logo text

47. Hidup Ini Realistis

Menjelang senja, Alina baru kembali ke vila dengan badan dan punggungnya yang terasa cukup pegal. Menjatuhkan dirinya di atas sofa, ia merasa sangat kelelahan. Meskipun tenaga pengajar adalah salah satu yang paling banyak dibutuhkan, tetapi bukanlah mudah juga untuk mendapatkannya.
Hari ini sudah cukup membuktikan, betapa sulitnya itu. Sungguh Alina tidak pernah memperkirakan hal ini sebelumnya. Karena dulu selepas ia memperoleh gelar sarjananya. Ia langsung melamar sebagai pengajar di sekolah khusus perempuan yang ada di kota Z. Dan baiknya, ia langsung di terima begitu saja.
"Huft! Sekarang aku mengerti kenapa tingkat pengangguran terus bertambah"
"Alin pergi melamar pekerjaan?" Erina baru saja pergi meninggalkan dapur, menemukan cucunya yang tak terlihat batang hidungnya seharian, kini muncul di ruang tamu dengan wajahnya yang terlihat lesu dan terduduk lemas di atas sofa.
"Em!" Alina mengangguk. Sama sekali tidak terlihat bersemangat.
Erina perlahan duduk di sofa tunggal. Merenungi cucunya beberapa saat dalam diam. Sejak dulu, Alina sudah bekerja sangat keras untuk menghidupi keluarganya. Padahal saat itu ia masih terlalu muda untuk membawa beban seperti itu di pundaknya. Tapi keadaan menekannya. Ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya dan dirinya serta membayar pengobatan ibunya yang kini berada di rumah sakit jiwa.
"Alin.. untuk saat ini tidak perlu memikirkan pekerjaan. Bukankah sekarang sudah ada Zayyad? Jadi kau tidak perlu terlalu menyusahkan diri" Erina sengaja mencarikan pria yang mapan untuk Alina, agar kelak cucunya dapat lebih bersantai dan be-rehat. Duduk menemaninya di hari-hari tuanya yang tak lagi lama dan tidak lagi terlalu larut dalam bekerja keras.
"Nek..apa kau ingin membuat ku hidup ketergantungan terhadap seorang pria?" Alina sama sekali tidak mengerti kenapa neneknya mengatakan hal seperti itu. Tidakkah cukup pengalaman hidup mengajarkannya bahwa betapa konyolnya pemikirannya itu?
"Alin.. ketika dua orang terikat dalam pernikahan, maka awal kehidupan yang baru pun mulai terbentuk. Yang satu pergi mencari nafkah dan yang satunya lagi mengurus segala hal yang ada di rumah, ini adalah bentuk kerjasama yang sangat normal. Bukan perkara ketergantungan atau tidaknya!" Erina berusaha untuk menjelaskan pada Alina, bahwa menjadi seorang istri yang hanya duduk di rumah bukanlah tentang ketergantungan semata. Tapi ini adalah kerjasama yang sederhana dalam hidup berumahtangga.
"Nek.. filosofi mu itu tidak tepat sama sekali. Kau lihat apa yang terjadi pada mu sekarang? Kau menikah, melahirkan beberapa anak dan suatu hari kau bercerai. Apa yang tersisa di tangan mu? Ibu pernah menceritakan padaku, betapa sulitnya kehidupan kalian saat itu sampai akhirnya kau menikah lagi. Tidak hanya di situ saja. Ambillah satu contoh lagi dari putri semata wayangmu itu" Dari pernikahan pertama, neneknya hanya punya satu anak. Yaitu adalah ibunya yang kini sudah berada di rumah sakit jiwa. Lalu di pernikahan keduanya, ia sama sekali tidak dikaruniai anak.
"Suatu hari putri mu menikah dengan baik, hingga lahirlah aku. Menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga yang hanya berdiam diri di rumah, mengurus anak dan keluarga. Lalu berlalunya waktu, pada akhirnya putri mu juga bernasib sama dengan mu. Meskipun saat itu aku masih sangat kecil, aku cukup mengerti betapa sulitnya ia berusaha keras untuk menghidupi ku. Syukurlah ada bantuan dari mu, jika tidak aku tak tau apa yang terjadi saat itu"
Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan apa-apa. Ketika ia bercerai dengan suaminya, ia tidak memiliki apapun di tangannya. Mereka nyaris menjadi gelandangan jika tidak ada neneknya yang bersedia menampung mereka saat itu.
"Beberapa tahun setelahnya, ibuku menikah lagi. Awalnya ia mempunyai kehidupan yang baik, tapi pada akhirnya— kini harus terbaring di ranjang rumah sakit tanpa jiwa. Nek.. apakah kau ingin aku memiliki nasib yang sama seperti kalian?" Itu semua karena ketergantungan ibu dan neneknya terhadap pria. Setelah kehilangan pria itu, mereka menjadi linglung karena kehilangan tempat untuk bergantung. Alina sungguh tidak ingin seperti itu.
"Dan kau baru saja mengalaminya beberapa waktu lalu. Kalau bukan karena rumah mu itu adalah peninggalan kedua orang tua mu, nek..kita akan tinggal di mana pada saat hari kau bercerai dengan bajingan itu?"
Erina terdiam cukup lama. Mendengar semua yang dikatakan Alina, ia tidak dapat menyangkal semua itu. Tapi biar begitu, ia sangat tidak ingin kehidupan malangnya dan nasib tragis putrinya mempengaruhi pola pikir Alina terhadap hidup berumahtangga. "Alin..itu hanyalah—"
"Ketidakberuntungan?" Potong Alina begitu saja. "Nenek ingin mengatakan hal itu bukan?" Ia sudah sangat sering mendengar penyangkalan itu dan sudah merasa sangat bosan.
"Nek..hidup ini realistis. Kita tidak bisa hanya berharap pada nasib dan peruntungan. Kita perlu bekerja dengan giat untuk menopang kehidupan yang keras ini" Alina sebenarnya merasa sangat lelah untuk berbicara. Ia takut jika perdebatan kecil ini terus berlanjut, efek lelahnya akan membuatnya kehilangan kendali terhadap emosinya.
"Nek..aku sangat lelah! Aku ke atas dulu"
Dengan begitu, percakapan mereka berakhir. Erina terdiam di ruang tamu s
dengan tatapan sendu di mata tuanya, sedangkan Alina sudah menaiki anak tangga, menuju ke kamar tidurnya untuk beristirahat.
___

Komentar Buku (260)

  • avatar
    Setyo21Renny

    woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊

    03/08/2022

      1
  • avatar
    Jevfeka Eka

    the story is very good for me🤗

    03/05/2022

      0
  • avatar
    juliyanto Manurung

    bagus dan menenangkan jiwa

    14/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru