Arini dan Brandon Arini menatap nanar langit yang mulai berganti warna. Perlahan biru terang yang dihiasi awan putih berubah menjadi jingga. Pantulan kerlip sinar matahari, kini tak lagi sebanyak pertama ia datang beberapa jam yang lalu. “Gue harus gimana, Bran?” lirihnya kembali terisak. Mata cokelatnya tertutup rapat mencoba merasakan kehadiran Brandon di sampingnya. Bulir bening yang sempat hilang, kini kembali mengalir di pipi. “Maaf gue nggak bisa cerita tentang ini sama lo,” gumamnya lagi dengan dada yang terasa sesak. Iin menangkup kedua telapak tangan di depan wajah masih menangis. Dia melepaskan semua yang terasa di sana sejak tadi. Tak peduli lagi jika mata semakin merah dan bengkak. Hidung juga menampilkan semburat warna tomat di bagian puncak. Beberapa menit kemudian, hatinya kembali tenang. Kelopak mata lebar dengan bulu mata lentik di bagian ujung tertutup sesaat. Ketika terbuka lagi, manik cokelat itu bergerak mengitari sisi pinggir pantai yang didatangi banyak orang untuk melihat sunset. “Gue kangen sama lo, Bran,” lirihnya tercekat. “Andai lo ada di sini sekarang, kita bisa melihat sunset sama-sama,” bisik Iin dengan hati bergemuruh. “Kenapa sih lo harus ketemu sama Moza? Kita nggak bisa barengan lagi kayak biasa,” racaunya lagi. Dua detik kemudian Arini terdiam ketika melihat sosok yang dirindukan muncul sepuluh meter dari tempat duduk. Tubuh rampingnya langsung berdiri tegak. Kaki yang ditutupi celana panjang bergerak cepat menghampiri pria yang menatapnya dengan sorot mata cemas. Senyum lebar tergambar jelas di wajah cantik Iin yang terkena pantulan sinar matahari sore. Dia segera menghambur ke dalam pelukan Brandon ketika jarak semakin dekat. “Ternyata kamu di sini, Sayang,” desis Brandon lega setelah menemukan Iin. Matanya tampak merah dan basah. Arini menenggelamkan kepala di dada bidang milik Bran dalam waktu yang lama. Dia terisak di sana, menumpahkan lagi air mata yang seakan tidak pernah habis mengalir sejak tadi. Sesaat kemudian kepala Arini mendongak ke atas. Dia memandangi netra sayu Bran lekat. Tangannya membelai pipi yang ditumbuhi cambang itu. Kakinya kini berjinjit ketika ingin mengejar bibir pria itu. Perlahan bibir keduanya bertemu, lalu saling mengecap satu sama lain. Tak peduli dengan orang-orang yang melihat sekarang, mereka semakin larut dengan aktivitas tersebut. “Gue kangen banget sama lo, Bran,” ucap Iin setelah tautan bibir terlepas. Kening Bran berkerut mendengar perkataan sang Istri. “Lo nangis? Kenapa? Moza ninggalin lo?” cecar Iin memandang wajah Bran tidak tenang. Mata Bran melebar seketika mendengar perkataan Arini. “Moza?” Arini mengangguk cepat. “Perkataan gue bener, ‘kan? Dia bukan cewek baik-baik.” Udara di sekitar Bran seakan menghilang, sehingga sulit baginya untuk bernapas. “Kamu kenapa, Sayang? Kenapa bawa-bawa nama Moza lagi?” tanya Brandon khawatir setelah menenangkan diri. Raut wajah Iin menegang ketika sadar apa yang baru saja diucapkannya. Dia menelan ludah, kemudian menarik napas panjang. “In, kamu beneran nggak apa-apa?” Brandon memegang samping kepala Iin yang terbungkus kerudung. Netra Arini kembali tertutup rapat karena telah melakukan kesalahan besar. Sesaat yang lalu ia merasa kembali ke masa-masa SMA, tepatnya ketika bertemu lagi dengan Brandon di pinggir pantai setelah pria itu putus dengan Moza. “In? Jawab, jangan bikin aku khawatir. Kamu kenapa?” desak Bran frustasi. “Aku nggak pa-pa, Bran. Mungkin kecapean aja.” “Nggak mungkin, In. Tadi kamu beda banget.” “Beneran. Aku kecapean aja, jadi berhalusinasi ingat waktu kamu—” Kalimat Iin berhenti karena tidak ingin lagi membangkitkan kenangan yang bisa membuat cemburu. Brandon tidak mudah percaya begitu saja. Dia bisa melihat ada yang tidak biasa pada diri Iin, kelopak bengkak dan hidung memerah. Sorot mata Arini yang dilihatnya beberapa menit sebelumnya tampak seperti belasan tahun lalu, ketika mereka masih bersahabat. Dari cara mereka berciuman tadi juga terasa berbeda. Wanita itu seakan mencurahkan perasaan terdalam yang selama ini tersimpan di dasar hati. Meski begitu banyak teka-teki yang menari di kepala saat ini, Bran memutuskan untuk mengajak Iin duduk lagi di pinggir pantai. “Kamu ke mana aja seharian?” tanya Bran setelah keduanya terdiam beberapa saat. Iin merangkul lengan Bran, lalu menyandarkan kepala di pundaknya. “Aku pengin jalan-jalan sendirian aja ke sini.” “Kenapa nggak ajak aku?” “Kalau ajak kamu namanya berdua dong, nggak sendiri lagi,” sahut Iin tertawa pelan. Brandon menarik napas berat lagi. Tawa yang keluar dari bibir Iin, terdengar seperti tangis di telinganya. Dia mengusap lembut lengan sang Istri. “In?” “Ya?” Arini mendongakkan kepala sehingga bisa melihat wajah Bran. “Kalau ada masalah, cerita sama aku ya? Jangan pendam sendiri.” Bran menatap lekat istrinya. “Dari dulu kita selalu terbuka. Masalah apapun selalu dibagi bersama. Jadi please, jangan pernah simpan apapun dariku.” Wanita itu mencoba tersenyum sekuat tenaga. Sebuah anggukan diberikan. “Tenang, Sayang. Aku pasti cerita nanti.” Brandon meraih tangan istrinya, lalu memberi kecupan di punggung tangan. Keduanya terdiam ketika larut dengan pikiran masing-masing. Hanya deru ombak diselingi suara angin bersahut-sahutan yang terdengar. Brandon sibuk menerka apa yang sebenarnya terjadi kepada Iin. Sementara Arini berusaha mencari cara agar menutupi penyakit itu dari suaminya. “Bran.” Arini memecah keheningan di antara mereka. “Hmmm….” “Kamu ingat nggak waktu pertama kali ajak aku ke sini?” “Iya, ingat.” “Itu pertama kali aku ke pantai sama cowok, selain Uda David,” ungkap Iin menstimulasi ingatannya. “Udah aku duga sebelumnya. Kamu tegang banget tuh waktu di motor.” Arini tergelak mendengar perkataan Bran. “Gimana nggak tegang coba, tanpa ngomong apa-apa langsung bawa aku ke tempat yang jauh. Takut diculik tahu,” cicit Iin. “Emang aku sejahat itu ya di mata kamu?” “Jahat sih enggak, tapi nyebelin iya,” ledek wanita itu sambil tertawa renyah. Brandon menarik napas pendek, kemudian memberi kecupan di pinggir kening Iin. “Maaf ya, aku udah bikin kamu kesal waktu pertama ketemu. Habisnya aku pikir kamu sama kayak yang lain.” “Makanya, jadi cowok jangan sok kegantengan deh,” ejek Arini mencubit pinggang suaminya. “Emang aku nggak ganteng ya?” Arini menggelengkan kepala. “Masa sih? Kemarin itu kamu puji aku loh.” “Dulu nggak ganteng sama sekali. Malah—” Arini berdiri, kemudian mundur tiga langkah ke belakang sebelum meneruskan kalimatnya. “Malah?” Brandon tampak penasaran. Dia ikutan berdiri. “Malah kamu itu item, dekil, udah gitu nyebelin banget. Pokoknya sok kegantengan,” sahut Iin tertawa riang kemudian berlari cepat menuju bibir pantai. “Apa?” seru Brandon mengayunkan langkah besar mengejar istrinya. Arini semakin berlari cepat setelah melepas sepatu, sehingga telapak kaki merasakan pasir halus yang berada di pinggir pantai. Dia masih tertawa lepas ketika ingat bagaimana tampang menyebalkan Brandon dulu. “Awas kamu ya!” teriak Brandon masih berusaha mengejar Arini. Suami istri itu berkejar-kejaran di pinggir pantai, seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Sejak tadi, keduanya tidak pernah memikirkan bagaimana pandangan dan penilaian orang. Yang diketahui hanyalah, terus mengekspresikan perasaan cinta yang masih menggebu di hati masing-masing hingga maut memisahkan. “Ayo, tangkap gue, Kunyuk!” canda Iin menyebut panggilan yang pernah disematkan kepada Bran. “Awas lo ya, Kutilangdara,” balas Bran tak mau kalah. Pria itu semakin mempercepat dan memperbesar langkah menghampiri Iin, hingga akhirnya berhasil menangkap tubuh ramping itu. Arini terpekik girang ketika badannya berada di dalam dekapan suaminya. Sementara Brandon menautkan kedua tangan di depan tubuh Iin, agar tidak bisa lagi kabur seperti tadi. “Awas ya nanti malam, aku nggak akan lepasin kamu,” goda Brandon di samping telinga istrinya. Arini memutar balik tubuh dan memandangi wajah Bran di sela napas yang sesak setelah berlari. “Oke. Siapa takut? Ada special request nggak?” tantangnya menyeringai. Senyum nakal terbit di wajah tampan Bran. Dia menundukkan sedikit tubuh ke depan, lantas membisikkan sesuatu di telinga Iin. Mata Iin melebar seketika serentak dengan tangan menutup bibir yang menganga. Wanita itu terkejut mendengar permintaan suaminya. “Kamu serius mau kayak gitu?” tanya Iin tak percaya. Brandon mengangguk tanpa ragu. “Kenapa? Takut?” Arini menggeleng cepat. “Enggak. Khawatir kamu nggak tega aja nanti praktekkan apa yang dilakukan Mr. Grey sama Anastasia.” Pria itu tersenyum nakal sambil menarik pinggang ramping Iin ke depan dengan tangan kiri. Sementara tangan kanan memegang ujung dagu mungil itu. Dia kembali memagut erat bibir ranum Arini di sela napas yang masih belum teratur. Sesaat Arini mampu menghalau kegundahan yang dirasakan. Begitu juga dengan Bran. Mereka menikmati kebersamaan yang tercipta. Mencurahkan cinta yang masih saja menggebu di hati keduanya. Bersambung....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
hay
21d
0mantap
07/11
0Cerita sangat menarik
29/09/2025
0Lihat Semua