Hari ini Axel memaksa untuk mengantarku ke kampus. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Belakangan ini dia selalu saja nempel padaku. Dia pasti akan ikut kemanapun aku pergi. Jadi sangat sulit untuk menemui Papah beberapa hari ini. "Untuk apa sih kamu ngaEntar aku ke kampus. Bukannya kamu ada meeting hari ini?" tanyaku ketika kami sudah sampai di parkiran kampus. Dia menatapku dengan datar. "Kenapa? Ga bisa?" "Bukannya ga bisa. Tapikan kamu bisa telat ke kantor. Kamu.. "Aku tahu kamu pasti mau ketemu dengan Hizkia kan? Mau berdua-duaan dengannya kan? Kamu jujur aja!" mataku melotot mendengar ucapannya. Apa maksudnya coba? Kenapa jadi bawa-bawa Hizkia? Aku hanya tidak mau dia telat ke kantor. Hari ini dia ada meeting dengan klien yang sangat berpengaruh di kantor itu sebabnya dia tidak ikut ngampus. Kalau telat gimana coba? "Udah kamu jujur aja! Kamu mau ketemu Hizkia kan?!" ucapnya dengan ketus. Astaga! Aku bingung dengan sikapnya yang selalu berubah-ubah. Dan sekarang dia menuduhku seperti ini? Ah sudahlah. Terserah dia mau bilang apa. Aku ga mau memperpanjang masalah. Kepalaku juga sedang pusing. "Terserah kamu sajalah!" ku buka pintu mobil dan keluar. Meninggalkan dia begitu saja. "Flo!" Hanya itu kata terakhirnya yang ku dengar sebelum aku menutup pintu. Biarkan saja. Aku kesal dengannya. Niatku kan baik kenapa dia menuduhku yang tidak-tidak. Aku berjalan di koridor kampus ingin menuju kantin. Pasti Nela dan Dave sudah di sana menungguku. "Ka Flo!" Aku mencari asal suara yang memanggil namaku. Ku balikkan badanku ke belakang aku melihat Hizkia yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum. Dia berlari kecil untuk menghampiriku. "Heii Kia,kemana aja?" tanyaku saat dia sudah berada di hadapanku. "Ga kemana-mana sih ka." ucapnya sambil nyengir. Kebiasaan anak ini ya itu. Selalu nyengir jika sedang berbicara denganku. "Mmm ka,aku bisa minta tolong ga?" "Boleh. Ada apa?" tidak biasanya dia minta tolong. Ketika Kia ingin mengucapkan sesuatu tiba-tiba dia terdiam dan mendadak menjadi pucat ketika mendengar ucapan seseorang. "Minta tolong apa." suara datar ini aku kenal sekali siapa pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan Axel. Aku menatap wajahnya yang sangat datar itu. Entah sejak kapan dia berada di sampingku. "Ehh ga jadi deh ka." Hizkia melangkahkan kakinya ingin pergi tapi aku tahan. Tadi katanya mau minta tolong. "Mau minta tolong apa? Katakan saja." sekilas Kia menatap Axel dan kemudian menatapku. Jelas di wajahnya ada rasa takut. Anak ini kenapa sih? Apa dia takut pada Axel karena salah paham tempo hari. "Ga usah deh ka. Ga jadi." suaranya terdengar gugup. Aku mengernyitkan keningku. Lalu aku melirik Axel dia tersenyum padaku. Ada apa sih dengan mereka. Yang satu wajahnya ketakutan dan yang satu lagi senyum-senyum ga jelas. "Tunggu dulu." ku cekal tangannya ketika dia ingin pergi. "Kamu takut sama dia?" tunjukku pada Axel. Aku sudah tahu jawabannya meskipun dia tidak menjawab. Terlihat dia sedang menunduk. "Apa-apaan ini! Lepas!" Axel memisahkan tanganku yang mencekal tangan Kia secara paksa. Aku menatapnya tajam dan dia hanya memasang wajah yang bodo amat. "Kamu ga perlu takut sama dia. Ada aku di sini. Katakan kamu mau minta tolong apa." aku mendengar Axel mendengus. "I..itu ka. Kaka mau ga menemaniku ke acara party besok." "APA?" Itu bukan suaraku. Tapi suara orang yang di sebelahku ini. "Kalau kaka ga mau ga papa ko." ucap Hizkia dengan cepat. Aku menatap wajahnya yang sudah sedikit panik. Aku angkat telapak tanganku ke arah wajah Axel ketika dia ingin angkat bicara. Aku memelototinya. "Flo." katanya dengan wajah memelas. "Party apa?" tanyaku dengan tenang Sementara Axel yang di sebelahku sudah terlihat gusar. "Party dari kampus ka. Sebenarnya di minta untuk membawa ibu atau kaka perempuan. Tapi karena Mamah di Paris dia ga bisa hadir. Sementara aku ga punya kaka." aku tersenyum melihat Kia yang menunduk dari tadi. Aku mengerti maksudnya. "Ya sudah. Besok kamu kabari aja. Kaka akan menemanimu." seketika wajah Kia menjadi sangat berbinar. "Benar ka?" aku menganggukkan kepalaku. "Ga! Ga boleh! Aku ga ngijinin kamu!" aku menatap malas orang yang di sampingku ini. "Jangan dengarkan dia. Kaka akan menemanimu besok." "Makasih ka. Kalau gitu aku pamit dulu." ucap Kia dengan sopan. Kia pergi setelah aku mengangguk. "Kamu apa-apaan sih?! Ngapai kamu mau nemenin dia?!" " kenapa? Ga bisa?" Axel mendengus mendengar ucapanku. "Flo...ck,jangan gitu dong.." ku angkat sebelah alisku melihat tingkahnya yang aneh ini. Lihat saja dia menggoyang-goyangkan tanganku seperti anak kecil yang merengek pada ibunya. "Kamu kenapa sih?! Kia itu cuma minta tolong. Kamu dengerkan tadi orangtuanya ga di sini. Salah aku menolong dia?" lagi Axel hanya mendengus dengan wajah cemberutnya itu. Dia yang rapi memakai stelan kantor terlihat lucu sekarang. Bukannya terlihat berwibawa malah seperti anak kecil. "Ya tapikan.. "Stop! Sekalian itu sebagai permintaan maaf padanya karena kamu sudah memukulinya tempo hari. Sudah sana berangkat ke kantor." aku meninggalkan Axel dan pergi menuju kantin. Benar saja Nela dan Dave sudah menungguku di kantin bersama dengan Albert dan Alex. Tunggu ada yang aneh tidak biasanya Nela dan Albert duduk berduaan seperti ini. Jangan-jangan ada sesuatu nih. "Flo tumben lu lama." ujar Nela ketika aku sudah sampai di tempat mereka duduk. Ketika aku ingin duduk di sebelah Alex ada seseorang yang menarik kursi dan mendudukinya. "Ehh lu kenapa? Terus ngapain lu pakai pakaian kantor ke kampus." ujar Alex yang terlihat kaget melihat Axel yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. "Kamu duduk di sini." Axel menepuk kursi yang di sebelahnya dan mengabaikan pertanyaan Alex. "Kamu ngapain di sini. Bukannya ke kantor." ucapku dengan kesal. Axel tidak menjawab ucapanku dia malah menarik tanganku untuk duduk dan meletakkan kepalanya di pundakku. Bukan hanya aku yang bingung melihat sikapnya tapi juga Alex,Albert,Nela dan Dave. "Xel kamu ngapain sih?!" aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku. Bukannya menjauh dia malah memeluk pinggangku dengan erat. "Sejak kapan lu jadi kayak anak kecil gini Man." aku tersenyum kikuk mendengar ucapan Alex. Berbeda dengan Axel dia tampak tidak peduli. "Xel malu ihh di liatin orang." aku benar-benar malu menjadi pusat perhatian seperti ini. Lihat saja semua orang di kantin melihat ke arah kami. "Biarin aja. Ada yang berani melarang. Lagi pula kamu istri aku. Terserah aku dong." aku hanya bisa mendengus melihat kekeras kepalaannya. Anak inu benar-benar susah di bilangin. "Ehh lihat sikon dong. Kasihan kita nih yang masih pada jomblo." ujar Alex. Dan dia pura-pura menatap langit-langit kantin. "Kita? Lu aja kali!" ucap Albert dan itu membuat Alex mendengus. Ehh tapi tunggu! Yang bicara tadi Albert kan? Aku menatap Albert dan Nela bergantian. "Lu berdua udah jadian?" tanyaku dengan sedikit terkejut. Aku sudah tahu jawabannya karena mereka tersenyum kikuk. "Astaga selamat Nela." ketika aku ingin menghampiri Nela Axel malah menahan tubuhku. "Mau kemana!" dia semakin mempererat pelukannya. Apa yang bisa ku perbuat selain mendengus. "Iya makasih Flo." jawab Nela. Akhh akhirnya mereka jadian juga. Setidaknya Albert sudah cukup terlalu tersiksa dengan perasaannya yang dia pendam selama ini. "Kalau bukan karena Dare dari Flo dia mana berani sampai sekarang." Albert sudah menatap tajam Alex. Namun Alex tidak peduli dengan tatapan itu. "Maksud lu?" tanya Dave yang penasaran. "Beberapa hari yang lalu kita main ke apartmen Flo. Kita main TOD terus Albert dapat Dare dari Flo buat nembak Nela." Alex dengan santainya mengucapkan tidak peduli dengan wajah pucatnya Albert dan wajah Nela yang sudah memerah. "Jadi ini semua karena dare?!" Albert tersentak mendengar ucapan Nela. Sementara Alex sudah cekikikan. Jahat sekali dia. "Yang,bukan gitu." Albert meraih tangan Nela namun di hempaskan olehnya. "Gua BEN CI sama lu!" Nela pergi meninggalkan kami begitu saja. "Yang tunggu!" Albert menyambar tasnya dan " kampret lu Lex. Awas lu ya!" Lalu dia pergi mengejar Nela yang sudah lumayan jauh. "Lex,ko lu ngomong gitu sih. Kan kasihan Albert. Dan gua jadi merasa bersalah karena dare itu." Alex hanya cekikikan mendengar ucapanku. "Lu ga usah ngerasa bersalah Flo. Nela ga bakalan marah sama lu." aku menatap Dave yang sedang memainkan handphonenya. "Iya Flo tenang aja. Gua cuma pengen Albert sedikit berjuang. Itu aja. Hahaha." aku hanya mendengus mendengar tawa Alex yang kemudian di susul dengan Dave. Mereka ini ya. "Ehh bayi lu udah tidur?" sindir Dave. Aku hanya bisa menahan malu melihat Axel yang masih saja seperti posisi semula. "Bayi besar itu mah." sindir Alex lagi. Sungguh aku benar-benar malu saat ini. "Ck,lu berdua sirik aja. Nikah sana. Biar bisa ngerasain gimana enaknya bermanja-manja sama istri." aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar ucapan Axel. "Ya,tapi lihat kondisi kali man. Ya kali lu mesra-mesraan di depan umum." ujar Alex. "Bodo amat." balas Axel dengan mata yang terpejam. "Gua baru tahu Dia punya sifat kayak gini." ujar Dave. "Lu yang sabar ya Flo menghadapi bayi besar lu." aku hanya tersenyum kikuk mendengar ledekan Alex dan Dave. "Ihh Xel,nanti kamu telat meetingnya." aku mendorong tubuh Axel. Tapi tetap saja dia tidak bergerak. "BeEntar lagi." astaga ya Tuhan kenapa suamiku ini jadi seperti ini sih. "Nanti aku samperin ke kantor. Kamu berangkat gih." setelah mengucapkan itu Axel langsung menatapku. "Bener ya,,," aku menganggukkan kepalaku. "Ya udah aku pergi." dia berdiri dan melepaskan pelukannya tadi. "Janji nanti kamu harus datang ke kantor." ucapnya sambil berdiri. "Iya. Hati-hati." aku tersenyum saat dia menganggukkan kepalanya dan mengusap pucuk kepalaku. "Gua duluan ya." pamitnya pada Dave dan Alex. Dan hanya di balas anggukan oleh mereka berdua. "Dia udah berubah ya Flo." ucap Alex yang menatap punggung Axel dan sudah semakin jauh. Aku tersenyum. "Kayaknya dia udah ngelupain Nadya. Dan sepertinya dia juga udah mulai mencintai lu Flo." ujar Dave dan menatapku. "Gua ga yakin itu akan terjadi." Dave dan Alex menatapku dengan bingung. Dan aku hanya bisa tersenyum tipis. *** FLORA POV Seperti yang sudah ku janjikan tadi. Saat ini aku sedang berada di dalam lift menuju ruangan Axel. Aku keluar dari lift dan mendapati Receptionist yang tersenyum padaku. "Sore bu Flo. Mau bertemu dengan pak Axel?" tanyanya dengan ramah. "Sore. Iya. Dia tidak sibukkan?". "Tidak bu." "Baiklah. Terimakasih." ucapku. Lalu aku melangkahkan kakiku menuju ruangan Axel. Aku tiba di depan pintu ruangannya. Mataku menangkap pergerakan seorang wanita di dalam ruangan itu. Aku mengintip karena pintu sedikit terbuka. "Kenapa sih aku ga boleh datang ke apartemen kamu?" hatiku sakit melihat wanita itu yang duduk di pangkuan Axel. Dia Nadya. "Untuk apa? Kan kita bisa bertemu di sini sayang." air mataku jatuh begitu saja melihat Axel memperlakukan Nadya begitu manja. Dia memperlakukanku seperti itu juga. Tapi tidak pernah dia mengatakan sayang padaku. "Ya sudah. Terus kapan kamu akan ceraiin Flo." "Secepatnya sayang." Hatiku Bagaikan di tusuk ribuan pisau mendengarkan percakapan mereka. Cerai? Secepatnya?. Kenapa begitu pahit hidupku ini? Aku pikir dia akan menyamburkku dengan hangat. Namun nyatanya dia malah memberiku luka. Ku usap air mataku dengan kasar. Dan bersiap untuk meninggalkan tempat ini. Tapi langkahku terhenti mendengar pertanyaan Nadya. "Dari SMA kamu selalu saja menyimpan anting ini. Untuk apa sih. Penting banget apa." ku beranikan untuk mengintip. Anting? Anting itu. Anting yang ku berikan ketika aku bertemu dengannya di Sumatra. "Ini anting pemberian seseorang." "Siapa? Pasti perempuan yang memberikannya." "Iya." "Dia siapa kamu?" "Bukan siapa-siapa. Hanya bagian dari masa lalu." "Oh. Kalau seandainya dia kembali. Bagaimana?" "Dia itu masa laluku... Aku tidak kuat mendengar lanjutan ucapan Axel. Aku sudah tahu jawabannya. Dengan cepat kilat aku masuk ke dalam lift. Menghiraukan receptionist yang menyapaku lagi. Dan di sinilah aku. Di rooftop apartmen. Aku menatap langit yang mendung. Seolah mengerti perasaanku saat ini. Axel untuk apa kedekatan kita belakangan ini? Kau bermanja-manja padaku. Seakan tidak ingin jauh dariku. Dengan apa yang kita lakukan belakangan ini membuat aku berharap banyak akan hubungan kita. Tapi pada akhirnya kau menyakitiku. Kau akan menceraikanku. Apa salahku? Jika memang harus bercerai kenapa kau harus memberi aku harapan seperti ini? Apa memang aku tidak pantas untuk bahagia? Aku berharap ketika kau tahu siapa aku kau akan menerimaku dalam hidupmu. Tapi nyatanya tidak. Aku hanya bagian dalam masa lalumu. Akhirnya aku menemukan jawaban yang aku cari selama ini. Meninggalkanmu adalah yang terbaik. Sudah ku putuskan. Mengingat dari semua kejadian sejak awal kita bertemu hingga sekarang kau tidak pernah menginginkanku dalam hidupmu. Hatiku semakin sakit mengingat semua percakapan mereka. Hal yang bisa ku lakukan saat ini hanyalah meratapi nasibku. Aku duduk dengan memeluk lututku dan menghiraukan rasa dingin yang menusuk tulangku. Tidak peduli seberapa deras hujan mengguyur tubuhku. Aku hanya ingin meratapi hati yang tengah terluka. Tuhan apa aku tidak pantas bahagia? Kenapa takdirku begitu kelam? Kenapa aku selalu tidak di inginkan? Tidak ada air mata yang keluar. Rasanya aku lelah menangis. Sudahlah. Ini adalah yang terbaik. Secepatnya keinginanmu akan tercapai Axel. Mungkin kamu akan bahagia dengan ke pergianku. Akan aku lakukan. ••••••
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (116)
HutabaratElisawati
Trimkh,msih ada penulis novel yg mengajak pembcanya utk belajar utk bisa mengampuni masa lalu dan menerima kekurangan org laintanpa kesan mengajari atau panatik dlm suatu agama tertentu,membacanya seperti melihat alur cerita nyata bkn seperti novel2 yg lain yg mengutamakan hayalan tingkat tinggi yg kadang keluar dr fakta kehidupan
Trimkh,msih ada penulis novel yg mengajak pembcanya utk belajar utk bisa mengampuni masa lalu dan menerima kekurangan org laintanpa kesan mengajari atau panatik dlm suatu agama tertentu,membacanya seperti melihat alur cerita nyata bkn seperti novel2 yg lain yg mengutamakan hayalan tingkat tinggi yg kadang keluar dr fakta kehidupan
18/01/2022
0sedih
10/09/2025
0bagus
26/08/2025
0Lihat Semua