Adelia menangis di ruang kerja Dian. Kebencian dan kemarahannya tak bisa terlampiaskan. Tuduhan Angela bahwa dia seorang pelakor, membuatnya sangat murka. Dia ingin menampar mulut gadis itu yang telah lancang menuduhnya. Tapi Adel masih menjaga ucapannya tak berterus-terang bahwa Jordan adalah ayahnya. Dia masih ingin menyakiti hati Sally. Adel tak peduli apapun yang dilontarkan Sally padanya. Tapi tuduhan itu keluar dari mulut Angela, adiknya sendiri. Dia menyayangi Angela terlepas dari perbuatan orangtuanya. Adel merasa sakit hati pada Angela. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasakan kasih sayang ayahnya. Selama hampir empat tahun dia mencari keberadaan ayahnya. Hanya untuk mendapatkan pengakuan, Adelia anak Jordan Stevanus. Tapi kekecewaan yang dia dapatkan setelah bertemu dengan ayahnya. Pertama, penolakan Jordan untuk mengakuinya dihadapan keluarganya tentang siapa Adelia. Dan sekarang, Angela menuduhnya sebagai perempuan perebut suami orang. Pelakor. Siapa yang sudah merebut suami orang? Bukankah Sally yang telah merebut ayahnya dari ibunya? Apa yang dilakukan Adelia untuk mengambil kembali apa yang telah mereka ambil darinya dan ibunya. Salahkah itu? "Minum dulu, Del! Biar hati Lo agak tenang," Dian menyodorkan segelas air putih. Adel menerimanya dan meneguknya sedikit. "Aku minta maaf, Bang. Aku udah buat kerusuhan di cafe ini," kata Adelia pelan. "Gapapa, Lo tenang aja! Gua kuatir mereka nyakitin Lo," sahut Dian. Adelia tak menjawab, kembali diteguknya air minum ditangannya. "Kenapa mereka datang, setelah Om Jo pergi? Kayaknya ada seseorang yang ngintai Lo, Del?" tanya Dian. "Kayaknya yang nguntit aku udah gak lagi. Mungkin mereka ganti nguntit Om Jo," sahut Adel. Adel merasa sejak pergi dari rumah bersama Bang Rudi, tak ada yang mencurigakan. Tiba-tiba ponsel Dian berdering. Dian segera mengangkatnya. "Hallo, gua udah di bandara. Katanya Lo mo jemput gua, dimana?" suara dari ponsel Dian. "Aduh, sorry! Gua gak bisa. Adel ada disini. Tadi ada kejadian yang tak terduga," kata Dian sambil berdiri dan menjauh dari Adel. "Hah? Ada apa? Adel kenapa? Dimana dia sekarang?" suara itu begitu mencemaskan Adel. "Gapapa, dia udah tenang. Ini lagi sama gua di ruang kerja. Ntar aja ceritanya kalo Lo udah kesini. Gua udah suruh Rudi yang jemput Lo," sahut Dian. Adel mengerenyitkan dahi, sepertinya Dian menyebut namanya di telepon. Dengan siapa dia bicara. Adel ingin bertanya tapi dia merasa sungkan. "Aku mau pulang, Bang!" kata Adel memotong pembicaraan Dian dengan si penelpon. "Jangan dulu pulang, Bang Rudi lagi gua suruh jemput orang. Lo istirahat aja dulu disini!" seru Dian. Adel kembali duduk di atas sofa. Dia penasaran siapa orang yang dijemput Rudi. "Jemput siapa?" tanya Adel ragu. "Ntar juga orangnya kesini. Tunggu aja!" kata Dian lalu keluar meninggalkan Adel sendirian. Kembali Adel melamun. Pikirannya masih mengingat ucapan Angela. Hatinya sangat sedih. Disini dia sendirian, tak ada yang membelanya. Walaupun tadi ada Dian yang menghalangi tamparan Sally, Adel tetap merasa sendirian. Dimana Papa yang dirindukannya, kenapa dia tak muncul membelanya. Mungkin sekarang mereka sedang bertengkar, tapi seperti kata Angela, Papa akan meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya. Tak akan ada pembelaan untuk Adelia. Hanya ada satu orang lelaki yang selalu mendukungnya. Tapi laki-laki itu berada jauh dari Adel. Jika saja ada Reno disini, tentu dia akan membela Adel mati-matian. Reno tidak akan membiarkan Adelia diserang seperti tadi. Dia pasti akan bertindak melawan tuduhan Angela. Adel terus memikirkan Reno, dia sangat merindukan pemuda itu. Reno.... Entah sudah berapa lama Adel duduk melamunkannya. Adel berpaling memandang pintu ruang kerja, sepertinya ada seseorang berdiri disana. Adel mengucek matanya ketika melihat orang yang berdiri di depan pintu. Senyum orang itu terkembang seiring dengan rentangan tangannya. "Adelia Permatasari Stevanus, kamu kangen aku gak?" sapanya. Sungguh Adel tak salah lihat, yang berdiri siap memeluknya adalah orang yang sedang dipikirkannya. Reno. Adelia langsung berdiri dan menghambur kedalam pelukan pemuda itu. "Kaaaak, kenapa sih selalu datang tiba-tiba? Kenapa gak kasih kabar," tangis Adel pecah lagi. Reno memeluknya erat. Diciuminya rambut Adel penuh kerinduan. Dia memang sengaja tak memberitahu Adel kalau dia pulang. Reno tak bisa membiarkan Adelia sendirian menghadapi permasalahan dengan ibu tirinya. Setelah tahu siapa perempuan bernama Marcelia Winoto, pikiran Reno selalu tak tenang. Apalagi ketika Adel berterus-terang bahwa dia membuat rekayasa perselingkuhan dengan Jordan, membuat Reno nekad kembali ke Jakarta. Keselamatan Adelia terancam, Reno harus melindunginya. "Gimana kuliah Kakak, udah selesai?" tanya Adel. "Tinggal nunggu sidang. Bentar lagi rampung," jawab Reno. "Lha, kenapa balik kesini kalo belum selesai?" tanya Adel lagi. "Aku gak akan beresin kuliahku kalo kamu kenapa-kenapa. Aku disini buat jagain kamu. Urusan kuliah, ntar bisa nyusul," sahut Reno. Perkataan Reno membuat Adel sangat terharu. Sampai segitunya Reno berkorban untuk dirinya. Dia berani mengambil keputusan meninggalkan kuliahnya demi untuk melindungi Adelia. "Apa Mami sama Papi tau Kak Reno ninggalin kuliah?" tanya Adel. "Aku udah minta ijin mereka. Kebetulan Papi juga lagi butuh orang buat bantu di perusahaan. Jadi aku jagain kamu sambil kerja bantu Papi," sahut Reno. Syukurlah, berarti Adel tak akan disalahkan atas kepulangan Reno ke Jakarta. Sebelum Reno menemui Adelia, Dian sudah menceritakan apa yang terjadi tadi di cafe. Kasihan Adelia, sekarang pasti Sally sedang merencanakan untuk memberi pelajaran pada Adelia. Keselamatan Adelia benar-benar sedang terancam. Kedatangan Reno ke Jakarta sangat tepat. Saat ini Adelia sedang membutuhkan perlindungan. Jordan tak bisa diharapkan karena dia lebih mementingkan dirinya sendiri. Mementingkan nama baik keluarga besarnya. Dia terlalu takut menghadapi keluarga Sally. Karena Jordan penyebab kematian anak laki-laki satu-satunya keluarga Winoto. Jika dia meninggalkan Sally, dia takut kehilangan segalanya yang sudah dia raih selama ini. Tentu keluarganya akan marah besar, apalagi Aprilia. Sebab Aprilia pemegang perusahaan kayu milik ayah Sally.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
aku suka sm ceritanya ❤️❤️
31/05/2025
0HAHAHAHHA
11/12/2024
0mantap
26/08/2024
0Lihat Semua