"Enggak apa-apa kok, paling mabuk biasa perjalanan," tolak Hani lembut. "Enggak apa-apa gimana, ini kamu sampai lemes gini!" ujar Rival kesal. Hani hanya tersenyum senang melihat kepanikan di wajah Rival, ia merasa Rival berlebihan tapi juga menikmatinya karena berarti suaminya itu perhatian dan mengkhawatirkannya. Akhirnya mereka sampai di bandara internasional tanah air, tanpa kesana-kemari mereka langsung keluar bersama para penumpang lain. Seorang supir dari travel telah menunggu mereka untuk mengantarkan pulang, kali ini bernama Raihan. Raihan melambaikan tangan kala melihat orang yang mesti diantarnya keluar dari antrian. Raihan mengenali wajah Rival dan Hani melalui foto yang diberikan atasannya. "Pak Rival dan Bu Hani?" tanya Raihan saat melihat Rival dan Hani yang ada di antara rombongan para penumpang yang kembali dari Mesir. Rival mengangguk kemudian mereka langsung pulang menaiki mobil, tanpa menunggu koper. Biarlah nanti diantar pihak bandara, kali ini keselamatan dan kesehatan Hani lebih penting dari apapun. "Ke Rumah Sakit Harapan terlebih dahulu," titah Rival pada Raihan yang sedang menyetir. "Baik, Pak, kalau begitu kita lewat Jalan Harapan ya," timpal Raihan yang tatapannya fokus melihat jalanan di depannya. Mobil berbelok ke kanan untuk menuju Jalan Harapan, sesampainya di rumah sakit, Rival dan Hani turun sementara Raihan menunggu di mobil. "Kami tak akan lama, tunggu saja!" titah Rival pada Raihan. Raihan mengangguk dan berkata, "Siap, Pak!" Rival segera memasuki rumah sakit dan langsung ke ruang praktek dokter kandungan, karena telah didaftarkan oleh sekretarisnya. Sebenarnya Rival heran mengapa sekretarisnya mendaftarkan ke dokter spesialis kandungan, tali kepalang tanggung daripada mesti lama lagi menunggu antrian. Baru saja mereka duduk di kursi tunggu, seorang asisten dokter keluar memanggil nama Hani. "Nyonya Hani, silakan masuk," ucap asisten dokter tersebut. Rival dan Hani masuk ke ruangan periksa. Hanya ada Dokter Rizki dan asistennya. Asisten dokter tersebut mengoleskan gel ke perut Hani. Dokter Rizki menempelkan alat untuk USG ke perut Hani dan menggeser-gesernya. "Jadi, kenapa istri saya mual hebat saat perjalanan luang dengan pesawat, Dok?" tanya Rival saat mereka telah duduk di depan meja konsultasi. "Wajar saja, rahim istri bapak sedang menebal dan sudah ada kantong kehamilan, tapi belum terlihat ada janinnya, jadi sebaiknya periksa lagi dua minggu kedepan ya," jelas Dokter Rizki ramah. "Ja-jadi, istri saya hamil, Dok?!" tanya Rival tak percaya. "Iya, tapi karena masih muda jadi belum terlihat janinnya, harus dijaga ketat ya ... enggak boleh kecapekan, jangan banyak naik turun tangga, jangan stres atau banyak pikiran," tutur Dokter Rizki ramah. "Alhamdulillah." Hani mengucapkan hamdalah atas kepercayaan yang begitu cepat Allah titipkan di rahimnya. "Terima kasih banyak, Dok, kami pamit dulu, assalamualaikum," pamit Rival, wajah dinginnya kini menghangat dengan senyum mengembang, nampaknya ia sangat bahagia. Pun dengan Hani yang bahagia bisa memberi keturunan bagi suaminya. Mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Perjalanan menuju rumah hanya butuh waktu 45 menit, tapi karena ingin cepat sampai dan ingin memberitahukan kabar bahagia ini ke Pak Deris dan orang tua Hani meski lewat telepon, rasanya jadi sangat lama. Sesampainya di rumah mereka langsung turun, sementara Raihan pamit kembali bekerja. "Pa ...!" panggil Rival tak sabar ingin memberi tahukan kabar bahagia ini. "Sudah pulang kalian?" tanya Pak Deris, ia berjalan pelan dengan bantuan tongkat, sebuah kemajuan besar bagi Pak Deris yang sebelumnya tak bisa apa-apa. "Sudah Pa, kami punya kabar gembira untuk Papa, oleh-oleh dari Mesir!" Rival mengucapkannya dengan penuh semangat. "Punya apa kalian? Hingga yakin bisa membuat Papa bahagia!" tanya Pak Deris diselingi tawa. "Kami bakal kasih cucu ke Papa!" jawab Rival semringah. "Alhamdulillah ...." Pak Deris memberi tanggapan dengan mengucap hamdalah. "Ya sudah, kalian cepat istirahat pasti lelah habis perjalanan jauh," titah Pak Deris. Rival dan Hani mengangguk kemudian meninggalkan Pak Deris untuk masuk ke kamar mereka. Saat akan menaiki tangga, Rival teringat pesan dokter agar ibu hamil muda tidak terlalu sering naik turun tangga karena bisa bahaya terhadap kandungan Hani. "Tunggu!" Rival berteriak menghentikan Hani yang telah menaiki satu tangga di depannya, "Ibu hamil kan tak boleh sering naik turun tangga, bahaya buat kandungan kamu." Hani berhenti melangkah dan menoleh ke arah Rival, dalam hati ia bertanya lalu harus bagaimana kamar mereka kan di lantai atas. Sst ... Rival menggendong Hani menaiki tangga menuju ke kamar mereka. Hani tersipu malu, diperlakukan amat spesial oleh suaminya sendiri. Langkah demi langkah menaiki tangga Hani menatap wajah Rival yang begitu gagah saat menggendongnya. Sorot mata tajam, hidung mancung, bibir tipis dengan rahang tegas milik Rival terlihat amat sempurna di mata Hani, dan kini ia benar-benar memiliki seluruhnya bersama hatinya bukan hanya status yang tak jelas dan tak pasti. Hani tersenyum mengenang masa-masa ia berjuang mendapatkan hati Rival, meski semuanya mengalir begitu alami. Sesampainya di kamar Rival menurunkan Hani di tempat tidur, kemudian ia berbalik badan hendak keluar. "Mau ke mana, Mas?" tanya Hani. "Mencari Bi Ijah memintanya membereskan salah satu kamar di lantai bawah, agar kita tak perlu naik turun tangga," jelas Rival yang kembali melangkah pergi meninggalkan kamar. "Tapi, Mas-," ucapan Hani dipotong. "Tak ada tapi-tapian!" Rival meneruskan niatnya mencari Bi Ijah yang tak lain berada di dapur. "Bi, tolong bereskan kamar depan yang dekat kamar Papa ya, untuk aku dan Hani," titah Rival. Bi Ijah memerhatikan perintah Rival. "Loh, Tuan mau pindah kamar?" tanya Bi Ijah heran. "Iya, ibu hamil tak boleh banyak naik turun tangga, kan?" jawab Rival. "Wah, Non Hani hamil, alhamdulillah ...." Bi Ijah terlihat senang sekali mendengar berita kehamilan Hani. ******** Sementara itu Bu Meta tengah berada di luar ruangan Widia yang kondisinya kembali kritis. "Aku mesti memanggil Reza lagi, tapi bagaimana caranya, haruskah aku mengancamnya," gumam Bu Meta sambil mondar-mandir di depan ruangan. "Ah, ide bagus, aku harus mengancamnya!" gumam Bu Meta pada dirinya sendiri. Lagi Bu Meta pergi menuju rumah Rival sebelum ke rumah Reza, ia hendak menyelesaikan misinya di rumah itu dulu. Sesampainya di depan pagar rumah Rival yang tinggi menjulang, Bu Meta menatap penuh kebencian ke dalam pagar itu. "Dodi, cepat buka pagar ini! Saya mau ketemu Hani!" teriak Bu Meta lantang. "Maaf Bu, saya gak bisa bukain buat Ibu tanpa seizin Tuan Rival!" jawab Dodi tegas. "Mereka sudah pulang kan? Cepat, bilang saya mau ketemu Hani!" pekik Bu Meta semakin lantang. Pak Dodi menggeleng, kemudian menelepon Rival untuk meminta izin Bu Meta masuk. Rival mendatangi pagar untuk menemui Bu Meta, tahu akan terjadi keributan jika ia dimasukan ke dalam rumah. "Ada apa lagi, kau kesini!" Rival terlihat begitu geram melihat Bu Meta yang berada di luar pagar. "Rival tolong Mama, Nak! Mama perlu bertemu Hani dan Mas Deris, Mama benar-benar dalam kesulitan apalagi Widia dalam keadaan kritis di rumah sakit." Bu Meta berucap sememelas mungkin agar mendapat perhatian Rival dan dibiarkan masuk bertemu Hani dan Pak Deris. "Apa kau tak mengerti! Pergi, jangan kembali lagi kemari karena aku tak akan mengasihani orang licik sepertimu!" tegas Rival, matanya nyalang menatap Bu Meta, ia masih menahan emosinya agar tak membuat kegaduhan apalagi dengan wanita seperti ibu tirinya yang licik. Hani penasaran kemana Rival, lama tak kembali ke kamar, ia turun ke lantai bawah menanyakan keberadaan Rival. Tak ada yang tahu termasuk Pak Deris yang baru dari ruang baca. "Kita cari ke taman, siapa tahu dia disana," ujar Pak Deris. Hani mengiyakan, mereka berjalan perlahan ke taman. Di kejauhan mereka melihat Rival sedang bersitegang dengan seorang wanita. Lama tak berjumpa Bu Meta, Mereka pangling melihat sosok perempuan cungkring dengan baju khas ibu-ibu pada umumnya, tak glamour seperti biasanya. Mereka menghampiri Rival di depan pagar. "Meta!" ucap Pak Deris setengah berteriak. "Mas ... tolong aku Mas! Hani ... tolong Mama, Nak!" teriak Bu Meta sambil melambai-lambaikan tangan. Dalam hati Bu Meta tersenyum licik rencananya hampir berhasil.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nya menarik
08/07/2025
0baguss bgtt ceritanya
25/11/2024
0lanjut
30/10/2024
0Lihat Semua