logo text

61. Tidak Boleh Melakukan Itu

Alina baru saja akan naik ke tempat tidur, tapi melihat Zayyad yang berjalan kearahnya. Alina pun menghentikan niatnya dan mematung di tempat.
Alina melihat Zayyad malam ini mengenakan jubah tidur longgar bewarna biru gelap, itu membungkus tubuh kekarnya dengan begitu menawan. Memperjelas bentuk dada bidangnya dan membangun aura pria tampan yang begitu menggoda.
Begitu saja, pipi Alina memerah.
'Ah, apa yang kupikirkan!' Diam-diam Alina mengutuk pikiran kotornya.
Zayyad sudah berdiri tepat di depan Alina. Melihat tubuh kurus wanita itu yang tampak begitu kecil dalam balutan piyama putih polos dengan pita kecil di kerahnya. Tiba-tiba melihat kedua pipi Alina yang memerah, Zayyad dengan cemas bertanya. "Alina, apa kau demam?"
Zayyad mengambil beberapa langkah maju ke depan, berniat untuk menyentuh kening halus wanita itu. Alina yang melihat Zayyad mengulurkan tangannya ke depan, dengan panik menghindar. "Diam di sana!" Katanya, gugup.
Zayyad menghentikan langkahnya dan tangannya tertahan di udara. Menatap polos kearah Alina, Zayyad bertanya. "Kenapa?"
Alina mulai, memperhatikan pria yang ada didepannya itu lamat-lamat.
Zayyad memasang tampang pria polos dengan penampilan yang begitu suci seperti anak kecil. Tapi ketika mengingat pagi di mana pria itu mencoba menciumnya, Alina bertekad untuk tidak tertipu. "Pria ini jelas adalah serigala buas!"
"Siapa yang serigala buas?"
Alina terkejut. Menggigit bibir bawahnya, ia tersenyum kecil. Bagaimana bisa ia mengatakannya begitu terbuka? Sungguh ceroboh! "Ah, tidak ada!"
"Kau baik-baik saja kan?" Zayyad kembali mengambil langkah ke depan, semakin memperpendek jaraknya dengan Alina.
Alina yang masih agak paranoid terhadap perubahan Zayyad yang begitu mendadak itu, mulai berspekulasi sembarangan. Ia berpikir Zayyad sengaja melakukannya, untuk mengambil kesempatan darinya. Pria ini sungguh serigala lapar! "Jangan mendekat!"
Zayyad merasa perilaku Alina agak aneh akhir-akhir ini. Menyuruhnya untuk diam di tempat, lalu melarangnya untuk tidak mendekat. Sebenarnya wanita itu kenapa?
Zayyad memutuskan untuk mengabaikan larangan Alina tadi dan terus mengambil langkah mendekatinya. Mengulurkan tangannya ke depan, Zayyad berniat untuk menyentuh kening Alina. Memeriksa wanita itu, apakah ia sakit?
Alina yang melihat tangan Zayyad akan menyentuh dirinya, semakin yakin kalau pria yang ada dihadapannya ini adalah serigala yang sudah tak tahan untuk memakan daging. Insting penyelamatan diri Alina pun bekerja cepat. Membuka mulutnya, tanpa segan ia menggigit jempol Zayyad.
"Kret!"
"Arghh.." Zayyad yang jempolnya digigit Alina, terus melolong kesakitan.
Alina yang merasa sangat puas melihat raut wajah kesakitan pria itu, akhirnya berhenti menggigit.
"Kenapa kau menggigit ku?" Zayyad melihat jempolnya, ada bekas gigi taring wanita itu yang ber-cap di sana. Menghembusnya perlahan pada jempolnya yang masih nyeri itu, ia menatap tak berdaya kearah Alina. "Alina, sebenarnya kau ini kenapa?"
"Kau yang kenapa!" Gertak Alina, kesal. "Sudah ku katakan jangan mendekat, ya jangan mendekat! Terima saja ganjarannya. Siapa suruh tidak patuh" Wajah Alina kini sudah merah padam karena tersulut api emosi. Dadanya kembang-kempis, dengan nafas tersengal-sengal kesal.
Zayyad yang melihat itu, menghela nafas berat. "Memangnya kenapa aku tidak boleh mendekat?" Padahal niatnya baik, ia hanya ingin memeriksa keadaan wanita itu. Tapi siapa yang mengira Alina akan begitu ganas menggigitnya?
"Aku tau kau sudah sangat tak tahan, setelah sekian lama akhirnya kau menemukan pengecualian. Tapi kau tak boleh melakukan 'itu' padaku. Jika sungguh tak tahan, cari Bakri saja sana!" Alina masih ingat dengan rumor yang diceritakan Maya padanya, perihal Zayyad yang merupakan seorang gay. Ia tidak tau rumor itu benar atau tidak, tapi menilai dari seberapa dekat hubungan Zayyad dan Bakri.
Sangat masuk akal jika itu benar!
Zayyad yang mendengar apa yang baru saja di katakan Alina, menautkan sepasang alisnya tidak mengerti. Tak tahan apa? Kenapa tiba-tiba membawa Bakri dalam percakapan mereka? "Alina..aku sungguh sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan!"
"Tidak perlu memasang wajah polos mu itu! Aku tidak akan tertipu" Alina melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Zayyad dengan berani.
Zayyad memijit pelipisnya, merasa pusing dengan sikap Alina malam ini. "Melihat mu yang begini, sepertinya kau tidak sakit"
Alina yang masih berdiri di tempat dengan sikap defensifnya, terus menatap Zayyad dengan curiga. 'Aku tidak akan tertipu dengan tampang polosnya itu' Batinnya dengan tangan mengepal erat.
"Hoamm..." Zayyad menguap, tangannya menutup mulutnya. Matanya yang mengantuk menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Zayyad terus berjalan ke arah ranjang bersiap untuk tidur.
"Kau mau apa?" Melihat Zayyad yang sudah menarik selimut, bersiap untuk berbaring di dalamnya. Kecurigaan Alina pun semakin menjadi-jadi. 'Sudah berani naik ke atas ranjang, huh?'
"Aku mau tidur" Zayyad merapikan letak bantal nya dan melihat Alina yang masih berdiri, ia bertanya. "Kau tidak tidur?"
Alina meremas jari-jemarinya, menatap Zayyad dengan perasaan remuk redam akan amarah. "Siapa yang mengizinkan mu tidur di sana?"
"Ini adalah ranjang ku. Memang aku harus izin pada siapa?"
Alina menatap nanar Zayyad dan menggertak kan giginya. Sangat baik! Ingin memanfaatkan wilayah kekuasaannya, huh? Alina berjalan ke sisi lain ranjang dan mengambil bantal guling. Lalu ia tanpa ampun, memukul Zayyad dengan itu.
"Dasar serigala! Cepat turun! Dan pergi tidur di tempat mu seperti biasa!" Alina dengan keras memukul-mukul tubuh Zayyad dengan guling.
Zayyad yang menerima pukulan benda lunak itu, sama sekali tidak merasa sakit. Hanya saja ia ingin segera tidur, tapi apa yang dilakukan wanita ini? Kenapa mendadak memukulinya dengan guling dan menyuruhnya turun? "Alina kau ini sebenarnya kenapa..." Zayyad menghalau guling itu dengan tangannya, ketika benda itu akan menimpuk wajahnya.
"Kau yang sebenarnya kenapa. Dasar binatang buas!" Kata Alina kesal. Guling ditangannya masih belum berhenti memukul tubuh Zayyad.
"Binatang buas?" Zayyad memasang wajah tak mengerti.
Puk! Akhirnya guling itu menimpuk wajah Zayyad dan memukul hidung mancungnya agak keras. Sekalipun benda lunak, tapi tetap saja pukulan tadi itu membuatnya meringis. Rasa nyeri di hidung nya yang akan patah, membuat matanya berair. "Alina...apa yang kau lakukan cepat hentikan!"
"Tidak mau!"
Puk! Guling itu masih memukul tubuh Zayyad.
"Alina.. berhenti!"
Puk!
"Tidak mau! Kau cepat turun dan kembali ke tempat asal mu"
"Alina..kau ini sebe—"
Puk! Lagi-lagi guling itu memukul wajahnya, tapi kali ini Zayyad dengan sigap melindungi hidungnya.
"Kau... cepat turun! Kalau tidak, aku tak akan berhenti"
"Baik-baik" Zayyad akhirnya menyerah, ia pun dengan tidak berdaya turun dari kasur.
Alina tersenyum puas, melempar guling itu ke ranjang. Lalu ia mengambil salah satu bantal dan meletakkannya di sofa panjang yang biasa digunakan Zayyad untuk tidur. "Cepat kembali ke tempat asal mu!"
"Tidak mau!" Zayyad terus menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak punya alasan untuk tidur di sofa, jadi kenapa harus kembali berbaring di sana? Dulu ia melakukannya karena takut tidur seranjang dengan Alina. Tapi sekarang wanita itu adalah pengecualian dari rasa takutnya.
Jadi, tidak perlu melakukannya lagi!
"Cepat kembali" Titah Alina tegas. Matanya menatap nanar Zayyad.
"Alina... tidak bisakah mulai sekarang kita berbagi ranjang?"
"Tidak mau!" Tolak Alina, tegas.
"Kenapa tidak mau? Apa kau malu tidur seranjang dengan ku?"
___

Komentar Buku (260)

  • avatar
    Setyo21Renny

    woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊

    03/08/2022

      1
  • avatar
    Jevfeka Eka

    the story is very good for me🤗

    03/05/2022

      0
  • avatar
    juliyanto Manurung

    bagus dan menenangkan jiwa

    14/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru