Hansel begitu sibuk malam itu. Dia berulang kali memeras handuk kecil yang tidak hanya sekali digunakan untuk menyerap panasnya suhu tubuh Erin. Pada saat ini, dia juga menyesal karena tidak tahu lebih awal kalau istrinya sedang berada dalam masa sulit. “Erin, apa Kau bisa mendengarkanku? Suhu tubuhmu cukup tinggi. Aku sudah menghubungi dokter untuk datang ke mari, tapi sepertinya akan memakan waktu lama. Jadi, aku akan keluar sebentar dan membelikan obat penurun panas untukmu. Jangan lakukan apa pun sampai aku kembali. Ok?” Tidak ada jawaban membuat Hansel lebih khawatir. Dia hendak memalingkan diri, tetapi tiba-tiba sentuhan di tangan membuat niat itu urung. Sekarang Erin sudah membuka kedua mata. “Jangan pergi. Aku hanya perlu istirahat sebentar saja.” Hansel duduk di tepi ranjang, memperhatikan wanita yang tatapannya tampak seperti memohon. “Baiklah. Aku akan tinggal untuk menemanimu. Apa ada sesuatu yang Kau butuh? Katakan saja padaku, maka aku akan mengambilnya untukmu.” “Tenggorokanku kering. Aku sangat haus.” “Aku akan segera mengambilkannya.” Hansel bergegas turun ke lantai bawah, mengambil segelas minuman untuk dibawa ke kamar. Dia juga membantu Erin duduk dan minum, lalu membaringkannya lagi dengan hati-hati. “Hansel, aku—“ “Aku sangat mengkhawatirkanmu dan kesulitan saat mencarimu. Tapi melihatmu sudah ada di depanku sekarang membuat hatiku lega. Itu saja sudah cukup. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa. Beristirahatlah agar cepat sembuh. Aku akan menunggumu di sini.” Erin mengangguk pelan. Dia memejamkan mata dengan tenang. Ada Hansel yang akan menemaninya. Jadi, dia merasa tidak perlu hal lain lagi. Cukup genggaman tangan mereka. Tangan yang saling menggenggam tetap awet hingga esok. Suhu tubuh Erin tidak lagi tinggi dan kedua mata terasa enteng ketika dibuka. Tidurnya begitu nyenyak sampai-sampai bangun di siang hari. Erin melepaskan tautan jemari satu persatu, lalu membalikkan badan. Dia mendapati Hansel yang masih tertidur pulas, tidak terganggu sama sekali. Sangat jarang mereka bangun kesiangan dan kebanyakan terjadi karena tidur terlambat. Mungkin Hansel terjaga semalaman untuk menungguinya. Sekarang Erin sangat bersalah, meskipun di sisi lain dia tahu kalau tidak ada yang bisa disalahkan. Menepis itu semua, Erin turun dari ranjang, beranjak ke kamar mandi dan membasuh muka. Dia melihat riasan yang belum dibersihkan dengan baik. Selain itu, dia juga memiliki jerawat baru di dekat bibir bawah. Sangat mengganggu. Selesai dari sana, Hansel masih tertidur pulas. Hanya bergerak sedikit mengganti posisi. Tidak berniat mengganggu, Erin berlalu keluar dan menuju lantai bawah. Dia menikmati sarapan yang hampir menjadi makan siang seorang diri. Usai menandaskan sarapan, Erin kembali ke kamar. Sampai sekarang tidur Hansel masih belum ada yang mampu mengusik. Jadi, dia memutuskan untuk membasuh keringat yang melekat setelah tadi tertunda karena perut yang lapar. Butuh waktu lebih dari lima belas menit untuk menunggu Erin menampakkan diri kembali. Kali ini dia termenung melihat suaminya yang kiranya sudah bangun. Tanpa sadar tangannya berangsur menutupi kedua bahu. “K—kau sudah bangun?” “Kenapa melihat suamimu sendiri seperti melihat hantu?” Hansel mengucek mata, lalu menghampiri istrinya. Tampak Erin menolak untuk didekati, entah karena alasan apa. Mungkin sikap alamiah dari seorang wanita ketika ada kaum pria mendekati meski tidak semua wanita memiliki sikap itu. Dia sangat beruntung memiliki wanita seperti Erin yang tidak lupa untuk melindungi diri. Erin menutup mata saat suaminya semakin dekat. Sejurus kemudian, dia membuka mata dan mendapati telapak tangan di dahinya. Pria itu tampak sedang menilai sesuatu yang sudah bisa dipastikan adalah suhu tubuhnya. “Sudah turun.” Hansel berkata dengan puas. “Seorang dokter datang memeriksamu tadi malam dan meresepkan obat. Kau harus pastikan untuk menghabiskan vitaminnya.” Dia mengacak rambut sang istri sebelum berlalu ke kamar mandi. “Hansel.” Mereka saling menatap kini. Entah apa yang ingin diucapkan Erin, tidak ada yang tahu. “Terima kasih karena sudah menjagaku.” Hansel yang terperangah, menyunggingkan senyuman. “Bukankah itu tugas seorang suami?” Salah satu hal yang disukai Erin dari pria yang membuat dia akhirnya mau jatuh hati ini adalah kenyamanan yang diberikan padanya. Dia merasa terlindungi setiap kali bersama Hansel. Maka dari itu, keegoisannya muncul dan sekarang pun ketakutannya masih tidak bisa dilenyapkan. Erin tidak ingin jika suaminya suatu saat menyukai orang lain dan pergi meninggalkannya. “Hansel, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ekspresi yang serius membuat bahu Hansel menjadi tegang. Tetapi tidak ada yang dapat dia selami dari pikiran Erin saat ini. “Pernikahan kita belum lama ini terjadi. Aku mengikatmu karena keegoisanku, membuat dirimu menderita. Mungkin aku tidak tahu diri karena memiliki banyak kekurangan, tapi menginginkan seseorang yang sempurna sepertimu. Pikiran ini selalu mengusikku belakangan ini dan akhirnya aku memutuskan untuk mengungkapkannya padamu. Maafkan aku, karena menilai rendah diri sendiri. Aku tahu kalau Kau tidak menyukai diriku yang begini. Tapi aku sangat takut ....” Erin menundukkan kepala, ekspresinya muram. Hansel membawa istrinya masuk ke pelukan. Dia mendekapnya dalam kekhawatiran. “Aku tidak tahu kalau Kau begitu kesulitan selama ini. Maaf, Erin.” Apa yang dipikirkan Hansel sekarang, bagaimanapun dia tetap akan menikahi Erin. Jadi, pernikahan bukan keegoisan satu pihak saja. Dia juga tidak pernah menderita selama menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita yang sangat dicintai. Dan lagi, Erin mungkin lupa bercermin dan melihat diri sendiri yang sebenarnya sangat cantik dan juga mandiri. Justru Hansel merasa hidupnya jauh lebih sempurna sekarang. Mengingat bagaimana saudara-saudaranya bersikap dingin, Hansel tidak merasakan kasih sayang seorang kakak. Rahangnya tidak akan ingat untuk tertawa kalau bukan karena Erin di sisinya. “Pernikahan adalah hal yang sakral. Apa Kau berpikir kalau aku tidak gugup saat melihatmu dengan gaun pengantin? Aku tidak main-main saat mencintaimu, Erin. Kau seharusnya percaya padaku setelah sekian lama kita menghabiskan waktu bersama.” Benar. Erin hanya memiliki ketakutan yang tidak jelas. Selama ini bukan satu orang mendekati Hansel dan tidak satu pun dapat mengubah perasaan mereka. Lalu, kenapa dia begitu terguncang? Apa karena kehadiran Calvin membuat dia mengingat kembali masa lalunya? Erin menghapus air matanya. “Maaf, Hansel. Aku seharusnya tidak seperti ini. Kau sangat bisa dipercayai. Mungkin aku begitu sensitif dan tanpa sadar menekan pikiranku terlalu banyak.” Hansel berkacak pinggang ketika berkata, “Jangan membuat alasan. Kau hanya tidak ingin mengakui bahwa sumber ketakutanmu adalah karena sangat mencintaiku.” Erin mencium pipi suaminya, membuat Hansel langsung terdiam. Mereka saling tersenyum malu-malu sebelum mendekat dan berpikir nakal untuk mengambil kesempatan menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, waktu tidak berpihak pada mereka karena mendengar suara bel perusak suasana romantis. Hansel bersama raut wajah kesalnya turun untuk melihat siapa yang datang, tidak lama disusul oleh Erin yang telah berpakaian dengan terburu. Mereka saling memandang dan sama-sama terkejut. “Calvin?” ucap mereka serempak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (132)
BilqisAqila
Hansel tersenyum jahil dan hal itu membuat Erin semakin naik saja hasratnya. senyuman yang selalu menawan hati dan memaksanya untuk merelakan diri tenggelam dalam mata terpejam, melanjutkan ciuman mereka yang sempat berhenti dengan gairah membara.. dari bait inilah saya senyum dan tertawa sendiri saat membaca
15/07/2022
0
16serli
bagus thor ceritanya sangat menarik
26/06/2022
0
SyifaAskiya
aplikasinya bagusss banget aku suka semoga barokah bagi ku
Hansel tersenyum jahil dan hal itu membuat Erin semakin naik saja hasratnya. senyuman yang selalu menawan hati dan memaksanya untuk merelakan diri tenggelam dalam mata terpejam, melanjutkan ciuman mereka yang sempat berhenti dengan gairah membara.. dari bait inilah saya senyum dan tertawa sendiri saat membaca
15/07/2022
0bagus thor ceritanya sangat menarik
26/06/2022
0aplikasinya bagusss banget aku suka semoga barokah bagi ku
06/04/2022
0Lihat Semua