kamu sekarang menjadi gembel Frans, sebentar lagi pasti kamu akan tinggal dikolong jembatan atau malah menjadi pengemis." ucap Sania tersenyum senang. Sania kembali bekerja, karena dia harus melayani para tamu.
Sania yakin dia bisa hidup tanpa Dewi, dengan bekerja di bar dia akan punya uang banyak dan bisa mencukupi kebutuhan dia sendiri. Dia juga akan hidup bebas tanpa tuntutan orang lain. Sania tidak ingin dikekang, dia ingin hidup sesuai maunya.
***
Tia dan Malik mulai menyiapkan acara pernikahan mereka, meskipun acara dihandle Pak Samsul tapi Tia tidak mau bergantung. Secara saat ini Pak Samsul dan Tia bekerja ekstra untuk proyek yang dulu kerjasama dengan Frans.
Tia pergi untuk membeli baju yang akan digunakan Malik untuk seserahan. Mereka belanja ditemani Bu Amel, ternyata selera Bu Amel bagus sekali. Dia membeli barang-barang mahal dan berkualitas.
"Lamaran itu sekali, jadi harus bawa barang yang bagus." kata Bu Amel sambil memilih tas yang harganya diatas lima juta.
"Apa tidak terlalu mahal Ma?" tanya Tia yang merasa keberatan karena selama ini Tia membeli barang yang harga standar meskipun dia mampu barang ori yang harganya sangat mahal.
"Tia, Mama Papa kamu pengusaha kaya, kalau seserahan kita nggak bermerek takutnya dikira bikin malu mereka." jawab Bu Amel. "Lagian kita juga mampukan jadi jangan khawatir," kata Bu Amel lagi.
Tia hanya pasrah menyaksikan belanja yang menghabiskan uang puluhan juta itu. Dia baru kali ini belanja habis puluhan juta. Tia tergolong orang yang suka berhemat, karena memang dia dilahirkan dari keluarga yang sederhana.
Setelah itu mereka beli makan karena hari sudah siang. Mereka makan di restauran elite kota ini.
****
Frans hari ini ingin mencari pekerjaan, namun dia belum dapat. Vidionya tersebar luas jadi setiap perusahaan yang dia lamar langsung menolaknya. Frans benar-benar frustasi, dia singgah di salah satu cafe. Entah darimana Frans berhasil mencopet dompet seseorang sebelum dia pergi. Isinya lumayan buat biaya dia makan seminggu.
"Kalau seperti ini terua mending jadi pencopet," kata Frans. Dia pergi ke bar dimana dia bertemu dengan Sania. Saat di bar dia berpikir untuk mencopet. Karena pengunjung bar pasti orang yang banyak uang semua.
Frans mulai menjalankan aksinya, setelah dapat dia segera pergi. Dia mengambil uangnya saja dan membuang dompet pria tadi ditong sampah. Hasil kali ini lebih banyak, sekitar 2 juta. Frans tersenyum senang, dia berpikir lebih enak nyopet daripada kerja di kantor.
Frans ingin membalas dendam pada Sania. Dia akan melenyapkan Sania, agar dia bisa tenang. Bagi Frans Sania adalah orang pertama yang harus dia lenyapkan. Berbagai cara akan dia lakukan untuk melenyapkan Sania.
Frans mendatangi Sania yang saat itu masih dirumah. Sania tampak kaget Frans datang ke kontrakannya.
"Ngapain kamu kesini gembel?" tanya Sania sinis.
"Apa kamu bilang, gembel." kata Frans mendorong tubuh Sania hingga jatuh di lantai. Frans mendekati Sania. Dia memaksa Sania menelan obat yang sangat banyak, Sania menolak serta melawan Frans.
"Aku nggak mau mati konyol Frans lepaskan!" perintah Sania sembari berusaha mencegah Frans.
Frans tetap berusaha meminumkan obat itu. Sania menolak, tapi Sania kalah obat itu tertelan dia beberapa butir. Frans tersenyum senang saat melihat Sania berusaha memutahkan obat itu tapi tidak bisa.
"Kamu mau membunuhku Frans," kata Sania.
"Ya pelan atau cepat aku akan melenyapkan kamu Sania. Kamu telah menghancurkan hidupku Sania.vidio yang kamu sebarkan merusak semuanya." kata Frans tersenyum.
Sania memegang perutnya, obat yang dia telan mulai beraksi. Tiba-tiba Sania mengeluarkan busa dari mulutnya. Sania merasakan sakit sekali diperutnya.
"Kamu akan tamat Sania," kata Frans lalu pergi dan menutup kembali pintu kontrakan Sania.
Sania berusaha berdiri tapi tidak kuat, Sania akhirnya tidak sadarkan diri. Sedangkan Frans segera pergi jauh, dia pergi keluar kota melarikan diri.
***
Karena kecapean Tia istirahat, belanja hari ini menguras tenaga dan uang keluarga Malik. Baru sesaat tertidur, terdengar Bu Siti mengetuk pintu.
"Ada apa Bu?" tanya Tia.
"Saya mau izin ke kantor polisi, karena tadi polisi menelfon Fatma mencoba melarikan diri dan akhirnya kakinya tertembak," jawab Bu Siti.
"Ya sudah Bu, biar saya antar," kata Tia lalu mengambil kunci mobil dan tas. Tia ternyata ada disebut rumah sakit, Bu Siti dan Tia menuju rumah sakit itu.
Bu Siti menangis saat melihat Fatma kesakitan, melihat ada Tia Fatma marah.
"Ngapain Ibu bawa dia? Biar dia bisa menertawakam Fatma kan Bu?" tanya Fatma marah sambil mendorong Bu Siti pelan.
"Fatma, Non Tia hanya mengantar Ibu. Kamu jangan melarikan diri lagi, kalau hukuman kamu makin lama gimana?" tanya Bu Siti khawatir.
"Jangam sok perhatian kamu Bu, aku sudah nggak perduli dengan hukumanku. Mau dihukum mskipun silahkan," jawab Fatma marah.
"Fatma, harusnya dengan kamu di penjara kamu bisa sadar. Tapi nyatanya kamu tetap sama. Masih baik Bu Siti mau jenguk kamu, padahal kamu yang telah menyakiti dia." kata Tia.
"Tau apa kamu tentang Ibuku, urus saja urusan kamu. Aku benci kamu Tia, sampai aku mati." kata Fatma marah.
Bu Siti menangis melihat Fatma yang mengamuk, Bu Siti dan Tia terpaksa keluar dari ruangan Fatma.
"Aku memang gagal menjadi orang tua, semua memang salahku dalam mendidik Fatma." kata Bu Siti terduduk lemas di bangku tunggu.
"Sabar Bu, kita doakan saja agar Fatma segera sadar," kata Tia menenangkan Bu Siti.
Bu Siti sadar hukum karma sudah terjadi, dulu Bu Siti dan Fatma menyakiti Tia, kini keluarga Bu siti yang tersakiti. Bu Siti tidak habis pikir jika Fatma akam nekat dan berakhir di penjara. Dulu dia bahagia dengan Ulum meskipun suka bertengkar. Tapi mereka baik-baik saja sekarang Ulum sudah pergi meninggalkan Fatma yang saat ini di penjara.
Tia memberi Bu Siti minum air mineral agar dia lebih tenang. Tia dan Bu Siti ngobrol, Bu Siti berkata jika dia menyesal dulu menyakiti Tia. Namun, penyesalan itu sudah tiada guna. Hidupnya sudah susah dan tidak punya apa-apa. Tapi saat ini Tia yang berada diatas. Nasib orang memang seperti roda bisa berputar kapan saja.
Terlihat beberapa perawat sedang berlari membawa pasien, kabarnya pasien itu habis menelan obat terlalu banyak. Tia seperti mengenal wanita itu, tapi Tia lupa siapa dia. Tidak berapa lama para perawat keluar, berganti Dokter yang masuk kedalam ruangan.
Terlihat Dewi berlari menuju ruangan itu, tapi dicegah perawat.
"Itukan Bu Dewi Ibunya Sania? Ngapain ya Non dia disini?" tanya Bu Siti saat melihat Dewi yang menangis. Mereka mendekati Bu Dewi. Bu Dewi kaget melihat ada Tia dan Bu Siti. Bu Siti menceritakan perihal Fatma pada Bu Dewi.
"Siapa Bu yang sakit?" tanya Bu Siti.
Belum sempat Bu Dewi menjawab Dokter keluar. "Dengan keluarga Sania?" tanya Dokter.
"Saya Pak," jawab Dewi khawatir akan keadaan Sania.
"Bu, kami sudah berusaha tapi ternyata Allah berkehendak lain. Sania tidak bisa diselamatkan Bu." kata Dokter.
Seketika Dewi jatuh pingsan, Bu Siti dan Tia segera membantu Dewi. Dewi akhirnya dirawat sampai sadar.
"Sus, Sania meninggal kenapa ya?" tanya Tia pada salah satu perawat.
"Dia minum obat Bu, tidak tahu bunuh diri atau ada yang memberinya obat." jawab perawat itu.
"Dia kan hamil, apa janinnya meninggal juga?" tanya Tia.
"Dia tidak hamil Bu, tapi hasil pemeriksaan dia pernah keguguran. Malah baru beberapa hari yang lalu." jawab perawat itu. Tia menjadi penasaran dengan kematian Sania.
Polisi sedang menangani kasus Sania, berhubung Dewi belum sadar. Polisi bertanya pada Tia.
"Apa dia pernah punya musuh Bu Tia?" tanya polisi.
"Dia gagal menikah dengan Frans Pak, lalu dia diusir dari rumah." kata Tia.
"Menurut hasil pemeriksaan dia pernah keguguran itu disengaja atau ada yang terlibat Bu?" tanya polisi lagi
"Maaf Pak kalau soal itu saya tidak tahu. setahu saya saat diusir Bu Dewi dia sedang hamil. Setelah dia pergi kami tidak tahu kabarnya." jawab Tia.
Ternyata Dewi sudah sadar, dia menangis.
"Sepertinya Sania adalah korban, ada pelaku lain. Ini bukan bunuh diri tapi dibunuh," kata Polisi setelah melihat hasil pemeriksaan dan penyelidikan.
"Siapa Pak pelakunya?" tanya Dewi penasaran.
"Ada sidik jari saudara Frans di obat yang jatuh berserakan di lantai," jawab Polisi.
Dewi tidak menyangka jika Frans berani membunuh Sania. Dewi menyesal telah mengusir Sania waktu itu sehingga kejadian ini terjadi.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (268)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
bagus banget cerita nya
05/03
0sangt bgus
03/01
0suka
03/05/2025
0Lihat Semua