Beranda/Di Antara Dua Cinta/
Bab 20 Kecurigaan
“Bukannya aku sudah menyuruh Cherry untuk menungguku di sana? Kenapa malah membawanya ke sini?” tanya Davin.
Sekitar setengah jam lalu, di mana saat dia dan Cherry berbicara di telepon. Davin memberitahukan Cherry untuk menunggunya di DayCare. Namun, saat di perjalanan Alvino malah mengirimkan pesan padanya agar menjemput Cherry di kafe dekat DayCare Hoiken.
Davin sampai tidak habis pikir, bagaimana bisa pihak DayCare mengizinkan Cherry di jemput oleh orang asing.
“Ini pertukaran kami. Aku meminjamkannya ponsel agar dia mau menemaniku makan es krim,” jawab santai Alvino, duduk bersandar dengan kaki kiri di tenggerkan di atas lutut kakinya yang lain.
“Kalau nggak percaya, tanya anakmu saja,” sambung Alvino, dua matanya memperhatikan manik Davin yang melirik ke arah dua gelas es krim di meja. “Duduklah. Jangan menaruh curiga padaku, sekarang ada yang ingin aku tanyakan.”
Davin mengulum senyum. “Yah, aku mau mendengarnya, tapi sayangnya hari ini pun kita belum bisa bicara banyak. Terima kasih sudah menemani Cherry, permisi."
"Kalian, sudah bercerai?"
Kalimat Alvino menghentikan Davin yang baru ingin membalikkan badan untuk pergi. Wajahnya langsung mengeras, hatinya pun semakin waspada.
Davin tidak ada rencana untuk menyembunyikan statusnya dan Kirara. Namun, rasanya tidak rela saja jika Alvino tahu bahwa dia dan Kirara hanya memiliki hubungan sebatas sepasang kekasih, meski dia tahu Alvino sudah memiliki tunangan.
Akan tetapi, mungkin ini firasatnya sebagai seorang pria yang bisa melihat, kalau Alvino menyukai Kirara dan ... mungkin, perasaan Kirara juga sama seperti Alvino.
"Apa maksud ucapanmu itu?" tukas Davin bertanya dengan nada rendah dan tegas.
"Jangan marah, aku cuma--"
"Terlepas dari pertanyaanmu, aku rasa nggak sebaiknya kamu menanyakan hubungan yang ada di antara aku dan Rara," lanjut Davin memotong.
Alvino menunduk. Dia tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. "Tuan Davin, apa hobimu itu memotong omongan orang? Haah ... sifatmu jelek sekali," sarkasnya, setelah kembali menegakkan lehernya dan memandang sinis Davin yang tetap bergeming mengendong Cherry.
"Benar dan itu hanya berlaku untukmu, Tuan Alvino," balas Davin.
Cherry meremas tepi kerah jas Davin, membuat si pemilik kerah melirik sebentar padanya. Davin bisa langsung mengerti kalau Cherry mulai tidak nyaman dengan perbincangan ini.
"Aku nggak tahu, apa yang membuatmu memusuhi diriku sejak pertemuan pertama kita," timpal Alvino seraya menegakkan punggungnya dan menaruh dua tangannya ke atas meja.
"Jika wanitamu didekati pria lain, tentu kamu akan bertindak sepertiku."
"Wow ... ini menarik. Jangan terlalu cemburu. Aku dan Rara hanya teman. Yah ... meskipun dulu hubungan kami sangat--ah--kita skip bagian itu. Duduklah, es krim Cherry--"
"Kalau sudah nggak ada yang dibicarakan, kami permisi," potong Davin, segera berbalik pergi sebelum Alvino menghentikan dirinya kembali.
Alvino terkekeh. Manik-manik indahnya menangkap sosok yang dia kenal. Melirik ke arah pintu masuk kafe, kemudian kembali memandang punggung Davin. Senyumnya bahkan kian melebar melihat Davin yang tiba-tiba tergugu di tempat. Melihat reaksi kaget Davin. Sepertinya, pria itu tidak melakukan hal yang sama dengannya.
Harusnya Alvino tidak melakukan ini, tetapi ucapan yang dikatakan Cherry cukup mengganggu dirinya.
Sepanjang perjalanan dari DayCare ke kafe, Alvino mengorek informasi tentang Davin dan Kirara. Meski kadang jawaban Cherry melantur, tetapi ada informasi yang bisa Alvino tangkap yaitu, kalau ternyata hubungan Davin dan Kirara saat ini bukanlah sepasang suami istri.
Alvino memiliki dua asumsi. Pertama, Davin dan Kirara itu pasangan yang bercerai lalu ingin kembali rujuk atau ... kedua, Kirara pernah menikah dengan orang lain dan bercerai? Dan entah mengapa semua praduga miliknya itu terasa tidak ada yang benar, karena Alvino tahu bagaimana sifat Kirara.
Wanita dengan rambut tercepol anggun, memakai rompi biru pendek tak berlengan menghampiri Davin dengan wajah cemas.
"Mamah!" seru Cherry, melambai senang. Akhirnya mereka bisa kembali bersama.
"Davin? Kamu, kok ada di sini?" tanya Kirara seraya memegang tangan Cherry yang digunakan untuk melambai padanya. Dua maniknya sejak tadi tidak lepas dari mata aswad Davin.
Davin memaksakan diri untuk tersenyum, jari-jemarinya menyapu beberapa helai rambut Cherry. Hatinya sedang kacau, inginnya marah tetapi keberadaan Cherry membuatnya harus bisa bersikap baik-baik saja.
"Apa seharusnya aku nggak berada di sini, hm? Aku pinjam Cherry, karena dia merindukanku. Kamu ke sini pasti karena dihubungi dia 'kan?" Davin melirik ke tempat di mana Alvino berada. "Temuilah, jangan hiraukan aku."
Kirara mengikuti arah pandang Davin, kemudian memegang dan menahan Davin yang ingin pergi membawa Cherry.
"Sebentar, Dav," pinta Kirara, mengganti panggilan Davin. "Vino, aku nggak tahu kenapa kamu bisa membawa Cherry ke sini. Tapi, kalau kamu berani membawa anakku seperti ini lagi tanpa izin dariku, akan aku laporkan tindakanmu ini!"
Alvino beranjak dari tempat duduknya. Dia memasukkan dua tangannya ke saku. "Aku temanmu, anakmu berarti anakku juga. Bukannya kamu juga seperti itu pada si kembar, hm? Jangan membedakan pertemanan antara aku dan Alea. Ini nggak seperti dirimu, Ra."
"Terserah! Kami permisi!" tukas Kirara, dia menyambar tangan Davin, lalu mengisi ruang jemari prianya dan menarik Davin serta Cherry keluar dari sana.
Meninggalkan Alvino yang memandang mereka dengan tatapan sulit di artikan. Alvino kesal, dia juga semakin curiga dengan tindakan Kirara yang menurutnya berlebihan ini. Selalu mengusirnya dan menyuruhnya menjauh. Hanya karena alasan dia pernah melamar. Apa salahnya dengan itu?
Alvino jadi semakin berpikir, jika sampai sekarang Kirara masih marah padanya hanya karena hal itu, bukankah artinya Kirara menyukainya?
Ini sangat membingungkan Alvino. Haruskah dia harus memancing Kirara lagi menggunakan Cherry. Pria itu menghela, menyugar rambutnya kemudian beranjak pergi dari sana.
Di luar kafe. Baik Davin dan Kirara mendatangi tempat parkir. Posisi mobil mereka hanya berselisih dua mobil.
Tepat di samping mobilnya, Kirara pun melepas cengkeraman tangan. Dia berbalik dan memandang rindu kekasihnya.
"Biar Cherry sama aku," ucap Davin mendahului Kirara yang baru ingin mengeluarkan suara.
"Nggak, Cherry akan pulang sama aku. Kita ke rumahku, oke?" tolak Kirara, tangannya segera terulur untuk menggendong Cherry.
"Celly mau sama Papah, Mah," tutur Cherry meminta, dua tangannya sudah mengalung erat ke leher Davin.
"See? Cherry akan bersamaku, nanti malam akan aku antarkan kembali padamu."
"Apa?" Kirara melongo melihat Davin meninggalkan dirinya dan pergi ke tempat di mana mobil pria itu berada.
Bukankah ada banyak yang harus mereka bicarakan? Kenapa Davin bersikap seolah dirinya adalah orang asing? Kirara memaklumi jika kekasihnya itu masih marah, tetapi bagaimana dia bisa menjelaskan kalau Davin terus bersikap seperti ini?
"Davin, kita harus bicara!" seru Kirara sambil mengekori Davin.
"Nanti, sekarang aku hanya mau bermain sama Cherry," tolak Davin. Dia membuka pintu penumpang yang berada di samping kursi pengemudi dan mendudukkan Cherry di sana.
Cherry duduk dengan netra yang bergantian memperhatikan Davin dan Kirara. Bibirnya tidak berani untuk berucap, seolah mengerti dengan keadaan saat ini yang menyuruhnya untuk diam.
Anak itu berpikir, mereka sudah bersama seperti dulu. Namun, kenapa suasana ini masih saja terasa berbeda? Dia sudah memendam keinginan untuk tinggal bersama, sekarang apa dia harus terus melihat mereka saling berpaling dan menjauh? Lalu, bagaimana dengan dirinya? Cherry tidak mengerti masalah orang dewasa, dia hanya mengikuti hati yang menyuruhnya diam dan menghibur sang ibu kala wajah Kirara terlihat sedih ataupun lelah.
"Aku minta maaf! Hari itu aku sudah berniat untuk mengatakan semuanya dan malam itu aku mau menjawab semua ucapanmu, tapi aku terkejut--"
"Ra, sudah cukup," potong Davin setelah menutup pintu mobil, dia menghela napas lelah seraya berbalik menghadap sempurna pada Kirara. "Ada Cherry yang mendengarkan kita. Jangan sampai dia bingung dan takut dengan kemarahanmu dan kepanikanmu ini. Aku--"
"Rara!" Seruan lantang Alvino membuat sepasang kekasih di sana menoleh bersamaan.
Kirara mendengus matanya menatap tajam. "Mau apa lagi dia?!" gumamnya kesal.
Davin menarik bola matanya ke samping. Melirik dan melihat raut muka kekasihnya. Rasanya tidak rela, tetapi Davin harus melakukannya. Dia mau Kirara berbicara dengan Alvino. Hubungan mereka seperti ini karena Alvino yang terlihat terobsesi pada kekasihnya dan Kirara yang takut untuk mengatakan hubungan pertemanannya.
"Ra, kita perlu bicara!" seru Alvino, memegang dua bahu Kirara erat tanpa mempedulikan ada Davin di samping mereka.
"Vino, lepasin! Aku nggak mau bicara sama kamu!" sahut kesal Kirara seraya menghentak kedua tangan Alvino.
Kenapa semua semakin rumit?! Kenapa Davin bisa di sini?! Dan kenapa Alvino bisa membawa anaknya ke sini?! Kirara sampai bingung harus bertanya dan menyelesaikan yang mana dulu.
"Oke, tapi jawab pertanyaanku." Alvino menunjuk tegas ke arah Davin. "Dia bukan suamimu, iya 'kan? Kenapa kamu bohong, Ra?! Apa salahku! Apa ada sesuatu yang nggak aku ketahui, hah?!"
"Cukup! Antara aku dan Davin bukan urusanmu, jadi tolong pergi sekarang!" teriak Kirara. Emosi sudah melahap dirinya.
Sungguh, Kirara tidak mau bicara dengan Alvino, terlebih di depan Davin. Harus berapa kali lagi dia menyakiti Davin?
Davin yang sedang berdiri sambil bersedekap dada itu pun tertawa menyaksikan pertengkaran lucu yang tersaji di depannya. Kirara itu kekasihnya, tetapi entah mengapa rasanya seperti dia yang menjadi selingkuhan Kirara.
Dua orang yang saling melempar kata mengandung kebencian itu sontak menoleh pada Davin. Mereka heran dan bingung, kenapa Davin tertawa.
"Haah ... sungguh menggelikan. Aku nggak tahu ada masalah apa di antara kalian, tapi tolong kali ini jangan libatkan aku. Karena aku harus berkencan dengan putri kecilku." Davin mendekat lalu memegang bahu Kirara dan memberikan kecupan singkat di dahi kekasihnya.
"Bicaralah dengannya, jangan hiraukan aku. Nanti malam aku akan datang. Tolong jangan menangis karena pria ini, oke?" lanjut Davin berbisik di telinga Kirara, lalu kembali mengecup singkat bibir ranum wanitanya. "Kami pergi," sambungnya. Menepuk bahu Kirara dan meninggalkannya bersama Alvino.
Berjalan menuju pintu kemudi dengan dua tangan mengepal dan rahang mengeras. Bohong jika Davin tidak cemburu. Kalau mengikuti kata hati, dia ingin memukul Alvino dan menyeret Kirara untuk pergi dari sini.
Namun, dia harus meluaskan kesabarannya. Ada Cherry yang menonton takut dan ini juga demi hubungannya dengan Kirara. Dia tahu, masa lalu masih mengait dalam hati Kirara. Biarlah kekasihnya itu menyelesaikan semua masalahnya.
Bruk! Gema pintu mobil terdengar, baik dari luar maupun dari dalam. Cherry tersentak kaget, tetapi dia tetap diam memperhatikan Davin dan Kirara yang berada di luar bersama dengan Alvino.
Mobil perlahan bergerak meninggalkan Kirara yang memandang sendu Cherry dan Davin.
Gadis itu melirik ragu, dia belum memakai seat belt. Ingin memgabaikannya, tetapi teringat pada pesan Kirara yang harus memakai seat belt agar diri tetap aman.
Haruskah dia meminta tolong memasangkan seat belt? Namun, Davin yang memandang jalan terlihat serius.
Cherry pun berusaha untuk menarik dan menyambungkan dua tali di tangannya itu. Setengah menit berlalu, tetapi tali-tali itu masih belum bisa dia satukan. Keras dan susah ditarik, begitu gerutuan Cherry sejak tadi.
Kembali, Cherry melirik ragu pada Davin. Ingin minta tolong, tetapi di kembali dia urungkan. Cherry pun menunduk dengan bibir yang dia gigit pelan.
"Cherry, mau ke rumah Papah, 'kan? Kita belanja ke mall dulu, bagaimana, hm?" tanya Davin seraya melirik ke arah Cherry.
Anak itu menunduk dalam dengan dua tangan di atas kedua paha kecilnya, membuat Davin mengerutkan kening dan berpikir, mungkin Cherry ketakutan melihat dia dan Kirara bertengkar.
Davin pun segera menepikan mobilnya. "Cherry, ada apa, hm?"
Wajah bulat berpipi chubby Cherry mulai terangkat. Dua maniknya sudah diselimuti air bening.
"Celly nggak bisa pakai ini, Pah," cicit Cherry. Bibir bawahnya menurun. Memble.
"Ah ... ya Tuhan, maaf'in Papah, Nak. Papah sampai lupa memasangkan kamu ini." Davin segera menarik tali seat belt dan memasangkannya untuk Cherry.
"Jangan menangis, Cherry mau maafin Papah, 'kan?" lanjut Davin.
Cherry mengangguk, membuat Davin gemas kemudian mengusap sayang puncak kepalanya.
"Kita--" Dering ponsel membuat ucapan Davin tersekat. "Sebentar, Papah angkat telepon dulu," lanjut Davin. Segera merogoh saku jas dan melihat siapa nama yang menghubungi dirinya.
"Mama?" batin Davin, ibu jarinya langsung menggeser icon hijau untuk mengangkat panggilan itu.
"Ya Ma?" sapa Davin.
"Dav, sepulang kerja bisa mampir ke sini?"
Dua alis Davin langsung saling bertautan. "Ke sana? Davin bisa, sih. Tapi sekarang aku lagi kencan."
"Loh? Kencan? Kamu nggak kerja?"
"Kerja Ma, tapi princess nangis dan bilang kangen aku. Jadi, aku izin pulang cepat," timpal Davin, dia meoempar senyum saat Cherry memandang dirinya.
"Duh, kamu ini! Kalau memang begitu, sekarang saja ke sini, sekalian bawa pacar kamu itu. Mamah harus lihat bagaimana princess yang nangis karena kangen sama kamu."
"No, no. Nanti saja kalian ketemu--"
"Mama nggak mau tahu, bawa pacar kamu ke sini! Mama juga mau kenalan. Sudah, Mama tunggu sekarang!"Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (350)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
nice
05/08
0seru bgt
19/06
0mantap
07/06
0Lihat Semua