Setelah para tamu pulang Rara menelpon Lili… “Halo Lili, ini kamu” ucapnya. “Iya Ra ini gue, kenapa” Tanya Lili. “Begini Li (menceritakan perihal perjodohannya dengan Rendi)” ucapnya. Mendengar hal itu, Lili hanya diam saja… “Hallo Li, masih disitukan” Tanyanya. “Iya Ra, gue juga (menceritakan perihal perjodohannya dengan Fausan)” ucap Lili. “Kenapa begini sekali nasib kita ya Li” ucapnya. “Harus bagaimana lagi, ini udah takdir kita” ucap Lili. “Li, loe nggak ada perasaan sama sekali pada Rendi” tanyanya. “Sebenarnya sih ada, tapi gue rasa dia nggak suka sama gue” ucap Lili. “Loe salah Li, sebenarnya Rendi suka banget sama loe” ucapnya. “Loe serius Ra, loe nggak bohongin gue kan” ucap Lili. “Rendi sendiri yang bilang ke gue, kalau dia suka sama loe” ucapnya. “Sudah terlambat Ra, semuanya sudah berakhir. Gue harus ikhlasin dia bersama loe” ucap Lili menahan sakit. “Li, loe nggak kenapa-kenapakan” ucapnya. “Iya Ra, gue nggak kenapa-napa. Sudah dulu ya Ra, selamat malam” ucap Lili. “Iya Li, selamat malam” balasnya. Di sisi lain, hal serupa juga terjadi pada Fausan. Fausan menghubungi Rendi. Rendi tentu saja merasakan sakit yang sama seperti dengan Lili. "Hallo Rendi, ini loe kan" tanyanya. "Iya, ada apa san" jawab Rendi. "Begini bro (menceritakan perihal perjodohannya dengan Lili) ucapnya. " apa san, perjodohan loe dengan Lili" tanya Rendi kaget. "Iya Ren, padahal gue sayang banget sama Rara" ucapnya. "San sebenrnya gue juga dijodohin sama Rara" ungkap Rendi. "Apa Ren, gue bisa gila kehilangan Rara" ucapnya. "Terus loe mau apa, nolak juga tidak mungkin. Aku tahu bagaimana sikap orang tua loe dan orang tua gue sendiri" ucap Rendi. "Kita harus terima perjodohan ini, begitu maksud loe Ren" lirihnya. "Harus bagaimana lagi, gue harus relakan Lili bersama loe. Begitu pun loe harus relakan Rara bersama gue" jelas Rendi. "Menyedihkan sekali takdir kita Ren" ucapnya. "Sudah dulu ya San, gue ada keperluan yang lain" pamit Rendi. "Iya" balasnya lalu memutuskan panggilannya. Rendi menangis dalam kesendiriannya, mengingat sahabatnya akan menikah dengan orang yang dicintainya. Begitupun sebaliknya dengan dirinya yang harus menikah dengan Rara kekasih Fausan. "Apa gue sanggup Li, jika harus kehilangan loe. Melepaskan loe menikah dengan orang lain. Ya Allah mengapa malang sekali nasibku harus berpisah dengan orang yang aku sayangi" ucapnya sambil meneteskan air mata. Rumah Lili... Lili termenung, setelah mendengar cerita Rara. Hanya bertemanlan sunyi di kegelapan malam, dia menumpahkan segala keluh kesahnya. "Kenapa Ren loe nggak pernah jujur dengan perasaan loe kepada gue. Andaikan gue bisa menolak perjodohan ini (menghela nafas) ini sudah berakhir, I live you Rendi" ucapnya. Kesedihan mereka begitu mendalam, membuat seolah-olah bumi ini berhenti berputar. Mentari enggan bersinar lagi, sang dewi malam seakan ikut bersedih dan meredupkan cahaya terangnya. Kegelapan menyelimuti mereka, akankah ada sedikit cahaya terang untuk mereka. Menerangi kegelapan yang ada dihati mereka. Entahlah, aku pun tak tahu. Hidup Lili seakan suram seketika. Saat kenyataan tak sesuai dengan harapannya. Lagi dan lagi mempermainkan mereka berdua. Kehidupan cintanya, terpaksa kandas di tengah jalan. Harus terganti dengan cinta yang baru. ”Apa yang harus hamba lakukan Tuhan. Takdir yang Kau gariskan, terlalu menyakitkan. Kemana lagi hamba bisa mengadu Tuhan, jika tak ke padaMu. Tapi ternyata Kau pun tak menankdirkan kami bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Belum juga cintaku tersambut, kau telah ikatkan lagi tali pengekang diantara kami. Apa yang harus hamba lakukan Tuhan, tolong berikan petunjukMu” doa Lili di akhir shalat subuhnya. Berbeda dengan keadaan sang putri, kedua orang tua Lili terlihat sangat bahagia dengan perjodohan putrinya. ”Aku senang Yah... Lili mau menerima perjodohan ini. Semoga saja ya Ayah, Lili selalu bahagia. Lagi pula, Lili sudah mengenal Fausan lebih dulu” ucap Hera. “Ayah juga senang melihatnya bun. Ternyata pilihan kita tidak salah ya. aku jadi nggak sabar loh bun, melihat putri kita duduk di pelaminan nanti” balas Adam. “Iya Yah... aku juga nggak sabar. Aku ingat dulu putri kita masih kecil dan menggemaskan. Tapi sekarang, dia tumbuh sehat dan juga sangat cantik” ucap Hera. ”Iya Bun... ingat tidak, saat Lili pertama kali memanggil kita dengan sebutan Yah dan Undah. Menggemaskan sekali” balas Adam. Tanpa mereka sadari, jika putrinya menyimpan luka yang tak mudah untuk diobati. Luka yang tak nampak, namun bisa membunuh secara perlahan. “Yah... bunda masak dulu ya. ini udah mau makan siang loh” ucap Hera. ”Ya sudah...” balas Adam. Jangan heran mengapa Adam masih duduk manis di teras rumahnya. Karena ini adalah weekend dan seperti biasanya mereka akan menghabiskan waktu bersama-sama. Lili pun turun menemui sang bunda. Yang dia tebak pasti sedang memasak di dapur. ”Aku bantuin ya bun” ucap Lili. ”Nggak usah sayang, bunda bisa sendiri kok” tolak Hera. ”Pokoknya aku mau bantu bunda, titik” balas Lili. Dan akhirnya perdebatan itu dimenangkan oleh Lili. Lili mulai memotong sayuran yang telah dicuci Hera terlebih dahulu. Satu jam berkutat di dapur, masakan keduanya pun siap di sajikan. Menu kali ini yaitu, cumi saos asam manis, sayur bening dan ayam geprek sambel hijau. Mantap ya... “Aku susun di meja dulu ya bun” ucap Lili. ”Iya” balas Hera. Lili dengan telaten menyiapkan makanan dan segala kebutuhan di meja makan. Hingga 5 menit kemudian, piring, gelas, dan sendok sudah tersusun rapi di Meja makan. Tak lama kemudian, Adam dan Hera pun tiba di Meja makan. Mereka takjub dengan kreativitas putrinya. ”Wah... cantiknya, serasa kita makan di hotel bintang 5 ini mah. Iya kan bun” ucap Adam. ”Iya Yah” balas Hera. ”Ayah sama Bunda bisa aja. Mari kita makan” ucap Lili. Melihat itu Lili bersyukur, karena keakraban keluarganya yang tetap terjaga sedari dulu. Hanya saja ya... Lili tetap merasakan sakit, ketika mengingat perjodohan itu. “Ya sudah lah, setidaknya ini yang akan membahagiakan Ayah sama Bunda. Aku harus ikhlas dengan perjodohan ini” batin Lili. “Li... ayo di makan sayang” ucap Hera. ”Iya bun” balas Lili. ”Kamu lagi mikirin apa sih” tanya Hera. ”Nggak ada kok bun. Lebih baik kita makan ya” balas Lili. Lili pun mulai menyantap makanannya secara perlahan-lahan. Ini memang kebiasannya. Lili tak bisa makan secara amburadul, Lili sudah dibiasakan makan secara anggun sedari kecil. Lili membutuhkan waktu sekitar 10 menitlah untuk menghabiskan makanannya. Lumayan lama kan. Nah sudah tahukan, kenapa Lili sering terlambat ke sekolah. Karena kebiasaan makannya ini dan juga keseringannya maraton drakor setiap malam. ”Akhirnya kenyang juga. Lebih baik aku bereskan piring-piring kotor ini kali ya. lalu menemui ayah sama bunda” monolognya. Kemana Adam dan Hera, keduanya telah lebih dahulu ke taman bunga. Tempat favorit ketiganya menghabiskan waktu bersama. Sebuah padang yang Adam sulap menjadi taman bunga matahari yang sangat indah. Karena Hera dan Lili sangat menyukai bunga tersebut. Kalau kalain mau tahu luas taman bunga tersebut, kira-kira 1 hektar luasnya. Kalau tidak salah ya... Taman ini lah saksi bisu, pertemuan keduanya. Mengapa??? Karena taman itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan Adam dan Hera.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
baru mau coba.. kalau bagus saya kasih bintabg 5
24/08
0bagus
15/04
0mantap
22/10
0Lihat Semua