logo text

BAB 18 MEET DENGAN CALON MERTUA

"Raaa banguun", suara itu membuat Rara membuka matanya dan melihat kearah pintu
"Bentar lagii", ucap Rara yang menarik selimutnya berencana tidur kembali
"Raa kalo kamu ga mau bawa sini kartu kredit ayaah dan jangan harap kamu bakal pergii", perkataan itu membuat pagi Rara langsung rusak
"Ancam anaknya teruss yaah", jawab Rara
"Ga ngancem cuma ngingetin"
"Bapak yang meresahhkan", ucap Rara turun dari ranjang dan membuka pintu. Setelah membuka pintu Rara melihat semua keluarganya sudah rapi mulai dari bunda, ayah serta adik adiknya
"Lah mau kemana bun pagi pagi begini", tanya Rara pura pura tidak tahu
"Kan mau ketemu calon kamuu, udah mandi sana", ucap bundanya membelai rambut Rara
"Aku nggak bisa pergi ee.. eee.. soalnyaa(mencoba mencari alasan) nah iyaa soalnya aku belum siapin bajuu"
"Udah tenang ajaa udah bunda siapin kok",
"Eee anuu akuu ee", Rara mencoba mencari alasan namun otaknya seketika susah untuk bekerjaa
"Udaaah mandii sanaa susah amat sii", ucap ayahnya di ruang tamu.
"Aku ga mau pergii, bunda bisa ga sii ngertiin akuu hiks, aku ga bisa kayak ginii aku pun udah punya rencana buat masa depan aku sendiri jadi kalian gausah repot repot ngurusin ituu, aku belum mau nikah apa alasan ayah sama bunda nikahin aku, padahal kan aku masih punya peluang untuk karir akuu", gumam Rara
"Naaak bunda sama ayah itu sayang sama kamuu, bunda maupun ayah ngelakuin ini agar kamu nggak sendirian"
"Jadi bunda anggep aku sendirian?, temen aku banyak bun Tika Monic juga temen aku aku ga sendirian, kalau emang aku sendirian ngapain harus dijodohin kan bisa dicariin temen, kalau emang ayah sama bunda mau aku nikah aku mau nikah sama pacar aku yang sekarang bukan sama temen ayahh", ucap Rara, Rara hanya berbicara asal agar ia tidak dijodohkan.
"Kamu udah punya pacar?", tanya ayahnya
"Udaah"
"Siapa?, kalo emang iyaa bawa dia kesini jam makan malam ayah tunggu dia dan kalau bisaa kalian cepet cepet nikah dan ayah ga perlu jodohin kamu", gumam ayahnya.
"Ayaaaah... ga mungkin lah", Rara merasa termakan dengan omongannya sendiri padahal perkataannya barusan hanya elakan baginya.
"Aku masih fokus cari kerja yahh", ucapnya lanjut
"Kalo ga mau biar ayah jodohin", kata ayahnya dan langsung pergi
"Raa ini kesempatan buat kamuu kamu bisa sama sama dengan orang yang kamu cinta"
"Tapi nggak secepat ini juga bun"
"Dari pada di jodohin?", ucap bundanya dan meninggalkan Rara dikamar sendirian. Rara sangat tak menyangka orang tuanya bisa secepat itu berubah pikiran
"Si Gibran pasti aja dia bakalan mau because emang itu yang dia tunggu tunggu, tapi gue belum mau nikaaah aaa, tapiiii gapapa deh yaa dari pada gue di jodohin si ayah", gumam Rara. Tiba tiba smartphone Rara berbunyi karena adanya panggilan masuk terdapat disana kontak yang bernama "abang abang SMK1" Rara belum sempat mengubah nama kontak itu antara sibuk atau tidak peduli
"Pagiii babyy", suara serak itu bikin mood Rara balik lagii dan merasakan kedamaian
"Pagii bang, baru bangun?", tanyanya
"Hmm", suara nafas Gibran sangat terdengar jelas saat ituu membuat Rara candu dan tidak tahu harus apa
"Jadi pergi kan?", tanyanya lagi
"Jadii kok"
"Truss kok belum siap siap?"
"Hmm bentar lagii yaa masih ngantukk", lagi lagi Rara tergila gila dengan suara serak
"Astagaaa paraahh suaranyaa aaaa", batin Rara. Rara mencoba tenang agar Gibran tak curiga dengannya
"Raa? Kok diaam masih disana kan yaa", tanya Gibran merasakan keheningan
"Mm i..iiyaa, udah giih sana siap siap, aku mau ngomong pentiiing sama kamu nantii, udah dulu daa" sontak Gibran kaget dengan perkataan itu
"Ngomong penting? Ngomong apa?"
"Nantii aja bahasnya, aku udah nunggu kamu, daaa, saranghae", ucap Rara dan langsung mematika sambungan
"Hah saranghe? Apaan tuh", tanya Gibran. Ia langsung membuka google untuk mencari arti dari perkataan itu, toh apa pun pertanyaannya bakal di jawab oleh google
"Hahaha artinya aku cinta kamu, owalahh aaa", Gibran mengetahui arti itu langsung salting ia merasaa cintanya sekarang seperti sudah dibalas oleh Rara.
Rara sedang bersiap siap namun Gibran sudah sampai di rumah Rara. Sambil menunggu Rara, ayah dan Gibran pun berbincang
"Kamu pacar Rara?", tanya ayahnya,Gibran bingung menjawab apa karena Rara sendiri belum mengenalkan Gibran kepada kedua orang tuanya
"Kok diem?"
"Ii.iiya om saya pacarnya Rara",
"Mmm kamu serius ga sama anak saya"
"Iyaa omm saya serius banget sama anak om yang satu inii", ucap Gibran sepertinya ia tak main main dengan omongannya
"Oke, kalau begituu kamu mau nggak ngelamar dia"
"Oh tentu om saya mauu", ucap Gibran bahagia ia tak percaya kalau ayah Rara sudah merestukan hubungan mereka
"Kita bahas nanti pas makan malam, kamu kesini ya", gumam ayah Rara dan langsung masuk kedalam
"Beneran om, oke om saya akan dateng nantii", ucap Gibran sangat senang ia merasakan bagaimana bahagianya keluarga mereka nanti setelah menikah
"Bang udah yukk", ucap Rara tiba tiba keluar
"Ayuuukk"
"Wait? Kamu kenapa keliatannya seneng bangett", tanya Rara
"Nanti aku ceritain, silahkan masuuk sayaang", ucap Gibran membukakan pintu mobil untuk Rara. Sepanjang jalan Gibran terlihat dari wajahnya kalau ia saat itu sedang bahagia
"Bang kamu kenapa sii", tanya Rara yang masih bingung dengan kebahagian Gibran
"Raa kamu mau tunangan dulu apa langsung nikah?", ucap Gibran membuat Rara semakin merasa bingung
"Maksud kamu?", tanyanya
"Iyaa ayah kamu udah ngerestuin kita berduaa tauu", ucap Gibran memegang erat tangan Rara
"HAH! Ayah udah ngomongin itu ke kamuu?", ucap Rara tak pecaya secepat itu ayahnya memberi tahu Gibran
"Gercep banget si ayah", batin Rara
"Iyaa Raa, kamu mau kan nikah sama aku?"
"Mau lah bang, aku sayang, cinta sama kamuu", ucap Rara tersenyum. Perkataan itu membuat Gibran sudah tak sabar akan malam pertama
"Aaaaa udah ga sabaarrr", ucap Gibran menggoyang goyangkan tangan Rara
"Mesum baahh", tebak Rara langsung
"Aku kenalin kamu ke papa aku ya"
"Bang kamu yakin?", tanya Rara
"Iyaa Raa masa enggak sii"
"Nggak maksud akuu kamu yakin mau nikah sama aku"
"Yakiin sayangg, ada ada aja kamu mah"
"Yakin kamu yakin kan sifat aku random loo, ntar kamu nyesel"
"Ngomongnya ngaur, aku ga tau cara definisiin sayang, cinta, peduli aku ke kamu, okee dalam suatu hubungan pasti ada yang namanya kecemasan, keraguan, ketidak pastian itu semua membuat hubungan menjadi hancur, jadii kamu buang itu jauh jauh dan kita jalanin", ucap Gibran
"Hmm", Rara tidak tau harus apa sekarang ia hanya mengikuti alur hidupnya yang penting ia sekarang bersama sama dengan Gibran
Akhirnya mereka sampai di rumah Gibran. Pertama kali bagi Rara untuk datang kesini,ia melihat pagar rumah yang panjang dan tinggi, saat Gibran mengklakson pas di depan pagar pagar itu pun langsung di bukakanboleh dua orang satpam. Gibran mengajak Rara keluar dan membukakan pintu untuk Rara, Rara masih merasa cemas dia tidak tahu apakah keluarga Gibran mau menerimanya atau tidak
"Ayo gapapa kan ada aku", ucap Gibran menjulurkan tangannya kearah Rara, Rara langsung meraih tangan dingin itu dan mengikuti Gibran
"Paaah, liat aku bawa siapa", teriak Gibran mendongak ke lantai atas
"Gibran kamu udah pulang aja", ucap seorang laki laki yang bertubuh tegap, gagah dan mirip dengan Gibran
"Liat aku bawa siapa", ucap Gibran melihat kearah Rara, Rara lagi lagi tak tahu harus apa ia hanya melihat papa Gibran dan tersenyum kearah lelaki itu
"Ohh ini yang namanya cewe tengil", ucap papa Gibran membuat Rara langsung melirik kearah Gibran
"Papa bukan namanya Rara, kenalin Rara ini papa aku", ucap Gibran
"Hai om kenalin aku Rara", ucap Rara bersalaman dengan lelaki itu
"Saya Richard papanya pacar kamu", ucap om tampan itu tersenyum kearah Rara
"Oh iyaa silahkan duduk"
"Iya om terima kasih", ucap Rara masih memegang tangan Gibran mungkin kalau ada apa apa saat ini ia hanya bisa berlindung kepada Gibran
"Gib kamu ambilin air sana, kamu mau minum apa?", tanya nya kepada Rara
"Terserah aja om"
"Aku ambilin sirup yaa tunggu, papa jangan apa apain pacar aku", ucap Gibran berlari kearah belakang, mereka pun tertawa kecil dengan aksi Gibran
"Kamu tau nggak Gibran itu sayang banget sama kamu, dia nggak mau di jodohiin cuman karena kamu, sebenarnya hari ini adalah hari dimana om sama dia pergi buat ketemu calonnya, dia tetap berontak dia ga mau dijodohin karena dia udah punya jodoh sendiri katanya, maaf sebelumnya om ngomong ini ke kamu agar kamu tauu betapa cintanya Gibran ke kamu,kamu beruntung banget", bisik papa Gibran, Rara tak percaya dengan semua itu,
"Emang om ngejodohin Gibran sama siapa?", tanya Rara kepo bukannya sedih mendengar itu
"Samaa sahabat om, kita udah janji bakal jodohin anak kita, tapii yaa mau gimana Gibran ga mau dan barusan sebelum kamu dateng temen om juga bilang anaknya ga mau di jodohin, mungkin kalian memang berjodoh", ucap papa Gibran, sangat kebetulan sekali Rara juga ingin di jodohkan tapi tidak jadi begitu pun Gibran
"Nama sahabat om siapa?", tanya Rara yang merasakan sesuatu yang ganjal
"Namanya..."
"Ini Raaa, silahkan diminum", ucap Gibran yang tiba tiba datang membuat Rara semakin penasaran dengan jawaban dari papa Gibran
"Hmm silahkan minum, om pergi dulu yaa soalnya masih ada urusan", ucap papa Gibran pergi
"Ta tapii om" Rara ingin tau siapa nama sahabat papa Gibran
"Nanti kita bicara lain waktu yaa", ucap papa Gibran yang sudah keluar dari pintu
"Udah Raa kapan kapan kita ngobrol sama papa lagi, udah minum dulu", ucap Gibran, Rara hanya mengangguk dan minum
"Oiyaa bang mama kamu mana, kamu pengen ketemu"
"Mama udah meninggal", ucap Gibran tersenyum mengenang sang ibu
"Ih seriuss? Aku turut prihatin, kapan bang?", tanya Rara
"Iya Ra gapapa, mama meninggal pas aku tamat SMK karena sakit"
"Papa kamu masihh....", tanya Rara, Gibran pasti mengerti apa yang di maksud Rara
"Udah nggak, semenjak mama gaada papa udah berubah, dan yang pastinya nyesel", ucap Gibran
"Kamu kuat banget sii bang aku bangga sama kamu, oiyaa kamu mau di jodohin ya"
"Lah!! Papa cerita ke kamu? Parah si papa, padahal papa udah janji gabakal cerita ke siapa siapa soal ini kalau aku udah kenalin kamu ke papa", ucap Gibran kesal
"Udah lah gapapa kok"
"Kamu ga marah kan? Kan aku milih kamu Raa pliss jangan marah yaa sayang", ucap Gibran memohon kepada Rara dan memegang tangan Rara, merengek seperti anak kecil yang ingin meminta jajan
"Ya marah lah, kenapa kamu ga kasih tau aku, masalah perjodohan ini?"
"Aku ga mau kamu kepikiran, biar aku yang nyelesain masalah aku sendiri kamu gausah ikut ikutan, udaah itu aja udahlah jangan marah lagii calonn istri kuu hihi",
"Ii apaansi", ucap Rara geli dengan perkataan Gibran yang terakhir
"Kan emang iyaa"
"Terserah kamu deh, baang aku boleh ga ke makam mama kamu", pinta Rara
"Mm boleh, sekarang mau?", tanya Gibran
"Iya ayuuk", ucap Rara dan Gibran pun langsung keluar dan diikuti oleh Rara. Gibran langsung membawanya ke makam tempat mamanya di kuburkan, mereka berdoa dan meminta persetujan karena akan menikah
"Udah kemana lagi kita", tanya Rara masuk mobil
"Bandara"
"Bandara?, ngapain?", tanya Rara heran
"Kamu ga jadi ngeliat konser?", ucap Gibran membuat Rara tak percaya Gibran tahu kalau ia ingin pergi padahal ia belum memberi tahu Gibran
"Lah kok kamu tau"
"Apa si ra yang aku ga tau tentang kamu", Gibran membuat Rara kebingungan
"Udah gausah bingung, anggep aja itu rasa perhatian aku ke kamu"
"Bu... bukan masalah itu bang ta..tapi... aaah udahlah"
Mereka langsung ke bandara dan Gibran memesan dua tiket menuju jakarta
"Duaa?", tanya Rara
"Iyaa satu untuk kamu dan satu untuk aku", ucap Gibran memberikan salah satu tiket itu kepada Rara
"Kamu pergi juga"
"Iya lah ga mungkin kan aku biarin kamu sendiri disana"
"Kan ada Monic ada Tika"
"Kan mereka nyusul sebelum mereka nyusul berarti kamu sendirian"
"Ta..tapi kan bang"
"Aku pengen bareng kamu terus babyy jadi pliss jangan ngebantah", ucap Gibran Rara tak tahu harus berbuat apa ia hanya tidak ingin Gibran telalu berlebihan dengannya
"Pokoknya disana jangan pernah ngelarang aku, aku pengen me time disana bang, eh kamu malah ikutt"
"Aku janji gabakal ngelarang kamu, oiyaa keberangkatannya sore, jadi kamu nggak buru buru packingnya"
"Packing? Kita disana cuman beberapa hari Gibraan bawa baju 3 stel aja udah"
"Kenapa sih semua keputusan aku kamu ga pernah dukung malah ngomel", gumam Gibran cemberut. Gibran merasa hari ini Rara sangat berbeda
"Maafin aku,blakangan ini aku lagi banyak pikiran, itu makanya aku pergi, biar bisa refresh", ucap Rara menggosok tengkuknya
"Masalah itu jangan dipikirin di hadapin aja biar cepat kelar", ucap Gibran memegang tangan Rara dan berjalan ke luar dari bandara
"kemana lagi kita?", tanya Rara sepertinya perjalanan mereka sangat panjang hari ini
"Makan kamu ga laper?"
"Lapeer bangeet, kamu perhatian deh", ucap Rara tak sabar menyantap makanan. Setelah makan Gibran mengantar kan Rara pulang, dan ia tak sabar untuk makan malam di rumah Rara bersama keluarganya
"Baang makasii yaa udah ajak aku keliling, aku ga sabar besokk pergii aaa",
"Sama sama, hmm aku udah ga sabar kita liburan bareeng, oiya Raa tadi ayah kamu undang aku buat makan malam", beritahu Gibran kepada Rara
"Hah ayah juga udah bilang ituu? Waw!!" Rara lagi lagi tak percaya dengan kecepatan ayahnya
"Iyaa, aku pulang dulu yaa daa", Gibran menutup kaca mobil dan langsung pergi
"Nggak nyangka gue ayah secepat kasih tau bang Gibran", Sebenarnya Rara tak ingin mengundang Gibran pasti nanti ayahnya menyuruh mereka berdua cepat cepat tunangan atau menikah
"Bun ayah mana?", tanya Rara ke ibundanya
"Ke kantor, skalian bilang ke sahabatnya kalau kamu nggak jadi di jodohin", gumam bundanya yang sibuk dengan televisi
"Nama sahabat ayah siapa sih bun?", tanya Rara ingin memastikan kalau sahabat ayahnya ini bukan papa Gibran
"Namanya eee siapa yaa bunda lupaa", ucap bundanya masih sibuk dengan tontonanya
"Bunda mah nonton teruss makanya lupaa, haha", gumam Rara dan lari ke kamarnya setelah mengatai bundanya. Bunda Rara hanya menggeleng gelengkan kepala dan kembali menonton
"Kalau papa bang Gibraan sahabat ayah bagus dong, kalau nggak pasti sahabat ayah itu udah kecewa banget sama ayah, gue jadi kasian sama ayah.. ehh tapi tapii kalau gue ikutin kemauan ayah pasti gue ga bahagiaa dan bisa bisa stress trus gilaa", batin Rara seakan isi kepalanya sekarang ingin meledak memikirkan itu. Rara membaringkan badannya ke ranjang miliknya sepertinya ia akan tidur sebentar lalu bersiap siap untuk acara makan malam.
Di pertengahan mimpinya smartphone Rara berdering membuatnya bangun dan meraih benda persegi panjang itu
"Hallo"
"Hai sayang, kamu udah siap siap? aku udah hampir sampe nih di rumah kamu", ucap Gibran, lagi lagi Rara ketiduran ia langsung duduk dan merapikan rambutnya
"U..uudah bang udah siap kok nih aku lagi duduk di ruang tamu nunggu kamu", bohong Rara
"Kamu udah nunggu? oke bakal lebih cepat bawa mobilnya", ucap Gibran
"Nggak usah santai aja ntar kamu tabrakan lagi", Rara membuat Gibran agar sampainya lebih lama ke rumahnya agar ia bisa siap sebelum Gibran sampai
"Hmn oke"
"Udah dulu ya aku di panggil bunda nih daa", ucap Rara dan langsung mematikan telepon dan bergegas mandi setelah mandi ia harus mencari pakaian. Style Rara saat ini adalah pakaian simple, pakaian yang kurang cocok di pakai di malam ini, ia memakai kaos oversize dan jeans karena hanya itu pakaian yang banya di lemarinya
"Allahu akbar Raa kamu mau makan malam atau mau pergi weekend, pakaiannya allahu akbar", ucap bundanya yang tiba tiba masuk ke kamar putrinya
"Kenapa bun, kan makannya di sini", gumam Rara
"Kamu tunggu sini", bundanya pun keluar dari kamar, tak beberapa lama pun ibundanya datang membawakan beberapa helai dress
"Aku pakai ini?", tanya Rara melihatkan salah satu dres itu ke bundanya
"Iyaa pasti pas deh di badan kamu", ucap bundanya menyesuaikan baju itu ke badan Rara
"Nggak mau!!"
"Kok ga mauu siih, aneh kamu"
"Bajunya aja kecil begini, kebuka lagi aku ga mau", ucap Rara, tanpa basa basi bundanya itu memberikan semua baju ke Rara dan mendorong Rara pelan kearah wc aga bisa mengganti pakaianny
"Udaah kamu coba dulu aja"
"Tapikan...", Rara hanya bisa pasrah dengan sikap bundanya, ia mengganti kaosnya dengan salah satu dress yang bewarna hitam elegan
"Keknya ini cocok buat gue tapi kok kecil si, mana dadanya ke buka lagi, ah sempit", gumamnya di wc sendirian
"Gimana Raa udah kamu coba, kalau udah keluar deh biar bunda liat", Rara pun keluar pertama kali baginya memakai baju sempit dan terbuka membuat paha, dadanya menjadi dingin
"Waw! Kamu cantik bangett Raa"
"Iyaa tapi sempit bund, trus pendekk, ganti aja yaa", ucap Rara yang ingin kembali ke wc, namun suara ketukan pintu terdengar
"Raa itu sii aduh lupa lagi namanya"
"Siapa yah", tanya bundanya membukakan pintu
"Waah anak ayah cantik banget", gumam ayanya pertama kali juga bagi ayahnya melihat Rara berpenampilan se baik itu
"Sempit yaah", rengeknya
"Namanya juga baju perempuan"
"Baju aku nggak kek gini yaah"
"Udah udah si itu udah datang, siapa nama pacar kamu itu?", bisa bisanya ayah Rara lupa dengan pasangan anaknya
"Gibraan ayah ga tau atau lupaa?", tanya Rara
"Dua duanya, udah udah cepetan gih", ucap bapak itu dan langsung keluar
"Bunda keluar dulu yaa, jangan lupa tambahin make up kamu", ucap bundanya yang juga ikut keluar
"Make up? Tambahin? Kan gue cuman punya bedak sama lipgloss, apa yang harus di tambahin", batin Rara, ia mencoba untuk mengakal ngakalkan agar wajahnya enak di pandang dengan hanya menggunakan lipgloss bewarna ia bisa membuat kemerahan di pipi
"Huuh udah lah yaa gini ajaaa, cantik kok gue", ucap Rara langsung keluar kamar dan menuju ruang makan. Gibran yang melihat Rara dari ruang makan terpesona akan penampilan Rara saat ini
"She soo prettyy oh my god", batin Gibran, ia terus memandangi Rara tak putus membuat Rara jadi salah tingkah dengan Gibran
"Ekhem", batuk fake dari ayah Rara itu membuat Gibran kembali ke alam sadarnya, Rara duduk di samping Gibran
"Ra kamu cantik bangett", bisik Gibran
"Kamu juga ganteng pake jas biasanya baju kaos aja hihi", balas bisik Rara
"Ini mau bisik bisik atau gimana", gumam ayanya membuat mereka seketika terdiam. Ketampanan Gibran terlihat saat ia memakai jas, begitu pun Rara ia malam ini sangat anggun dan feminim siapa pun orang yang melihatnya akan terpesona dengan penampilan itu
"Aduuh sessek dingin pula", batin Rara
"Kamu serius dengan anak saya?", tanya ayah Rara
"Serius om", jawab Gibran tanpa ragu
"Kamu udah tau belum anak saya ini kalo marah suka jambak rambut orang dan kalo ngambek bisa bisa sampe sebulan,sanggup nggak kamu", perkataan ayahnya membuat Rara malu dengan semua orang disana, Rara mengerutkan dahinya kepada ayahnya itu ia tak menyangka akan itu. Gibran hanya menatap Rara dengan senyuman karena ia yakin Rara tidak sebrutal itu
"Ngapai kamu senyum senyum", bisik Rara kepada Gibran dan meinjak kaki Gibran
"Sanggup om saya menerima anak om dengan sebaik baiknya karena saya sangat sayang dan cinta kepada Rara, dan saya juga akan menjaganya sampai kapan pun, saya juga akan ada disampingnya dalam kondisi apa pun, saya tidak akan membuatnya menderita saya janji om", perkataan Gibran itu membuat Rara ingin menikah dengan Gibran, ia tak menyangka Gibran akan merbicara seperti itu kepada orang tuanya
"Janji kamu bisa di pegang?", tanya ayahnya
"Saya menyerahkan anak saya ke kamu bukan tanpa alasan, saya merestui kamu karena anak saya sangat mencintai kamu dan berharap menjadi pendamping hidupnya, sebenarnyaa saya akan menjodohkan anak saya dengan sahabat kecil saya namun.. anak saya tidak mau dia hanya ingin bersama sama dengan kamu. Jadi saya sebagai seorang ayah tidak bisa memaksakan kehendak saya kepada anak saya sendiri pastii nanti ujung ujungnya mereka tidak bahagia dan malah melakukan hal yang tidak tidak", jelas ayah Rara.
Mendengar perkataan perjodohan Gibran terpana ia tidak menyangka nasibnya sama dengan Rara masa depannya sudah di atur oleh orang tua untungnya mereka segera mengenalkan pasangan mereka ke orang tua mereka.. jadi perjodohan itu di batalkan
"Tujuan saya menjodohkan anak saya adalah agar dia memiliki pasangan hidup sesuai tipe yang saya inginkan agar dia bisa bahagia, tapi setelah saya pikir pikir lagii perjodohan bukanlah hal yang tepat untuk membahagiakan mereka. Perjanjian saya dengan sahabat saya hanyalah gurauan masa kecil tapi kebahagian anak saya adalah suatu kebahagiaan bagi saya", gumam ayah Rara lagi.
"Saya berjanji akan membahagiakan dan menjaga anak om", ucap Gibran memegang tangan Rara
"Ya sudah sebelum kita ngibrol lebih lanjut sebaiknya kita makan dulu", ajak ayah Rara
"Marii Gibran dimakan", ucap bundanya kepad Gibran. Setelah selesai makan malam mereka duduk di ruang tamu
"Berarti om tinggal nunggu lamaran dari kamu yaa", ucap ayah Rara yang sudah mulai akrab dengan Gibran
"Iya om secepatnya"
"Yaah harus ya secepat ini, kan bisa nanti nati aja", Rengek Rara ia masih memiliki sedikit kekhawatiran akan pernikahan
"Hmm kamu tunggu apa lagii, Gibran aja udah mau, ayah udah ga sabar nimang cucu", ucap ayahnya.
"Tapiikan aku ingin kerjaa ayaah"
"Kamu bisa kerja di tempat ayah, kamu mau dimana? Di korea? Silahkan ayah nggak masalah",
"Jauh banget Raa", Gibran tak menyangka Rara mempunyai tekat yang kuat untuk bekerja disana
"Nggak masalah kan bang? Abis kita nikah kita kesana", tanya Rara kepada Gibran
"Yaudah ayah masuk dulu ngantuk, om tunggu ya kabar dari kamu Gib", gumam ayah Rara dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Raa jalan yuk", ajak Gibran. Sesekali ia berpergian dengan Rara yang perpenampilan secantik ini
"Kemana, aku ganti baju dulu"
"Gausah sayang, kamu cantik kok pakek ini"
"Tapi sempiit baang"
"Ayook sayang", ucap Gibran menatap Rara
"Huuh oke"
Mereka menaiki mobil Gibran mengajak Rara ke sebuah pantai yang tak jauh dari rumah Rara
"Gak mau keluar, dingiin", ucap Rara
"Hmm oke, kita liat laut dari sini aja", Gibran langsung memutarkan mobilnya kearah laut
"Ngapain lagi nih", tanya Rara yang tak tau harus berbuat apa. Gibran memundurkan kursinya dan mengangkat badan kecil Rara ke pangkuannya ia memegang pipi Rara dan kemudian lanjut ke tengkuk Rara menariknya pelan dan akhirnya lumatan pun terasa dari bibir Rara. Disaat yang seperti ini Rara tak tau harus apa, seperti biasa ia memejamkan matanya
"Is soo ahh, baby, kamu perfect banget malem ini aku suka sering sering yaa, mmpp", Sepertinya Gibran mabuk dengan biibir kecil itu
"aah shitt", batin Rara, ia masih belum bisa membalas itu. Tangan kiri Gibran mulai mengelus paha mulus Rara, membuatnya gelii. Rara langsung memberhentikan aksi Gibran itu
"Udaah ah, huuh sesek bangg", ucap Rara, ia merasakan ada yang ganjal dari bawah Gibran namun Rara hanya diam dan mengehntikannya
"Kamu mah kebiasaan ayooo lah Raaa", Gibran mencoba menari tengkuk Rara kembali namun gagal
"Ga mauu laah", Rara pun pura pura cemberut dan menatap keluar kaca mobil
"Ohh jadi nggak mau", batin Gibran, Gibran membuka jasnya agar bisa leluasa untuk bergerak
"Muah muah muah muah", ciuman pun melayang di seluruh wajah dan lehernya
"Aaa aku diperkosaa tolong", Rara berteriak tapi percumaa tidak ada orang di sana dan kaca mobil Gibran bewarna hitam
"Brisikk pliss kasih akuu satu lagii muah muah kalo nggak aku bakal cium kamu terus muah muah muah"
"Ahakahahaha gelii udaahh pliss udaha aaa jangan leherr GIBRAAAN gelii", Rara tak kuasa menahan tawa karena geli. Walaupun tidak mendapat izin dari Rara, Gibran tetap melumatnya, Gibran tak bisa terus menahan ia sangat candu dengan bibir kecil itu
"What thee fuckk aah udaaah", ucap Rara menghindar dan langsung memeluk Gibran
"Huuh Raraaa ayooo"
"Udah bang nggak kuat akuu, sabar bisa ga siih bentar lagi tau kita nikah", ucap Rara masih memeluk Gibran erat
"Hmm oke, aku bakal bilang ke papa bakal lamar kamuu, dan kita nikah trus kamu bakal milik akuu seeutuhnyaa ga ada yang harus di batasiinn" Gibran mencium bagian belakang telinga Rara ia sudah tak sabar dengan segalanya. Namun Gibran masih meraba raba paha mulus Rara
"Gibraan" Rara langsung melepaskan pelukannya
"Raraaaa", Gibran juga ikut teriak mengikuti Rara
"Kamu bisa nggak sih mandang aku nggak pake nafsuu"
"Kimi bisi nggak sih minding aku nggak piki nifsii", Gibran juga mengulang perrkataan Rara dengan bercanda
"Apaansii, udah ah yuk pulang, males"
"Kamu kalo ngambek gemoy loo ihh makin sayaangg, muah muah", ucap Gibran memeluk Rara dan menciumnya kembali
"Udaah ayook pulaang", Rara pun kembali ke posisi semula dan merapikan menampilannya
"Kamu mau nggak dalam minggu ini kita nikah?", tanya Gibran
"Secepat itu?, aku ga mauu, cepat banget bang"
"Demi kebaikan kamu juga Raa"
"Akuu? Bukannya demi kenafsuan kamuu", ucap Rara sambil memakai seatbeltnya
"Hmm ya itu salah satunya"
"Dasaar"
"Kan demi kamu jugaa"
"kalo kita nikah dalam minggu ini truss aku nggak bisa nonton konser dong yaaah", ucap Rara, Ternyata wanita ini masih peduli dengan konser itu
"Bisa bisanya ke pikiran itu", batin Gibran
"Mm gini aja kan beli tiket konsernya hari sabtu, sekarang hari selasa, nah kita nikah hari kamis kamu mau nggak?"
"Harus minggu ini? Kan bisa habis pulang konser bang"
"Raa kalo kita udah nikah kita bisa sekamar dan aku juga bisa jagain kamu sayang", alasan Gibran yang membuat Rara pusing dengan jawaban itu. Rara hanya diam tak tau apa yang ada dipikiran Gibran saat ini.
"Raa gimana?", tanya Gibran
"Terserah kamu deh yang penting aku tetap bisa nonton konser", ucap Rara
"Hmm okee yeess, aku janji bakal ngurus pernikahan kita secepatnya aaaa", ucap Gibran kembali memeluk Rara"

Komentar Buku (95)

  • avatar
    Karunia Vera

    bagus

    23/01

      0
  • avatar
    HaifaHafiz

    seru

    21/05/2025

      0
  • avatar
    SinulinggaMirna

    bagus

    21/04/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru