logo text

Bab 16 Gelas Retak

Arini dan Brandon
Sesosok tubuh tampak menggeliat di balik selimut. Dia meregangkan tangan ke atas sambil sesekali menguap. Perjalanan panjang dari ujung timur Indonesia menuju Jakarta membuat tubuh terasa pegal.
“Good morning, My Angel,” sapa Bran ketika merasakan gerakan tempat tidur.
Dia beringsut mendekat istrinya, lantas memberi pelukan erat.
“Kamu udah bangun?” gumam Iin dengan suara serak khas bangun tidur.
“Baru aja bangun. Kalau masih capek tidur lagi aja.”
Arini mengalihkan pandangan ke sisi kanan dinding kamar. “Udah jam 04.00, Sayang. Sebentar lagi subuh.”
“30 menit lagi, In. Kamu masih bisa tidur.”
Iin memutar balik tubuh, lalu memeluk suaminya erat. Dia menenggelamkan kepala di dada bidang Bran yang terbungkus baju kaus putih polos. Penggalan kejadian memalukan ketika berada di daerah Misool kembali berputar di pikiran.
Hingga detik ini, Arini belum menceritakannya kepada Brandon. Dia memilih untuk merahasiakan hal ini, karena tidak ingin membuat pria itu khawatir.
“Udah nggak ngantuk lagi kok,” sahut Arini semakin mengeratkan pelukan.
“Kita masuk kerja besok aja ya. Kamu pasti masih capek,” saran Bran pelan.
Arini menggelengkan kepala dengan mata berkedip pelan. Sementara Brandon membelai rambut panjang istrinya yang tergerai ketika tidur.
Dia sangat menyukai rambut panjang Iin sejak dulu. Bran sempat mengajukan protes ketika istrinya memotong pendek rambut di bawah bahu ketika mereka berpisah. Tapi Arini selalu bisa membuat suaminya mengerti dengan kondisi saat itu, apalagi sedang hamil El.
“Jangan lupa transfer uang bulanan Ayu, In,” cetus Bran setelah hening beberapa saat.
“Untung kamu ingetin, kalau nggak bisa lupa.” Arini mendongakkan kepala. “Aku nggak mau dia recokin Papa dan Mama lagi. Apalagi kalau sampai mau rebut kamu dari aku.”
Brandon tergelak mendengar perkataan istrinya. “Apa ada alasan tergoda sama dia? Aku cintanya sama kamu loh.”
“Papa dulu hanya cinta sama Mama, Bran,” desis Arini kembali memandangi kedua netra sayu Brandon.
Terdengar desahan pelan keluar dari sela bibir Brandon. “Beda cerita, In. Apa yang terjadi bukan kemauan Papa sepenuhnya.”
Kening Arini tampak berkerut. Tampak kebingungan di sorot matanya. Hingga saat ini, ia belum tahu bagaimana bisa ayah mertuanya bisa menikah lagi bahkan mengkhianati cinta kepada Lisa.
“Maksud kamu?” tanya Iin.
Brandon mengubah posisi menjadi telentang dengan pandangan menatap plafon. “Aku baru tahu waktu kamu pergi saat hamil El. Mama cerita semuanya.”
Arini beringsut naik ke atas, sehingga kepala sejajar dengan Brandon. “Sumpah. Dari dulu aku penasaran, Bran. Aku tahu persis Papa sayang dan cinta banget sama Mama, sama kayak kamu ke aku. Gimana bisa Papa nikah dengan Ayu? Ceritakan.”
Bran menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.
“Kejadiannya waktu perusahaan tempat Ayu bekerja mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kesuksesan program acara televisi. Kamu masih ingat ‘kan Papa pernah jadi narasumber di acara itu?”
Kepala Iin mengangguk pelan. “Aku ingat banget. Mama senang nonton acara itu dulu. Ayu pernah kerja di sana?”
“Dia bekerja di bagian produksi. Singkat cerita Ayu tahu persis kekayaan Papa, sehingga dia merencanakan semuanya untuk menjebak Papa.”
“Jadi Papa dijebak? Kok bisa?” Paras Arini menggambarkan rasa penasaran yang luar biasa.
“Persisnya aku juga nggak tahu. Bahkan Papa sendiri nggak tahu, In. Mama bilang, Papa hanya ingat minum sirop yang disediakan penyelenggara di acara itu,” jelas Brandon kembali memandangi istrinya.
“Apa Ayu memasukkan sesuatu ke dalam minuman?” duga Arini.
Brandon mengangkat bahu singkat. “Bisa jadi, makanya Papa sampai nggak tahu apa yang terjadi setelah itu. Kayak orang mabuk, tapi bukan karena alkohol. Menurut informasi dari orang yang hadir di pesta itu, Ayu menawarkan diri mengantarkan Papa pulang.”
Arini memfokuskan pikiran mendengar cerita suaminya.
“Singkat cerita, dia nggak benar-benar mengantarkan Papa pulang. Keesokan pagi Papa bangun dan mendapati Ayu ada di sampingnya. Dua bulan kemudian dia datang dan meminta pertanggung jawaban Papa,” sambung Brandon kemudian.
Kedua tangan Iin terangkat menutupi bibir yang ternganga. “Astaghfirullah! Itu udah masuk kejahatan, Bran. Kenapa Papa nggak lapor polisi aja biar bisa kasih pelajaran buat Ayu?”
Brandon tersenyum lembut sembari membelai pinggir kepala istrinya. “Nggak semudah itu, Sayang. Kamu tahu ‘kan saat itu usaha Papa sedang naik-naiknya. Biasalah pengusaha nggak mau image jelek di depan umum.”
Arini mendesah kesal ketika tahu kejadian yang sebenarnya. Sorot mata cokelat itu tampak mengerikan sekarang.
“Serem banget deh kamu kayak gitu,” gemas Bran mencubit hidung istrinya.
“Habis aku kesal. Itu wanita nggak ada akhlak banget. Incar kekayaan pakai cara nggak terpuji,” geram Arini membuang napas keras.
“Kamu—” Brandon mencolek ujung hidung Iin,—“jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada rumah tangga kita. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai.”
Bran tertawa pelan. “Bahkan dari dulu, sejak SMA sebenarnya hanya kamu yang aku cintai. Cuma nggak nyadar aja.”
“Jadi jangan takut kalau aku selingkuh atau macam-macam di belakang kamu. Bagiku cukup kamu seorang, nggak ada lagi yang lain,” tambah Brandon memberi kecupan di bibir istrinya.
“I love you, Bran,” ucap Iin sambil membelai lembut wajah suaminya.
“I love you too, In. Always love you,” balas Brandon.
***
“Good morning, Prince and Princess,” sapa Arini saat melihat kedua buah hatinya berada di ruang keluarga.
El dan Al segera berdiri, lantas memeluk Iin bergantian.
“Mami, aku kangen,” ucap El disambut anggukan kepala oleh Al.
“Aku juga, Mi,” imbuh Al sambil celingukan. “Papi mana?”
“Lagi pake baju di atas. Sebentar lagi juga turun.” Arini memberi kecupan di kening El dan Al bergantian. “Kalian nggak sekolah?”
El dan Al menggeleng serentak. “Hari ini guru-guru ada acara, jadi sekolah diliburkan.”
Iin duduk di sofa, diikuti El dan Al yang duduk di sisi kanan dan kirinya.
“Enak dong. Nggak mau jalan-jalan nih mumpung libur?”
Keduanya menggeleng lagi.
“Maunya jalan-jalan sama Mami, tapi Mami pasti capek banget,” ujar Al.
“Pasti capek, Dek. Tadi malam datang jam berapa itu, kita udah pada tidur.” El bersuara.
Ketika asik berbincang, El dan Al langsung terdiam ketika melihat Brandon keluar dari kamar. Pria itu melihat kedua buah hatinya bergantian saat berada di bawah.
“Kenapa pada diam begitu lihat Papi?” tanya Bran bingung.
El dan Al menundukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.
“Nggak ada pelukan kangen buat Papi?” selidik Brandon ketika melihat gelagat aneh dari mereka berdua.
El dan Al saling berpandangan beberapa saat. Setelah bertukar kode, keduanya berdiri lantas memeluk Brandon.
“Kita kangen sama Papi,” desis Al mewakili El.
Arini tersenyum bahagia melihat interaksi kedua putra dan putrinya dengan Brandon. Dia sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan kepada El yang mendambakan sepeda motor. Hari ini bisa menjadi kesempatan untuk dirinya dan Brandon mengajak putra semata wayang ke dealer untuk memilih kendaraan yang diinginkan.
“Mami nanti mau ngomong sesuatu sama El,” cetus Arini setelah berdiri di dekat Bran.
“Oya? Mau ngomong apa, Mi?” tanya El ingin tahu.
“Entar aja deh. Kita sarapan dulu ya,” jawab Iin sambil mengedipkan mata.
Arini mengajak suami dan anak-anaknya ke ruang makan untuk sarapan.
“Sebentar, Sayang. Aku ke garasi dulu, ada yang ketinggalan di mobil tadi malam,” tutur Brandon ketika ingat barang yang tertinggal ketika pulang dari bandara.
“Aku tunggu di ruang makan,” sahut Iin sebelum Bran melangkah menuju garasi mobil.
Setelahnya Iin memanggil ayah dan ibu mertua untuk sarapan. Sementara El dan Al terlebih dahulu beranjak menuju ruang makan.
“Bang,” panggil Al dengan raut wajah cemas.
“Kenapa, Dek? Panik banget kayaknya.”
“Motor,” desis Al menatap El.
“Astaghfirullah!” seru El dengan darah seakan surut.
Dia baru ingat dengan motor yang baru dibelikan Sandy minggu lalu. Brandon bisa marah jika melihat kendaraan itu terparkir di garasi.
“Gimana ini, Dek? Papi pasti udah lihat,” bisik El super pelan.
Al menggigit bibir bawah dengan bola mata bergerak tak tenang.
“Anak Mami kenapa belum duduk?” tanya Iin begitu tiba di ruang makan.
El dan Al tersentak mendengar suara Arini. Keduanya memandang wanita itu dengan gugup luar biasa.
Kening Iin berkerut menyadari ada yang tidak beres dengan kedua anak-anaknya.
“Kenapa sih? Tegang banget,” desak Iin ketika tidak mendapatkan jawaban dari mereka berdua.
“I-itu, Mi—” sahut El gugup.
“Mo-mo—”
“Motor yang di garasi punya siapa, Pa?” Terdengar suara Brandon tak jauh dari ruang makan.
Kedua mata El dan Al terpejam erat saat tahu Bran sudah melihat motor itu di garasi.
“Motor?” gumam Arini melangkah ke luar ruang makan.
El dan Al tidak punya pilihan lain, selain mengikuti Arini dari belakang.
“Aku ‘kan udah bilang sama Papa. Jangan belikan barang mewah untuk El dan Al tanpa sepengetahuanku!!” sergah Brandon berdiri di depan ayahnya.
“Papa kasihan lihat El minta motor, Bran. Papa hanya lakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang kakek untuk cucunya,” sanggah Sandy beralasan.
“Nggak bisa gitu, Pa! Ini sama aja Papa nggak hargai aku sebagai orang tua El,” desah Brandon kesal sambil mengusap wajah.
Arini datang menghampiri suaminya dengan kecemasan luar biasa. Dia tahu bagaimana jika Brandon marah. Khawatir juga jika pria itu mengungkit masalah yang sudah berlalu. Pandangan mata cokelatnya beralih ke arah Lisa yang menunjukkan reaksi serupa dengannya.
“Aku udah bilang harus nunggu dulu sampai El punya SIM baru belikan motor.”
“Tapi, Bran. Kamu dulu—”
“Dulu beda dengan sekarang, Pa!!” sela Bran mulai tersulut emosi karena merasa tidak dihargai sebagai kepala rumah tangga dan orang tua dari El.
Iin mengusap punggung suaminya mencoba menenangkan. “Kita ke atas sekarang ya. Nanti dibicarakan lagi kalau kamu udah nggak marah,” saran Iin berbisik.
Bran menggeleng tegas. “Ini nggak bisa dibiarkan terus-terusan, In. Bisa kacau pola asuh kita jika Papa Mama memanjakan mereka.”
“Bran,” risik Arini menggelengkan kepala. Dia tahu apa yang akan diucapkan Bran setelah ini pasti bisa melukai hati kedua orang tuanya.
“Hal ini yang aku takutkan kalau kita tinggal seatap dengan Papa Mama. Aku pernah bilang sama kamu sebelumnya, ‘kan? Lihat! Sekarang kejadian.” Brandon tampak begitu kesal sehingga kulit putihnya memerah. Tampak juga kilat kemarahan di mata sayunya.
Iin hanya mengatup bibir erat ketika ingin merespons perkataan Bran. Dia tidak boleh menegur suaminya di depan anak-anak dan mertuanya.
“Kita harus pindah dari sini! Aku akan cari rumah hari ini juga,” pungkas Brandon sebelum berlalu dari hadapan mereka semua.
Bersambung....

Komentar Buku (157)

  • avatar
    AnhKim lê thi

    hay

    4d

      0
  • avatar
    Riski Ajwari

    mantap

    07/11

      0
  • avatar
    Prawulan SiwiOktavia Galih

    Cerita sangat menarik

    29/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru