“Telepon siapa, Ra?” Dini melihat Rahma gelisah menempelkan ponsel ke dada. Wanita itu baru mengaktifkan ponsel dan menelepon seseorang. “Telpon Ibu, anakku lagi kurang sehat, Mbak Din.” Tarikan napasnya berat menyiapkan diri memang harus kembali ke rumah ibunya hari ini. Semoga dua orang itu tidak ada di sana, harapnya. Tapi mustahil, Safea sempat menolak tinggal di rumah mertua karena tak mau direpotkan mengurus Bu Mira yang sakit. Sudah pasti mereka di sana, bantah hatinya lagi, bermonolog sendiri. “Ra? Kamu harus kuat.” Dini menyentuh pundak perempuan muda itu, memberikan dorongan kalau ia pasti bisa melewati semua. Rahma mengulas senyum berat. “InsyaAllah, Mbak Din. Kalau gitu aku siap-siap dulu.” “Lho, nggak nunggu Jay dulu.” “Enggak usah, Mbak Din. Aku naik taksi oline saja. Bisa minta nomernya kalau mbak Dini punya?” Rahma belum pernah naik taksi daring sebelumnya. Ia biasa pakai sepeda, atau angkutan umum. “Nanti aku aja yang hubungi, Ra.” Dimas muncul dari pintu depan. “Ada apa, Mbak Dini?” Setelah ucap salam Dimas bertanya melihat wajah gelisah kakaknya. “Syukurlah kamu datang, Jay.” Dini menjelaskan singkat. “Jangan telepon taksi, Mbak, biar Jay aja yang ngantar.” Dimas menyerahkan plastik kue oleh-olehnya ke tangan Dini, lalu menyusul Rahma ke kamarnya. “Jay, kamu nggak capek?” tanya Dini memandangi punggung adiknya. “Nggak Mbak, tenang aja.” Sebagai kakak hatinya menghangat melihat perubahan Jay. Terlihat jelas adiknya itu mau membuka hati lagi. “Rahma?” Dimas berdiri di pintu kamar, melihat wanita bersweater hitam itu berkemas. “Eh, Dimas? Baru sampai?” tanya Rahma melihatnya sekilas, tangan wanita ini tengah menarik retsleting tas. Melangkah maju Dimas menyentuh pundaknya. Terkejut, Rahma menghentikan gerak tangan sembari mendongak melihatnya. “Tolong jangan bawa semua barangnya, aku antar kamu nanti kita balik lagi ke sini,” pinta Dimas terdengar berharap. Mata bulat Rahma menatapnya lekat. Apa maksudnya? Tidak! Rahma melawan denyar bagai sengatan halus di hati efek perhatian lelaki ini. Aku nggak mau memikirkan apa pun masalah hati, ini nggak boleh. Azka satu-satunya yang harus kupikirkan! “Maaf, Dimas, aku sudah merepotkan. Saatnya aku bisa melangkah sendiri. Azka butuh mamanya disampingnya. Aku bodoh pergi dengan begitu egois.” Mata Rahma berkaca lalu butiran air jatuh segera diusapnya. “Kamu pun berhak bahagia, Rahma.” “Bukan. Anakku yang berhak bahagia.” Rahma membuka satu tas lagi mengisinya cepat tak peduli berantakan di dalam sana. Ia ingin menghindari Dimas yang seperti menaruh harap. Tidak mau hidupnya kembali hancur karena orang lain ataupun akan menghancurkan hidup orang lain karenanya. Kondisi yang sangat ingin ia hindari sekarang. Itu terlalu menakutkan untuknya. “Anak akan bahagia kalau kamu bahagia, Rahma.” Dimas masih berusaha memberinya pengertian. “Siapa bisa menjamin orang sepertiku bisa bahagia?!” “Aku!” Rahma sontak terpaku. Tak percaya apa yang didengar. Ia terdiam dalam posisi membelakangi Dimas. “Aku yang akan usahakan kamu bahagia, tolong beri aku kesempatan.” Lelaki tinggi tegap itu bergerak hingga berdiri di sisinya, bahu mereka saling bersentuhan. Rahma berperang dengan hatinya sendiri. Kecamuk rasa tak mampu diartikan. Gemetar bibirnya menahan derai tangis. Dari mata terpejam kuat itu bulir air terus mengalir. Ia tak percaya ada lelaki yang benar-benar ingin perjuangkan kebahagiaannya. Perlahan tangan Dimas menyentuh jemari Rahma yang mengepal di atas lipatan pakaian. “Aku … aku jatuh cinta sama pribadimu …,” Tangis Rahma pun pecah dengan suara gugu tak tertahan, badannya tertunduk bertumpu tangan pada lipatan pakaian di atas tas. Bersama tangan Dimas masih di atas punggung tangannya. Entah ini tangis untuk apa? Hatinya pun bingung, ia merasa sedang sangat sensitif. Saat telepon ibunya tadi, nada suara wanita yang disayangi itu mempersalahkan dirinya telah menelantarkan anak sampai sakit, itu terasa menggilas hati. Rahma tengah merasa sendiri dan kini ada orang menawarkan hati untuknya. Bisakah aku percaya? Ia sangsi. Tangan kiri Dimas mengusap pucuk kepalanya lembut. Detik kemudian lelaki itu menariknya ke dada, merelakan kaus bagian dadanya basah oleh air mata. Hati Dimas menghangat, terbungkus rasa ingin membagi bahagia walau hanya sekeping. * Dini melepas keberangkatan mereka dengan doa terbaik. Rona bahagia dari wajah Dimas begitu terpancar, tatapan matanya dalam dan penuh cinta, pada wanita yang matanya lebam karena kebanyakan menangis itu. Akan banyak jalan terjal di depan mereka. Dini menarik napas dalam. Berharap kekhawatirannya bukan hal berat jika mereka bisa memperjuangkan. Sama seperti dirinya dulu, berjuang bahagia bersama Nadia, meski belum mendapatkan pengganti baik secepat yang Rahma dapatkan kini. * “Lihat siapa yang datang!” Belum mereka turun dari mobil sudah ada Harlan berlagak jumawa, dengan suara lantang seolah mengumumkan kalau pasangan selingkuh yang diembuskan olehnya sebagai kabar burung itu benar adanya. Tangan Rahma digenggam Dimas. “Anggap aja nggak dengar,” pesannya. Rahma mengangguk mantap. Mereka turun dari mobil putih mengkilap, setelah parkir di sisi halaman rumah orang tua Rahma. Bu Tami dan Safea keluar, tak bisa sembunyikan tatapan terpananya melihat lelaki yang turun dari balik kemudi. Kaus putih, wajah bersih dengan tubuh tegap itu berjalan layaknya aktor film di TV. Mulut Safea membuka penuh sampai lalat yang lewat hampir masuk, kalau tak refleks tangannya mengibas. Harlan pun sempat terpana, melihat perubahan penampilan lelaki yang waktu itu terlihat berantakan kini sebaliknya, tapi ia berpura tak peduli. “Tuh, Bu. Lihat benarkan apa aku bilang,” kompor Harlan agar ibu mertuanya panas. Bu Tami hanya diam. Rahma mengucap salam akan menyalim ibunya, tapi ditepis. “Benar-benar kelakuan kamu!” “Rahma nggak mau ribut, Bu. Mana Azka?” “Eh, ehh! Ngapain nyelonong masuk?” Harlan menghalangi wanita yang kemarin kusam kusut, kini mulai pakai baju baru juga wangi. Meski wajahnya masih sama tapi lumayan manis, pikir Harlan. “Aku mau temuin Azka!” “Mamaaa,” panggil anak lelaki berwajah pasi berjalan lemah dari dalam. Gesit menyela tubuh Harlan yang menghalangi, Rahma segera masuk. Langsung memeluk bocah lelaki yang sangat dirindukan. Tubuh Azka masih hangat. Di dalam tas Rahma sudah bawa obat panas anak, juga buah-buahan. Dengan telaten diurusnya buah hati yang sudah berapa hari tak ditemui itu sambil meminta maaf. Rahma menggendong putranya di punggung dengan jarik. Anak ini jadi manja, tak ingin jauh darinya. Ia membawa Azka ke dapur untuk menyiapkan makanan. Tadi di jalan ada beli sup ikan Tenggiri di rumah makan langganan Dimas. Rahma kemudian terlalu asyik menyuapi Azka di kursi makan, sampai lupa ada Dimas di luar sana. “Walaahh kamu pura-pura aja nabrak dia biar kenalan gitukan, nih buktinya bisa sama-sama. Pasti juga berapa hari tidur sama-“ “Harlan!” Bu Tami tak tahan omongannya dengan pemuda teman Rahma itu disela terus oleh Harlan dari tadi. Bibir lebar lelaki bopeng itu pun terkatup. Sementara Dimas mulai menyampaikan jujur keinginannya untuk menjaga Rahma, ini ia ucap mumpung bertemu ibunda Rahma sekarang. “Hahahaa, kamu mau bekasku?!” “Harlan!” “Mas Har!!” Serentak Safea dan ibunya memelototi lelaki bermata kecil yang berpura membuang pandang ke arah lain. Memang benar si Rahma mantan istriku kok, gile aja dia mau bekas, dada Harlan diam-diam memanas. Bisa-bisanya Rahma dapat yang lebih ganteng, akunya dalam hati. Hanya dalam hati. Tentu secara jujur di mulut itu tak mungkin untuk seorang Harlan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
yujjje
30/11
0memuaskan 😍
19/10
0bagusss
14/06/2025
0Lihat Semua