logo text

Bab 91 Ungkapan

“Lagi-lagi media Indonesia dihebohkan dengan kemesraan dua sejoli anak pengusaha nomor satu negeri ini. Kebersamaan sejoli ini selalu mampu membuat iri para pemburu berita dan netizen yang haus akan kisah cinta berujung manis nan romatis,” tutur salah seorang host infotainment pada partnernya.
”Ya, benar banget. Meski kerap terlihat bersama, namun keduanya selalu beralasan semua itu mereka lakukan demi melebarkan sayap perusahaan. Akan tetapi benih-benih aura cinta selalu saja tertangkap kamera tanpa disengaja, bahkan bahasa tubuh keduanya selalu mampu membuat jiwa-jiwa kaum rebahan seketika bangun dan beranjak mencari kebenaran akan hubungan keduanya,” timpal host yang lainnya.
KLIK
Raya mematikan televisi kemudian membuang remotenya asal, menyandarkan tubuh di sofa sambil perlahan mengatur nafas.
Nara yang sejak tadi duduk mendapingi Raya niat bertanya namun ia urungkan karena percuma meski Raya bercerita dirinya tak akan mampu memberi solusi. Suaranya akan tertahan di tenggorokan, yang terdengar hanya suara-suara samar seperti mengaung tak bermakna sulit dicerna.
”Kak, apa dia bahagia bersamaku? Dia masih menghindariku, Ka. Dia masih takut jika berdekatan denganku akan menyakitiku. Meski dia selalu bilang hal itu buka ukuran sebuah kebahagiaan, tapi aku tau hal itu sangat penting baginya.” Raya menjatuhkan kepalanya di bahu Nara.
”Aku cemburu. Mereka terlihat begitu dekat sedangkan hubungan kami, makin menjauh.”
Hati Nara kembali terpukul mendengar keluhan Raya untuk yang kesekian kalinya, bayangan perjuangan sang adik lagi-lagi terlukis di pelupuk matanya. Nara mengusap pipi Raya yang kini telah basah dengan air mata. ’Rayana, kamu gak perlu memaksakan diri. Hal seperti itu tidak bisa dipaksa, jika kamu melakukannya hanya untuk membuat dia bahagia traumamu tidak akan pernah pulih. Tuhan aku mohon bantu aku untuk bicara dengan adikku. Izinkan aku mampu berbicara kembali.’
“Kak, tau gak, sekarang kami jarang sekali makan siang bersama. Sudah lima hari ini dia selalu pulang malam dan aku sudah tidur duluan. Hal-hal indah pagi hari yang dulu sering kami lakukan justru setelah kami menikah semua itu sudah tak ada lagi.”
”Menyisir rambutnya. Sesekali memakaikan dasi dan pakaian ganti. Memasangkan kaus kaki, memelukku erat. Dia terlalu takut untuk menyentuhku, aku kangen semua itu.”
”Dia berusaha memperlihatkan senyumnya padaku, tapi aku merasa senyum itu hambar, terlihat kurang ada yang ditahan. Ka, apa dia gak bahagia bersamaku? Panggilan ponselnya penuh dengan nama Rosa. Wanita itu sangat mencitai suamiku, Ka.”
”Penyakit sial, trauma gak tau diri. Penyakit jahat!” Raya masih saja mengeluhkan apa yang ia rasa dan Nara lagi-lagi hanya mampu menjadi pendengar setia.
’Andai kejadian itu tidak ada, andai kamu tidak menikah dengannya. Apa kamu akan sesedih ini? Raya, kakak ingin kamu bahagia. Kakak gak mau melihat kamu setertekan ini. Kakak gak mau lihat kamu seperti ini.’
”Ka, aku telepon dia dulu ya, aku ingin tau apa dia masih sayang sama aku.” Raya mengangkat kepalanya, menghapus air mata kemudian menghubungi Rizal. Hal yang selalu Raya lakukan ketika keraguan singgah dalam hatinya.
”Halo, Cantik. Ada apa? Sudah makan? Lagi di SOHO, ya? Kuliahmu sudah selesai?” Rizal akan tampak ceria dan bahagia ketika komulikasinya tanpa bertatap muka dengan Raya.
”Aku sayang kamu. maafin aku.” Rentetan kata yang selalu Raya katakan ketika mendengar perhatian dari suaminya.
”Selalu, minta maaf. Ingat hal itu bukan sebuah ukuran kebaha_”
”Bukan ukuran kebahagiaan,” selak Raya. ”Tetapi hal itu penting dan kamu butuh hal itu, jadi hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan.” Air mata Raya kembali berderai mengungkapkan kesedihan dan keputusasaannya.
”Tetap di sana, aku ke SOHO sekarang,” ucap Rizal cepat, langsung mengakhiri panggilan.
Lima belas menit pun berlalu, terdenar digit-digit angka dibalik pintu dan kedua kakak beradik itu tahu persisi siapa yang akan membuka pintu.
”Cantik Sayang …” panggil Rizal
Mendapati Raya membuka pintu kamar sambil menatapnya, Rizal pun langsung melangkah cepat kemudian memeluk Raya begitu erat.
”Aku yang seharusnya meminta maaf. Maafin aku yang akhir-akhir ini cuek. Maafin aku yang lima hari ini selalu pulang malam, maafin aku yang gak pernah lagi peluk kamu. Maafin aku yang selalu ingin makan di restoran. Maafin aku yang selalu membuat kamu tertekan. Maafin aku juga yang sudah bikin kamu cemburu. Itu hanya kerjaan infotainment, aku sudah meminta Andika untuk menghapus semua berita itu. aktivitas pagi kita akan kembali seperti semula, kamu jangan kecewa padaku.” Melepas pelukan kemudian membelai lembut pipi Raya ”Kamu jangan sedih.”
’Kamu pasti cek CCTV.’ Raya gelengkan kepala. ”Aku sedih bukan karena kamu, tapi karena diri aku sendiri.”
”Aku yang salah, kamu seperti ini pun karena salah aku, andai dul_ andai dulu aku lebih cepat mengenalmu, hal itu tidak akan mungkin terjadi.” Hampir saja Rizal salah ungkapkan kalimatnya.
”Sudah takdir, gak bisa dirubah,” balas Raya kali ini dengan bibir dimajukan terlihat lucu.
”Kamu …” Tunjuk Rizal melihat Raya menunjukan wajah manjanya. ”Ok, sepertinya ada yang mau tes praktek nih.” Rizal langsung menggendong Raya dan melangkah menuju kamar pribadi mereka.
Dan lagi-lagi, di dalam sana terjadi hal yang sama seperti kejadian sebelumnya, di mana Rizal kembali mendapatkan sebuah penderitaan. Hasratnya tak tersalurkan, jelly yang seharusnya bersemayam di tempat ternyaman kembali terbuang sia-sia berceceran di lantai kamar mandi.
Rizal yang sedang menikmati dingin air shower terkaget dan kembali memancarkan hasrat, ketika Raya memeluknya dari belakang begitu erat. “Sudah dikeluarin?”
“Hem,” jawab Rizal singkat.
“Maaf gak bantu kamu,” ucap Raya sambil menghirup aroma tubuh suaminya.
“Gak apa-apa, lagi pula akan keluar lagi kok.”
”Ya, sudah aku bantu. Mau aku apain?”
”Buat tanda merah di seluruh tubuhku dan lakukan seperti biasa.”
”Baik.” Dengan masih mengenakan pakaian, Raya melakukan apa yang Rizal inginkan. Memanjakannya, memfasilitasi seluruh keinginan suaminya tanpa mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan Rizal sama sekali tidak menyentuh tubuh istrinya sedikit pun.
Hari berganti, aktivitas suami istri itu kembali normal. Kembali seperti sebelum mereka menikah dengan Rizal mati-matian berusaha menahan hasrat.
”Baim, jaga baik-baik istriku,” ucap Rizal setelah selesai mengecup seluruh wajah Raya dan siap menaiki kendaraan pribadinya.
”Siap, Bos!”
”Sayang, nanti siang aku ke kantor.”
”Kutunggu.”
Roll royce itu pun melaju lebih dulu sedang Rizal masih duduk di kursi kemudinya, membuka pengait celana kemudian mengendurkan dasinya. ”Huft, tahan Zal, tahan … loe pasti bisa!”
***
Raya menghitung langkah menuju kelas, cara terampuh agar suara-suara yang ditujukan padanya tak tercerna dan seketika itu juga ia lupa. Aries yang masih memiliki rasa pada Raya, mendapati gadis itu tidak lagi bersama sopirnya, ia pun menghampiri. “Hai, Ya,” sapa Aries ditemani lambaian tangan terlihat grogi.
“Hai. Em, aku gak mau suamiku salah paham. Jika tidak ada hal yang berhubungan dengan perkuliahan kayanya aku gak bisa tanggapi pembicaraan kamu. Maaf, Ar.”
”Kamu benar istri Rizaldi Takki?”
”Iya, kenapa?” Raya melanjutkan langkah.
”Kenapa kamu diam saja ketika suami kamu digosipkan memiliki hubungan dengan wanita lain?” Aries berusaha menyamakan langkah dengan Raya.
”Kamu gak perlu tahu alasannya.”
”Apa kamu simpanan pria itu?”
”Aku gak perlu menjelaskan apapun ke kamu.”
”Setiap orang butuh alasan, Ya. Orang bisa berpikir buruk tentang kamu.”
“Aku gak masalah.”
BRUK
“Rizaldi Takki sudah gak mau lagi sama dia!” Seorang mahasiswi bersama dua temannya sengaja berjalan di antara Aries dan Raya.
“Ha ha ha … kasihan deh loe!” tambah mahasiswi lainnya, berbalik badan kemudian menghadang langkah Raya.
”Lagian, ya. Loe gak ada cocok-cocoknya sama dia, penampilan loe aja kaya pembantu!”
Seperti itulah Raya, baik sebelum menikah ataupun setelah menikah, penampilannya tidak berubah dan Rizal sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu.
”Loe pembantu yang naik ke ranjang majikan, ’kan? Dan akhirnya loe hamil. Duh hina banget sih loe jadi perempuan!”
Tak ingin lagi terlihat lemah dan tak mau ketiga wanita itu bikin ulah. ”Kenapa kalian yang repot sekali dengan urusan pribadiku? Perasaan, aku gak pernah ikut campur urusan kalian. Dan perihal pakaianku, dia aja gak pernah permasalahkan, kenapa kalian yang repot? Sorry, aku mau masuk kelas.”
Raya meninggalkan mereka namun langkahnya justru memutar arah, tidak menuju kelas namun menuju mobilnya.
”Baim, kita ke kantor sekarang aja. Aku gak mau kuliah lagi!”
”Loh kenapa?”
”Aku sudah pintar! Buang-buang tenaga saja kalau tiap hari harus menghabiskan waktu meladeni orang gak penting.” Memasang seatbelt kemudian bersandar tenang di kursinya.
“Ooo …”
“Em, Baim. Pagi-pagi begini dia lagi apa ya? Apa aku menggangu bila ke kantor sepagi ini?” Berbicara sambil pejamkan mata membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
“Mungkin lagi bersama nona Rosa, ups!” Baim langsung menutup mulutnya.
”Aku sudah tebak. Ya sudah kita tetap ke kantor, aku ingin tahu apa yang sedang ia lakukan.”

Komentar Buku (386)

  • avatar
    Susanti Azka

    terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰

    30/07/2022

      0
  • avatar
    AiniNur

    ceritanya baguss bikin baper kenapa berakhirnya cepat bgt, ... padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁

    20/07/2022

      1
  • avatar
    amanahjb

    bagus ceritanya

    04/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru