Dibalik telapak tangan suaminya Raya tersenyum begitu bahagia. Perhatian dan kemanjaan Rizal membuatnya terlihat sempurna di mata Raya. ”Aku kepingin. Dekat dengan kamu bikin aku terangsang,” ucap Rizal begitu jujur. ‘Kok malah ngomongin gituan sih, ’kan tadi lagi ngomongin nona Rosa.’ Ucap Raya dalam hati, kemudian memperagakan jemarinya seperti orang menerima panggilan dan Rizal langsung paham dengan apa yang dimaksud Raya barusan. ”Aku bisa mengeceknya dan itu nanti, tidak sekarang.” Rasa takut dan khawatir langsung mendominasi dalam diri Raya. Sekilas bayangan pelecehan yang ia alami berkelebat dalam pikirannya dan Rizal sangat tahu apa yang kini ada di pikiran istrinya. ”Kamu takut, hm?” tanya Rizal begitu lembut sambil menatap istrinya. Raya anggukan kepala pelan, seolah mewakili permintaan maafnya. ”Ok, peluk aku. aku tidak akan melakukan apapun padamu. Akan tetapi, jika kamu ingin melakukan sesuatu pada tubuhku, dengan senang hati aku akan merelakannya.” Raya tampak diam memperhatikan wajah suaminya, menatap penuh rasa bersalah dan rasa tak percaya diri. ”Silakan, lakukanlah. Aku berharap kamu mau menyentuhku dan melakukan sesuatu pada tubuhku. Aku akan suka dan akan sangat bahagia," ucap Rizal menurunkan tangan, berharap Raya punya keberanian untuk melakukan sebuah kemajuan. Dengan jutaan rasa takut Raya coba memikirkan apa yang harus ia lakukan. 'Bahagiakan dia, ayo bahagiakan suamimu.' ingin sekali berusaha membahagiakan suaminya, Raya pun mencoba melakukan apa yang ada di pikirannya. Perlahan Raya menurunkan tubuhnya, menyembunyikan wajah di dada Rizal dan mulai menikmati aroma tubuh suaminya yang sudah ia hafal. Tubuh mereka kini tak berjarak, irama jantung keduanya terdengar begitu jelas, ‘Bukan aku aja yang deg-degan, kamu juga deg-degan? Aku sayang kamu, aku mau bikin kamu bahagia.’ Entah dorongan dari mana, jemari Raya mulai berani bergerak mengarah pada benda keras yang kini berada di permukaan pahanya. DEP Telapak tangan dan jari-jari lentik Raya kini berada tepat di atas benda keras milik suaminya. Benda keras dibalik dua lapis kain itu seolah tidak kuasa menahan sentuhan kenikmatan. Detak jantung keduanya makin terdengar jelas, Rizal yang mulai pejamkan kedua matanya terlihat sangat bahagia. Sedang Raya hanya mampu melakukan itu, mendiamkan telapak tangannya di atas permukaan benda keras milik suaminya. Lama jemari Raya berada di sana, membuat Rizal ingin merasakan sensasi yang lebih. Dengan cepat Rizal memeluk erat tubuh Raya dengan tangan kanannya, seolah berterima kasih atas usaha besar yang telah Raya lakukan saat ini. Sedang tangan kiri Rizal dengan tergesa mendatangi tangan Raya dan langsung menekannya, membuat telapak tangan Raya terhimpit di antara kedua pahanya. ”Terima kasih, sayang, aku suka. Biarkan tangan ini ada di sana dalam waktu yang lama,” bisik Rizal lembut sambil menikmati hasratnya yang bahagia. ’Tapi aku tau kamu ingin lebih, maaf aku hanya bisa melakukan ini,’ bisik Raya dalam hati sambil menikmati aroma tubuh suaminya. Hari berganti sudah tiga minggu lebih mereka berada di negara singa itu, di samping melakukan penyembuhan pada luka di wajahnya, Raya pun mengikuti konsultasi dan terapi demi menghilangkan trauma yang ia derita sejak SMA. Namun sayang, trauma itu masih melekat dalam benak dan hatinya. Rasa takut dan sakit masih membekas belum bisa dipulihkan dengan mudah. Kemesraan keduanya tampak begitu sempurna menurut tim dokter dan para perawat. Namun kesempurnaan itu tidak bagi Raya, ia masih sangat jauh dari kata sempurna menurut dirinya. Selalu berusaha menyenangkan Rizal dalam hubungan seksual, namun lagi-lagi usahanya selalu gagal. Hanya mampu melakukan tindakan-tindakan standar dan menurut Raya itu bukanlah sesuatu yang normal dan wajar bagi sepasang suami istri. ”Sayang, kamu sudah hampir sebulan loh tidak ke kantor. Apa gak masalah?” ”Hem.' Mengangkat alisnya sambil menikmati potongan apel yang Raya suapkan. ”Hem doang, jawaban apa itu? Kalau kamu mau balik ke Indo, aku gak apa-apa di sini sendiri. Asal kamu kerjanya santai, tidak diforsir dan jangan memaksakan kehendak.” ”Aku akan tetap di sini temani kamu. kalaupun aku pulang, kita akan pulang bersama. Cantik, kamu tidak lihat, aku sekarang sedang memantau perusahaan, jadi cantiknya aku jangan khawatir,” terang Rizal sambil menujukan laptopnya di atas kedua pahanya.” ”Aku nurut kamu.” ”Ini yang bikin aku makin cinta dan sayang sama kamu.” CUP Rizal mengecup pipi Raya yang saat ini sedang duduk di sampingnya. ”Tapi aku_” ”STOP! Gak usah bahas!” Langsung menatap wajah Raya. “Aku bahagia dengan kamu yang selalu ada di samping aku, itu sudah sangat cukup dan aku yakin suatu saat kita akan bisa melakukan itu, suatu saat kamu akan sembuh.” “Semoga,” balas Raya pelan, merasa bersalah. “Boleh aku bertanya?” “Cantik, sejak kapan aku melarangmu bertanya.” ”Em, apa yang terjadi dengan nona Rosa. Apa sudah ada kabar tentangnya?” “Aku tidak tau. Dia sudah tidak pernah lagi menelpon, jadi bagus dong. Dokter Morgan yang selalu memantau kesehatan papah di rumah pun tidak pernah bertemu dengan Rosa. Biarkan saja dia, mungkin dia sudah sadar bahwa aku hanya milik kamu. Aku hanya cinta dan sayang sama kamu.” ”Gombal,” balas Raya sambil mendorong pelan bahu suaminya. “Aku serius, perlu bukti? Perlu kugunakan layer_” ”Detektormu … selalu bicara seperti itu.” ”Ya, karena saat ini hanya alat itu yang bisa mengetahui sedalam dan secinta apa aku ke kamu.” ”Iya … aku percaya, percaya seribu, sejuta, semilyar, bahkan semeja bilyar aku percaya sama kamu.” ”Ihh … istriku bisa stand up comedy. Duh … jadi pingin peluk,” ucap Rizal sambil mulai berusaha memeluk istrinya. “Mandi, yu,” ajak Raya sambil coba melepas pelukan Rizal. ”Malas.” ”Jorok!” ”Biarin, udah laku.” ”Dari dulu emang jarang mandi.” “Tuh tau.” “Aku mandiin.” “Mau.” “Dasar.” “Dimandiin istri sendiri, tidak boleh?” ”Boleeh … yu, berdiri.” ”Bangunin.” Rizal mengulurkan kedua tangannya, manja. ”Ihh, manjanya …” ”Biarin, sama istri sendiri.” setelah satu jam mereka mandi bersama, Raya pun mulai kembali mengurus suaminya. Memakaikan pakaian, mengusapkan cologne pada tubuh Rizal, menyisirkan rambut, hingga memakaikan pakaian dalam dan ke semua itu Raya ’lah yang melakukan, tanpa keberatan, ragu atau pun malu. Namun tidak dengan Raya, gadis itu selalu mengenakan benda yang ada di tubuhnya sendirian tanpa bantuan siapa pun. Keduanya kini asyik menonton televisi, dengan Rizal memeluk Raya dari samping, sambil sesekali mencium kepala dan rambut istrinya, namun selang beberapa menit sebuah ketukan pintu mengganggu kebersamaan keduanya. ”Come in, please.” Pintu itu terbuka dan betapa kagetnya Raya ketika melihat wanita yang sempat mengganggu pikirannya kini berdiri di ambang pintu. Demi menghilangkan pertikaian, dengan segera Raya mengangkat tubuhnya. ”Tidak ada yang berubah,” ucap Rizal menarik tubuh Raya untuk tetap berada dalam pelukannya, dan Raya hanya bisa menurut dengan kembali duduk. ”Hai, Zal,” sapa Rosa melangkah mendatangi keduanya, terlihat anggun dan lebih tenang. “Hai, Sa. Kamu tau kami di sini?” ”Ya, aku sudah lama tau dan baru sekarang aku sempat ke sini.” ”Hai, Raya. Apa kabarmu? Maaf, karena kesalahan Bimo pipimu jadi luka. Tapi kamu tenang, Bimo sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, bukan begitu, Zal?” ’Suatu hari akan kusingkirkan kamu, nikmatilah kebahagiaanmu saat ini. Karena sebentar lagi mimpi buruk akan selalu hadir mengisi hari-harimu, pembantu sialan!’ Rosa menatap Raya menampakkan wajah datar. ”Baik, Nona. Nona apa kabar?” ”Aku baik dan saat ini jauh lebih baik.” Pandangan matanya sama sekali tidak menatap Raya, pupil matanya hanya tertuju pada Rizal yang sesekali masih saja mencium lembut rambut istrinya. ”Zal, aku datang ke sini karena sangat membutuhkan bantuanmu. Perusahaan mulai kolaps, Zal. Aku tidak bisa menangani seluruh perusahaan sendirian, aku tidak bisa membiarkan seluruh karyawan kehilangan pekerjaan. Bagaimana dengan keluarga mereka, anak-anak dan kehidupan mereka nantinya, aku tidak bisa membayangkan betapa jahatnya kita jika membiarkan itu terjadi.” ”Aku tidak bisa, aku harus menghandle perusahaanku.” tolak Rizal terlihat santai. ”Kamu tidak perlu menghanle semuanya, aku hanya butuh bantuanmu. Ajarkan aku bagaimana mengurus perusahaan dengan baik. Ajarkan aku bagaimana cara memajukan perusahaan. Ajarkan aku cara memanage para karyawan agar lebih loyal.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (386)
Susanti Azka
terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰
30/07/2022
0
AiniNur
ceritanya baguss bikin baper
kenapa berakhirnya cepat bgt, ...
padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁
terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰
30/07/2022
0ceritanya baguss bikin baper kenapa berakhirnya cepat bgt, ... padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁
20/07/2022
1bagus ceritanya
04/02
0Lihat Semua