"Selamat datang kembali, Hoshikawa Reiji-sama." Pintu kastil terbuka, tampak seorang laki-laki-yang usianya terlihat tak jauh beda dari laki-laki yang menggendong Asami-berdiri menyambut kedatangan mereka. Atau lebih tepatnya menyambut kedatangan laki-laki yang dia panggil "Hoshikawa Reiji-sama." Ekspresinya tampak begitu terkejut melihat Asami yang masih berada dalam gendongan tuannya. Namun dia tak berkata sepatahpun. Sebaliknya laki-laki itu mundur teratur, mengerjakan entah apa yang diminta oleh Hoshikawa Reiji melalui isyarat matanya. Hoshikawa Reiji membawa Asami ke dalam mansionnya, menurunkan gadis itu dengan hati-hati di atas sofa dalam sebuah ruangan temaram yang hanya diterangi cahaya lilin dan sedikit cahaya dari luar yang masuk melalui jendela kaca kecil dan sempit di sudut ruangan. Aneh sekali melihat lilin itu menyala saat hari masih terang. Tak lama setelah itu, laki-laki yang sebelumnya menyambut kedatangan mereka, masuk membawa nampan berisi lap dan perban yang tergulung rapi. "Saya membawakan apa yang Anda minta," ucapnya. Hoshikawa Reiji menerimanya lalu, "tinggalkan kami berdua, Kazuma," ucapnya yang lebih terdengar seperti sebuah perintah. Kazuma menuruti perintah tuannya dengan patuh. Laki-laki itu membungkuk dengan hormat ke arah Reiji dan Asami lalu berjalan keluar. Sosoknya lantas menghilang dari pandangan seiring dengan suara pintu yang tertutup. Reiji mengambil lap yang dibawakan oleh Kazuma untuk membersihkan luka di kaki Asami. Namun belum sempat dia melakukannya, Asami menepis tangannya dengan kasar hingga lap itu terjatuh. "Jangan sentuh aku!" bentak Asami, yang telah berhasil mengatasi rasa takutnya. Reiji mengabaikannya. Dia mengambil lap yang lain dari atas nampan. Satu tangannya menahan Asami yang masih terus berusaha memberontak. Sedangkan tangan yang lainnya menyeka luka gadis itu. "Kubilang jangan sentuh aku!" Sekuat tenaga Asami mendorong laki-laki itu hingga terjatuh. "Kau! Gadis tak tahu terima kasih!" ujar Reiji dengan nada tajam. "Memangnya kenapa?! Aku tak pernah meminta pertolonganmu!" balas Asami tak kalah tajam. Iris emeraldnya menatap obsidian milik Reiji dengan tatapan menantang. Asami berdiri dari duduknya, hendak bermaksud menuju pintu. Namun belum sempat dia melangkah, Reiji sudah menahan tangannya lebih dulu. "Lepaskan aku!" "Tidak akan," balas Reiji singkat. Dia memaksa Asami kembali duduk, sementara dirinya membalut luka di kaki gadis itu dengan perban. Saat sedang membalut luka Asami, lagi-lagi, aroma darah gadis itu menggodanya. Aroma itu begitu manis, membuatnya ingin mencicipinya. "Kenapa kau melakukan ini padaku?" Reiji mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan Asami. Iris obsidiannya menatap iris hijau jernih Asami sebelum akhirnya tatapannya beralih ke leher putih milik gadis itu. "Biarkan aku kembali," ucap Asami lagi. Namun Reiji tak menghiraukannya. Atau lebih tepatnya, tak mendengarkannya karena pandangan laki-laki itu fokus pada leher Asami. Tenggorokannya terasa begitu kering. Dan aroma darah gadis itu semakin menggodanya. Sebelum Asami sempat menyadarinya, Reiji mendekatkan dirinya ke arah Asami dan mendorongnya pelan hingga tubuh gadis itu membentur sandaran sofa. "Apa-apaan-" Asami terperanjat saat menyadari Reiji kini hanya berjarak beberapa senti darinya. "Apa yang kau lakukan?!" "Menyingkir dariku!" "Lepaskan aku!" Ucapan Asami terdengar samar di telinga Reiji yang sepenuhnya tak sadar karena aroma darahnya. Wajahnya semakin dekat dengan leher Asami. Gadis itu bahkan bisa merasakan hembusan napas Reiji di lehernya. "Kumohon, jangan lakukan ini," ucap Asami tepat ketika taring runcing milik Hoshikawa Reiji menancap di lehernya. Asami merasa sekujur tubuhnya membeku, sementara lehernya-tempat di mana Reiji menancapkan taring vampirnya-terasa panas. Dia berusaha melepaskan diri. Namun tangan kekar Reiji mengunci tubuhnya, membuatnya tak bisa bergerak. Lehernya kini terasa ngilu saat taring laki-laki itu semakin dalam menusuk kulitnya. "H-hentikan!" Asami meremas rambut raven Reiji dengan kasar, tak kuat dengan rasa sakit di lehernya. Namun Reiji tak bergeming. Laki-laki itu terus meminum darahnya dengan rakus. "Hh-hentikan, k-kumohon." Kali ini dia berhasil mendorong dada Reiji menjauh, membuat laki-laki berhenti meminum darahnya. Reiji menarik wajahnya dari leher Asami. Untuk sesaat rasa bersalah tersirat di mata merahnya saat melihat wajah pucat gadis di hadapannya. Jika saja Reiji tak berhenti, mungkin saja gadis ini akan kehabisan darah. Asami memegang lehernya yang terluka dan memandang Reiji. Sisa-sisa darahnya menetes dari ujung taring Reiji yang runcing, membuat Asami merasa jijik. "Aku membencimu!" ucap Asami sebelum kehilangan kesadarannya. Reiji menatap Asami yang kini tak sadarkan diri. Sungguh, dia tak bermaksud melukai gadis itu. Hanya saja dia tak dapat menahan diri. "Maaf." Reiji menundukkan wajahnya tepat di atas wajah Asami yang pingsan. Begitu dekat, hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Tak lama setelah itu, Reiji menarik wajahnya menjauh. Jemarinya kini menelusuri wajah pucat Asami, lalu memeluk tubuh pingsan gadis itu dengan erat. Mengapa kau harus bertemu denganku sebagai seorang manusia? Reiji membersihkan sisa darah di leher Asami yang terluka akibat taringnya. Tatapan obsidiannya dipenuhi rasa bersalah ketika melihat dua titik berwarna merah di leher putih gadis itu. "Maaf," bisik Reiji menyentuh bekas luka itu. Irisnya menyala merah, aroma itu kembali menggodanya. Namun kali ini dia mampu menahan diri untuk tak membenamkan taringnya di bagian lain leher Asami. Dibalutnya luka Asami dengan perban hingga seluruh bagian leher gadis itu tertutupi. Reiji lalu mengangkat tubuh pingsan Asami dan memindahkannya menuju kamarnya. Dengan hati-hati dia membaringkan Asami di atas ranjang king size miliknya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya. Sorot mata yang selalu menatap lawannya dengan dingin itu kini terlihat sedikit sendu. "Lepaskan aku. Kumohon...." Asami mengigau dalam pingsannya. Air mata mengalir dari kedua kelopak matanya yang masih tertutup. Reiji menyekanya dengan telunjuknya. Layaknya seorang kekasih, dia mengelus kepala Asami dengan sayang. Tatapan matanya melembut. "Bagaimana mungkin aku melepasmu? Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihat mata indahmu kembali. Meskipun kau muncul dengan keadaan yang tak sesuai dengan harapanku, aku tak ingin kehilanganmu lagi." Reiji menunduk di atas wajah gadis itu lalu mencium bibir tipis milik Asami. Reiji memejamkan kedua onyxnya, menikmati perasaan hangat yang menyelimutinya. Perasaan ini, telah lama dia merindukannya. Rasa hangat yang memenuhi dirinya, hanya gadis itu yang mampu membuatnya merasa seperti itu. Selalu. Selamanya. Reiji mengakhiri ciumannya. Tangannya mengusap tanda berbentuk diamond kecil di kening Asami yang muncul karena ciumannya. Kini sebuah ikatan yang tak kasat mata muncul di antara keduanya. Mereka kini terikat satu sama lain dan hal itu tidak akan bisa terputus oleh apapun, kecuali kematian. Di manapun gadis itu berada atau sejauh apapun dia pergi, maka Reiji akan selalu bisa menemukannya. Dia paham betul dengan konsekuensi dari perbuatannya. Namun tekad Reiji sudah bulat. "Dengan ini, kau adalah milikku. Dan aku akan melindungimu." Dia kembali menunduk di atas wajah Asami, kali ini mencium keningnya, dan setelah itu Reiji pergi meninggalkan kamarnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
nice
31/10/2024
0semakin penasaran
17/09/2024
0kak lanjutin pls, nunggunya sampe lumutann😭😭
21/06/2024
0Lihat Semua