Kymaura pun tumbuh penuh cinta dan kasih sayang dari ke dua orang tuanya dan kakek neneknya. Dan tak terasa kini sudah beranjak usia empat tahun. Menjelma menjadi gadis mungil yang sangat cantik rupawan. Hampir semua orang yang pernah bertemu dengan Kymaura pasti memuji dengan penuh kagum. Bak bidadari kecil yang diturunkan dari langit, ia mampu menyihir siapa saja yang melihatnya. Selama pertumbuhannya tak ada satu orang pun yang pernah memarahi Kymaura sebab dia sendiri tumbuh menjadi anak yang mudah untuk di sayangi dan penurut. Jovial sendiri sangat memanjakan Kymaura lebih dari seorang ibu. Bahkan terkadang Gladys dibuat cemburu oleh kasih sayang yang dicurahkan kepada putrinya. Meski begitu hanya sebuah candaan belaka. Sungguh Jovial memperlakukan Kymaura seperti benar-benar seorang putri raja. Untung saja Gladys tetap mendidik putrinya dengan bersikap tetap rendah hati dan suka berbagi. Apapun yang diminta Kymaura pasti Jovial akan segera memberinya tanpa syarat, tentu Gladys tidak terlalu suka dan sering berdebat akan hal ini. Tetapi apalah daya Gladys, sebab kekeras kepalaan Jovial tiada tandingannya, begitulah yang dimaksud oleh mama mertuanya. Karena itu Gladys lebih memilih untuk mendidik Gladys menjadi gadis yang rendah hati. Hanya itu satu-satunya cara selain berdebat dengan suaminya sendiri tentang cara mendidik putri mereka. Bahkan Gladys tak segan-segan mengajak Kymaura ke panti asuhan dan melihat kondisi mereka yang serba kekurangan bahwa tidak memiliki kasih sayang dari orang tua. Setelah Kymaura mengerti apa itu rasa syukur biasanya mereka akan berbagi banyak hal dengan anak panti. Mulai dari berbagi makanan, mainan hingga pakaian baru untuk mereka semua. Karena didikan Gladys lah putrinya tidak pernah merasa lebih beruntung memiliki hidup yang dibesarkan dari keluarga berada. Malah Gladys berkata bahwa semua orang beruntung diberi kesempatan untuk hidup dan saling berbagi ke sesama tanpa melihat pandang bulu. Bahkan Kymaura terlihat sangat akur dan harmonis dengan penghuni panti lainnya dan bercanda gurau disana. Membuat Gladys yang duduk bersama dengan pengurus panti hanya tersenyum senang melihat semua terlihat bahagia. Di tengah keseruan mereka, tiba-tiba ponsel Gladys berbunyi, Segera Gladys melihat kayar ponselnya yang memunculkan nama Jovial disana. Ia pun lekas menerima panggilan telepon tersebut. “Ya, honey?” jawab Gladys. “Apa kamu sedang bersama Kymaura?” tanya Jovial. “Iya. Kami berada di panti sekarang.” Jawab Gladys. “Ok, sebentar lagi aku akan kesana dan kita makan bersama.” Sahut Jovial. “Iya. Tapi sepertinya aku dan Kym masih kenyang sebab baru saja kami makan bersama dengan anak-anak disini.” Balas Gladys. “Ok, kalau begitu aku susul kalian saja.” Ujar Jovial yang membuat Gladys tersenyum manis. “Ok. Hati-hati di jalan.” Ucap Gladys yang kemudin menutup teleponnya. Beberapa saat kemudian, Jovial pun datang di panti untuk menjemput istri dan anaknya. Dia berniat mengajak keluarganya untuk sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Keluarga mereka sangat terlihat bahagia, dengan kesabaran yang dimiliki Jovial dan hati yang suka mengalah seperti Gladys membuat konflik enggan untuk mampir. Suatu malam, Jovial sedang memposisikan dirinya di atas tempat tidur. Sementara Gladys masih menyisir rambut panjangnya di depan cermin meja rias. Jovial yang sedang memperhatian istrinya yang duduk di meja rias lalu mulai berbicara. “Aku harus keluar kota besok.” Mendengar kalimat itu membuat Gladys memposisikan tubuhnya setengah memutar. “Mendadak sekali?” tanya Gladys mengerutkan keningnya. “Iya, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Setelah itu aku akan segera pulang.” Sahut Jovial. Kemudian Gladys melangkahkan kaki menuju keatas tempat tidur dan berbaring diatas dada bidang milik Jovial. “Berapa hari?” tanya Gladys lagi merasa berat jika ditinggal terlalu lama oleh suaminya. Jovial tidak langsung menjawab, dia seolah sedang memperkirakan berapa hari yang ia butuhkan. “Emh, mungkin dua atau tiga hari.” Perkiraan Jovial. Gladys menghela napas seolah tak ingin berada jauh dari Jovial. “Sepertinya kamar ini akan kosong untuk beberapa hari. Sebab aku harus mengungsi ke kamar Kym.” Singgung Gladys. Jovial mengcup kepala Gladys. “Aku berjanji akan segea kembali dan tidak membiarkan kamar ini kosong.” Ujar Jovial. “Bisakah biarkan Daniel saja yang mengurus pekerjaan kamu di luar kota. Aku merasa sebaiknya kamu tidak kemana-mana.” Pinta Gladys memanja seperti Kymuara. Jovial memijat kecil keningnya lalu menjawab. “Andai saja itu bisa. Justru Daniel dan aku yang harus pergi.” Kemudian kembali mengecup kepala Gladys. “Aku berjanji, aku akan segera pulang.” Bujuk Jovia yang entah mengapa Gladys tak ingin Jovial pergi kemana-mana. . Kemudia Jovial memposisikan tubuhnya supaya mereka bisa saling berhadapan dan mencoba memebri pengertian Gladys lagi. “Hei, hei.” Mata mereka berdua saling bertemu dan terkunci. “aku akan baik-baik saja dan segera pulang setelah bisnis selesai. Ok. Setelah itu aku berjanji akan membawa kalian ke Hawaii. Bagaimana?” Jovial berusaha menghibr istrinya yang terlihat cemberut. “Bagaimana jika aku dan Kym ikut bersama kamu ke luar kota.” Ujar Gladys memberi saran. “Emmh, sepertinya kurang tepat. Aku takut jika kalian nantinya akan bosan. Jadi lebih baik, bersabar lah sebentar lalu kita akan berlibur ke Hawaii. Pasti Kym akan sangat menyukainya.” Hibur Jovial. Gladys menghela napas pasrah dan mengalah seperti biasa. “Ok. Demi anak kita.” Ucap Gladys. Jovial pun tersenyum tampan lalu mencecap bibir ranum Gladys sebagai tanda terima kasih yang kemudian berlanjut dengan cumbuan yang berubah penuh gairah sehingga Gadys jatuh kedalam kuasa Jovial. *
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (241)
mudaRehal
Heppy
01/01
0
AisyahSiti
bguss bngtt
09/06/2025
0
ratna amalia andini
Ceritanya seru dan mengagumkan. Apalagi karakter gladysnya
Heppy
01/01
0bguss bngtt
09/06/2025
0Ceritanya seru dan mengagumkan. Apalagi karakter gladysnya
06/06/2025
0Lihat Semua