logo text

111. Lebih Suka Yang Kering

Alina berpikir beberapa saat sebelum menjawab. 'Apakah aku bosan?' Roti bakar keju memang salah satu makanan kesukaannya. Ia suka aroma asap roti dan rasa asin dari keju yang melumer di lidah tiap kali ia menggigitnya. Hanya saja terkadang, ia merasa bosan dan tertarik mencoba yang lainnya. Tapi...
"Kalau sarapan dengan menu yang sama setiap hari, sekalipun itu adalah makanan kesukaan ku, sudah tentu aku bosan. Hanya saja, roti bakar buatan mu agak lain.."
"Lain gimana?" Zayyad mengambil segelas susu coklat, menyesapnya sedikit.
"Entahlah!" Alina mengangkat bahunya, merasa sulit mendeskripsikannya seperti apa, "Tapi yang pasti, roti bakar buatan mu membuatku candu" Terang Alina, jujur. Baru sehari- dua hari ia di kota Z tanpa roti bakar keju buatan Zayyad, moodnya terus saja seperti tidak ada niat untuk sarapan.
"Kalau orang yang buatnya gimana?" Tanya Zayyad, mengulum senyum tertahan di bibirnya.
"Maksudnya?" Alina menautkan sepasang alisnya, butuh penjelasan lebih.
"Bikin candu juga tidak?"
"Huk..Huk.." Alina terus terbatuk-batuk. Membelalakkan matanya kearah Zayyad, ia berpikir— 'Apa ada yang salah dengan pendengaran ku?'
Bagaimana tidak Alina berpikir begitu. Cukup aneh melihat seorang Zayyad yang pendiam dan kaku, cukup leluasa menanyakan sesuatu yang narsistik seperti itu.
"Kau ini.. cukup narsis juga ya"
Zayyad tertawa kecil menjawab, "Yah, aku hanya bertanya saja"
Setelah sarapan, Zayyad pergi membereskan meja dan Alina naik ke lantai atas untuk bersiap-siap. Setelah mandi dan berpakaian rapi, Alina membalut wajah tirusnya dengan pasmina abu-abu yang tampak serasi dengan blus merah mudanya.
Mengenakan bedak sekenanya dan sedikit polesan lipstik di bibirnya, membuat tampilannya jauh lebih muda dan segar. Orang yang melihat, mungkin akan mengira ia adalah seorang mahasiswa yang berusia dua puluhan.
"Sudah selesai?" Zayyad masuk kedalam kamar, melihat Alina yang sedang mengaca di cermin.
"Sudah, ayo!" Alina mengambil tas tangan kecil berwarna putih dan mengalungkannya di bahunya.
Zayyad yang melihat tampilan Alina merasa ada yang berbeda. Setelah memperhatikan beberapa saat, akhirnya ia menemukan apa itu, "Kau pakai lipstik?" Tidak seperti di malam pesta dansa, di mana Alina menggunakan warna merah menyala yang membuat tampilannya terlihat dewasa dan berani.
Tapi kali ini wanita itu menggunakan warna merah muda segar yang membuat penampilannya terlihat muda dan lembut.
"Ya, katamu hari itu bibir ku kering. Jadi aku menggunakannya, biar sedikit lembab.." Sebenarnya ia sangat jarang menggunakan benda berminyak itu dibibirnya. Tapi tidak tau kenapa, hari ini ia tergoda untuk memakainya.
Zayyad mengambil beberapa langkah ke depan, mendatangi Alina. Berdiri di hadapan wanita itu, pandangannya turun kebawah menatap bibir kecilnya yang tampak cukup cantik seperti bunga sakura yang masih kuncup.
"Ada apa?" Alina melihat Zayyad berdiri diam menatapnya, mengernyitkan dahinya merasa heran.
Zayyad tiba-tiba membungkuk, berbisik halus di telinga Alina, "Tapi aku lebih suka yang kering..bikin nagih"
Alina membelalakkan matanya, terkejut. Mencoba mengesampingkan rasa gugupnya, wajahnya dengan berani menghadap kearah Zayyad bertanya, "Maksudnya bikin nagih?"
Zayyad meluruskan badannya, lalu berjalan ke arah sofa mengambil jas putihnya yang tergeletak di sana, "Kalau kau pakai lipstik, bibir mu berminyak, rasanya tidak enak. Tapi kalau kering—" Zayyad mulai mengenakan jas putihnya, lalu berbalik kearah Alina. Melebarkan kedua sudut bibirnya, ia tersenyum meneruskan, "Aku suka tekstur kasarnya yang seperti menggelitik bibir ku.."
Seketika Alina tercenung, kedua belah pipinya memanas seperti orang demam dan jantungnya seakan siap meledak detik itu juga. Meremas jari-jemarinya, ia bersikeras untuk tetap terlihat tenang dan berani, "Huh, kau mengatakannya seperti sudah pernah mencicipinya saja!"
"Tentu saja sudah, Alina kau tidak ingat ya?"
"..." Alina hanya diam. Detak jantungnya memompa keras dan semakin keras. Sampai ia takut jika kerasnya debaran itu akan terdengar oleh Zayyad.
"Kalau begitu biar aku ingatkan!" Zayyad mengambil dasi dan mulai memakainya sambil terus berbicara, "Malam pesta dansa, kau menggunakan lipstik merah dan kita berci—"
"Zayyad hentikan!" Sergah Alina. Ia menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan, "Cepat siap-siap, aku tunggu di bawah!" Setelah mengatakannya, Alina berlari kecil kearah pintu, membukanya dan terus melenyapkan diri dari tempat itu.
Zayyad yang melihat kelakuan Alina itu, hatinya merasa cukup tergelitik dan tertawa kecil, "Sebentar!"
Zayyad tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Sejak kapan aku pandai menggoda seperti ini?"
___
Zayyad dan Alina sudah tiba di perusahaan. Ketika Alina melangkah masuk kedalam, ia merasa menjadi seseorang yang paling cantik di tempat itu. Bagaimana tidak? Di dalam sana semua karyawannya adalah pria, jadi hanya dia seorang wanita. Sudah jelas dia yang paling cantik di tempat itu.
"Pak Zayyad.."
"Bu Alina.."
"Pagi pak Zayyad.."
"Pagi pak..Bu.."
"Pagi pak Zayyad..Bu Alina"
Semua para karyawan yang bertemu mereka, membungkuk dan menyapa dengan sopan. Zayyad menjawab setiap sapaan itu dengan senyum dan anggukan, tidak dengan Alina yang memasang tampang cuek dan acuh tak acuh.
Mungkin jika bersama neneknya, sikapnya ini pasti sudah di komentari dan ia akan mendengar wanita tua itu berceramah panjang. Melirik sekilas kearah Zayyad, Alina penasaran— 'Apakah pria yang berpikiran tua di samping ku ini, juga akan menceramahi sikap ku?'
Zayyad yang melihat Alina menatap kearahnya, terus bertanya, "Ada apa?"
Alina terkesiap, "Tidak ada!" Menggelengkan kepalanya, ia tersenyum kecil. Ternyata Zayyad sama sekali tidak peduli dengan sikap acuh tak acuhnya tadi pada karyawannya.
Alina yang merasa penasaran, tak tahan untuk tidak bertanya, "Kenapa kau tidak menegur sikap ku tadi.. yang tidak membalas sapaan karyawan mu?" Harusnya dari cara pikirnya yang tak kalah tua dari nenek, bukankah seharusnya ia paling tidak akan sedikit memberi nasehat?
Zayyad menghentikan langkahnya, menjawab "Karena aku pun begitu!"
"...?" Sepasang alis Alina tertaut, matanya yang menatap Zayyad menyiratkan penjelasan lebih.
"Aku seringkali tidak ramah pada wanita yang ku temui, karena aku berusaha keras untuk mengendalikan rasa takutku. Bukankah ini tidak jauh berbeda dengan mu?" Yang membuat berbeda hanyalah letak poinnya saja yang menjadi alasan mereka melakukannya. Ia karena 'takut' dan Alina karena 'benci'.
Beberapa saat, Alina termenung. Zayyad yang melihatnya, tersenyum berkata, "Sudah ya!" Tangannya mendarat di atas kepala Alina dan mengusapnya lembut, "Tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku suka kau begini! Cukup ramah padaku saja, oke?"
Mendengar penuturan itu, Alina tertawa kecil, "Dasar!" Katanya sembari menyikut pria itu.
Zayyad menarik lengan Alina lembut, membawanya masuk dalam dekapannya dan mereka berjalan bersama menuju lift khusus CEO.
Sekilas para karyawan yang melihat kemesraan itu, tidak mampu menahan senyum dan saling berbisik-bisik,
"Aku tidak menduga pak Zayyad seromantis itu!"
"Mereka berdua cukup serasi.."
"Coba kalian perhatikan, pak Zayyad tampak jauh lebih bersemangat dari biasanya.."
"Tentu saja, belahan jiwanya ada di samping, bagaimana mungkin tidak bersemangat?"
"Hhh.." Mereka tertawa.
"Ekhem!"

Komentar Buku (260)

  • avatar
    Setyo21Renny

    woowww bagus sekali kak ceritanya tidak bosan tiap bacanya. makin penasaran trs kelanjutannya dan sayangnya sekali udah selesai. jangan pernah ragu untuk baca movel ini yg belom baca di jamin seru.di tunggu karya selanjutnya kak😊

    03/08/2022

      1
  • avatar
    Jevfeka Eka

    the story is very good for me🤗

    03/05/2022

      0
  • avatar
    juliyanto Manurung

    bagus dan menenangkan jiwa

    14/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru