"Dari pekerjaan paruh waktu di toko roti. Itu yang pengen lu bilang tadi, kan?" ucap Herman seketika, tidak ingin menutupi bahwa dirinya sudah mengetahui rahasia yang dijaga Kirana selama ini. Kaget dan heran, Kirana memandang Herman seperti melihat sapi terbang." Lu tahu dari mana?" tanyanya. Herman tersenyum tipis." Yang gue nggak tahu hanya satu. Isi hati lu." "Jawab gue, Her." Kirana tidak rela dibuat penasaran. "Setelah lu menjawab pertanyaan gue." Karena Kirana diam, Herman menganggap itu sebagai Iya." Gue nggak yakin, tapi sepertinya gue suka sama lu deh. Menurut lu gimana?" Antara mau ketawa dengan meneriakkan kalimat omong kosong apa ini? Kirana memilih berkata," Itu nggak mungkin, Her." "Nggak mungkin gimana?" tanya Herman. "Gimana apanya?" Kiramna bertanya balik. Pembicaraan mereka berputar-putar. "Kok gue jadi bingung dengan percakapan kita,"ucap Herman. "Sama, gue juga,"Kirana setuju. "Jadi gimana kalau seadainya gue jatuh cinta beneran sama lu?" Herman tiba-tiba mengulangi pertanyaan awal. Jika Kirana sedang makan, makanan dalam mututnya pasti langsung tersembur. "Kenapa balik ke situ lagi, sih? Gue bilang nggak mungkin." "Seadainya, Na. Seadainya suatu hari nanti itu kejadian sama gue. Apa yang akan lu lakukan?" Herman memaksa Kirana menjawab. Sejenak Kirana menatap mata Herman, lalu ia menghela napas. "Mendepak elu pastinya. Menjauh dan berusaha untuk nggak ketemu lu lagi," jawabanya dengan tenang. "Kenapa?" Herman tidak terima. "Kenapa? Yaa karena, karena...," Kirana belum memikirkan alasanya. "Karena apa, Na?"desak Herman. "Karena gue tahu lu seorang playboy. Gue nggak akan jadi salah satu cewek bodoh yng termakan oleh kata-kata murahan lu mengenai cinta." "Muraahan?" Herman tidak suka dengan kata itu. "Iya, murahan. Apa lagi namanya kalau bukan murahan. Hampir setiap cewek yang lu tembak, lu sodorin kata-kata manis, kata-kata cinta, tapi ujung-ujungnya lu mutusin mereka. Lu terlalu mudah ngomong cinta dan terlalu mudah juga meralat kata-kata itu," jawab Kirana dengan lancar. "Kalau gue bilang, lu.beda dengan mantan gue dan lu orang pertama yang bikin gue pengen serius, gimana, Na?" "Gue akan nganggap lu nggak pernah ngomong kayak gitu." Di saat Herman bertampang masam, Kirana tenang dan santai. "Kenapa lu susah banget untuk percaya kalau gue cinta sama lu?" tanya Herman lagi. "Karena sejujurnya, gue mulai merasakan hal yang sama. Tapi gue nggak mau perasaan itu berkembang hingga membuat gue jadi cewek tolol yang akhirnya dikecewakan. Gue lebih suka jadi teman lu selamanya. Dengan begitu hati gue nggak terluka." Kirana sempat tersenyum kecil setelah mengatakannya. Herman sama sekali tidak senang dengan pengakuan Kirana." Menyembunyikan perasaan sama saja dengan menyakiti hati, Na." Kirana menggeleng pelan."Lu salah. Gue melindunginya dari orang yang mahir mematahkan hati." Tatapannya fokus pada Herman."Dari elu." "Apa?" "Lu budek setah pacaran dengan Kirana?" ledek Tiara dengan tampang kesal yang teecetak jelas."Herman baru aja jadian dengan Diana. Dan sekarang dia ke kelas 2IPA 1 menemui Kirana." "Loh, ada urusan apa dia sama Kirana?" tanya Adit. Dipikir sebanyak apa pun, Diana dan Kirana tidak berkaitan. Kenapa Herman malah mendatangi Kirana Setelah dia Jadian dengan Diana? "Mana gue tahu. Pergi dan tanyakan pada Herman," jawab Tiara cuek. Adit langsung berlari keluar kelas, Tiara bengong, tidak menyangka Adit benar-benar mengikuti perkataannya yang menyuruh cowok itu menyusul Herman. Belum dua menit Adit pergi, Tiara gelisah. Akhirnya ia memutuskan mengikuti Herman dan Adit. Sampai di kelas 2 IPA 1, yang dia temui adalah tigaborang yang berdiri dengan ekspresi serius. Adit dan Herman bertampang datar, sementara Kirana memasang wajah dingin. Suasana tegang sangat terasa di kelas itu. "Gue ketinggalan adegan yang menarik?" tanya Tiara. Sebenarnya ditujukan pada Kirana. "Klimaksnya belum dimulai. Bagaimana kalau lu jadi juri di antara mereka. Gue ada keperluan lain yang lebih penting," ucap Kirana. Sengaja memberi tekanan pada saat mengucapkan kata terakhir. Tiara menyerang Kirana dengan sorot mata yang tajam." Lu bercanda?" Kirana tidak jadi menanggapi ucapan Tiara karena Herman lebih dulu baru suara. "Gue mau lu putus dengan Kirana ,"ucapnya pada Adit. Herman terang-terangan menyiram api dengan minyak tanah. Kobaran api kemarahan tidak datang dari satu arah, tapi tiga. Kirana, Adit, dan Tiara. "Lu juga bercanda?" tanya Tiara. Api kecemburuan membakar dirinya. Ia menoleh pada Adit." Lakukan sesuatu, Dit. Ia sudah gila." Keberadaan Kirana menjadi benteng pertahanan Adit. Ia menahan kemarahannya karena tidak mau Kirana menyaksikan sisi buruknya. Adit menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan." Her-" Plak! Seketika Tiara dan Adit melebarkan mata. "Tamparan itu akan mengembalikan akal sehat lu,"ucap Kirana dengan santainya lalu menyeruak Herman dan Adit ke samping dan lewat di tengah mereka sambil bergumam," Gue lapar banget." Seolah tidak terjadi apa-apa. "Na." Adit mencengkeram lengan Kirana ketika cewek itu keluar dari kelas." Pulang bareng gue, ya?" Kirana menyentuh tangan Adit dan menurunkannya." Hari ini gue lagi pengen sendiri, Dit. Kasih gue waktu untuk menenangkan pikiran. Hidup gue udah dipenuhi dengan berbagai masalah. Gue nggak mau lu dan Herman menambahnya lagi." "Jalan dengan gue bikin lu terbebani?" Wajah Adit mendadak murung. Kirana jadi merasa bersalah. "Ehm, bukan itu maksud gue, Dit. Gue hanya perlu waktu untuk menghilangkan beban pikiran gue," ucap Kirana. Tidak tega melihat Adit sedih. "Lu hati-hati aja kalau gitu. Bye." Adit ngeloyor pergi sebelum Kirana membalas. Angel yang menjadi penonton diam-diam menyimak percakapan Kirana dan Adit. Ketika Adit pergi, ia langsung menghampiri Kirana. "Seharusnya lu nggak nolak ajakannya. Dia terlihat kecewa,"protesnya. "Gue juga punya masalah, Njel. Enggak selamanya gue harus peduli dengan orang lain. Ada saatnya gue egois." Kirana menganggap Angel terlalu membela Adit. "Tapi dia melakukannya demi elu. Demi kebaikan elu juga." Angel tidak kehabisan kata mendukung Adit. Kirana menggeram frustasi. "Kebaikan yang mana? Gue menerimanya karena elu yang minta. Lu kira gue nggak tersiksa? Kalau lu peduli dengannya, bukan gini caranya. Menjadikan gue alat untuk membahagiakan dia, hanya memberi dia luka yang lebih dalam ," omelnya. "Jadi menurut lu gue harus melakukan apa? Sementara gue tahu kalau dia hanya menginginkan elu,"jerit Angel. Kelas sudah rapi, tidak ada yang mendengarnya. "Memangnya kenapa kalau dia menginginkan orang lain dan bukan elu? Perasaan manusia selalu berubah-ubah, Njel. Hari ini mengarah pada si A, mungkin besok lusa akan mengarah pada si B. Gue udah mengalaminya. Orang tua gue bercerai juga karena hati mereka berubah,"teriak Kirana. Kendali dirinya telah hilang. Dia muak dengan persoalan hati. Angel menunduk, tidak berani membantah perkataan Kirana. Ketika Kirana mengungkit orang tuanya, luka yang menyertainya muncul. Angel tidak ingin menambah dalamnya luka itu. "Cukup, Njel. Gue nggak mau terseret lebih jauh," tegas Kirana. Keputusannya sudah bulat. "Bagaimana dengan Adit?" Angel bertanya. "Lu pasti tahu jawabannya."Kirana lelah pura-pura. Ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Adit. Percakapan mereka terhenti dengan munculnya Herman. Angel dan Kirana terlihat seperti maling yang tertangkap basah. Kirana langsung berjalan cepat, meninggalkan Angel tanpa pamit. Herman tidak buang waktu dan berlari cepat kebelakang Kirana. Ia menghentikan Kirana dengan cara yang sama dengan kemarin. Menghadangnya dengan memotong jalan Kirana. "Kenapa menghindari gue?" tanya Herman. Agak ngos-ngosan tapi hanya sebentar. "Enggak," bantah Kirana. Herman meraih tangan Kirana dan membalikannya dengan telapak menghadap ke atas." Lu nampar gue dengan ini. Lu ingat? Kejadiannya belum lama." Tentu saja Kirana Ingat. Masih segar dalam ingatannya." Lu mau ngomong apa sebenarnya? Gue buru-buru." Debaran di dadanya bertambah lagi. Ia harus pulang untuk menormalkan kembali. Itulah alasan Kirana ingin segera pergi. "Nggak nyaman mengobrol dengan gue setelah lu tahu yang sebenarnya?" tanya Herman penuh makna tersembunyi. Kirana tidak bodoh dalam membaca artinya. Tapi ia memilih jadi naif." Yang mana? Gue nggak tahu apa pun." "Perlu gue ulangi?" tantang Herman. Keoura-puraan Kirana mengganggunya. Kirana menutup mata sambil mengangkat tangannya. "Nggak perlu. Mulai detik ini gue minta lu nganggap gue sebagai orang asing. Di mana pun, kapan pun. Gue mau kehidupan gue kembali tenang," pintanya dengan nada memohon. Sulit bagi Herman untuk menolak. Namun, menerimanya jauh lebih sulit.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (275)
AshaPrincess
serasa nya cerita ini bagus,sebab dari awal bacaan saya jalan cerita nya menarik..bagaimana kesudahan hidup kirana dan herman..lanjutkn saja bacaan nya..ok
serasa nya cerita ini bagus,sebab dari awal bacaan saya jalan cerita nya menarik..bagaimana kesudahan hidup kirana dan herman..lanjutkn saja bacaan nya..ok
28/01/2022
6ceritanya menarik
03/10/2025
0sangan berkualitas
01/08/2025
0Lihat Semua