logo text

Bab 19 Kegalauan Ulum

Ulum tampak masih sangat ragu untuk menandatangani perjanjian tersebut.
"Bagaimana Ulum bisa kamu tanda tangani?" tanya Tia.
"Beri saya waktu Tia," kata Ulum.
"Oke 2 hari saja aku kasih waktu kamu. Tinggal pilih jabatan atau istri kamu yang tukang selingkuh itu. Posisi yang aku tawarkan gajinya besar loh 10 juta per bulan." kata Tia.
"Banyak sekali gajinya, itu beneran?" tanya Ulum.
"Beneran dong," kata Tia. "Makanya kamu tinggal pilih yang mana." kata Tia.
"Dua hari lagi saya akan kasih jawabannya." kata Ulum lalu pergi dari rumah Tia.
Tia tersenyum puas saat melihat Ulum kebingungan.
Sesampainya dirumah Ulum sudah ditunggu Fatma.
"Gimana Mas? Naik jabatan kan?" tanya Fatma.
"Iya tapi ada syaratnya," jawab Ulum.
"Apa syaratnya Mas?" tanya Fatma antusias.
"Aku harus menceraikan kamu." kata Ulum.
"Apa? Cerai?" tanya Fatma kaget.
"Iya itu yang diminta Tia. Aku bingung harus pilih yang mana." kata Ulum.
"Pilih saja jabatan," kata Fatma.
"Kamu mengorbankan rumah tangga kita?" tanya Ulum.
"Kita bisa pura-pura cerai mas." kata Fatma.
"Kalau dia minta surat dari pengadilan gimana?" tanya Ulum bingung.
"Gampang kita buat surat palsu saja mas." kata Fatma.
"Kamu tahu tidak gajinya jabatan baru itu 10juta perbulan loh." kata Ulum.
"Besar sekali mas, kamu tanda tangani saja perjanjian itu mas." kata Fatma.
"Tapi Mas takut ketahuan Tia? Bisa dilaporkan polisi aku." kata Ulum.
"Jangan takut, Tia kan dalam pengaruh guna-guna kita jadi dia akan nurut sama kita." kata Fatma.
"Benar juga ya," kata Ulum setuju.
"Pokoknya kamu terima aja syaratnya Mas." kata Fatma.
"Lihat nanti saja lah." kata Umum tiba-tiba ragu.
"Jangan ragu Mas, kita pasti berhasil." kata Fatma.
"Baiklah akan aku ikuti san kamu." kata Ulum.
Ponsel Fatma berdering, fatma mengambil ponselnya lalu masuk kedalam kamar.
"Ada apa Jordan?" tanya Fatma.
"Malam ini aku tunggu kamu dihotel melati ya. Aku akan ajak kamu shoping setelah kamu layani aku." kata Jordan.
"Baiklah aku akan datang." kata Fatma lalu kematian ponselnya.
"Siapa yang nelfon?" tanya Ulum.
"Teman aku dia minta malam ini aku datang upacara dia yang sedang ulang tahun anaknya." kata Fatma.
"Oh begitu, maaf aku nggak bisa mengantuk kamu." kata Ulum.
"Iya nggak apa-apa," kata Fatma senang.
"Oh ya Mas makan yuk aku udah lapar." kata Fatma menuju ruang makan.
Masak apa kau?" tanya Umum.
"Capcai sama ayam kecap." kata Fatma lalu mengambilkan Ulum nasi.
Ulum makan dengan sangat lahap, beberapa hari ini dijarang makan dirumah.
"Kamu jangan ragu mas, kalau gaji kamu sebesar itu kita bisa beli mobil Mas." kata Fatma.
"Benar juga Mas udah lama pingin punya mobil sendiri." kata Ulum
"Makanya terima saja Mas," desak Fatma.
"Tapi aku masih ragu buat ambil jabatan itu," kata Ulum.
"Kesempatan nggak datang 2 kali mas jadi manfaatkan aja." kata Fatma.
"Takut Mas dek," kata Ulum.
"Alah Mas kapan lagi punya uang banyak kalau kamu cuma jadi supir? Yang ada cuma bisa mimpi sampai kapanpun nggak kesampaian." kata Fatma kesal dengan suaminya yang masih ragu.
"Ya sudah kalau kamu maksa, mas akan terima tanda tangani perjanjian itu." kata Ulum.
****
Esoknya Ulum sebelum berangkat kerja akan menandatangani surat perjanjian itu.
"Mana Bu, biar aku tanda tangani suratnya sekarang." kata Ulum.
"Kamu yakin akan bercerai? Sudah dipikirkan matang-matang?" tanya Tia.
"Sudah, keputusan aku sudah bulat Bu." jawab Ulum.
"Baiklah tunggu sebentar aku akan ambilkan perjanjiannya." kata Tia lalu masuk kedalam kamar dan kembali dengan map kemarin.
"Silahkan tanda tanam!" perintah Tia sambil meletakkan map dan bolpoin.
Ulum membukanya, lalu membaca dan menandatangani perjanjian tersebut.
"Sudah Bu," kata Ulum berikan map itu kembali.
"Jabatan kamu akan naik setelah turun surat perceraian dari pengadilan." kata Tia.
"Baik Bu," kata Ulum.
"Bagaimana dengan Fatma apa dia tahu?" tanya Tia.
"Dia tahu dan setuju," jawab Ulum.
"Mengorbankan rumah tangga demi uang." kata Tia lalu mengajak untuk segera berangkat ke kantor.
Mereka terdiam saat dalam perjalanan ke kantor.
"Oh ya tolong nanti jemput tamu di hotel melati. Ajak dia kemari untuk survei perusahaan ini." kata Tia. "Nomor ponselnya nanti aku kirim ke kamu." kata Tia.
"Baik Bu," jawab Ulum.
Sesaat kemudian Ulum segera berangkat ke hotel melati, sesampainya diloni hotel Ulum menelfon tamu tersebut.
"Halo Pak, saya Ulum supir Bu Tia yang menjemput Bapak. Saya sudah berada dilobi hotel." kata Ulum.
"Mas Ulum naik saja ke kamar nomor 15 nanti tunggu didepan pintu saja." kata tamu tersebut.
"Baik pak," jawab Ulum lalu naik lift naik ke lantai 2.
Saat keluar dari lift Ulum melihat Fatma bersama seorang pria, dia segera sembunyi.
"Puaskan aku pagi ini nanti kita shoping yang banyak." kata Jordan.
"Baik pasti itu, asal ada uangnya." kata Fatma.
Ulum sengaja membiarkan Fatma masuk kedalam kamar hotel bersama pria itu.
"Sudah cukup Fatma aku akan beri kamu kejutan." kata Ulum.
Ulum berada didepan pintu kamar nomor 15. Seorang pria paruh baya membuka pintu.
"Mas Ulum ya, bisa bantu saya angkat barang ini?" tanya tamu tersebut.
"Bisa pak," kata Ulum lalu membantu tamu tersebut membawa barang kedalam lift.
Ulum teringat Fatma yang saat ini memadu cinta dengan pria kaya.
"Sudah cukup kamu remehkan aku Fatma. Akan aku buktikan aku bisa hidup tanpa kamu." batin Ulum.
"Mas jangan melamun kalau nyetir, bahaya nanti bisa kecelakaan." kata tamu yang dibawa Ulum.
"Maaf Pak, tidak akan saya ulangi lagi." kata Ulum.
Sesampainya di kantor Ulum membantu Bapak itu membawa barangnya kerjanya Tia.
"Selamat pagi Bu Tia," sapa pria tersebut.
"Selamat pagi, pak Burhan." kata Tia. "Mas Ulum Terimakasih ya silahkan mas Ulum keluar." kata Tia pada Ulum.
Ulum segera keluar dari ruangan Tia, dia masih kepikiran dengan Fatma yang selingkuh.
"Aku akan lakukan apa yang aku mau." kata Ulum.
"Mas Ulum darimana tadi?" tanya satpam kantor.
"Dari hotel jemput tamu Pak, tapi sial sekali malah lihat istri saya dihotel sama selingkuhannya." kata Ulum sedih.
"Mas jangan sedih ambil hikmahnya aja. Kalau dia selingkuh berarti dia bukan wanita yang patut untuk diperjuangkan mending diceraikan aja lalu cari yang lebih muda." kata Satpam tersebut.
"Harus begitu mas, kalau mas di selingkuhin tapi diam aja itu namanya bodoh." kata Satpam tadi.
"Benar juga sih," kata Ulum.
Saat mereka sedang asyik ngobrol ada karyawan lewat nabrak Ulum.
"Maaf Mas," kata Wanita itu.
Seketika Ulum melihat wajah wanita itu, dia begitu cantik. Ulum sampai tidak berkedip melihat wanita itu. Satpam tadi yang melihat langsung geleng-geleng kepala.

Komentar Buku (268)

  • avatar
    Tth Bungsu

    bagus banget cerita nya

    05/03

      0
  • avatar
    Dewik Uye

    sangt bgus

    03/01

      0
  • avatar
    lidax

    suka

    03/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru