logo text

Bab 24 Mulai Pembalasan

“Sudah saya katakan, jangan main-main dengan saya.”
”Baiklah, apa maumu, serahkan semua sandera,” Arifin merasakan nada ancaman dan kebekuan di seberang telepon, nadanya tampak ngos-ngosan seolah sedang marah.
”Sudah saya katakan, saya hanya ingin bermain-main saja sejenak.”
”Anda gila.”
”Benar! Saya telah gila. Ha..ha.., kalian telah berani bermain strategi dengan saya. Maka, akan saya perlihatkan kegilaan itu, kegilaan yang kalian inginkan!”
Tut. Tut. Tut.
”Dengarka...” Arifin memukulkan bawah handphone itu di telapak tangan kirinya, dia melihat bahaya yang sebentar lagi seolah membayang. Deri masih dirawat dan sekaligus diinterogasi, namun dia teramat ketakutan dan terus mengigau. Lukanya hanyalah terserempet saja, apakah si penyandera memang sengaja atau karena asal menembak?. Arifin segera ke ruang mobil tempat Deri dirawat oleh dokter yang didatangkan, harus segera mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang si penyandera.
@ @ @
Malam mulai merayap pelan, Dedi melihat empat orang yang tengah menunduk lemah di hadapannya. Dedi duduk di kursi, sambil memainkan pistol rakitannya, sedangkan keempat orang itu tengah duduk bersandarkan tembok di lantai.
Mega sesekali menatap lelaki kurus itu, namun ketika dia menatapnya, Mega segera menundukkan kepalanya kembali.
Krieet!
Dedi mendirikan tubuhnya, dia bergerak mendekati keempat orang yang terikat itu. Dipegangnya pundak Jaka kuat, Jaka tak kuat lagi meronta, tubuhnya demikian lemah. Cengkraman itu membuat Jaka sedikit merintih, namun akhirnya dia berdiri dengan lemah. Jaka didudukkan di kursi, ketiga orang yang masih terikat melihatnya penuh was-was.
Dedi mendekati meja salah satu guru, disana ada plastik hitam. Dedi mengambil roti di dalamnya, tinggal satu bungkus dan isinya lumayan besar. Itu adalah roti bagiannya, yang tidak dimakannya sejak kemarin. Selera makannya telah hilang. Dedi mengambil roti tersebut dan mengambil isinya.
Tanpa banyak kata, Dedi memberi isyarat dengan tangannya itu agar Jaka membuka mulutnya. Jaka yang ketakutan tanpa menolak membuka mulutnya, dia memang juga sudah kelaparan. Jaka makan dengan lahap, ketiga temannya memperhatikannya, Dedi melihat kearah lain sambil tangannya menghulurkan roti itu ke mulut Jaka.
Dedi mengambilkan air minum yang diambil dari galon, satu gelas besar. Dia juga meminumkan ke mulut Jaka, dan Jaka pun meminumnya hingga beberapa tetes tumpah dan menetes dari dagunya.
Sejenak, waktu tergulir dan terjadi kesenyapan di malam itu. Tidak ada yang bersuara, Dedi pun terduduk di salah satu kursi tanpa ekspresi sambil memainkan pistolnya.
Keempat sandera itu tahu, bahwa akan ada sebuah rencana yang tengah disiapkan Dedi. Mereka hanya berani menduga dalam otaknya masing-masing.
”Sudah waktunya...”
Suara itu membuat Mega, Jaka, Roni dan Firman terkaget dan melihat ekspresi beku milik Dedi. Ada dengus angin keras yang keluar dari bibir Dedi.
Dedi memegang lengan kanan Jaka, diangkatnya dengan paksa dan dibawa keluar dari kantor.
”Ded,” ada sebuah suara lembut yang muncul. Suara milik Roni.
Dedi menoleh kearah suara itu, tanpa ekspresi, tanpa suara.
“Kau tahu, kami memang bersalah padamu. Kami memang kurang ajar, kami memang bajingan. Tapi, maafkanlah kami. Kami tidak akan pernah mengulanginya lagi kepadamu dan pada siapapun. Kami sadar sekarang, tapi jika kamu meneruskan ini semua..., kamu akan mengalami kesulitan dan berurusan dengan hukum. Saya mohon, hentikanlah semua ini. Aku mohon...”
Kini, semua mata menatap syahdu pada Roni. Dan akhirnya, segera beralih kembali kepada Dedi, mata mereka memohon penuh pengharapan. Sedetik, ada kedip kerling di mata Dedi, ada kelembutan yang seolah tercipta sejenak, bagai sebuah bahagia yang telah lama hilang dari mata itu.
”Sudah terlambat! Karena, semuanya akan berakhir,” Dedi kembali menarik lengan jaka dan membuka pintu.
”Ded, kami mohon. Hentikan semua ini, kita bisa memulainya kembali dengan baik,” kini suara itu dari Firman, ”Kita akan menjadi teman, kami telah sadar kini, maafkanlah kami.”
”Kenapa sadar kalian baru sekarang? Jika aku tak melakukan hal ini, apakah kalian akan sadar? Sekarang, biarlah aku mengakhiri semuanya!”
Dedi menutup pintu kembali dan menguncinya dari luar, ada sesak di hatinya, ada pengab di seluruh syarafnya; antara menghentikan atau mengakhiri segalanya. Hatinya teramat bimbang sesungguhnya.
”Maafkan aku Ded, hentikanlah semua ini...,” sambil ditarik, Jaka memohon.
Kau tahu, ini berarti tindakanmu ini adalah benar. Buktinya, mereka semua telah sadar. Maka tuntaskanlah..., karena kau akan menghilang.
Kepala Dedi seolah tertusuk jarum-jarum tajam, pening.
Hentikanlah, semua belum terlambat untuk memulai dengan lebih baik.
”Ahhhh!” Dedi memegangi kepalanya dengan tangan kirinya.
Biarlah..., semuanya telah menganggapmu hancur, sekalian saja kau akhiri semuanya. Kau tidak akan diterima kembali. Lihatlah, bagaimana mereka sore tadi menipumu dan hampir membunuhmu!
Mata Dedi kembali menajam, ditariknya lengan Jaka lebih kuat. Suara-suara malam menimpali perjalanan mereka berdua menuju lorong-lorong itu. Mereka hendak membuat tipu daya, dan aku juga menyiapkan tipu daya yang lebih baik dari kalian. Kita lihat strategi perang siapa yang paling hebat!
Dedi tak lagi mempedulikan suara memohon Jaka, dia terus menarik tubuh itu. Dan, rencana-rencana telah mengolah otaknya yang terisi bagaimana mengakhiri semua kejadian yang telah terjadi seolah kini di luar kontrolnya.

Komentar Buku (105)

  • avatar
    Izz Hafizi

    Sangat terkesan, terima kasih penulis karya.. Terus hasilkan lebih banyak karya ya..

    10/06/2022

      0
  • avatar
    Dzaidan Ahmad

    Bagus

    09/10

      0
  • avatar
    sasa

    baguss sekali

    03/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru