Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Dimas, bibir Nadine mengerucut. Genggaman tangannya pada setir kuat menggambarkan kesalnya teramat sangat pada perempuan yang baru dikenalnya. Meski tak diabaikan oleh Dimas tadi, tapi dari cara bicara dan menatapnya lelaki itu sangat jauh berbeda memperlakukan dirinya dibandingkan Rahma. Ia tak menyangka Dimas malah mengajak perempuan yang kini membuat kepalanya panas itu ikut menikmati Es Teller. Makanan kesukaan mereka berdua dulu, terasa jadi makanan yang paling dibencinya kini. Perhatian Dimas pada perempuan itu menurutnya terlalu berlebihan. 'Suka yang mana, Sayang?' “Rahma ditanya, aku mana pernah ditanya begitu?!” decaknya. 'Yang banyak alpukatnya? Uhm, enak itu aku juga samaan, deh.' “Jay kok jadi bucin banget, heran, deh! Pasti perempuan itu ada apa-apanya.” Nadine menggerutu sendiri ketika mengingat semua perhatian Dimas untuk Rahma. Es serutnya dikit aja. Bayangan wajah Rahma yang terlihat minta perhatian makin mengerat genggamannya pada setir. Punyaku samain aja, Bang. Tambah lagi wajah Dimas yang selalu semringah menanggapi. Tatapan untuk Rahma jelas terlihat berbeda, begitu dalam, dan … terlihat tak mau beralih. “Aaarggh!” teriak Nadine lepas. Membuang tiap potongan adegan Dimas dan perempuan yang seketika dibencinya sekarang. “Apa sih kelebihannya tuh orang?” Wajah tanpa terpoles dandanan, belum lagi sikap kikuk dan malu-malu saat digoda membuat hatinya panas membara. Rasa manis dan dingin es di lidah Nadine sepanjang bersama mereka tadi terasa jadi pahit dan panas. Ia tadi tak menghabiskan makanan dengan alasan sakit perut dan minta pulang. “Gue bisa gila lihat Jay gitu. Dasar gatal, udah jand* lagunya kayak gadis perawan!” Ia memukul setir. “Masa gue kalah sama dia?! Liat aja entar!” Sambil menginjak gas dalam, gadis yang usianya sudah pantas untuk menikah dan punya anak ini menyusun rencana merebut Dimas secara elegan. Ia amat tahu pria itu tak bisa dipaksa, tapi dengan cara lain hatinya bisa luruh juga. Senyum tercantiknya mencuat dengan kerlingan mata nakal. * “Makasih, Mbak Dini. Kok sampai kirim hadiah segala buat Azka.” Rahma mendekati wanita yang sedang mengikir kuku. “Hadiah? Buat Azka?” Dahi Dini mengernyit, gerakan tangannya terhenti lalu memandangi Rahma heran. “Iya tadi pas Mbak Dini keluar sama Nadia, ada bapak-bapak baju hitam putih, temuin aku.” Menegakkan badan, Dini memandangi Rahma dengan raut makin bingung. “Gimana, gimana?” Rahma lalu ceritakan tadi, tak lama sepulang ia diantar Dimas. Lelaki paruh baya itu sempat tanya, memastikan ia benar Rahma atau bukan. “Ini ada titipan Mbak Dini minta saya antarkan ke anak Mbak Rahma, saya disuruh minta alamatnya.” Ia pun tanpa pikir panjang mencatat alamat untuk bapak itu sambil mengucapkan terima kasih. Apalagi di kotak mainan anak lelaki itu tertera tulisan untuk Azka. Sempat ia lihat di dalamnya, sebuah mobil mainan ukuran sedang lengkap dengan remote control. “Yang tahu nama Azka ‘kan Mbak Dini sama Dimas aja, jadi aku percaya. Apa itu bukan dari Mbak Dini?” tanya Rahma kemudian. Berpikir sejenak Dini terdiam. “Masa itu dari ….” Ia menggantung dugaannya. Takut salah, tapi juga mungkin terjadi. “Maksudnya … itu Mami Mbak Dini?” tebak Rahma segera diangguki ragu wanita di sebelahnya. Ini serius. Maminya Dimas ternyata sangat penasaran dengan masa laluku …. “Tapi tenang aja, Ra. Berfikir positif aja,” ujar Dini terlihat santai. “Mamiku paling cuman mau tau rumahmu,” lanjutnya menahan senyum. * “Ayolah Safea, aku capek diginiin terus.” Harlan menarik tangan istrinya untuk bangun dari tempat duduk. Bermaksud mengajak wanita yang tengah cemberut itu ikut ke rumahnya. Hesti dan Hasna sudah mengeluh mengurus sang ibu, membayar oran lain pun Harlan tak punya pemasukan tetap. Uang di tangan sayang ia keluarkan untuk jasa suster dari yayasan yang cukup mahal. Ada bini kenapa nggak digunakan? Otak liciknya tak mau kalah. “Kamu cuma duduk temanin Mama, apa salahnya? Kamu itu menantu!” Meninggi suara Harlan menyebut menantu sontak membuat Safea mengangkat wajah. “Iya menantu, bukan babu!” jawabnya ketus. “Siapa yang suruh jadi babu, Sayaaang.” Harlan mengubah nada dengan manja mendesah. “Dua adek Mas Tamvanmu ini lagi sibuk-sibuknya, lah kalau aku tinggal siapa yang jagain Mama coba?” “Biarin!” “Kok, gitu?” Tak tahan mendengar keributan, melihat sikap putrinya itu Bu Tami ikut bicara. “Safea, Bu Mira itu mertuamu. Jangan durhaka. Ikut sana sama suamimu!” “Bu?” “Lakukan.” Bu Tami memasang wajah tanpa ekspresi. “Ibu mau tenang dulu di rumah ini.” “Maksudnya … I-Ibu ngusir aku?” Safea tersinggung. “Ibu hanya mau tenang. Kalian tiap hari ribut. Kasihan Azka. Telinganya! Matanya! Apa jadi dia kalau lihat kelakuan jelek kalian.” “Apa, nih, maksud Ibu?” Harlan ikut panas, ia berdiri menghadap mertuanya itu membalas dengan tatapan menyipit. “Dengar ya, semua. Jangan jadi kacang lupa kulitnya. Ingat pengorbananku, pengorbananku selama jadi menantu di rumah ini.” Harlan berjalan mondar-mandir melewati depan Safea dan ibunya dengan lagak seperti bos memarahi anak buah. “Rumah ini dulu bocor, belum sebagus ini. Kalau bukan aku yang kasih duit siapa coba? Sekarang mulai perhitungan, hah? Kamu juga!” tunjuknya tepat di depan hidung Safea, membuat perempuan itu terkejut. “Apa yang kamu pakai, yang kamu makan itu hasil keringatku dulu, ingat?” Melihat dua perempuan itu terdiam Harlan makin pongah, mengangkat dagu dengan dada dibusungkan, tegap. Seolah raja yang siap menghukum hamba sahayanya. “Sudah, jangan banyak omong, bawa istrimu pergi sekarang!” Bu Tami berhasil menahan mulutnya yang menganga akan kembali bicara. Perempuan paruh baya itu gegas meninggalkan ocehan Harlan yang akan makin menjadi kalau didengarkan. Ah, apa dosaku sampai dua kali bermenantu seperti Harlan itu …? Ia akan keluar rumah menemui Azka yang tengah bermain di pekarangan samping. Setelah mendapat kiriman mainan dari ibunya anak itu seru bermain dengan anak-anak tetangga. Mobil mainan beroda trail itu bergerak diikuti riuh tepukan teman-teman Azka. Sebuah kendaraan berbodi panjang berhenti di depan halaman. Menarik perhatian Bu Tami melihat siapa yang datang. Itu mobil yang kemarin mengantar mainan untuk cucunya. Tak lepas memandang ia menunggu siapa yang akan turun dari kendaraan berkilau itu. Kemudian kaki seorang wanita bersepatu pentofel coklat mengkilap, dengan betis putih bersih. Mata Bu Tami bergerak naik, bertemu wajah wanita paruh baya bertahi lalat cukup besar di atas bibir. Dari garis wajahnya sudah terlihat orang itu tegas, membuatnya sekilas teringat menteri perempuan yang pernah ia lihat di berita. Siapa lagi itu? Apa majikan baru Rahma? Telepon anak perempuan yang tak pernah diangkat, pesan pun tidak pernah dibalasnya hingga sekarang. Sengaja itu dilakukan agar Rahma datang sendiri menemuinya, meminta maaf sudah tega meninggalkan anaknya. "Ini rumah Rahma?” tanya wanita berwajah bersih terawat itu dengan nada datar. “Iya, benar, Bu. Saya ibunya.” Bu Tami mengira ini memang bos Rahma. Harlan dan Safea yang keluar rumah dengan dorong-dorongan terhenti melihat ada orang asing datang. Bu Tami mengajak tamunya itu masuk. Tanpa menolak tamu yang tak lain adalah Bu Hakim itu melangkah dalam diam sambil memperhatikan dua orang tengah cengar-cengir melempar senyum untuknya. Terutama lelaki dengan pipi berlubang-lubang itu meringis perlihatkan gigi. Orang aneh, pikir Bu Hakim refleks. “Sebentar, siapa tahu kirim duit,” desis Harlan pada Safea yang akan ke mobil. “Emang dia siapa?” Safea kurang tertarik. Suaminya mengangkat bahu, lalu duduk dekat pintu hendak menguping pembicaraan. “Apa Ibu yang kirim mainan untuk cucu saya kemarin? Terima kasih banyak, Bu. Cucu saya senang sekali menerimanya.” Bu Hakim mengangguk kecil. Bertepatan dengan Azka berlari masuk sambil ucapkan salam. “Eh, Azka.” Anak itu sudah ke dapur. “Haus, Nek,” kata anak itu dari belakang sana. “I-itu Azka, Bu. Anaknya Rahma,” terang Bu Tami. “Anakku juga.” Harlan gerak cepat beranjak masuk memperkenalkan diri. Safea menganga tak sempat menahan lelaki itu. “Maksudku Rahma mamanya, aku papa Azka. Hehee. Terima kasih kirimannya, Bu. Itu pasti mahal,” oceh Harlan membuat Bu Tami menegang, menahan wajah memanas. Bikin malu ini Harlan! Kenapa tidak pergi juga, malah masih di sini?! Rutuk hatinya geram. “Jadi maksudnya … dia ini?” “Oh-“ “Neneek.” Kehadiran Azka menghentikan gerak mulut Harlan yang langsung menelan kalimatnya. “Ini cucu saya.” Bu Tami mengalihkan perhatian Bu Hakim agar tertuju pada Azka. Anak itu diminta berterima kasih pada pemberi hadiah mainannya. “Ibu ini teman Mama?” tanya anak itu saat mencium punggung tangan Bu Hakim setelah ucap terima kasih dengan lidah cadel menggemaskan. “… iya,” sahut Bu Hakim tersenyum kaku. “Kenapa Mama belum libur? Aska kangen Mama ….” Mata bening itu terasa menembus palung hati Bu Hakim. “Maaf, Bu.” Bu Tami meraih bahu cucunya. “Eh, Azka ayuk main dulu sana.” Ia lalu izin akan mengantarkan anak itu keluar sebentar. “Ehm, anak papa tercinta main dulu di luar, ya,” timpal Harlan mencoba menarik perhatian. “Apa benar anda ini bapaknya?” Merasa diajak bicara lelaki itu langsung mengambil duduk di depan Bu Hakim. “Iya lah, Bu. Masa gak lihat wajah kami bagai pinang dibelah dua-” “Harlan, itu istrinya sudah nunggu, kasihan. Cepat berangkat,” tegur Bu Tami yang kembali masuk. Ia tidak suka melihat lagak menantu malah mengambil alih bicara dengan tamunya. “Istri?” “Oh, bukan. Maaf, Bu. Maafkan keributan kami.” Bu Tami ke dapur sebentar membuatkan teh, lalu segera kembali. “Apa Ibu ini ke sini ada perlu dengan kami? Eh, maksudnya apa anak saya ada masalah pekerjaan dengan Ibu?” Kembali duduk, Bu Tami sempatkan melirik ke luar, ia lega melihat menantunya dan Safea sudah pergi. Namun, melihat tamunya tampak mengernyit kening dalam, ia jadi ragu wanita di depannya ini teralih, sepertinya malah penasaran pada Harlan. Maunya tadi jangan sampai keceplosan, karena ini bisa pengaruhi pekerjaan Rahma. “Apa anda ibu mertuanya Rahma?” “Oh, bukan. Saya ibu kandungnya.” “Trus lelaki tadi?” “Em, menantu saya, Bu.” Bu Hakim memperbaiki posisi duduk. “Sebentar, apa ibu ini tinggal dengan mantan menantu?” Bu Tami merasa gerah seperti diinterogasi. “Maaf, ini urusan pribadi, Bu. Jadi saya tidak bisa menjawab. Ada apa dengan Rahma di sana sampai Ibu ke sini seperti mengorek urusan keluarga kami?” Cukup panas beberapa saat dua wanita ini bersahutan, sikap tamunya yang tenang dan menekan akhirnya membuat Bu Tami kalah. Sambil terisak ia ceritakan rumah tangga Rahma sampai anaknya itu memilih pergi. Terbawa rasa sesal dan prihatin pada putrinya, wanita berwajah lelah ini meminta tolong pada Bu hakim untuk bisa memahami kondisi Rahma. “Biarkan Rahma bekerja pada Ibu, tolong jangan dipecat setelah Ibu tahu keadaan keluarganya, tolong … anaknya di sini butuh makan.” Lepas semua keluhan Bu Tami akan kondisi sulitnya, terucap tumpah pada wanita yang terdiam di depannya itu. Harlan yang seorang bapak tak bisa diharapkan. Sampai syukurnya karena Rahma mengirimkan ATM untuk biaya Azka sementara, setelah pergi. Ia tahu itu sisa gaji putrinya sejak kerja di Bu Gondo. Dengan bibir terkatup Bu Hakim meninggalkan rumah itu, tanpa menyentuh sedkit pun gelas teh yang disuguhkan tuan rumah. Sebelum kendaraannya bergerak, mata Bu Hakim sempat menangkap tawa girang Azka melihat laju mobil yang diarahkan remote di tangannya. Bersambung …. *Apa Bu Hakim tersentuh apa makin nolak, ya?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
yujjje
30/11
0memuaskan 😍
19/10
0bagusss
14/06/2025
0Lihat Semua