Bu Siti kesal dengan Tia yang tega membuat dia malu. "Pantas saja uangnya diberikan padaku lagi, ternyata uang palsu." omel Bu Siti. Perutnya sangat lapar dia mampir ke rumah Fatma berharap ada makanan disana. "Fatma, kamu punya makanan?" tanya Bu Siti sambil duduk didekat Fatma yang sedang nonton televisi. "Ada tapi cuma nasi doang," jawab Fatma masih asyik menonton televisi. "Di kulkas tidak ada stok bahan makanan?" tanya Bu Siti. "Nggak tahu coba Ibu cari sendiri." kata Fatma. Bu Siti masuk ke dapur Fatma yang berantakan. Banyak piring kotor disana. Bu Siti membuka kulkas namun tidak ada apa-apa hanya ada rujak dan air putih saja. "Anak ini punya uang tapi isi kulkasnya kosong. Lalu aku makan apa?" tanya Bu Siti. "Jangan ambil rujak aku, kalau nggak ada bahan makanan. Makan nasi putih sama sambal rujak aja Bu." kata Fatma. Dengan rasa kecewa dan sedih Bu Siti mengambil piring dan nasi putih lalu menuangkan sambal rujak dipiringnya. Fatma tidak menghiraun penderitaan Ibunya. Dia malah asyik makan rujak didepan Ibunya. "Minta buahnya sedikit Ma," kata Bu Siti. "Jangan makan nasi sama buah nggak cocok." jawab Fatma ketus lalu membawa rujaknya kedepan televisi. Bu Siti tidak terasa meneteskan air matanya, dia sangat kecewa pada Fatma yang tidak mau berbagi dengan dirinya. Dia menjadi ingat dengan Mutia menantu yang telah dia usir bersama warga. Dulu setiap kali Bu Siti meminta lauk milik Mutia, selalu Mutia memberikan lauknya. Itu saja masih Bu Siti benci karena merasa Mutia tidak mau berbagi dengannya. Sekarang malah anaknya sendiri yang memperlakukan dia seperti ini. "Aku jadi kangen sama Mutia." kata Bu Siti sedih. "Dimana anak itu sekarang?" tanya Bu Siti. "Bu habis makan cucikan piring kotor itu ya!" perintah Fatma. "Ogah Ibu nggak mau," kata Bu Siti lalu mencuci piring balasnya saja. "Sekalian Bu," kata Fatma. "Jangan manja, Ibu capek seharian kerja." kata Bu Siti lalu pergi. Dengan langkah malas Fatma mendekati cucian piringnya. Bu Siti berjalan menuju rumah, dijalan dia bertemu Novi. Namun keduanya tidak saling sapa. "Darimana janda gatal itu?" tanya Bu Siti penasaran. Sesampainya dirumah Bu Siti melihat ada bekas piring dan gelas bekas pakai yang masih basah. "Pak tadi ada yang kesini?" tanya Bu Siti. "Ada Bu," jawab Pak Warto. "Siapa? Aku lihat bapak habis makan?" tanya Bu Siti. "Novi Bu, tadi dia kesini." jawab Pak Warto tertunduk. "Pantas saja aku tadi bertemu dia. Bapaka kalau masih suka sama dia ikut dia aja." kata Bu Siti. "Maaf Bu, tadi Bapak lapar." kata Pak Warto. "Telfon Fatma kan bisa? Kenapa harus Novi?" tanya Bu Siti sinis. "Sudah telfon Fatma tapi dia tidak kunjung kesini sampai magrib tiba." jawab Pak Warto. "Maafkan Bapak,Bu." tambah Pak Warto. "Ibu kerja banting tulang untuk kebutuhan kita tapi Bapak malah memasukkan wanita lain kerumah ini. Sekarang Bapak pilih Ibu atau Novi!" kata Bu Siti. "Bapak milih Ibu,ibu jangan marah. Bapak janji tidak akan mengulanginya lagi." kata Pak Warto. "Aku tuh capek Pak hidup seperti ini terus. Makan saja nunggu sisa dari rumah Tia. Itupun kalau ada sisa, kalau tidak ada seperti ini ya terpaksa kita masak sendiri." kata Bu Siti. "Semua salah Bapak Bu, karena Bapak lumpuh Ibu jadi yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan kita." kata Pak Warto sedih. "Ibu mau istirahat Pak," jawab Bu Siti lalu pergi kekamar bekas milik Fatma. Di dalam kamar bekas Fatma Bu Siti menangis, dia merasa tidak dihargai oleh anak dan suaminya. "Rasanya seperti ini ya sakit hati." kata Bu Siti menangis. Air matanya tak terbendung lagi, semua luruh begitu saja. Punya suami tidak bisa apa-apa, bahkan anak perempuan pun pelit. "Fatma Ibu kecewa sekali kepadamu." kata Bu Siti. "Dulu sewaktu kamu belum tahu apa-apa semua Ibu lakukan sendiri." kata Bu Siti. Bu Siti sangat terpukul, besok adalah hari terapi jalan Pak Warto sedangkan Bu Siti belum punya uang. **** Bu Siti kerumah Fatma dia ingin meminjam uang untuk terapi Pak Warto. "Fatma, Bapak hari ini jadwal terapi. Ibu nggak punya uang, Ibu pinjam uang ya buat terapi Bapak." kata Bu Siti. "Apa pinjam uang? Ibu kira saya bank?" tanya Fatma. "Kamu kan pasti dapat uang dari Jordan. Tolonglah bantu Ibu!" pinta Bu Siti. "Nggak uang Fatma tinggal sedikit jadi aku harus irit. Lagipula besok Jordan baru kesini lagi." jawab Fatma. "Kalau tidak sama kamu Ibu pinjam siapa?" tanya Bu Siti sedih. "Pinjam Tia kan bisa, dia kan uangnya banyak." jawab Fatma. "Fatma itu nggak kerja Bu, jadi jangan pinjam ataupun minta uang pada Fatma." kata Fatma sinis. Dengan perasaan kecewa Bu Siti berjalan menuju rumah Tia. Bu Siti segera masak untuk sarapan. "Tumben pagi sudah sampai sini,Bu?" tanya Tia. "Iya, oh ya Tia nanti saya izin mau terapi suami saya kerumah sakit. Sekalian saya mau pinjam uang sama Tia." kata Bu Siti tertunduk. "Kenapa tidak pinjam Fatma, Bu?" tanya Tia merasa iba. "Fatma sudah tidak mau meminjamkan uang apalagi ngasih uang pada saya." jawab Bu Siti sedih. Tia merasa sedih, Tia meningalkan Bu Siti sendiri di dapur. "Tia pasti tidak mau kasih pinjam uang padaku." kata Bu Siti semakin sedih. Sarapan sudah siap dimeja makan, Tia nampak sudah rapi keluar dari kamarnya. Tia duduk dimeja makan, Bu Siti hendak ke dapur tapi dipanggil Tia. "Bu Siti kemarilah!" perintah Tia. Bu Siti menghampiri Tia dengan tertunduk lesu. Tia mengambil dompet dari dalam tasnya. Diael mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dalam dompetnya. "Ini gunakan untuk terapi Pak Warto." kata Tia menyodorkan uang tadi pada Bu Siti. "Terimakasih Nak Tia, saya akan cicil hutang saya." kata Bu Siti sambil menerima uang dari Tia. "Tidak usah dikembalikan Bu, yang penting Ibu kerja dengan baik dan nurut sama saya." kata Tia. "Baik Nak Tia saya akan bekerja dengan baik." jawab Bu Siti. Bu Siti lalu kebelakang membereskan dapur. "Alhamdulillah uangnya cukup ini satu juta." kata Bu Siti setelah menghitung uangnya. Tia pergi ke kantor, setelah dia sarapan. **** Fatma tampak sangat malas-malasan dia hanya duduk-duduk dirumah. Fatma membuka media sosialnya, sambil mamanya media sosial dia makan rujak. "Jordan masih besok kesini, aku telfon biar besok dibawakan oleh-oleh." kata Fatma. Fatma menelfon nomor ponsel Jordan dan terhubung. "Ada apa nelfon?" tanya Jordan diseberang sana. "Kangen, kamu sekarang sedang apa?" tanya Fatma. "Lagi mau siap-siap meeting, nanti sore kan udah pulang." jawab Jordan. "Sayang yuk makan dulu!" kata seorang wanita disamping Jordan. Fatma kaget saat mendengar suara wanita disamping Jordan. "Siapa wanita itu?" tanya Fatma.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagus banget cerita nya
05/03
0sangt bgus
03/01
0suka
03/05/2025
0Lihat Semua