“Aish, kau mengagetkanku! Aku tahu ini rumahmu, tapi ini adalah kamarku. Setidaknya masuklah dengan cara normal!” omel Asami saat Reiji muncul secara tiba-tiba di dalam kamarnya. Laki-laki itu tampaknya baru saja kembali karena dia melihatnya masih mengenakan jubah yang sama seperti hari sebelumnya. “Bagaimana perjalananmu? Apa semua urusannya terselesaikan dengan baik?” tanya Asami. Reiji tak menjawab. Laki-laki itu melangkah menuju tempat tidur Asami dan menjatuhkan badannya di sana. “Hei, kembali ke kamarmu! Jangan tidur di sini!” protes Asami. Reiji mengabaikan protesnya dan tetap tak beranjak dari tempatnya. Kedua kelopak matanya terpejam menyembunyikan iris kelamnya. Asami menghela napas pendek. Mungkin dia lelah. Ya sudahlah, kubiarkan saja dia tidur di sini, batin Asami. “Ya sudah kalau kau tidak mau bangun, istirahatlah! Aku akan ke tempat Yuka-san,” ujar Asami pada akhirnya. Dia membalikkan badan. Namun belum sempat Asami melangkah, Reiji sudah menarik tangannya hingga dirinya terjatuh tepat di samping Reiji yang sedang berbaring. “Apa yang—hei lepaskan aku!” ujar Asami saat kedua lengan Reiji memeluknya dari belakang. Bukannya menurut, Reiji malah semakin mengeratkan pelukannya. “Hoshi—” “Diamlah seperti ini sebentar saja. Aku lelah,” lirih Reiji. Kali ini dia melonggarkan pelukannya agar gadis itu dapat bernapas dengan lega. Sementara itu Asami yang berada dalam pelukan Reiji hanya bisa berdoa agar jantungnya tak melompat keluar. Pasalnya sejak Reiji memeluknya Asami bisa merasakan jantungnya berdetak kencang tak karuan. “Hoshikawa-san, kau tidur?” tanya Asami setelah laki-laki itu memeluknya cukup lama. Tak ada jawaban dari Reiji, yang terdengar hanya alunan napasnya yang berhembus teratur, membuat Asami yakin laki-laki itu memang sedang tertidur. Asami melepaskan lengan Reiji yang masih memeluknya dengan hati-hati agar tak membangunkan laki-laki itu. Setelah itu dia sendiri bangun dari posisi berbaringnya dan duduk di sebelah Reiji. Emeraldnya menelusuri setiap inchi wajah Reiji yang sedang terpejam. Reiji tertidur layaknya seorang bayi, begitu tenang dan ekspresi di wajahnya begitu damai. Tanpa sadar kedua sudut bibir Asami terangkat membentuk senyuman. Dia tersenyum menatap Reiji yang tertidur dengan begitu nyenyak. Ekspresinya terlihat damai sekali, batin Asami. “Oyasuminasai—selamat tidur, Tuan Muda.” Asami berbisik pelan lalu keluar dari kamarnya. Seperti biasa jika tak berada di kamarnya Asami menuju lantai satu kastil Hoshikawa, menemui Yuka yang biasa berada di sana sekedar untuk mengajaknya mengobrol. Namun begitu tiba di bawah suasana di lantai satu pun terlihat sepi, padahal biasanya Yuka atau Kazuma selalu berada di sana. Namun kali ini Asami tak bisa menemukan kedua pelayan kastil Hoshikawa itu. Apa Yuka-san sedang keluar? pikir Asami bertanya-tanya. Haah … sekarang apa yang akan kulakukan di sini? Reiji sedang tidur, Yuka-san tak di sini, aku juga tak melihat Kazuma-san. Rasanya membosankan sekali. Asami melangkah menuju sofa hendak mendudukkan diri di sana. Namun sebelum itu pandangannya tertuju pada vas bunga yang berisi mawar dengan berbagai warna. Melihat mawar-mawar itu Asami teringat pada ucapan Yuka beberapa hari sebelumnya. “Mungkin Anda belum melihatnya, tetapi seluruh mawar di mansion ini....” Asami kemudian berjalan menuju pintu. Sinar matahari terlihat menyilaukan begitu dia tiba di luar. Asami mendongak sebentar melihat langit biru yang terlihat begitu cerah tanpa awan. Lalu setelah itu dia kembali melangkah menuju petak-petak mawar yang tumbuh mengelilingi area kastil Hoshikawa. Itu pertama kalinya Asami melihat dengan jelas bagian luar kastil. Tempat itu sangatlah asri. Rumputnya begitu hijau dan subur serta terlihat begitu rapi seolah rutin dipotong setiap saat. Setiap petak halamannya penuh dengan bunga mawar dengan berbagai warna. Merah, putih, orange, merah muda, kuning, bahkan hitam. Asami berlari kecil menuju petak mawar hitam yang sedang bermekaran. Irisnya menatap mawar hitam itu dengan tatapan kagum. Warna hitamnya membuat mawar itu terlihat begitu elegan. Itu pertama kalinya Asami melihat bunga mawar dengan warna hitam. Dia juga tak tahu kalau mawar itu juga bisa tumbuh di sini. Selama ini di buku yang dia baca mawar hitam tumbuh di suatu tempat yang bernama Burugaria. Sebuah tempat yang Asami tak ketahui di mana letaknya, tapi pastilah itu tempat yang sangat jauh. Puas melihat mawar hitam itu, Asami kembali berkeliling. Kali ini telinganya menangkap suara air bergemericik dan ternyata tak jauh dari tempatnya terdapat sebuah kolam hias berukuran sedang lengkap dengan pancuran air mancurnya. Di sekeliling kolam itu penuh dengan bunga lili yang sedang bermekaran. Asami membawa langkahnya ke sana. Air di kolam itu terlihat begitu jernih menggodanya untuk mencelupkan tangannya ke sana. Pada akhirnya Asami memasukkan tangannya hingga membuat permukaan air yang semula tenang sedikit bergejolak. Puas bermain air Asami duduk di bangku kayu yang ada di dekat kolam. Dia memejamkan mata menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi. “Kau sedang apa di sini?” Asami membuka matanya dan mendapati Reiji kini sudah berdiri di depannya. Entah sejak kapan laki-laki itu terbangun dari tidurnya. “Ah, kau sudah bangun,” ucap Asami. “Hn,” gumam Reiji pelan, dia kemudian ikut duduk di samping Asami. “Kau sedang apa?” ulang Reiji. “Hanya melihat-lihat,” jawab Asami. “Souka—begitu.” “Ne Hoshikawa—” “Reiji.” “Eh?” “Panggil aku dengan namaku. Jangan terus-terusan panggil aku Hoshikawa-san,” ujar Reiji. “Tapi itu tidak sopan, memanggil seseorang yang lebih tua langsung dengan namanya,” balas Asami. Sengaja gadis itu mengucapkan kata ‘tua’ dengan penuh penekanan. “Memangnya kau tahu usiaku yang sebenarnya? Lagi pula kalau mengikuti usia manusia normal, umur kita tak jauh beda,” sanggah Reiji. “Tonikaku—pokoknya, aku tak mau dengar kalau kau memanggilku Hoshikawa-san.” “Hai’, hai’, Reiji-san.” “Reiji-san? Apa-apaan itu!?” Alis Asami berkedut kesal. “Kau bilang aku harus memanggilmu dengan namamu, kan? Sekarang apa lagi masalahnya?” “Jangan pakai embel-embel san!” “Reiji.” “Huh? sopanlah sedikit, bukankah kau sendiri bilang tak sopan memanggil seseorang langsung dengan namanya?” “Kalau begitu Reiji-sama.” “Aku lelah dengan panggilan itu. Semua orang memanggilku begitu.” “Kami-sama, ini hanya masalah panggilan kenapa kau ribut sekali sih?!” sungut Asami kesal. Betapa tidak kesal, mereka beradu mulut tidak jelas hanya karena masalah nama panggilan. Ingin rasanya Asami menonjok makhluk tampan yang sedang duduk di sampingnya itu namun dia menahan diri. Asami tak mengerti mengapa laki-laki ini selalu bertingkah out of character di depan dirinya. Padahal jika itu orang lain Reiji tak akan melepaskan ekspresi dingin dan angkuh yang menjadi andalannya. “Kalau begitu aku harus memanggilmu apa? Reiji-kun?” ujar Asami ragu. Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah lain. Entah mengapa jantungnya kembali berdegup kencang saat menambahkan kata ‘kun’ di akhir nama Reiji. “Aa, mulai sekarang panggil aku begitu.” Reiji tersenyum tipis meskipun Asami tak dapat melihatnya karena wajahnya masih memandang ke lain arah. Orang ini, dia pasti sengaja melakukannya, batin Asami gemas. Angin bertiup sepoi-sepoi entah mengapa membuat Asami merasa mengantuk padahal hari baru saja beranjak siang. Gadis itu menguap kecil sambil menutup mulutnya. “Kembalilah ke kamarmu kalau kau mengantuk,” ucap Reiji yang ternyata melihatnya menguap. “Aku tak apa,” elak Asami. “Sinar mataharinya semakin terik. Kudengar terlalu lama di bawah sinar matahari akan membuatmu terkena radiasi atau apalah itu.” Asami yang mendengar ucapan Reiji tertawa kecil. Dari mana dia tahu hal seperti itu? pikir Sakura. “Kenapa kau malah tertawa?” tanya Reiji dengan nada heran. “Tidak, hanya saja aku tak menyangka kau bisa mengatakan hal seperti itu. Tunggu, bukankah para vampir diceritakan takut dengan sinar matahari?” Asami balas bertanya. Menurut buku yang dia baca kan begitu. Para vampir akan berubah menjadi debu jika terkena langsung dengan sinar matahari. Namun Reiji tetap baik-baik saja meskipun sudah cukup lama duduk di bawah terik matahari. Dan jangan lupakan juga kalau beberapa hari yang lalu Reiji mengajaknya keluar di siang hari bolong. “Kau pikir hidup selama ratusan tahun tidak membuat kami melakukan apa-apa? Tentu saja selama itu kami selalu berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan. Sinar matahari, bawang putih, dan salib sekarang bukanlah hal yang kami takuti lagi,” jelas Reiji. Dia beranjak dari bangkunya lalu melangkah ke dalam kastilnya. Di belakangnya Asami berlari kecil mengikuti langkah laki-laki itu. “Hanya saja ada satu hal yang sampai sekarang harus kami hindari,” lanjut Reiji setelah tiba di dalam. “Apa itu?” “Senjata anti vampir yang terbuat dari perak. Sekali senjata itu menusuk vampir di bagian jantungnya, maka mereka tak akan bisa beregenerasi lagi dan berakhir menjadi debu. Lalu kalau menyentuhnya, senjata itu akan meninggalkan bekas,” ujar Reiji. Pandangannya kemudian tertuju pada bekas kemerahan yang masih terlihat dengan jelas di telapak tangannya. “Kalau begitu bekas kemerahan di tanganmu, apa itu karena senjata yang kau maksud?” tebak Asami yang tak sengaja melihat tangan Reiji. Laki-laki itu mengangguk tanpa suara. Tanpa sadar Asami menghela napas pelan. “Aku tak tahu apa yang kau lakukan di luar sana. Tapi kurasa sebaiknya kau harus berhati-hati,” ucap Asami dengan nada pelan. “Kau sekarang sedang mengkhawatirkanku?” Reiji menyeringai. “Khawatir? Pfft… untuk apa?” elak Asami. Meskipun begitu semburat merah tipis muncul di pipinya. “Arigatou.” “Sudah kubilang aku tidak—” Ucapan Asami tertahan di udara saat melihat Reiji tengah tersenyum dengan lembut ke arahnya. Ekspresi laki-laki itu terlihat begitu tulus, membuat jantungnya kembali berdetak kencang tak karuan. “Asami.” Lalu sebelum sempat menjawab dia kini sudah berada dalam pelukan Reiji. “Reiji-kun?” Mendengar Asami yang memanggil namanya, Reiji mengeratkan pelukannya. “Apapun yang terjadi, berjanjilah kalau kau tak akan pergi,” bisik Reiji. Asami mengernyitkan alisnya, bingung dengan tindakan dan ucapan Reiji yang tiba-tiba menjadi melankolis. “Apa maksudmu? Memangnya apa yang akan terjadi?” “Apapun bisa terjadi, karena itu berjanjilah kalau kau tak akan menghilang secara tiba-tiba.” “Baiklah, aku berjanji,” ujar Asami pada akhirnya walaupun dia masih tak mengerti maksud ucapan Reiji. Aku tak ingin kehilanganmu lagi untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup di masa lalu aku tak bisa melindungimu. Kali ini aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
nice
31/10/2024
0semakin penasaran
17/09/2024
0kak lanjutin pls, nunggunya sampe lumutann😭😭
21/06/2024
0Lihat Semua