Rosa langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, tempat sama yang sempat Rizal duduki tadi pagi. Memainkan ujung rambut dengan kedua mata tertutup. Sambil menghirup dalam aroma tubuh Rizal yang masih tertinggal, membuat hayalan dan lamunannya kian berkembang. Senyumnya tersimpul indah ketika membayangkan hari-hari kedepan ia akan sering bertemu dengan sang pujaan hati, bercengkrama, bercanda, berujung memadu cinta kemudian statusnya berubah. ”Zal, aku akan berusaha menjadi apa yang kamu mau. Aku akan selalu ada untukmu, dan aku akan selalu mendukung apapun yang kau lakukan. Hal yang tak pernah Ardila berikan, dan aku sangat mampu melakukannya, aku yakin kamu tau itu.” Masih dengan senyum yang sama. Sedang asik dengan pikiran masa depan, wanita itu teringat sesuatu. Sesuatu yang mampu membuatnya besar kepala dan berpikiran kelak dirinyalah yang akan menjadi sang pemenang. Rosa langsung terduduk kemudian melangkah ke kamar Rizal. Setibanya di kamar itu ia langsung menuju sebuah ruangan dan membuka pintunya perlahan. Lampu ruang itu langsung menyala ketika pintu terbuka sempurna. Tatapan heran tampak di wajahnya ketika ruang itu ia dapati dalam keadaan berantakan. Kain penutup partisi dan komputer tak lagi di posisi semula, memo-memo yang semula tertempel dengan foto besar yang terpajang, kini berserakan di lantai membentuk potongan-potongan kecil tak beraturan. ’Kenapa disobek? Apa dia sangat dilema? Haruskan aku bilang bahwa aku tau apa yang ia rasakan?’ Meletakan potongan-potongan itu di atas meja. ’Aku lebih pantas untukmu, Zal. Aku lebih mengerti kamu, aku selalu ada untukmu, dan aku tak pernah mempermaikan perasaanmu.’ Di kantor, Rizal tampak diam. Diam saja tak melakukan apa-apa. Menyandarkan tubuh di kursi kebesarannya sambil memejamkan mata. Andika menyapanya, memberikan pekerjaan dan laporan, memperlihatkan konsep sekolah, hingga mengajaknya menemui Raya, duda itu masih saja diam tak banyak bicara. Hanya sesekali berkata; iya, tidak, dan nanti saja, hanya itu yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya Rosa datang, duda itu baru mau mengeluarkan suaranya. Itu pun karena ia tak ingin Rosa banyak bertanya dan mengetahui masalahnya. ”Bagaimana, enak tidak masakanku?” tanya Rosa setelah melihat Rizal memasukan lauk kedalam mulut. Seketika Rizal menelan bulat-bulat hidangan dalam mulutnya, kalimat Rosa mengingatkan Rizal akan gadis itu. Bukan karena kalimatnya, tetapi perlakukan Raya terhadapnya. Raya tidak pernah menanyakan hal yang sama, gadis itu tak pernah mengharapkan pujian atas apa yang ia lakukan. Ia hanya akan mengeluarkan suara ketika diajak berbicara. Ia tidak pernah menyuruh Rizal melakukan sesuatu, gadis yang di pikirkannya hanya akan memerintahkan hal-hal sepele demi kebaikan penampilan duda itu. Hal yang selalu membuat Rizal merasa nyaman dan mengeluarkan senyuman. ”Zaal … kok bengong? Kusut banget sih mukanya, banyak kerjaan, ya?” ”Eh-iya, Sa. Sorry!” ”Gimana enak gak masakanku?” Masih mempertanyakan hal yang sama. ’Masakan Raya, juara.’ Hanya mampu ungkap dalam hati. “Enak-enak. Enak, kok.” Setelah makan siang usai, mereka langsung melanjutkan aktivitas yang telah direncanakan. Gerak-gerik Rizal lagi-lagi menjadi perbincangan hangat, ditambah sikap Rosa yang agresif, membuat para karyawan mulai menyakini bahwa sang pemenangnya adalah wanita yang kini berjalan bersama bos mereka. “Keliatan lebih, pas.” “Hooh, yang kemarin cuma jajanan warung, yang ini restoran premium.” ”Selera si bos emang beda!” ”Poto, ah.” ”Tapi si Bos, keliatan kucel.” ”Hooh, kaya kurang tidur. Gue mau kok, bantu ngelonin.” “Halah! mimpi pinggir kali!” Balas karyawan lainnya. ’Sial! Ardila harus tau nih!’ Ucap Meta dalam hati ketika melihat Rosa berjalan dengan bosnya. Rosa tersenyum puas, seolah seluruh kebahgiaan berkeliaran di sekelilingnya. Tanpa mereka sadar sepasang mata wanita memperhatikan interasi keduanya, terlihat kesal namun senyum kemenangan langsung ia tampakan, ketika indra penglihatnya menangkap goresan wajah sang mantan tak ada senyuman, sedikit kucel dan kesal. Dan ia sama sekali tak mendapati sikap antusian dan senang dari wajah duda itu. ’Aku sangat tau kamu, Zal. Gak papa, makan siang ini aku buang.' Menatap paper bag dalam genggaman. 'Yang penting aku tau, sampai saat ini kamu sama sekali gak suka sama dia. Kamu masih setia dengan perasaanmu yang dulu dan kamu masih lebih nyaman disampingku.’ *** ”Perayaan ulang tahun orang terkaya negeri ini, Dirga Dewantara, kali ini berbeda dari biasanya. Ia membiarkan kami, para awak media meliput acaranya. Mengundang tak hanya kolega dan keluarga, bahkan ia pun mengundang seluruh pejabat negeri demi merayakan usianya yang bertambah. Perayaan begitu mewah, yang acaranya diadakan di atas kapal pesiar megah.” Raya tampak menikmati acara televisi kali ini, berniat menghilangkan kesepian dengan cara menginap di rumah sakit, justru ia disuguhkan tontonan yang membuatnya penasara. Kamera televisi tampak mengabadikan setiap inci bagian kapan pesiar secara mendetail. Dipandu dua orang host terkenal, menghasilkan acara jelajah kapal mewah itu tampak menarik dan seru, hingga membuat para penonton terhanyut dan ingin sekali merasakan kemewahan yang di suguhkan. Interior klasik ala-ala Eropa, ratusan kamar mewah berjejer bak di lorong hotel bintang lima, para pelayan cantik dan tampan yang selalu siap membantu ditemai senyuman, aula dansa megah dan cantik dilengkapi pilar menjulang, tombol-tombol canggih berteknologi pintar, tak lupa cuplikan kegagahan sang kapal pesiar yang membelah lautan ikut diabadikan. Begitu menawan dan menggiurkan, bak dalam surga ciptaan manusia. ”Pesta ini di adakan dalam waktu tiga hari tiga malam, berdestinasi menuju Bali, Lombok dan akan kembali ke Jakarta di hari ke tiga. Dengan seluruh akomondasi, fasilitas dan uang saku yang diberikan secara cuma-cuma dari sang penyelenggara, Surga dunia ciptaan manusia,” ucap host perempuan terlihat begitu senang. ”Bener banget! Gue jadi kepingin banget cepet kaya!” balas host pria antusias. Raya dan beberapa perawat masih asik menyimak kedua host membawakan acaranya. “Entah apa tujuan pria kaya itu, kami hanya mampu mengucapkan terima kasih atas fasilitas yang ia berikan. Terima kasih pak Dirga Dewantara, semoga selalu sehat dan makin sukses berjaya!” seru host pria menikmati kemewahan yang ia dapatkan. ”Oh ya, jangan lupa ikuti terus perjalanan kami, ingat di malam puncak acara akan semakin seru, karena beberapa artis mancanegara akan hadir dan tamu-tamu istimewa akan bertaburan mengisi ruang dansa di bawah sana,” Lanjut si host pria sambil menujukan jarinya kearah bawah. ”Salam hangat dari kami dan sun sayang untuk orang di samping anda. Dan selamat menikmati!” seru host perempuan dan siap kembali menikmati fasilitas. Stasiun televisi itu menayangkan acara tersebut non stop, tiga hari tiga malam. Live tanpa editan. Raya menikmati proses atas perjalanan hidup yang ia pilih, setelah cape pulang kuliah dan coba mencari kerja, ia makin menikmati proses kesedihannya. Sesekali menonton televisi bersama para perawat di rumah sakit, indra penglihatnya menangkap tubuh tegap yang sangat ia kenali. Meski terlihat dari belakang Raya sangat tau siapa pemilik raga itu. Raga yang terlihat duduk sendirian di meja bartender dan terkadang terlihat berbincang-bincang dengan beberapa orang. Meski hati kecilnya merasa minder, tapi bukan karena hal itulah dia memilih untuk mundur. ’Akan banyak masalah datang berdurasi panjang, memilih mundur duluan dan memilihkan yang lebih dulu mengenalmu, itu lebih sportif dibandingkan harus baku hantam berujung mengorbankan mereka yang kusayang.’ ’Bahagiaku itu seperti dulu, menjalani hari-hariku berjuang untuk dua orang yang kusayang. Cukup. Sesimpel dan senikmat itu,' gumamnya dalam hati seperti menyayat hati sendiri. Menikmati tontonan dengan besar hati, yang mungkin kelak acara televisi akan banyak menayangan sang tuan. Pikirnya meratapi diri. Tidur malamnya tiga hari ini sama sekali tak memberi kenikmatan. Selalu ada rasa gelisah, pikiran kemana-mana membuat kelopak matanya sulit sekali untuk dipejamkan. Tersadar sang ponakan tak ada di sampinya, Raya bangun dari posisinya. Keluar kamar dan mendapati Fayed sedang asik menonton televisi. “Onty, sini deh, tadi aku seperti melihat om Rizal. Tapi kemana ya …” Anak laki-laki itu terlihat mencari seseorang mengamati televisi. ”Om Rizal lagi liburan. Udah yuk, mandi.” Ajak Raya berjalan menghampiri sang ponakan. ”Aku belum pernah liburan, kapan-kapan mau dong aku diajak berlibur.” ”Iya, nanti ya, nanti kalau onty sudah punya banyak uang. Yang penting sekarang Fayed mandi! onty ada interview, harus berangkat pagi.” Raya melangkah meninggalkan ruang televisi, samar ia dengar beberapa cuplikan suara pria tua yang berbicara. “Dia putra angkatku, aku berharap dia yang akan menggantikanku, sekaligus menjadi menantuku.” DEG! Hentak jantungnya berirama tegas seolah mendengar kalimat itu begitu jelas, kalimat yang mampu membuat hatinya terasa nyeri.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (386)
Susanti Azka
terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰
30/07/2022
0
AiniNur
ceritanya baguss bikin baper
kenapa berakhirnya cepat bgt, ...
padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁
terimakasih atas crita nya.. sgt bagus dan mengesankan, untungnya saya mmbaca saat smua crita sdh selesai jd saya dpt bnr2 merasakan keseluran isi crita tanpa terputus,, good job👍 tetap semangat dan trs berkarya🥰
30/07/2022
0ceritanya baguss bikin baper kenapa berakhirnya cepat bgt, ... padahal pengen bgt tau hari2 mereka saat raya hamil.....😁
20/07/2022
1bagus ceritanya
04/02
0Lihat Semua