logo text

85. Berhenti Bernafas

⚠️ Sensitive content ⚠️
*Bab ini berisi adegan sensitif yang menyimpang, harap bijak dalam membaca dan melewatkannya jika tidak nyaman*
Alina sudah berada di taman yang berada di samping rumah sakit. Ia berjalan seorang diri, sekitar sunyi dan tak ada siapapun. Matanya menatap ke bawah, terakhir ia tidak dapat menahannya lagi. Kaca bening yang sudah dipertahankan begitu lama pun pecah, derai air mata meluncur dikedua belah pipinya, "Kenapa? Hiks..kenapa nenek tidak pernah bisa mengerti diriku?" Ia menangis sesenggukan, tubuhnya berguncang dan dadanya terasa sesak.
Mendatangi sebuah pohon besar, Alina memukul benda keras dan bertekstur kasar itu berkali-kali untuk meluapkan segala emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Ia tidak berhenti memukul, mengepalkan tangannya, ia memberi tinjunya yang lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak berhenti melakukannya sampai melihat jari-jemarinya terluka, beberapa bagian kulitnya terkelupas dan berdarah.
Alina berhenti memukul. Perlahan tubuhnya mengambil posisi duduk di atas bantalan rumput dan bersandar pada pohon yang baru saja dipukulinya. Menatap ke langit cerah yang agak berawan, sekelebat kisah masa lalu yang suram— muncul.
"Alina..." Seorang pria tiga puluhan ke atas, membuka pintu kamar putrinya dalam keadaan mabuk. Langkahnya yang terhuyung-huyung, mendatangi kasur tempat putrinya berbaring.
"Alinaaa.." Menarik selimut, suara seraknya naik satu oktaf lebih tinggi hingga membuat putrinya yang tengah terlelap, bangun dari tidurnya.
"Ayah.." Alina kecil membuka matanya, tangan mungilnya menggosok-gosok matanya berkali-kali sampai kantuknya hilang. Melihat ke depan, mata hitam beningnya membulat lebar— terkejut dan senang.
"Ayah sudah pulang!" Alina kecil berdiri di atas kasur dan melompat dengan riangnya ke ayahnya.
Pria itu menangkap putri kecilnya dan menggendongnya. Ia melihat gadis kecil dalam genggamannya itu begitu cantik dan manis. Tekstur kulitnya lembut khas bayi, mata hitam besarnya yang berbinar-binar dan bibir mungilnya yang begitu kecil. Itu adalah putri kandungnya, tapi pria mabuk itu dengan kejinya menaruh hasrat padanya.
"Ayah.., Alin lapar. Ibu pergi mencari makanan dan menyuruhku tidur " Alina kecil mengadu dengan manjanya pada sang ayah, "Tapi sekarang ayah sudah pulang, apa ayah membawa pulang makanan?" Tanyanya sembari melingkari leher ayahnya dengan ceria. Gadis berumur lima tahun itu mengembangkan senyum yang begitu polos dan murni diwajahnya.
Pria yang bermata cekung dan merah itu, tersenyum acuh tak acuh berkata, "Makanan?" Jempolnya pergi mengusap pipi putri kecilnya yang halus.
"Iya ayah, Alin lapar" Rengek Alina kecil dan menganggukkan kepalanya berkali-kali mengiyakan. Ia sudah tidak makan semalam, tadi pagi hanya meminum dua gelas air untuk mengenyangkan perutnya. Siang harinya, ibunya pergi mencari makan dan menyuruhnya tidur. Tapi alangkah bahagianya ia ketika melihat sang ayah pulang.
Mulut kecilnya tak tahan untuk tidak meneteskan liur, menanti makanan apa yang dibawa pulang sang ayah.
"Baik, tapi ada syaratnya" Bibir kehitaman itu melengkung ke atas, tersenyum jahat.
"Apa syaratnya?" Tanya Alina kecil dengan polosnya.
"Alin..harus bermain dulu dengan ayah. Alin mau?"
"Alin mau ayah, Alin mau!" Seru Alina kecil sangat antusias. Ia hanya berpikir, tidak masalah bermain dengan ayahnya sekalipun harus menahan lapar. Selama ini ia selalu iri pada anak kecil seumurannya yang begitu manja pada ayah mereka. Bagi Alin kecil yang mendengar ayahnya mengajaknya bermain, itu suatu kebahagiaan besar untuknya.
Meskipun tidak pernah mengira, neraka yang sangat mengerikan— menunggunya.
"Alin duduk di sini ya" Pria itu meletakkan Alina kecil di sebuah kursi yang ada di gudang. Ia pergi dengan langkah terhuyung-huyung mencari tali, lalu mengikat tangan putrinya dengan itu.
"Ayah, kenapa tangan Alin diikat?" Bola mata hitam gadis kecil itu bergetar, melihat tangan kekar pria dewasa pergi mengikat tangan mungilnya dengan tali. Ikatannya yang sangat erat, membuat gadis kecil itu menjepit sepasang alisnya menahan sakit.
"Ini langkah awal permainan kita sayang.." Pria itu terkekeh kecil. Kepalanya masih terasa berat karena pengaruh alkohol, ia pun memukulnya berkali-kali hingga merasa cukup baik.
"Ayah sakit?" Mulut kecil itu bersuara, mengkhawatirkan ayahnya.
Pria itu menatap bibir kecil putrinya, yang terbuka dan tertutup seiring ia berbicara, matanya yang merah memanas oleh gelora nafsu yang terlarang, "Ayah agak pusing, Alin mau tidak membantu ayah meredakannya"
Alina kecil dengan polosnya mengangguk. Sama sekali tidak menyadari maksud jahat ayahnya yang ingin menjadikannya pelampiasan nafsu birahinya.
Pria itu tersenyum puas, tangannya terus meraih dagu putri kecilnya dengan kasar membuat mulut mungilnya condong ke arahnya. Mendekatkan wajahnya perlahan, ia pun dengan liarnya mengemut bibir putri kecilnya sendiri tanpa perasaan bersalah.
Alina kecil mematung. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang ayahnya lakukan padanya. Dalam otaknya hanya tertanam 'membantu meredakan rasa pusing sang ayah', ia pun dengan patuh nya menerima perlakuan bejat itu dengan sedikit pun tidak memberontak sampai—
Kret.
Sedikit daging dibibir bawahnya tersobek karena gigitan pria dewasa dihadapannya.
"Huaaa... ayah sa-" Ia tidak dapat melanjutkan jerit tangis menyedihkannya, karena pria dewasa itu terus menghantamnya dengan ciuman yang beruntun dan tak berhenti.
Gadis kecil itu tidak dapat menggunakan kedua tangannya yang terikat untuk menghentikan tindakan ayahnya, terakhir ia menendang-nendang tubuh sang ayah dengan kaki pendeknya.
Tapi ayahnya tidak juga berhenti hingga ia terus menangis, tanpa bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Wajah pria dewasa itu terus menekannya hingga beberapa saat kemudian— ia merasa oksigen disekitarnya habis.
"Alina.."
"Alina.." Zayyad memanggil kedua kalinya. Tapi wanita yang duduk bersandar di pohon itu, menatap kedepan dengan sorot mata tak berjiwa.
"Alina.." Serunya yang mulai panik, memanggil namanya. Melihat wanita itu yang berhenti bernafas, ia dengan gelisah mengguncang kan tubuhnya berkali-kali membuat wanita itu tersadar.
"Alina ada apa dengan mu?"
"Alina sadarlah Alina.."
"Alina sadarlah.." Jeritnya histeris, takut dan cemas menguasai suaranya.
"Hah..hah..hah.." Alina tersadar dan bernafas terengah-engah. Ia melihat wajah panik Zayyad, muncul di hadapannya.
"Kau.. kenapa selalu saja membuat aku khawatir" Zayyad yang kini dapat bernafas lega, menarik tubuh Alina dalam dekapannya. Dagu nya bertumpu di atas kepala wanita itu dan tangannya mengusap lembut punggungnya, "Kenapa tiba-tiba berhenti bernafas? Kau membuat ku hampir mati ketakutan"
Alina merasakan suhu tubuh Zayyad menguasai tubuhnya, untuk pertama kalinya ia merasa begitu aman dalam dekapan seseorang. Telinganya dapat mendengar jelas detak jantung pria itu yang berirama, perlahan membuatnya tenang. Menarik nafasnya, aroma lavender yang khas, merilekskan seluruh sel saraf otaknya.
Zayyad takut Alina merasa tidak nyaman karena ia memeluknya terlalu lama. Ia pun meleraikan wanita itu dari dekapannya hanya untuk—
"Sebentar, sebentar saja!"
Wanita itu menahannya.
Alina mengeratkan tangannya memeluk pinggang Zayyad lebih erat dan wajahnya pergi bersandar dengan nyaman di dada bidangnya.
Ia ingin melupakan segala mimpi buruknya yang sempat terlintas dan ingin sekali mengistirahatkan pikirannya dengan tertidur— dalam dekapan Zayyad.
___

Komentar Buku (260)

  • avatar
    Setyo21Renny

    woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊

    03/08/2022

      1
  • avatar
    Jevfeka Eka

    the story is very good for me🤗

    03/05/2022

      0
  • avatar
    juliyanto Manurung

    bagus dan menenangkan jiwa

    14/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru