"K-kau tidak ke perusahaan?" Kali ini Alina dengan cepat menarik jari telunjuknya dan Zayyad tidak menahannya lagi. Meremas selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya, Alina berusaha menetralisir rasa gugupnya. "Sepertinya tidak.." Zayyad separuh bangun, pergi meletakkan bantal di kepala ranjang. Lalu Zayyad menyandarkan punggungnya. Alina tidak bertanya kenapa. Begitu banyak memar biru yang memenuhi leher Zayyad. Bibirnya pun terkoyak mengenaskan. Dengan penampilan yang menyedihkan seperti itu, bagaimana Zayyad bisa tampil percaya diri di hadapan para karyawan? "Semalam kau minum alkohol?" Zayyad teringat dengan nafas Alina yang bau alkohol dan sikapnya yang kegerahan tak wajar, pasti tidak hanya minuman biasa. Minuman itu pasti sudah dicampuri sesuatu. "Tidak!" Alina mengambil guling, meletakkan di atas badannya, ia memeluknya senyaman mungkin. "Tapi kenapa sikap mu..." Alina membelalakkan matanya, menyadari sesuatu. Seketika Alina terperanjat, "Apakah aku melakukan sesuatu yang aneh semalam?" "..." Zayyad berpikir, haruskah ia mengatakan betapa gigihnya wanita itu memohon untuk dipuaskan semalam. Melihat Zayyad yang bergeming menatapnya, Alina pun berbicara, "Tadi malam aku hanya meminum segelas long island iced tea. Penampilannya seperti teh biasa, tapi yang membuatku tak mengerti—" Alina menoleh kearah Zayyad dengan penuh tanya, "Kenapa rasanya aneh sekali?" Zayyad mendesah panjang menjawab, "Itu bukan teh Alina" "Lalu apa?" "Itu cocktail" "..." Alina memasang tampang penuh tanda tanya masih tidak begitu mengerti. "Intinya itu adalah minuman yang mengandung alkohol, bukan teh.." Alina mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian menghela nafas dengan tampang frustasi berkata, "Pantas saja kepala ku langsung terasa berat setelah meminumnya..." Itu sangat wajar untuknya yang tak pernah mengkonsumsi alkohol. Sekalipun hanya sedikit, tetap saja akan sangat mempengaruhi tubuhnya karena tidak terbiasa. "Tapi apa seseorang yang mengkonsumsi alkohol akan merasa begitu bergairah?" Sekilas ingatan semalam terlintas di benak Alina. Akan betapa kuat hasratnya yang mencium bibir Zayyad bahkan menggigitnya nyaris seperti seseorang yang kelaparan. "..." Zayyad sesaat bergeming, menatap pada Alina yang sepertinya tidak mengingat jelas apa yang terjadi semalam. "Aku ingat, semalam aku merasa begitu panas. Dan jujur ketika mencium bibir mu, aku merasa tak tahan untuk melakukan lebih. Mungkin jika seandainya Bakri tidak datang semalam, aku tidak tau bibirmu masih terselamatkan atau tidak..." Jelas Alina, menatap Zayyad dengan ekspresi tertekan. Melihat Zayyad yang masih diam tidak mengatakan apa-apa, Alina pun melanjutkan, "Kamu juga, untuk apa datang ke tempat seperti itu? Lihat, betapa liarnya wanita-wanita itu mempermainkan mu semalam. Jika aku tidak datang mengusir mereka, mungkin memar biru itu tidak hanya ada di le—" "Aku datang untuk mencari mu..." Zayyad memotong pembicaraan Alina. Alina tertegun. "Aku mengkhawatirkan mu, kau seorang wanita berhijab yang tidak punya pengalaman apa-apa di tempat hiburan malam seperti bar. Bagaimana bisa aku tenang ketika tau kau ada di sana?" Alina terdiam, hatinya berdesir hangat. Mata hitamnya menatap Zayyad dengan tatapan yang tak terkatakan. Ini bukanlah kali pertama Zayyad melakukan sesuatu yang berefek buruk untuk dirinya sendiri hanya untuk— 'Biar ku perjelas, tadi itu aku bukan sengaja masuk ke kamar mandi. Aku sudah menunggu mu cukup lama dan kau tak keluar, memanggil mu berkali-kali dan kau tak menyahut sama sekali. Jadi terpaksa aku masuk kedalam dan melihat mu yang sudah seperti seseorang yang akan mati tercekik, awalnya aku ingin meminta bantuan. Tapi aku terlalu mengkhawatirkan mu tadi' Malam dimana Zayyad nekat masuk ke kamar mandi hanya karena mengkhawatirkan keadaannya. Padahal waktu itu, 'Aku masih belum menjadi pengecualian dari ketakutannya'. 'Mencarimu...' Hari dimana Zayyad tidak tidur semalaman, mengabaikan jam tidur biologisnya hanya untuk mencarinya. Dan sekarang... 'Aku datang untuk mencari mu...' Masih dengan tujuan yang sama. Mencari dirinya. Mengkhawatirkannya. Mencemaskan dirinya. 'Semua itu.. dia rela melakukannya hanya demi diriku?' "Aku tidak mengerti, kesenangan apa yang mereka dapatkan dengan menggigit ku?" Ucapan Zayyad itu memecah lamunan Alina. "Kau penasaran?" "Ya" Jujur, Zayyad merasa cukup penasaran. Mengingat bibinya juga melakukan hal yang sama padanya dulu. Dan bibinya tampak begitu puas setelah melakukannya. "Kau ingin mencobanya?" Pertanyaan Alina yang tiba-tiba itu, membuat Zayyad terkesiap, "A-apa?" "Cobalah padaku!" Mata Zayyad nyaris hampir melompat keluar, 'Apa ada yang salah dengan pendengaran ku?' Alina perlahan bangun. Lalu ia pergi duduk di atas pangkuan Zayyad, dengan kakinya yang terjulur ke depan perlahan pergi menelusup ke belakang punggung Zayyad. Kini posisi Alina, duduk di atas paha Zayyad, menghadap wajah pria itu dengan kedua kakinya yang sudah melingkari pinggang Zayyad. Sikap Alina yang cukup berani itu, membuat Zayyad tertegun, menelan saliva nya. Kedua daun telinganya memerah membuat Alina yang melihatnya menahan senyum untuk tidak tertawa. "Tidak perlu gugup begitu, kita kan sudah pernah lebih intim dari ini..." Goda Alina. Sudah lama ia tidak mengusik Zayyad. "K-kapan?" "Ini.." Jari telunjuk Alina dengan nakalnya menyentuh bibir Zayyad, "Dan ini.." Lalu Alina pergi menyentuh lehernya sendiri berkata, "Kau tidak lupa kan..." Alina mengedip nakal pada Zayyad, mengingatkan momen di mana pria itu pernah mencium lehernya. Tubuh Zayyad menegang. Tenggorokannya tercekat. Gerakan dan penampilan Alina, cukup menantang garis batasnya sebagai seorang pria normal. Sontak Zayyad menarik tubuh Alina, membantingnya pelan ke ranjang. Saat ini posisi Zayyad, berada tepat di atas tubuh kurus Alina. Beberapa saat Alina merasa pusing karena tiba-tiba di jatuhkan ke ranjang. Tepat ketika mendengar deru nafas Zayyad yang bergemuruh, Alina menatap Zayyad yang berada di atasnya dengan ekspresi wajah mati kutu. Zayyad menatap Alina dalam. Tangannya pergi menyampir beberapa helai rambut Alina yang menutupi matanya, "Kau serius mengizinkan aku mencobanya padamu?" Suara Zayyad yang tetap terdengar tenang di situasi seperti itu, mau tidak mau membuat Alina merasa tersihir, "Ya..." Alina mengedipkan matanya beberapa kali, berpikir untuk mempersiapkan dirinya. Alina tau yang menindih tubuhnya saat ini adalah serigala lapar yang kapan saja bisa menerkamnya. Tapi ia tidak takut. Alina sudah sangat mengerti dengan pola pikir dari 'binatang buas' yang berada di atas tubuhnya ini. Binatang buas yang tidak akan pernah menyakitinya... Mata Alina semakin gugup, ketika melihat tangan Zayyad yang mulai menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi lehernya. Detak jantungnya berdebar kencang dan dadanya bergemuruh, ketika melihat kepala Zayyad yang perlahan menunduk... Terus menunduk kebawah, hingga tenggelam di ceruk lehernya. Detik itu, Alina meremas kain seprai dengan perasaan campur aduk. "Aku pernah baca beberapa artikel yang mengatakan kalau gigitan di leher itu tidak baik..." Meskipun nafas hangat Zayyad menggelitik permukaan leher Alina, ketegangan yang dirasakan wanita itu terus sirna setelah mendengar apa yang baru saja dikatakannya. Zayyad menopang sikunya di atas ranjang, mengangkat kepalanya ia pergi menatap Alina, "Katanya dapat menyebabkan gumpalan darah yang serius, yang cukup berpotensi kematian..." "..." Alina menatap melongo kearah Zayyad. Kehilangan kata untuk mendeskripsikan— Betapa luar biasanya rasionalitas seorang Zayyad! "Alina apa kau yakin jika aku melakukan ini kau akan baik-baik saja?" Alina menatap Zayyad tak berkedip. 'Persis seperti dugaan ku, binatang buas dihadapan ku ini— tidak akan menyakiti ku!' "Zayyad.." Alina mengalungkan tangannya di leher Zayyad. "Em?" "Katamu tadi...kau mencintaiku?" Zayyad menganggukkan kepalanya. "Maka lakukanlah atas dasar cinta, bukan nafsu. Dengan begitu, kau tidak akan menyakiti ku.."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (260)
Setyo21Renny
woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊
woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊
03/08/2022
1the story is very good for me🤗
03/05/2022
0bagus dan menenangkan jiwa
14/08
0Lihat Semua