logo text

Bab 20 Kamar Mayat

Hani terus mendekat, hingga akhirnya sampai di pinggir bed yang ditiduri jasad tertutup kain.
Dengan perlahan Hani membuka kain tersebut.
"Mas ...." Hani mengernyit, tak mengenali orang meninggal dibalik kain tersebut.
Hani segera menutup kembali kain ke kepala mayat tersebut sambil bergidik ngeri, dan berjalan ke luar ruangan jenazah untuk menemui polisi, menanyakan keberadaan Rival.
"Maaf, Pak, saya mencari korban kecelakaan tadi sore, suami saya bernama Rivaldi Putra Demoris, apa Bapak tahu?" tanya Hani sopan.
"Oh, kami kira anda keluarga korban kecelakaan yang meninggal itu, saudara Rival ada di ruang perawatan sebelah sana." Tunjuk Pak Polisi pada ujung lorong sebelah kiri.
"Oh begitu, terimakasih, Pak, saya permisi." Hani pamit sambil melenggang pergi menuju ruangan yang dimaksud polisi.
Mencari ruangan dimana Rival berada, saat ia menengok ke sebelah kanan ada ruangan terbuka dengan suster yang sedang sibuk memperban kepala pasien.
'Mungkin itu, Mas Rival,' bisik Hani dalam hati.
"Permisi," ucap Hani sebelum masuk ke ruangan.
"Dek, kenapa kesini?" tanya Rival yang kepalanya sedang diperban.
Hani tersenyum senang, kali ini benar yang ia temukan adalah Rival.
"Aku ditelepon polisi, Mas, ngabarin kamu kecelakaan," jawab Hani sambil ikut duduk di bed yang ditempati Riba.
"Nah, sudah beres, istirahat dulu ya, Pak, kalau ada apa-apa bisa panggil saya," pamit suster, lalu ia pergi keluar.
"Oh, ya, Mas, tadi aku shock banget, salah masuk ruangan!" cerita Hani.
"Emang masuk ke ruangan mana?" tanya Rival.
"Ke ruang mayat, kata suster korban kecelakaannya di ruangan yang dijaga polisi, aku shock banget kirain yang meninggal kamu, Mas!"
"Haha ... terus gimana?"
"Polisi du depan ruang mayat gak cegah aku masuk, ya aku masuk aja, pas buka penutup kain ternyata bukan kamu, lega deh!"
Rival tersenyum, merasa berarti bagi Hani.
"Ya sudah, Mas, istirahat dulu aja," titah Hani sambil membantu Rival untuk berbaring di bed yang ditempati.
Rival menurut dan coba memejamkan mata, ia tak tidur sepenuhnya. Kesadarannya masih terjaga.
Selang beberapa jam, seorang dokter masuk ke ruangan Rival.
"Selamat sore, dengan Pak Rival, ya?" tanya dokter muda dengan nametag Hanif itu.
"Iya," jawab Rival pelan.
Hani baru keluar dari kamar mandi pasien saat dokter itu telah masuk.
"Loh, Kak Hanif!" ucap Hani yang terkejut karena rupanya ia mengenali dokter muda tersebut.
"Eh, Hani, apa kabar?"
"Saya alhamdulillah baik, Kakak bagaimana?" tanya Hani, matanya nampak berbinar, sepertinya mereka teman lama.
"Alhamdulillah saya juga baik," jawab Hanif.
"Hebat, sekarang sudah jadi dokter!" puji Hani pada dokter Hanif.
"Iya, Alhamdulillah, oh, iya saya mau menyampaikan bahwa Pak Rival sudah boleh pulang," ucap Dokter Hanif.
"Syukurlah." Hani tersenyum ramah.
"Kalau begitu, saya keluar dulu, masih ada pasien lain yang mesti diperiksa," pamit Hanif, kemudian berjalan keluar ruangan, sebenarnya ia tak enak dengan tatapan Rival yang seperti tak suka dirinya akrab dengan Hani, teman lamanya.
"Wah, kamu sudah boleh pulang, Mas, kita naik taksi online saja ya, nanti suruh Pak Dodo saja ambil mobilmu kesini," tutur Hani lembut.
Rival hanya mengangguk, tak membalas senyuman Hani.
Hani membantu Rival turun dari bed dan mereka pergi keluar dari rumah sakit.
"Mas, pusing, gak? Kalau pusing pakai kursi roda saja," tanya Hani khawatir.
Rival hanya menggeleng, kemudian berjalan. Hani menggandeng tangan Rival sambil tersenyum, ini kali pertama ia menggandeng lengan Rival mesra.
Sampai di depan rumah sakit, taksi online yang dipesan telah menunggu. Mereka berjalan menuju taksi terparkir.
Melihat ada yang mendekati mobilnya, supir taksi keluar dari mobil.
"Dengan Mbak Hani, ya?" tanya supir itu ramah.
"Iya, Pak, saya," jawab Hani.
Supir membukakan pintu mobil untuk Hani dan Rival masuk, setelah semua masuk mobil pun melaju, membelah jalanan kota yang ramai di sore hari, tentu karena ini waktunya para pekerja dan pelajar pulang ke rumah, setelah lelah seharian beraktivitas di luar.
Sesampainya di depan pagar rumah Rival, Pak Dodo membukakan pagar.
"Pak, terus aja ya sampai teras, agar suami saya tak terlalu jauh berjalan," titah Hani.
"Baik, Mbak." Supir menjalankan mobilnya hingga ke depan teras, barulah Hani dan Rival turun dari mobil.
"Ini, Pak, ongkosnya." Hani memberi uang pecahan merah pada supir, kemudian berlalu menggandeng Rival.
"Mbak, kembaliannya belum!" panggil supir setengah berteriak.
"Buat Bapak, aja," jawab Hani.
Supir itu berterimakasih, kemudian pergi bersama mobilnya, sementara Hani dan Rival memasuki rumah.
Tahu, majikannya pulang Bi Ijah segera menghampiri Rival dan Hani.
"Maaf, Tuan, dari tadi Tuan Deris gelisah nyariin Tuan," lapor Bi Ijah.
Sejak kecelakaan tadi Pak Deris gelisah, memanggil-manggil Rival dan mencarinya, mungkin itulah firasat seorang ayah.
Rival mengangguk kemudian berjalan menuju kamar ayahnya.
"Pa," panggil Rival pelan.
Rupanya Pak Deris tengah memegangi pigura foto saat Rival masih kecil. Ia nampak bahagia di foto itu, tersenyum lebar di tengah orang tuanya.
"Rival." Pak Deris menengok ke arah Rival.
"Iya, ini aku Pa, maaf ya, sudah bikin Papa khawatir," ucap Rival lembut disertai senyum tipis.
"Sehat terus, Nak," ucap Pak Deris sambil membelai rambut Rival.
Mata Rival berkaca-kaca, entah kapan terakhir ayahnya perhatian seperti ini. Hal sangat ia rindukan.
"Kamu, istirahat dulu, Nak," titah Pak Deris pada Rival.
"Rival ke kamar dulu ya, Pa," pamit Rival.
Pak Deris mengangguk, kemudian Rival dan Hani menuju kamar mereka.
Rival langsung berbaring di kasur tanpa bicara sedikitpun pada Hani.
Hani merasa heran dengan tingkah suaminya yang tak seperti biasanya, tapi memilih untuk diam dulu, apalagi Rival sedang sakit.
******
"Wi ... Widia, makan dulu sini!" Bu Meta masih mengetuk pintu kamar Widia yang dikunci dari dalam, berusaha membujuk putrinya itu untuk makan.
Sementara di dalam Widia tengah meringkuk di kasur dengan menghadap tembok, air matanya seakan kering karena tadi menangis meraung-raung, ia merasa hidupnya hancur sekarang.
Pekerjaan tak punya, harta tak punya, suami yang dicintainya malah sudah menikah lagi.
"Biarin, aku mati!" teriak Widia dari dalam kamar.
"Jangan, ngomong gitu, Sayang, nanti Mama sama siapa?!" tanya Bu Meta setengah berteriak.
"Mama, gak peduli sama aku, cuma mentingin dendam, Mama egois!" timpal Widia semakin keras.
"Kamu harus ngerti! Apa yang Mama lakukan demi kebahagiaan Kamu, Widia, ingin kamu hidup layak, enak dan tercukupi!" Bu Meta tak mau kalah, dan tak merasa bersalah.
"Ah, percuma ngomong sama Mama, keras kepala!" pekik Widia sambil melempar barang di dekatnya.
Suara barang-barang dilemparkan silih bersahutan.
"Widia, sudahlah, buka pintunya!" Bu Meta menggedor pintu semakin keras.
"Pergi ... !" pekik Widia dari dalam kamar, kini keadaannya memprihatinkan, Widia terduduk di lantai memeluk lututnya sendiri, menangis meraung dan mengacak rambutnya.
Bu Meta yang kesal akhirnya mendiamkan Widia di kamarnya. Ia memilih memainkan ponsel, dan duduk di sofa, sambil berpikir darimana lagi ia dapat uang untuk menghidupi dirinya dan anaknya.
Widia jelas tak bisa diandalkan, ia cerdas lulusan kedokteran Singapura, tapi pemalas dan mentalnya lemah. Awal lulus kuliah, Widia pernah melamar pekerjaan di beberapa rumah sakit, ia selalu diterima.
Hanya, setiap ada masalah baik dengan atasan, pasien, atau rekan kerjanya pasti Widia langsung keluar dari pekerjaannya, sampai akhirnya, Widia tak ingin lagi bekerja .
Bu Meta yang selalu membela Widia meskipun ia salah, kini menerima getah dari perbuatannya.
Bu Meta sudah cukup berumur, tentu untuk mendapatkan pekerjaan akan sulit baginya, tapi hidup tetap harus berjalan, jalan pintasnya adalah saat dendamnya terpercik pada Pak Deris.
Tapi bukan mendapatkan harta kini Bu Meta malah nelangsa.
Benda bundar di dinding telah menunjukan pukul delapan malam. Bu Meta masih setia memainkan ponselnya, tak ada televisi disini.
Merasa ingin ke kamar mandi, Widia keluar dengan wajah lesu dan rambut berantakan.
"Widia, makan dulu, Nak!" titah Bu Meta saat Widia melintas di hadapannya.
Widia tak menjawab, bibirnya cemberut dan terus melangkah menuju kamar mandi.
Seusai dari kamar mandi, barulah Widia makan karena rasa lapar yang sudah tak tertahankan.
"Wi, coba kamu cari kerjaan, sementara kita belum dapat harta warisan," bujuk Bu Meta saat Widia tengah makan.
"Kerjaan dimana? Aku gak mau, pasti banyak masalah, gak bisa ah!" tolak Widia tanpa basa-basi.
"Kamu ini sudah dewasa Wid, mau makan apa nanti kalau uang ini habis?! Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau gak bisa apa-apa!" Bu Meta kesal pada anaknya.
Widia yang hendak memasukan usapan terakhir makanan ke dalam mulut, menghentikannya.
Widia menatap Bu Meta tajam.
"Ibu anggap aku beban?" tanya Widia, pelan namun menusuk.
Bu Meta tergagap mendapat pertanyaan seperti itu, ia bingung hendak menjawab apa.

Komentar Buku (606)

  • avatar
    Sabattinielkana

    cerita nya menarik

    08/07/2025

      0
  • avatar
    Delima muhtarAdel

    baguss bgtt ceritanya

    25/11/2024

      0
  • avatar
    CaturMahmudah

    lanjut

    30/10/2024

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru