logo text

Bab 18 Menunggu Dirinya

Davin yang sudah memakai jasnya, mengambil ponsel dari atas meja. Memeriksa sebentar dan melihat beberapa pesan Kirara, tidak hanya pesan, tetapi juga ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari kekasihnya.
[Bisa makan siang, bareng?]
[Davin, aku dan Cherry akan datang ke sana, tolong temui kami sebentar]
Dahi Davin mengerut samar, membaca cara Kirara menyebutkan namanya. Biasanya hanya memanggil 'Vin', tetapi sejak kemarin Kirara selalu menyebutkan namanya dengan lengkap.
Yah ... Davin tahu kenapa Kirara memanggil namanya seperti itu, semua karena pria yang sangat dia benci, Alvino.
Davin menghela napas lelah. Dia pun memasukkan ponselnya ke saku jas dan berbalik untuk pulang.
"Astaga!" pekik Davin dalam hati. Beruntung dia masih bisa mengendalikan raut wajahnya.
"Kenapa masih di situ? Ada apa?" tanya Davin pada santi yang diam berdiri memandang penuh selidik ke arahnya.
"Boleh saya bertanya pribadi, Pak?" sahut ragu Santi seraya memperhatikan Davin yang datang mendekat ke arahnya.
"Tanyakan saja, tapi aku tidak jamin akan menjawab atau tidak."
Santi menimbang. Jika seperti itu akan sia-sia saja kalau dia tanyakan, tetapi masih ada kesempatan sekitar satu persen akan di jawab.
"Em, apa anak kecil yang ke sini mencari Bapak itu anak ...." Ugh, Santi ragu mengucapkannya, saat tatapan Davin menajam padanya. Atasannya itu sudah berhenti dalam jarak satu langkah dari tempatnya berdiri.
"Kenapa menanyakan itu?"
"Em, itu ... orang-orang di front desk bilang, anak itu memanggil Bapak dengan sebutan Papah. Ah, maksud saya, saya hanya memastikan saja. Semua orang penasaran, jadi--"
Santi tidak melanjutkan kalimatnya, dia segera menundukkan kepala. Rasanya ingin mengulang waktu. Santi takut dengan ekspresi dingin atasannya sekarang. Dia sanga penasaran, sampai rasa itu tidak bisa ditampung lagi.
"Jadi, kamu juga ikut penasaran?"
Santi mengangguk Ragu. Davin pun kembali melangkah.
"Sampai kapan kamu menghalangi jalanku?" tanya Davin dengan nada rendah dan tegas.
"Ah, ma-maaf, Pak." Santi mundur untuk membuka jalan. "Hati-hati di jalan, Pak dan maaf untuk ketidaksopanan saya."
"Santi."
"Y-ya, Pak?"
"Bukannya wajar kalau anakku memanggilku seperti itu? Tidak ada yang aneh atau perlu dibingungkan dengan sebutan itu. Terima kasih utnuk kerja kerasnya hari ini,"
"Ah ... ya, terima kasih, Pak." Santi terus memandang punggung Davin yang menjauh dan masuk ke dalam lift.
Bingung dan rasanya aneh. Bagaimana bisa seorang yang masih belum menikah bisa memiliki anak yang sudah besar itu? Apa selama ini atasannya memiliki anak di luar nikah?
Santi menggeleng dia menepuk kedua pipinya. "Haah ... ini tidak seperti diriku. Sebagai sekretaris bagaimana bisa jadi serendah ini? Menanyakan hal pribadi dia? Ugh! Untung tidak sampai dipecat!"
Di tempat lain, di kediaman Kalea.
Kalea yang sedang duduk memperhatikan Kirara yang baru keluar dari kamar anak mereka. "Bagaimana anak-anak?" tanyanya.
"Sudah tidur. Thanks Lea, aku nggak tahu kalau Cherry maksa untuk menginap," balas Kirara. Berjalan mendekati sofa.
"Nggak apa, santai saja. Sini duduk." Kalea menepuk-nepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. "Bagaimana tadi? Bisa ketemu Davin?"
Kirara menghempaskan tubuhnya sambil mendesah keras. "Haah ... nggak bisa. Dia benar-benar masih marah."
Marah? Apa Davin tipe orang yang mendendam? Kalea tentu tidak begitu mengenal Davin jika suaminya, Bobby tidak menceritakan tentang pria itu.
Kalea pun memperhatikan Kirara, wajah temannya itu terlihat murung. Dari apa yang Kirara ceritakan, Kalea bisa langsung memaklumi sifat Davin yang seperti ini. Meski dia tidak menyangka pertengkaran Kirara dna Davin akan jadi selama ini.
Jujur saja, dia juga mendukung Davin yang menghindari Kirara. Karena dengan begitu, Kirara bisa lebih memikirkan perasaan serta hubungannya dengan Davin.
"Bagaimana dengan Vino?" tanya Kalea. Dia juga penasaran tentang mengapa Kirara terus terbawa arus jika itu berhadapan dengan Alvino.
"Dia terus saja meneleponku dan masih saja mengatakan omong kosong!"
"Aku rasa, dia mencintaimu, Ra. Selama ini mencarimu dan begitu bertemu, tentu dia nggak bisa menahan perasaannya lagi."
Kirara menoleh memandang tajam Kalea. "Dia sudah punya tunangan dan akan menikah! Ah ... Lina bilang, pernikahan mereka diundur, dia benar-benar melakukannya seperti yang dia katakan padaku! Ini nggak masuk akal!"
Kalea mendebas, dia menaikkan kedua kakinya ke sofa dan bersandar. "Kalau dia membatalkan pernikahannya dan memilihmu, apa yang akan kamu lakukan?" isengnya bertanya.
"Jangan bicara omong kosong! Aku nggak ada minat buat memegang label wanita ketiga ataupun sebagai penghancur hubungan orang lain!" tandas Kirara. Sebenarnya, dia juga masih memikirkan akan bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi.
Terlebih, Alvino terus saja mengatakan rindu padanya lalu mengancam akan mencari jalan lain untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya beberapa tahun lalu.
Semoga Alvino hanya menggertak. Dia tidak punya kekuasaan ataupun uang banyak untuk melakukan tindakan seperti itu.
"Haah ... oke, tinggalkan kita pembahasan itu." Kalea memijat dahinya. Pusing dan bingung dengan masalah percintaan temannya ini.
Sejak dulu, Kirara tidak pernah tertarik dengan pria mana pun. Kirara hanya tertarik dengan hobinya, fotografer. Bahkan beberapa kali dia pernah mencoba mengenalkan pria, tetapi Kirara selalu menolaknya.
Lantas sekarang, temannya ini diperebutkan oleh dua pria dan Kalea bisa merasakan kalau perasaan Kirara sedang bingung untuk memilih antara Davin atau Alvino. Meskipun dia tidak yakin apa sebab Kirara terlihat memiliki rasa pada Alvino.
Ada satu kemungkinan yang Kalea curigai, tetapi dia sungguh takut jika kecurigaannya itu benar-benar menjadi kenyataan.
"Sekarang aku mau tahu, bagaimana perasaanmu? Kamu sudah mendapatkan jawaban dari permintaanku, kan?" sambung Kalea, menanyakan tentang Kirara yang harus memikirkan perasaan Davin tanpa harus menilai, apakah Davin yang cocok menjadi ayah Cherry.
Kirara menunduk, menekan jari jemarinya.
"Perasaanku ... entahlah," jawab Kirara terdengar pasrah.
Kalea menepuk dahinya. Benarkan firasatnya?
"Jadi, kamu bingung memilih antara Davin dan Alvino?" tuduh Kalea. Mengutarakan pemikirannya.
"Hei! Aku nggak suka dengar itu, Le! Bisa-bisanya kamu membawa nama Vino, bukannya kamu minta aku menelusuri perasaanku sendiri?"
"Dengar, Ra." Kalea menyentuh lengan Kirara dan memasang wajah serius. "Aku bicara begitu, karena itu jelas terlihat! Bukan hanya aku saja, kan? Davin juga merasakannya, karena itu dia jadi seperti ini. Apa kamu nggak sadar? Setelah Alvino muncul, kamu berubah."
Kirara menggeleng tegas. Dia menimpa tangan Kalea yang menyentuh lengannya. "Nggak! Aku nggak berubah. Aku sudah memikirkan matang-matang saran darimu dan aku juga sudah berniat untuk serius dengan Davin! Tapi karena kemunculan Vino di restoran, aku jadi sulit bicara dengannya!"
Usapan kasar di wajah Kirara lakukan. Dia sungguh ingin bersama Davin. Hanya saja, masa lalunya begitu sulit untuk dia buang.
"Aku ... waktu Davin marah, aku sama sekali nggak bisa bicara untuk membela diri. Mungkin karena aku yang bersalah. Tapi, melihat dia pergi, hatiku sakit Le. Aku takut dia akan meninggalkanku. Aku mencari dia beberapa hari ini, bukan semata ingin membicarakan ataupun menyelesaikan masalah kami, tapi ... aku juga merindukannya." Kirara menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Rasanya aneh, dia selalu ada bersama dengan kami, sekarang ...."
****
Satu hari berlalu .... DayCare Hoiken.
"Di sini lokasinya. Kami mau agar lantainya memakai bahan yang tidak akan terlalu licin ketika terkena air. Anda tahu 'kan, di sini banyak anak-anak. Meski ada yang mengawasi, tetap saja tidak akan mengurangi rasa penasaran mereka ketika ada kolam baru di tempat mereka bermain."
"Benar, saya setuju. Em ... kalau boleh saran, apa tidak ingin menambahkan bambu air di tepi kolam, tapi karena di sini banyak anak-anak, akan lebih aman kalau hanya di tanam pada sisi utara saja. Sebentar, biar saya berikan gambaran nyatanya." Alvino mulai mencoret-coret kertas sketsa dengan pensil.
Sketsa gambar kolam ikan yang sudah terbentuk cantik dia tambahkan dengan gambar hiasan bambu air di tepi kolam.
Saat ini, Alvino sedang melakukan riset tempat untuk kliennya. Dia bekerja sebagai salah satu arsitek lanskap di perusahaan SGTech. Sebenarnya, ini adalah tugas rekan satu timnya. Namun, karena temannya tidak bisa memenuhi kunjungan ini, Alvino jadi menggantikannya untuk memeriksa langsung dan memberikan contoh desain kolam ikan sederhana untuk sebuah DayCare.
"Seperti ini, bagaimana? Kalau anda tidak suka bambu air bisa diganti dengan tanaman hias lainnya," tutur Alvino, menyerahkan tambahan sketsa yang berhasil dia buat selama satu menit.
"Bagus. Saya menyukainya," akui pria paruh baya yang memakai pakaian tradisi jepang itu.
"Kalau begitu, akan saya tambahkan ini ke dalam daftar request anda, Pak."
"Ya, lakukanlah."
"Baik. Karena kita sudah menyepakati semuanya. Tim kami akan memulai pembuatannya lusa depan, bagaimana? Dan kalau weekend siang ini masih banyak anak-anak, kami bisa memulainya di malam hari."
"Tidak. Weekend tidak ada anak-anak yang dititipkan di sini. Jadi, anda bisa memulainya kapan pun anda mau," ujar pria pemilik DayCare Hoiken.
"Terima kasih, nanti akan saya berikan detailnya besok melalui email."
Alvino sedikit melirik, memindai tempat penitipan anak itu. Ada beberapa anak kecil yang bermain di halaman ataupun duduk mengobrol dengan teman dan pengasuh.
Keramaian yang menenangkan, membuat Alvino tertarik untuk mengabadikan suasana di sana.
"Em, maaf. Boleh saya memotret beberapa tempat di sini?" izin Alvino, satu tangannya memapah sebuah kamera di atas telapak tangan.
"Oh, boleh, boleh silahkan. Sejak tadi saya berpikir, untuk apa anda membawa kamera, tapi tidak kunjung digunakan, haha."
Tawa renyah ikut Alvino lakukan. "Terima kasih, tempatnya indah, jadi saya tidak bisa menahan untuk mengabadikannya."
"Kalau begitu, silahkan ambil sepuasnya, kalau ada yang dibutuhkan silahkan datang ke ruangan saya."
"Baik, terima kasih sudah mengizinkan," jawab Alvino. Setiap kunjungan ke lokasi dia memang akan selalu membawa kamera pribadi. Hobi yang sama dengan Kirara. Mereka juga didekatkan oleh hobi memotret ini.
Pemilik DayCare pun pergi meninggalkan Alvino seorang diri di tengah halaman luas yang dikelilingi ruangan untuk anak-anak. Di sana tidak begitu ramai, karena sebagian anak ada yang sudah dijemput dan ada yang masih tertidur.
Berkas sketsa pun segera Alvino masukkan ke dalam tas punggung hitamnya, kemudian menyambar kamera yang tali hitamnya menggantung di leher.
Berjalan perlahan sambil menarik napas dalam-dalam. Suasana di sana masih terasa sejuk seperti pagi hari, padahal saat ini sudah hampir menjelang sore dan matahari masih cukup menyengat.
Pria itu menarik samar sudut bibirnya. Tidak bisa Alvino pungkiri, DayCare Hoiken benar-benar membawa sensasi Jepang. Rumah tradisional yang mengelilingi dirinya sungguh unik.
Dua anak kecil yang sedang berdiri di depan tanaman bunga menarik atensi Alvino. Segera, pria itu pun mengambil angle dan mengarahkan lensa kamera sebelum membidik cantik dua anak perempuan di sana.
Klik! suara tegas kamera terdengar pelan.
Alvino pun segera memeriksa hasilnya dan tersenyum puas.
"Celly, besok aku nggak ke sini. Papah aku libur, kamu di lumah aku aja."
Suara anak perempuan yang baru keluar dari ruangan di sana, membuat Alvino menegakkan kepalanya yang menunduk.

Komentar Buku (350)

  • avatar
    FazaFAZA SYAFAQI

    nice

    05/08

      0
  • avatar
    AaSay

    seru bgt

    19/06

      0
  • avatar
    KonengKalampi

    mantap

    07/06

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru