logo text

Bab 16 : Sentuhan paksa.

Lalu tiba-tiba.
Sebuah mobil ambulance tiba. Terlihat 4 orang lelaki menggunakan jas putih turun dari mobil sambil membawa beberapa peralatan. Mereka pun langsung masuk ke dalam ruangan tempat Mala berbaring tak bernyawa.
"Cepatlah! Kita tidak mempunyai cukup waktu!" ucap sang Dokter yang sudah berada di dalam ruangan sedari tadi.
Ternyata dokter tadi menelpon rekannya untuk datang membawakan bala bantuan.
Raj pun langsung kembali meletakkan Mala dari dekapannya dan membiarkan semua dokter mengurusnya. Dada Mala di tekan berkali-kali bahkan menggunakan alat agar jantungnya kembali berdetak.
Semua orang bahkan melihat hal itu dengan linangan air mata. Terlebih Rohit, ia tak ingin kehilangan adik semata wayangnya yang selama ini sudah ia cari.
Sapna yang melihat kekasihnya menangis kencang dalam diam pun memeluk lelaki tampan itu dengan menahan tangis.
Selain itu, beberapa Dokter juga berusaha mengeluarkan racun ular mematikan itu dari tubuh gadis cantik berwajah bulat itu. Hingga....
Setelah perjuangan yang begitu luar biasa.
Tiit ... Tiit ... Tiit....
Jantung Mala pun akhirnya kembali berdetak. Wajahnya yang pada awalnya terlihat pucat pasi kini mulai kembali normal layaknya orang hidup.
Semua orang yang melihat itu pun bernafas lega terutama Raj dan Rohit.
"Terima kasih ... Terima kasih Dokter ... Terima kasih...." ungkap Raj sangat lega.
"Sama-sama. Sekarang kita hanya menunggu dia sadar saja. Tapi tetap kabari saya jika terjadi sesuatu!" pinta Dokter itu.
"Baik Dokter. Pasti!" jawab Raj.
"Kami juga sudah berhasil mengeluarkan semua racun dari tubuhnya, dia gadis yang beruntung." kata Dokter yang lain.
"Syukurlah.... Terima kasih Dokter, terima kasih. Terima kasih banyak." Ungkap Raj sambil menjabat tangan Dokter itu.
Dokter itu pun mengangguk kemudian mereka langsung melangkahkan kaki keluar villa bersamaan dengan dokter lain.
***
Hari demi hari berlalu.
Raj tak pernah sedikitpun jauh dari Mala. Meskipun Amira selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhkan lelaki gagah itu dari gadis yang ia cintai, tapi ia selalu gagal. Hal itu di karena kan Raj tetap lebih memilih Mala gadis yang sangat dia cintai.
Hingga....
10.00
Malam hari
Saat itu Raj sedang menatap wajah Mala sambil membelai kepala nya dengan lembut.
Akhirnya Mala pun membuka matanya. Orang pertama yang dia lihat adalah Raj. Lelaki tampan yang melihat itu tampak bahagia.
"Sayang...." ungkap Raj dengan senyuman merekah.
"R--raj.... Kau di sini? Apa yang tetjadi?"
Raj pun menceritakan semuanya pada Mala. Ia pun langsung mengingat kejadian hal itu, dan meneteskan air matanya.
"Maaf Raj ... Maafkan aku...." tangis Mala.
"Tidak sayang.... Itu semua bukan salahmu. Sudah, jangan menangis! Dokter sempat bilang padaku jika kau siuman maka kau akan segera sembuh jadi jangan khawatir. Kau akan baik-baik saja. Oh ya, satu lagi, semua racun ular itu udah di keluarkan dari tubuhmu. Jadi ... Tidak apa-apa...." jelas Raj.
"Benarkah? Aku ... Aku pikir aku sudah mati, dan kau akan hidup bahagia dengan Amira. Aku akan ikhlas jika seandainya itu terjadi Raj...." kata Mala dengan linangan air mata.
"Sssttt.... Kenapa kau bicara seperti itu? aku mencintaimu dan hanya kamu sayang yang ada di hatiku. Aku panik saat melihat sesuatu buruk terjadi padamu. Aku tidak mau kamu kenapa-napa. Aku tidak ingin kehilanganmu." ungkap Raj kemudian menempelkan wajahnya ke wajah Mala sambil memejamkan matanya.
Setelah itu Raj pun mencium bibir Mala dalam gadis cantik itu pun langsung memejamkan matanya dan membalas ciuman Raj.
***
1 minggu kemudian.
Akhirnya Mala pun kembali pulih. Semua orang tampak senang dan lega kecuali Amira dan Esha.
Saat ini semua orang sedang berkumpul di ruang tengah. Raj, Prem, Rohit, Dev, Nimisha, Sapna dan Priya sedang mengobrol santai.
Sapna tak pernah sekalipun menatap Rohit. Padahal sedari tadi lelaki tampan itu terus saja menatap Sapna sedih dan berharap ia menatapnya juga. Setidaknya bagi Rohit dia bisa melihat senyuman manis Sapna yang dirindukan.
Hanya Mala ,Esha dan Amira yang tak berada di sana.
Hingga....
"Nimi.... Keluar yuk cari udara dingin! Hawanya menyebalkan di sini." ajak Sapna.
Ia merasa kesal hanya dengan melihat wajah Rohit saja, padahal Esha sedang tak berada di sampingnya karena sedang beristirahat di kamar.
Nimisha menatap kekasihnya dan Dev pun mengangguk memberikan isyarat mengijinkan. Mereka pun kemudian melangkahkan kaki keluar villa dan berjalan-jalan di taman.
Saat Sapna dan Nimisha sedang jalan-jalan malam di taman sambil menghirup udara segar. Mendadak langkah mereka terhenti lantaran melihat Mala sedang menangis di bawah pohon yang gelap.
Sapna dan Nimisha belum pernah melihat Mala menangis seperti itu. setahu mereka, Mala orang yan murah senyum dan kuat walaupun dia di sakitin segimanapun.
Sapna dan Nimisha langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Mal, kau baik-baik saja?!" Tanya Nimisha.
Mala terkejut dan langsung menghapus air matanya.
"Aku tahu! pasti gara-gara cewek sialan itu kan Mal?!" kata Sapna kesal.
Mala hanya menunduk kemudian meneteskan air matanya lagi, kemudian menutup wajahnya dan kembali menangis.
"Mal.... udahlah, jangan menangis." kata Nimisha sambil memeluk Mala dari samping dan hampir menangis juga karena ikut merasakan apa yang Mala rasakan.
Sapna pun kemudian beranjak masuk ke dalam untuk menemui Raj.
Saat itu Raj sedang berkumpul bersama Rohit, Dev, Prem dan Priya.
Sapna pun masuk ke ruangan tengah dan langsung melihat mereka. tapi tidak melihat gadis itu.
"Raj...." sebut Sapna yang berhasil membuat semua orang menatapnya.
"kenapa?" Tanya Raj penasaran.
"Mala nangis di bawah pohon." kata Sapna yang membuat semua orang terkejut dan bingung.
"apa?! nangis?!"  ungkap Raj terkejut yang kemudian langsung berjalan keluar menghampiri Mala.
Sapna dan yang lain pun ikut keluar menyusul Raj.
"Di sana Raj." ajak Sapna sambil menunjuk ke arah Mala dan Nimisha berada.
Semua orang pun langsung menuju ke sana.
Sesampainya di tempat Mala dan Nimisha berada. Raj benar-benar terkejut melihat gadis yang di sukainya menangis sesenggukan gak karuan di pelukan Nimisha.
lelaki berbadan kelar dan gagah itu pun langsung duduk di samping Mala dan menggenggam tangannya dengan wajah yang terkejut bercampur kesedihan yang mendalam.
"Kau kenapa sayang?!" tanya Raj nada lembut.
"Apa salah ku.... Kenapa dia sangat membenciku?! Bahkan nyawaku menjadi taruhannya? Kenapa mereka ingin sekali membunuhku Raj...." ucap Mala kemudian kembali menangis.
"Memang salah ya kalau aku mencintai seseorang dan di cintai seseorang? Emang salah yaa aku merasa bahagia Raj? Kenapa di saat aku sudah merasa bahagia ada saja yang berusaha menghancurkan kebahagiaanku. Apa salahku Raj ... Aku merasa kalau aku tak layak untuk hidup...." tangis Mala.
"Tidak sayang.... Jangan bicara seperti itu ya. Apa pun yang terjadi, aku tetap sayang pada mu ... Kau mengerti...?" ucap Raj sambil membelai sekaligus menghapus air yang membasahi pipi gadis yang ia cintai itu.
Setelah itu, Raj pun langsung memeluk Mala dan ia menyambut pelukan lelaki berbadan kekar itu dengan nyaman sambil menangis tak karuan. Semua orang ikut merasakan kesedihan yang Mala rasakan saat itu, hanya Esha saja yang cuek dan memutar kedua bola matanya.
"Sudah, jangan menangis ... Aku di sini.... Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada mu, kau mengerti?!" kata Raj sambil membelai kepala Mala dan kembali menghapus air mata sangat kekasih.
"Raj benar Mal.... Kau tidak sendirian di sini." kata Sapna sambil menggenggam tangan Mala.
Mala pun mengangguk sambil menyambut genggaman tangan Sapna dan menempelkan kepalanya ke sisi samping kiri Sapna.
"Ya sudah sekarang sebaiknya kamu istirahat! Kamu sudah makan sayang?" tanya Raj sambil memegang pipi Mala.
Hanya gelengan kepala yang Raj dapatkan saat itu.
"Kalau begitu, kau makan dulu lalu istirahat! Aku tidak mau kamu sakit sayang...." ungkap Raj masih memegang pipi Mala, kini jempolnya membelai lembut pipi tembam itu.
Mala pun kemudian berdiri sambil menggenggam tangan Raj yang hangat kemudian lelaki berbadan tinggi, gagah dan tampan itu pun memeluk Mala dari samping.
Semua orang yang melihat itu membiarkan Raj dan Mala masuk bersama ke dalam.
Sementara, Prem, Priya, Dev, dan Nimisha melangkahkan kaki mereka kembali ke kamar. Sedangkan Sapna, saat ia ikut melangkahkan kakinya, tiba-tiba....
"Sayang.... Aku ingin bicara dengan mu. Ku mohon...." kata Rohit sambil memegang tangan Sapna.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan Rohit! Sebaiknya kau urus saja anak mu yang ada dalam perut gadis sialan itu. Kau mengerti!!" kesal Sapna sambil menepis tangan Rohit.
Sapna pun pergi begitu saja meninggalkan Rohit sendiri dengan perasaan sedih campur kesal terhadap dirinya sendiri.
"Sapna.... Ku mohon! Dengarkan penjelasan ku dulu, Sayang...." ucap kembali Rohit gak menyerah sambil berdiri di hadapan Sapna.
Gadis cantik itu terus berusaha melewati Rohit tapi lelaki itu berhasil menghalangi.
"Iihhh Rohit!! Minggir bisa tidak!? Minggiiirrr!!" kata Sapna kesal sambil mendorong Rohit.
Tubuh Rohit terpental begitu saja akibat dorongan kencang Sapna.
"Ingat lah Rohit! Jika kau berani dekati aku lagi! Aku akan bunuh diri!!" Ancam Sapna dengan mata merahnya.
Gadis langsung nanti cantik itu pun kemudian berhasil melewati Rohit dan berjalan menuju ke kamarnya dengan kesal. Rohit hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah dan melihat punggung gadis yang ia cintai semakin menjauh.
Tiba-tiba....
"Hai, Rohit Seth! Lama tak jumpa.." sapa seorang lelaki dari arah belakang.
Rohit sempat terkejut lantaran ia mengenali suara itu. Lelaki itu pun langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara dengan tatapan sangat terkejut.
***
Sementara itu Amira dan Sanjay.
Saat ini mereka sedang berasa di sebuah hotel tempat Sanjay tinggal. Kini, Amira sedang menyandarkan kepalanya di bahu Sanjay yang bidang.
Beberapa kali lelaki yang terbilang cukup tampan itu mencium kening Amira, gadis itu memejamkan mata saat Sanjay melakukan hal itu.
Tak hanya itu, Amira juga memainkan kancing baju Sanjay dan ia hanya menatap hal itu kemudian tersenyum.
"Hei, kenapa aku tidak bertemu lebih dulu denganmu? Kenapa aku harus bertemu Mala itu terlebih dulu?!" tanya Sanjay yang masih memeluk Amira dari samping.
Amira pun tersenyum sambil memainkan kancing baju Sanjay.
"Apa kau menyesal??" tanya Amira.
"Menyesal?! Tidak, aku tidak menyesal. Aku senang bisa bertemu denganmu sekarang. Tapi.... Apa kau masih ingin mendekati si CEO Rajesh Singh itu?!" tanya Sanjay sedikit kesal.
"Kenapa kau selalu menyebut Raj seperti itu?"
"Kau tidak tahu?!"
"Tahu soal apa?!"
"Rajesh Singh adalah seorang CEO terkenal dengan egois, seenaknya dan semaunya pada banyak orang. Walaupun wajahnya terlihat polos dan kalem, tapi dia orang yang kejam." jelas Sanjay.
"Benarkah?! Jujur saja, Aku sebenarnya tidak menyukai nya dan aku juga tidak mencintainya sama sekali! Aku hanya mencintai hartanya saja. Jadi, kau tenang saja sayang.... setelah aku ambil semua harta milik Raj, aku akan kembali padamu dan menikah denganmu." jelas Amira kemudian tersenyum licik.
"Benarkah?! Oh ya, tapi gadis itu, yang selalu bersama denganmu.bAku perhatikan perutnya semakin besar. Apa dia hamil?!" tanya Sanjay.
"Benar, dia hamil. Aku tidak menyangka kalau dia sedang hamil." kata irene.
"Kalau begitu, biarkan aku membuatmu hamil." kata Sanjay dengan menggoda lalu langsung menindih Amira.
***
Sementara itu Rohit.
"Apa yang kau lakukan di sini!?" tanya Rohit sambil menatap lelaki itu tajam.
"Kenapa.... Apa aku tidak boleh mencari anggota keluarga ku sendiri? Aku melihat mu dari jauh tampaknya kau sudah bertemu dengan Mala ya? Dan.... Gadis yang barusan kau ajak bicara, dia terlihat sangat cantik dan imut." kata lelaki itu.
"Diam kau?! Jangan coba-coba kau deketin Mala lagi dan terlebih Sapna!!" bentak Rohit sambil mencengkeram kerah baju lelaki itu.
Tiba-tiba....
"Rohit.... Apa yang kau lakukan di situ? Ayo tidur sayang...." ajak Esha yang mendadak muncul begitu saja.
Rohit dan lelaki itu langsung menatap Esha.. Ia pun kemudian mendorong lelaki itu kemudian menghampiri Esha dan masuk ke dalam.
"Jadi.... Namanya adalah Sapna? Baiklah...." ucap lelaki itu menggoda sambil menatap ke arah Sapna yang sedang berjalan kesal ke arah kebun.
***
Sementara itu Esha dan Rohit. Saat ini mereka sudah ada di dalam kamar.
"Sayang.... Kemari-lah, kenapa kau harus duduk di sofa sih...." kata Esha sambil memegang perutnya yang besar di atas kasur.
"Hentikan! Masih untung aku mau sekamar sama kamu. Tidurlah, dan jangan ganggu aku!" ungkap Rohit dingin.
"Baiklah.... Kalau begitu aku akan tidur di samping mu juga." kata Esha kemudian beranjak bangun tempat tidurnya menuju ke tempat Rohit berada.
Saat ia sedang berjalan, Tiba-tiba....
"Aww!!" teriak Esha sambil mencengkeram perutnya.
Rohit yang mendengar teriakan itu secara refleks menghampiri langsung menghampiri Esha.
"Kenapa? Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Rohit yang mendadak jadi khawatir.
"Tidak.... Aku baik-baik saja Rohit." jawab Esha yang langsung tenang.
"Tidurlah!" titah Rohit kemudian dia ikut tidur di sisi Esha di atas kasur.
Esha dengan senyuman merekah memeluk lengan Rohit dan mulai tertidur. Sementara Rohit di pikirannya hanya bergelut mengenai Sapna yang masih marah padanya.
***
Di sisi lain.
Saat ini, Sapna masih berjalan kesal ke arah tempat dengan bentuk beratap payung dan di kelilingi tiang-tiang di sekitarnya. Tanpa Sapna sadari lelaki tadi mengikuti Sapna.
"Arrghh!! Kenapa sih dia tidak lupakan saja aku! Kesel banget. Dasar lelaki tak tahu diri!!" kesal Sapna.
"Siapa?!" tanya seorang lelaki yang tiba-tiba muncul.
Sapna pun terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Si--siapa kamu?!" tanya Sapna.
"Aku? Kenalkan, Aku Rohan Seth." kata lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
Sapna menatap lelaki itu dengan cermat. Sekilas dia merasa kalo lelaki di hadapannya itu mirip sekali dengan Rohit.
"Rohan...? Apa aku mengenalmu?" tanya Sapna.
"Tidak, karena kita baru saja berkenalan." jawab Rohan dengan senyuman penuh arti.
"Baiklah, kalau begitu, ijinkan aku pergi. Aku ingin kembali ke kamar." ucap Sapna yang perasaannya mulai tak enak.
Tanpa basa-basi, Rohan langsung menarik tubuh Salna dan menyandarkannya ke tembok.
"Apa yang kau lakukan!! Mmhhh.."
Ternyata Rohan mulai menyentuh tubuh Sapna secara paksa.
Sapna berusaha memberontak dan menolak sentuhan itu, hingga ia berhasil menendang tubuh Rohan dan berhasil membuat lelaki itu terpental.
Sementara Sapna, ia langsung berdiri sambil menutup tubuhnya kemudian mengeluarkan handphonenya dari kantong celana untuk mencoba menelpon seseorang.
Tanpa Sapna sadari ia menelpon Mala dan itu pun di angkat langsung karena Mala belum tidur.
"Halo, Sapna. Ada apa? kau baik-baik saja?" tanya Mala.
Sapna tak mendengar perkataan Mala. Dia terjatuh kembali di lantai dan Rohan pun langsung kembali menyentuh tubuh Sapna dengan paksa.
Mala benar-benar terkejut saat mendengar suara aneh dari Sapna terlebih dia meminta tolong.
"Sapna! Apa yang terjadi?! Kau baik-baik saja?"tanya Mala panik.
Raj, langsung fokus pada kekasihnya, hingga ia terkejut saat melihat Mala langsung lari ke luar Villa, karena pada saat itu mereka masih mengobrol di meja makan.
Saat Mala hendak keluar dari Villa, Raj langsung menarik tangannya.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Raj bingung.
"Sapna.... Dia menelepon ku minta tolong Raj, sepertinya dia ... Dia ... Dia di.... Di sentuh paksa." kata Mala dengan linangan air mata.
"Apa!?"
"Raj, ayo kita cari dia! Perasaanku tidak enak. Kita harus menolong Sapna." ajak Mala.
Raj pun mengangguk kemudian mereka pun langsung berlari mencari keberadaan Sapna. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya Mala dan Raj pun menemukan Sapna yang sudah terkulai lemas tak berdaya.
"Sapna.... Apa yang terjadi...?" tanya Mala sambil mengangkat tubuh Sapna ke pangkuannya.
Nada suara nya terdengar bergetar. Air pun berhasil keluar dari kedua bola mata dan membasahi pipinya yang tembam.

Komentar Buku (121)

  • avatar
    Sri RiswianiYullies

    sangat menarik

    21/07/2025

      0
  • avatar
    Putri ayuAyu

    cerita ny bagus

    23/10/2024

      0
  • avatar
    AriansyahTegar

    sangat mudah

    20/09/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru