Bangun pagi, hal yang pertama kali Alina lakukan adalah berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Alina bersandar lemas ke dinding, itu benar-benar melelahkan. Setelahnya Alina pergi mandi dan bersiap-siap berpakaian. Turun ke lantai bawah, seperti biasa Zayyad sudah menyiapkan sarapan pagi di meja. Alina menarik kursi dan duduk. Baru saja tangannya mengambil segelas susu vanilla dan meminumnya seteguk— "Ugh-" Alina refleks meletakkan gelas ke meja dan membekap rapat mulutnya. "Ugh!" Alina terus berlari ke dapur, tanpa sengaja bertabrakan dengan Zayyad yang baru saja melepaskan celemek. Hal itu menyebabkan Zayyad bersinggungan dengan sudut meja. Menoleh ke belakang, Zayyad terkejut mendapati Alina yang berlari ke tempat cuci piring, membungkukkan wajah dan— "Hoek.." "Hoekk.." Tampak Alina muntah-muntah berat dan pemandangan itu tidak jauh berbeda dengan kemarin. "Alina, katamu semalam bukan apa-apa" Zayyad meletakkan celemek yang baru saja di lepasnya ke kepala kursi dan mendatangi Alina dengan langkah cemas. "Lihat ini, pagi-pagi kau sudah muntah, masih bilang kau baik-baik saja?" Zayyad menepuk-nepuk pelan punggung Alina, matanya tampak cukup mengkhawatirkan Alina. "Zayyad bisa tidak jangan cerewet?" Alina menoleh sesaat kearah Zayyad. Tampak dada Alina naik turun, bernafas terengah-engah karena kewalahan terus-menerus memuntahkan isi perutnya. "Cerewet?" Zayyad mengedipkan matanya tak terima, "Aku begini mencemaskan mu dan kau mengatai ku cerewet?" Alina membuang nafas berat, menyalakan keran dan pergi membersihkan mulutnya yang terasa agak asam. Ia terus saja mengabaikan Zayyad yang tampak merasa tak terima dikatai cerewet. Duduk di meja makan, Alina memijit pelan pelipisnya yang terasa pusing. Sedangkan seluruh tubuhnya benar-benar lemas tak terkatakan. Zayyad yang memandangi itu, menghela nafas panjang berkata, "Hari ini kau tidak perlu mengajar, istirahat saja di rumah" "Zayyad aku sungguh baik-baik saja, oke?" Alina meraih selembar roti bakar keju dan menggigitnya dengan potongan kecil. "Ke rumah sakit tidak! Istirahat juga tidak! Alina Kenapa kau sangat keras kepala huh??" Zayyad benar-benar frustasi menghadapi wanita didepannya itu. Alina enggan berkata-kata apa, terus melahap habis roti di tangannya. Selesai sarapan Alina bangun dan bergegas pergi meninggalkan dapur. Hanya di pertengahan ruang tamu, sebuah lengan besar mencapai pinggang kecilnya dan terus tubuhnya di angkat. "Zayyad apa yang kau lakukann?" Pekik Alina histeris. Mendapati tubuhnya sudah digendong begitu saja oleh Zayyad. Zayyad tidak berkata apa-apa. Wajahnya yang mendadak datar tanpa ekspresi itu berhasil membuat Alina termangu diam. Zayyad bergegas pergi menaiki anak tangga dan hal itu membuat Alina terkejut, "Zayyad, aku harus pergi sekarang atau kalau tidak aku bisa terlambat.." Alina yakin Tina sudah sampai di depan vila menunggunya keluar. Jika ia tidak bergegas pergi sekarang, itu jelas ia akan terlambat. "Zayyad, cepat turunkan aku!" Desak Alina. Tangannya terus mendorong ringan dada Zayyad, menyuruh pria itu untuk segera menurunkannya. Zayyad hanya bergeming. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu samar-samar mulai menciptakan rasa dingin yang berhasil membuat Alina tertegun, "Z-zayyad.." Pintu kamar di buka, Zayyad terus masuk kedalam dan meletakkan Alina di atas ranjang. "Sial!" Alina tak tahan rasanya untuk tidak mengumpat. Bergegas bangun dari baringan, Alina bersiap turun dari ranjang hanya kakinya langsung di cekal oleh Zayyad. "Tetap diam di sana!" Saat itu, aura Zayyad benar-benar dingin mencekam. "Zayyad, aku harus pergi sekarang. Tina pasti sudah menunggu di luar.." Ujar Alina dengan nafas memburu. Zayyad mengambil ponsel dan tangannya dengan cepat mengetikkan sesuatu. Lalu layar ponsel itu ia arahkan pada Alina, "Sudah!" Alina menatap tak percaya pada layar ponsel Zayyad. Pria itu baru saja berkirim pesan pada Tina bahwa ia tidak pergi mengajar hari ini karena sakit. "Zayyad kau—" Alina mengepalkan tangannya merasa sangat kesal dengan tindakan pria itu. Mengabaikan kekesalan Alina, Zayyad pergi menanggalkan pakaian dan bergegas menggantinya dengan kemeja abu-abu gelap. Meraih kunci mobil yang ada di meja, Zayyad terus berbalik menghadap Alina yang tampak duduk muram di atas ranjang, "Aku akan mengabari pihak sekolah kalau kau berhalangan hadir hari ini karena sakit" "Zayyad, aku ini baik-baik saja.." Tegas Alina dengan tampang frustasi. Zayyad dengan tenang duduk di pinggir ranjang, tepat di samping Alina. Jari telunjuknya mendarat jatuh di bibir kecil Alina dan mengusapnya pelan. Gerakannya terus berulang sampai menghapus warna warna merah muda segar yang melekat di sana, "Bibir mu se-pucat ini masih bilang kau baik-baik saja?" Telunjuk Zayyad yang menekan bibirnya itu, berhasil membuat jantung Alina berdetak tak stabil, "Zayyad kau menghapus lipstik ku, jelas saja bibir ku terlihat pucat" Segera Alina menjauhkan jari telunjuk Zayyad dari bibirnya. "Apa kau pikir aku tidak tau warna bibir mu?" "..." Tampak Alina mengedipkan mata dan terdiam. "Pucat dan merah kecoklatan itu jelas jauh berbeda. Jika kau masih tak percaya, pergi perhatikan dirimu di cermin!" Mata coklat Zayyad menatap serius dan tegas Alina. Hal itu berhasil membuat Alina mati kutu di tempat. Bibirnya terkatup rapat tidak tau harus berkata apa sebagai bantahan. Gugup, Alina menundukkan wajahnya dan membatin, 'Kenapa pria itu tampak mengerikan sekali pagi ini?' "Kita ke rumah sakit!" "Tidak mau!" Alina terus mengangkat wajahnya dan berteriak keras menolak. "Katamu tidak menyembunyikan apa-apa dari ku. Tapi kenapa jika sudah membahas rumah sakit kau sensitif begitu?" "Itu karena—" Tenggorokan Alina beberapa saat tercekat. Merasa bingung harus menyangkal seperti apa. "Karena?" Sepasang alis Zayyad tertaut, matanya tidak lepas dari menatap lekat Alina. "A-aku benci rumah sakit" "..." "Kau tau kan, di sana bisa saja aku di tangani oleh seorang dokter pria. Itu kenapa aku bersikeras menolak pergi ke sana.." Kini Alina dapat bernafas tenang. Akhirnya ia mendapatkan alasan yang sempurna untuk menolak pergi ajakan pria itu yang pagi ini tampak benar-benar gigih untuk membawanya pergi ke rumah sakit. "Kalau begitu aku akan mendatangkan dokter wanita ke vila. Aku akan menelpon Faqih untuk membantu mengurusnya..." Zayyad mengambil ponselnya, bersiap menghubungi Faqih. Alina merampas cepat benda tipis panjang itu dari genggaman Zayyad, "Zayyad kau ingin mempermalukan ku!" "Mempermalukan?" "Ini hanya tidak enak badan biasa. Jadi tidak perlu repot-repot memanggil dokter" "Aku hanya bisa tenang jika kau sudah diperiksa" Zayyad langsung merebut kembali ponselnya dari tangan Alina. "Aku akan mendengarkan mu" Alina mengangkat kedua tangannya, memberi pernyataan menyerah, "Aku akan beristirahat saja di vila dan tidak pergi mengajar seperti yang kau katakan" "..." Zayyad menurunkan ponselnya dan menatap Alina penuh selidik. "Jadi tidak perlu memanggil dokter, ya?" Alina memohon penuh harap. Ia sungguh tidak dapat membayangkan jika seorang dokter datang memeriksa keadaannya dan kehamilannya akan di ketahui oleh Zayyad. Alina benar-benat tak ingin hal itu terjadi. "Baik" Anggukan Zayyad itu berhasil membuat Alina bernafas lega. Zayyad yang belum melepaskan pandangannya dari Alina membatin, 'Alina, aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku' ___
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (260)
Setyo21Renny
woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊
woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊
03/08/2022
1the story is very good for me🤗
03/05/2022
0bagus dan menenangkan jiwa
14/08
0Lihat Semua