“Ka-kalian.” Tunjuk Ardila heran, menggerakkan jari telunjuknya ke arah Raya dan Nara. ”Jangan ganggu kami!” Raya langsung berdiri tegak di depan Nara seolah melindungi. “Jangan macam-macam, jika Mba berani menyentuh kami, aku akan adukan pada suamiku.” ”HAAA … baru sadar dunia ini ternyata kecil. Andai Bram masih hidup, mungkin dia akan tertawa seperti aku sekarang.” Mendengar nama laki-laki itu seketika jemari Raya terkepal, bergetar. Meski terapi dan pengobatan sudah ia lakukan ratusan kali namun ketakutan dan traumanya belum sembuh benar. ”Kak, kita pulang, aku tidak jadi beli.” Menarik tangan Nara kemudian berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Belum banyak kaki Raya melangkah, Ardila sudah mencegahnya, ”Tunggu!” Ardila menghadang langkah Raya, menyilangkan kedua tangan di depan dada, memandang sinis kedua kakak beradik itu, kemudian berkata, “o … Ini orang yang bikin pacar gue masuk penjara, gara-gara orang ini juga pacar gue mati sia-sia!? Em … Rizal tau gak ya? Ah pasti dia sudah tau, masa orang secerdas Rizal gak tau tentang hal ini.” Melihat ekspresi Raya kaget, Ardila kembali angkat suara, ”kayanya loe gak tau apa-apa. Gue kasih tau ya, kita itu dalam lingkaran kehidupan yang berputar di tempat. Jadi jangan heran kalau seumur hidup loe akan terus bertemu gue, Rosa, Dirga Dewantara dan anak buahnya. Oh ya, satu lagi Rizal, dia akan selalu ada di tengah-tengah kita.” “Heh. Matanya biasa aja! Bram dan gue di sini korban ya, jadi loe jangan sok suci sendiri!” ucap Ardila berbicara ke arah Nara, kesal karena Nara menatapnya dengan pandangan tidak suka. Lagi-lagi nama pria yang baru saja disebut Ardila kembali mengganggu pikiran Raya. Peluh mulai hadir di dahinya dan kedua telapak tangannya mulai basah. Berusaha tidak mendengar apa yang Ardila sampaikan namun nama pria itu terngiang dan Raya mempertanyakan mengapa Ardila kenal dengan kakak iparnya, membuat pikiran Raya kacau. ’Pacar? Mati? Rizal? Apa, mereka ada hubungan apa lagi yang aku tidak tahu?’ “Bram, entah siapa yang bunuh dia. Gue jadi penasaran, Rizal apa Dirga, ya?” celoteh Ardila. ”STOP! Jangan bicara lagi! urusan kita sudah selesai, jangan ganggu kehidupan kami!” Nara tampak panik melihat Raya pandangannya mulai kosong. ”Aya, Raya, sadar.” Meremas jemari Raya. Pikiran Raya kembali dibuat bingung, bertanya-tanya mengapa kakaknya kenal dengan Ardila. “Belum selesai dong, siapa yang bunuh Bram belum ketahuan. Dan pasti ada kaitannya ‘kan dengan kalian.” ”Tidak ada. Kami tidak ada kaitan apapun dengan kematiannya. Sekali lagi aku katakan, jangan ganggu kami. Urusan kita sudah selesai. Raya, ayo kita pulang.” Nara langsung menarik tangan Raya. Raya terlihat enggan untuk melangkah, jiwa dan pikirannya masih di sana namun karena tenaga Nara lebih besar dengan kesulitan Raya mengikuti ke mana Nara membawanya. ”Huft.” Nara menarik nafas lega kemudian mengenakan seatbeltnya. ”Raya kenapa?” tanya Andika di dalam mobil dan melihat Raya diam saja menatap nanar ke luar jendela. ”Kami bertemu Ardila.” Menolehkan kepala pada pria di sampingnya. ”Aku gak mau Raya kembali seperti dulu, bantu aku agar Raya gak pernah lagi bertemu Ardila.” Menoleh ke arah sang adik sedih. ”Raya dengar.” “Jika kondisinya seperti ini Raya tidak akan mendengarkan percakapan kita, dia hanya fokus pada pemikirannya. Kamu tenang aja.” Nara paham karena selama ini ialah yang selalu mendampingi Raya melakukan pengobatan. ”Semoga aja.” Harap Andika ragu akan perkataan kekasihnya. ”Ardila Jahat. Wanita itu jahat.” Nara meremas tangan Andika, teringat akan kejadian yang pernah menimpanya dulu. ”Aku gak mau Raya bertemu dia, aku gak mau Raya ingat masa lalu lagi. Adikku layak bahagia.” Matanya berkaca-kaca mengingat pengorbanan sang adik yang luar biasa. ”Aku tau, kamu tenang, ya. Raya akan baik-baik aja. Ada Rizal yang selalu menjaganya.” “Raya belum siap dengan kenyataan ini, dia sedang fokus pada penyembuhan. Wanita itu jahat, dia jahat Dika …” ”Iya sayang, aku tau dia jahat. Dia jahat tidak hanya ke kamu ke Rizal juga dia jahat.” ”Dia mengambil semua milik kami, bahkan dia mengambil asuransi Fayed. Aku bodoh, a-aku bodoh seharusnya saat itu aku tidak gila. Seharusnya saat itu aku bisa melindungi keluargaku, seharusnya aku gak perlu gila karena perselingkuhannya. Dia sudah sering menyakitiku, melepasnya sejak dulu harusnya menjadi pilihan terbaikku. Da-dan seharusnya aku saja yang bunuh pria itu.” Nara terisak mengingat masa lalunya. ”Huusstt, cukup! Aku sudah tau semua masa lalumu.” Menghapus air mata yang kini membasahi kedua pipi kekasihnya. ”Aku menyaksikan bagaimana adikku berjuang sendirian, tapi aku hanya bisa diam. Merawat Fayed sejak kecil, mengurus perceraianku, mencari makan, sesekali meringkuk di sudut kamar karena ketakutan, bekerja, menahan lapar, mencari uang, dan semua itu dia lakukan sendirian.” Tangisnya pecah dalam pelukan Andika. ”Dia juga membiayai pengobatanku tanpa berpikir bahwa dia juga butuh pengobatan. A-aku kakak yang tidak berguna, seharusnya dia tidak memiliki kakak seperti aku hu ….” ”Kita sudah pernah membahas ini, semua itu bukan salahmu. Yang salah adalah keadaan dan apa yang kamu lakukan, itu adalah usaha maksimal yang bisa kamu lakukan, begitu pula Raya.” melepas pelukan dan menatap kekasihnya dalam. ”Biar Rizal yang mengurus semuanya. Hanya Rizal yang tahu apa yang harus ia selesaikan. Kamu jangan khawatir, Raya akan baik-baik saja.” Andika pun menghubungi sahabatnya kemudian menceritakan semua yang terjadi. Tanpa mereka sadari, Raya mendengar dan mencerna apa yang mereka bicarakan. ‘Banyak hal yang kalian rahasiakan dariku, aku terlihat bodoh. Seharusnya kalian beritahu aku. Aku baik-baik saja, jangan khawatir berlebihan terhadapku.’ *** Setelah mendapatkan kabar dari Andika, Rizal langsung menuju penthouse, ingin segera bertemu dengan Raya, melihat keadaannya, dan mempersiapkan diri untuk menjelaskan semuanya. Karena ponsel canggihnya menginformasikan Raya masih dalam perjalanan, Rizal pun menunggu di muka lobi. Melihat cuplikan video hasil peretasannya Rizal bertambah kesal. Kakinya terlihat gelisah, pikiran-pikiran aneh silih berganti berbagai versi. Para manajemen gedung memperhatikan, niat mempersilakan Rizal untuk menunggu seseorang di tempat nyaman yaitu sofa lobi, namun sikap Rizal terlihat tak sabar membuat mereka berpikir dua kali untuk sekedar mempersilakannya duduk. 'Aku tahu hari ini akan terjadi, tetapi aku belum siap. Aku harus melakukan apa agar kamu mau memaafkanku?' Sedang asyik merenungkan yang terjadi, tanpa Rizal sadari mobil yang ia kenal sudah tiba tepat di hadapannya. "Sayang, kenapa di luar?" Raya membuka pintu dan menyapa suaminya. Mendapati Raya ternyata sudah di hadapannya, seketika itu juga Rizal mendekap wajah Raya mempertemukan pandangannya, berharap dari tatapan itu ia mengetahui apa yang ada di pikiran istrinya, namun sayang pandangan Raya kali ini datar tidak bermakna apa-apa. Sebuah usaha kembali Rizal lakukan, kali ini dia langsung mencium bibir istrinya. Sejenak bibirnya berdiam di sana, selang beberapa detik Rizal mulai mengecap bibir Raya lembut, coba menerobos ke dalam mulutnya, coba bertukar ludah. Berharap dari tindakannya ia tahu bagaimana perasaan istrinya. ’Cantik, kamu gak marah sama aku ’kan? Kamu gak kecewa padaku ’kan? Please jangan marah,” ucap Rizal dalam hati, mendapati istrinya membalas semua yang ia lakukan sambil mempermainkan bibir dan lidahnya. Kecupan, pertukaran ludah, lumatan dan hisapan Raya balas seperti biasa tidak berubah, membuat Rizal terhanyut dalam kenikmatannya sendiri. ’Cantik, terima kasih. Aku sayang kamu, aku sayang banget sama kamu.’ Rizal tak mampu lagi menahan hasratnya. Dengan sisa-sisa kesadaran ia mengangkat tubuh Raya, menggendong menghadap tubuhnya tanpa melepas lumatan, kemudian melangkah meninggalkan lobi. 'Cantik, aku sudah gak kuat. Aku gak bisa menunggu lagi.' Rizal melangkah cepat menyusuri orang-orang yang melihat kelakuannya. 'Cantik, aku tau kamu orang baik. Aku janji, aku gak akan lagi mengecewakanmu.' Tiba di huniannya, seperti biasa langkah dan suaranya mampu membuat benda-benda canggih di sana seketika melakukan tugasnya, lift terbuka dan menutup sendiri, gorden di muka jendela kaca seketika bergeser memaksimalkan pencahayaan, pintu kamar seketika terbuka ketika sang tuan menuju ke arahnya. Tiba di dalam kamar Rizal melepas lumatannya pelan dan dengan segera ia membaringkan Raya. Rizal melepas jaket kemudian merangkak naik ke atas kasur. Pandangannya memburu ketika melihat tubuh istrinya berbaring cantik tanpa alas kaki terlihat indah bahkan baginya begitu sempurna. Merasa selama ini hanya bergulat dalam hal-hal standar, untuk kali ini Rizal ingin coba meminta haknya. "Cantik, kita coba ya," ucap Rizal begitu lembut ditemani nafasnya yang berhasrat. Seketika jemari Raya langsung bergerak ke arah kerah bajunya, meremas kerah itu menunjukkan penolakan. "Kita sudah dua bulan tidak mencobanya, kamu tidak kasihan padaku? Aku ingin kamu utuh, jangan takut padaku," ucap Rizal lembut kemudian kembali merangkak sedang Raya menambah gerakan dengan menekuk tubuhnya. "Aku sayang kamu," kali ini tubuh Rizal sudah mendarat di atas tubuh istrinya. "Lepas ya, tangannya." Menyentuh lembut jemari sang istri coba membujuk agar ia mau melepas genggaman kerah bajunya. Raya langsung gelengkan kepala, memberi jawaban dengan respons cepat. Usaha Rizal tak berhenti di situ, wajahnya mulai ia majukan coba melakukan sesuatu dengan lidahnya. Rizal menjilati jemari Raya seolah membujuknya melepas genggaman. Pelan, perlahan, penuh penghayatan dan kenikmatan. Kini seluruh jemari Raya sudah basah karena kelakuan lidahnya, merasa Raya sudah berada di puncak rasa geli, perlahan Rizal pun mengangkat wajahnya namun ia dibuat syok dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tampak wajah Raya bersimbah air mata lengkap dengan bibir pucat tertutup rapat. Seketika hasratnya sirna dan Rizal langsung mengangkat tubuhnya. "Ma-maaf,” ucap Rizal panik, bingung apa yang harus ia lakukan. "Ma-maaf. A, aku akan pergi." Dengan rasa sedih, bingung dan kesal Rizal meninggalkan Raya begitu saja.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (386)
Susanti Azka
terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰
30/07/2022
0
AiniNur
ceritanya baguss bikin baper
kenapa berakhirnya cepat bgt, ...
padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁
terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰
30/07/2022
0ceritanya baguss bikin baper kenapa berakhirnya cepat bgt, ... padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁
20/07/2022
1bagus ceritanya
04/02
0Lihat Semua