logo text

Bab 15 Satu Kebisuan

Hansel sudah memantaunya cukup lama. Dia terpaksa meminta seseorang untuk mengamati pergerakan Calvin, bahkan mencari tahu semua tentangnya. Namun, setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda bahwa Erin akan mengatakan kisah lama itu padanya.
Mereka memang sudah lama saling mengenal, tetapi masa lalu bukan hal penting untuk dibahas. Berbeda jika Calvin datang kembali dan ingin merebut Erin darinya. Dia sudah berjanji untuk bersaing secara sehat.
Meskipun mereka sudah menikah dan sudah pasti dia yang menang, akan tetapi dia menginginkan Erin yang memutuskan pilihan sendiri. Selama ini wanita itu hidup dalam tekanan dan dia tidak ingin Erin merasa tidak bahagia.
Bukan berarti pula Hansel menyerahkan istrinya tanpa perjuangan. Untuk itu dia menawarkan persaingan secara sehat agar mereka bisa sama-sama menunjukkannya pada Erin.
"Mister Hansel, Anda harus segera menghadiri rapat."
Perkataan sang sekretaris menggerakkan Hansel yang tadinya termenung cukup lama. Dia segera bangkit dari kursi kerjanya dan langsung keluar dari ruangan. Bersama sekretarisnya, dia menuju tempat rapatnya siang hari ini.
Namun, tidak sengaja dia berpapasan dengan Erin yang di belakang ada pesaingnya sendiri. Calvin tersenyum penuh kemenangan ketika mendorong langkah untuk menyusul ayunan kaki Erin.
"Ketua Tim, bisakah kita bicara sebentar?"
Erin begitu sibuk dengan berkas di tangannya ketika ditanya. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau dia tidak menyadari keberadaan Hansel.
"Aku harus menyelesaikan—"
"Saya berjanji tidak akan sampai lima menit."
"Baiklah. Apa yang ingin Kau bicarakan?" Erin menutup berkasnya.
"Bisakah kita berbicara di tempat lain? Saya tidak nyaman membicarakannya di tempat yang mudah dilalui oleh orang lain begini."
"Memangnya hal apa yang ingin Kau bicarakan sampai-sampai harus mencari tempat?"
Tanpa menunggu perkataan lebih banyak lagi, Calvin segera membalikkan badan Erin dan menuntunnya. Setelah beberapa langkah, baru Erin sadar kalau suaminya juga ada di sana. Hanya saja, dorongan tangan Calvin tidak bisa dihentikan sehingga yang dilakukan hanya menurut saja dengan canggungnya.
Meninggalkan Hansel yang mengepalkan tangan, dua orang tadi berhenti setelah mencapai satu sudut yang memiliki tempat duduk bundar. Calvin membeli minuman kaleng dari mesin dan memberikannya pada Erin.
Erin menerimanya dengan ragu. "Jadi, apa yang ingin Kau bicarakan? Haruskah aku menghitungnya mulai dari sekarang?"
Calvin duduk pula di sana. Dia meneguk minuman, lalu menyerukan suara kenikmatan. Bisa dikatakan kalau ini adalah minuman terenak yang dia beli, mungkin karena duduk bersama dengan wanita yang disukainya.
"Sudah berlalu satu menit."
Calvin tertawa. "Aku belum mulai bicara."
"Tapi Kau sudah menyita waktuku terlalu banyak."
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menyita waktumu lebih banyak lagi daripada ini," ucap Calvin. Dia bangkit, lalu pergi.
Erin langsung berkata sebelum pria itu benar-benar pergi, "Kenapa Kau pergi begitu saja? Bukankah tadi ingin berbicara denganku?"
Calvin membalikkan badan. "Apa Ketua Tim berharap saya mengatakan sesuatu?"
Erin menggeram kesal. "Aku tahu, seharusnya tidak mengikutimu ke mari."
"Kalau begitu, apa Ketua Tim ingin pergi berkencan dengan saya?"
"Apa yang Kau katakan? Aku sudah memiliki suami. Berhenti mengatakan hal semacam itu padaku. Lebih baik Kau fokus dengan kehidupanmu yang sekarang."
Calvin tersenyum. "Saya sudah tahu jawabannya. Karena itu tidak mengatakannya. Kalau begitu, selamat bekerja."
"Tunggu!"
Erin melangkah dengan cepat hingga mereka tidak begitu jauh lagi jaraknya.
"Meskipun kita memiliki hubungan yang berakhir dengan buruk sebelumnya, tapi aku tidak ingin hal itu terulang untuk ke dua kalinya. Aku harap Kau mengerti, Calvin. Mari kita lupakan masa lalu dan memulai waktu ini dengan bahagia. Aku dengan pernikahanku dan Kau dengan kehidupan barumu."
Erin mengulurkan tangan, tetapi tidak kunjung disambut. Dia pun berinisiatif menarik tangan Calvin untuk bersalaman dengannya.
Calvin tahu bahwa dia tidak memiliki celah untuk hubungan mereka. Erin bukan seperti dia yang bermain-main dalam hubungan. Mustahil bisa meruntuhkan keyakinan Erin yang sudah bulat untuk tetap mempertahankan pernikahan.
Calvin sudah tahu, tetapi dia tidak ingin tahu.
Jabatan tangan tadi bukan apa yang sebenarnya Calvin inginkan. Dia tidak rela melihat Erin pergi begitu saja darinya. Pantas dia disebut sebagai makhluk yang paling egois karena berniat menghancurkan hubungan pernikahan seseorang.
***
Taksi berhenti di depan sebuah bioskop. Erin turun dan bergegas memasuki gedung. Dia mencari keberadaan Hansel yang tidak sulit untuk ditemukan. Sangat mudah karena begitu mencolok penampilannya. Siapa yang datang ke bioskop dengan setelah formal? Hanya Hansel orangnya.
"Kau sudah menunggu lama?"
"Tidak juga. Aku sudah membeli tiket. Kita tinggal menunggu giliran."
Erin mengernyitkan alis dalam-dalam. "Apa Kau pikir, menonton saja cukup? Kita harus membeli camilan dan juga minuman."
"Ah, aku melupakannya. Terakhir kali kita menonton di bioskop ketika masih kuliah."
"Kalau begitu, aku akan pergi membelinya."
"Aku ikut bersamamu."
Usai membelinya, mereka menunggu untuk beberapa saat sebelum giliran memasuki bioskop benar-benar tiba. Cukup banyak yang menonton film bergenre romantis pada saat itu.
"Aku tidak pernah bosan, bahkan setelah menontonnya berulang kali." Salah seorang penonton wanita yang menunggu giliran untuk masuk berkata.
"Aku pergi hanya untuk menemanimu." Teman pria dari wanita itu—mungkin kekasihnya—balas berkata.
"Ayolah, Kau pasti juga berpikir bahwa filmnya asyik, bukan?" Wanita tersebut diam saat bertemu tatap dengan Erin, lalu berubah terkejut. "Erina!"
Erin juga sadar bahwa yang ada di depan mereka adalah salah satu rekan kerjanya. "W—wanda?" Lebih tepatnya, dia baru menyadari.
"Kebetulan sekali kita bertemu!"
"Ah, y—ya ... kebetulan sekali kita bertemu." Erin memaksa tawanya.
"Kau menonton bersama siapa?" Wanda memperhatikan sekeliling, mencari dengan siapa temannya datang. "Seorang diri?"
"Y—ya seorang diri ...."
"Oh, tidak! Apa Kau datang bersama suamimu?"
"S—suami?"
Erin tidak sanggup menghadap ke belakang untuk melihat suami yang dimaksud, tetapi dia yang sudah ketahuan akhirnya terpaksa melakukannya. Tetapi kenyataan dari kegelisahan adalah Hansel sedang membelakangi mereka.
"Dia bukan—"
"Tapi ... kenapa suamimu terlihat seperti Mister Hansel?"
"Dia suamiku! Kau benar. Jangan bercanda, Wanda. Mana mungkin Mister Hansel ada di sini. Benar, bukan?"
Wanda tertawa. "Kau benar. Mana mungkin bujang lapuk itu ada di tempat ini." Sudah berbicara begitu, dia berusaha melihat rupa suami Erin yang membuat banyak orang penasaran.
"Apa dia kekasihmu?" Erin dengan cepat bertanya, berusaha mengalihkan perhatian.
"Oh, ya! Perkenalkan. Dia my honey bunny sweat heart-ku!"
Erin membeku ketika dilimpahkan kemesraan pasangan yang menurutnya sangat menggelikan. Meskipun begitu, dia tetap memperkenalkan diri dengan baik. Tepat saat perkenalan usai, giliran mereka memasuki ruangan. Pasangan rahasia tidak dapat menghindar dan terpaksa mengikuti acara menonton bioskop itu bersama-sama.

Komentar Buku (132)

  • avatar
    BilqisAqila

    Hansel tersenyum jahil dan hal itu membuat Erin semakin naik saja hasratnya. senyuman yang selalu menawan hati dan memaksanya untuk merelakan diri tenggelam dalam mata terpejam, melanjutkan ciuman mereka yang sempat berhenti dengan gairah membara.. dari bait inilah saya senyum dan tertawa sendiri saat membaca

    15/07/2022

      0
  • avatar
    16serli

    bagus thor ceritanya sangat menarik

    26/06/2022

      0
  • avatar
    SyifaAskiya

    aplikasinya bagusss banget aku suka semoga barokah bagi ku

    06/04/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru