Hari Senin adalah hari sibuk buatku. Setelah sholat subuh aku harus segera mempersiapkan kelengkapan sekolah Alif dan juga aku. Seragam,kaus kaki, buku-buku,dan semua perlengkapan lain. Untung mbak Tun sudah selesai masak sebelum jam enam,jadi aku tidak terlalu repot menyiapkan sarapan buat Alif. Aku harus berangkat lebih awal karena harus menyiapkan dulu anak-anak kelas satu untuk mengikuti upacara bendera. Biasanya mereka harus diajarkan dulu bagaimana sikap sempurna,menghormat, istirahat ditempat,dan laporan bahwa mereka siap mengikuti upacara. Selesai upacara,aku harus mengecek kelengkapan alat-alat tulis yang mereka bawa.Menyimpannya di rak lemari untuk mereka gunakan dari hari Senin sampai Sabtu. Aku sengaja mengumpulkan alat-alat tulis didalam lemari kelas karena sering sekali ada anak yang lupa membawa pensil,penghapus atau peruncing pinsil. Kalau sudah lupa membawa alat tulis,si anak akan menangis dan mogok belajar. Jadi lebih baik alat-alatnya aku simpan di lemari agar mereka siap mengikuti pelajaran. Pada hari Sabtu barulah aku kembalikan alat tulisnya untuk mereka bawa pulang. Supaya orangtuanya tahu alat yang mana yang sudah harus diganti yang baru. Pukul 11.15 anak-anak kelas satu sudah pulang,aku masih dikantor menyelesaikan administrasi kelas. Sambil menunggu Alif pulang. Pukul 13.00 barulah kami bisa pulang ke rumah,itupun kalau Alif tidak ikut kegiatan ekskul. Setiap hari Selasa dan Sabtu Alif ikut ekskul,seni musik. Dia memang suka sekali bermain musik terutama gitar dan angklung. Tahun kemarin Alif juara II lomba musik tradisional pada acara FLS2N (Festival Lomba Seni Siswa Nasional). Jam dua siang kami baru sampai di rumah. Tadi mampir dulu di warung bakso langgananku,sudah lama rasanya tidak makan diluar. Alif lebih suka mie ayam daripada bakso,dia pesan mie ayam dengan es campur. Sedangkan aku tidak begitu suka makan mie,jadi aku hanya pesan baksonya saja ditambah minum es jeruk nipis kesukaanku. Seperti biasa keadaan rumah sepi,ibu dan mbak Tun pasti sibuk di warung. Baru saja kurebahkan tubuhku,kudengar Alif memanggilku. "Maaaa,ada tamu" katanya didepan pintu kamar. "Siapa?" tanyaku sambil bangun dari tempat tidurku. "Om yang kemaren ketemu papa,tapi dia sama temennya" jawab Alif. Sama temannya? Siapa? tanyaku dalam hati. "Alif temani dulu ya,mama ganti baju" kataku. Gak enak menemui tamu hanya memakai daster. Aku bergegas mengganti pakaianku dengan celana jeans standard dan kaos casual. Memang itu pakaian kesukaanku saat santai. Dari balik jendela ruang tamu,aku hanya melihat Alif duduk bersisian dengan seorang laki-laki agak gemuk berkulit gelap,pak David. Lho tadi bilang Alif beliau datang dengan temannya. Tapi kulihat cuma sendiri.... Aku segera menghampiri nya dan memberi salam. Pak David menyalamiku sambil tersenyum. "Apa kabar Bu Rachmy?" tanyanya "Alhamdulillah baik pak,panggil aja Amy. Saya biasa dipanggil begitu" kataku mempersilahkan beliau duduk kembali. " O iya,Amy" katanya. "Pak David sama siapa? Tadi kata Alif berdua,mana temannya?" tanyaku penasaran. Pak David hanya tersenyum,begitu juga Alif. Aku bingung melihat senyum mereka,siapa teman yang dimaksud Alif tadi. Tiba-tiba dari dalam mobil Fortuner yang diparkir di halaman rumah ibu,keluar seorang laki-laki,tinggi agak kurus,kulitnya sama gelap dengan pak David. Yang membuatku terlonjak adalah rambutnya yang lurus menjuntai sampai dipunggung. Dia tersenyum,manis sekali. "Hallooo,ibu guru," sapanya seraya menghampiriku. "Leo?" teriaku kaget. "Surprise!" katanya sambil tertawa,kemudian tangannya diulurkan untuk menyalamiku. "Aiihhh,kenapa gak ngabarin kalau mau datang hari ini?" girang sekali aku menyambut uluran tangannya. "Surprise" diulanginya lagi kata itu. "Emang kalau aku kasih tau,kamu mau pasang umbul-umbul depan rumah?" lanjutnya menggoda. "Bukan pasang umbul-umbul tapi pasang petasan" jawabku cemberut. Semua tertawa mendengar jawabanku. Betul-betul sebuah surprise. Aku membayangkan sebelum bertemu,sosok Leo punya perawakan tinggi besar. Ternyata tidak,badannya kecil tingginya tak jauh diatas tinggi badanku. Tapi senyumnya itu,sungguh manis dengan deretan gigi yang rata dan rapi. Pantas saja banyak perempuan yang suka padanya,gumamku dalam hati. Kami mengobrol sampai hampir gelap menutup hari. Ibu dan mbak Tun sudah pulang dari warung,ikut bergabung mengobrol bersama kami. Pendapat ibupun sama,Leo orang yang menyenangkan,simpatik dan hangat. Alif menyukainya,mereka bisa langsung akrab bercanda dan bercerita. Sebelum adzan Maghrib berkumandang,merekapun berpamitan. Leo berjanji selama di Jakarta akan sering menemuiku. Bukan main girangnya aku bisa sering bersama sahabatku nanti, walaupun hanya sebulan atau dua bulan. Sahabat,ya cuma seorang sahabat. Tapi kenapa hatiku menjadi berdebar-debar ketika matanya menatapku. Seperti tumbuh taman bunga beraneka warna ketika melihat senyum manisnya. Genggaman tangannya membuat darahku berdesir sampai ke ubun-ubun. Ada birahi yang tertahan ketika kami saling berpandangan. Sialan,aku memaki diriku sendiri. Kenapa jadi seperti ini perasanku. Rasa ini sudah terkubur lama sejak berpisah dengan Dany,mantan pacarku. Aku sudah hampir lupa caranya jatuh cinta. Lamunanku terganggu oleh suara denting dari handphone. Leo mengirim chat. " Gak nyangka deh,ternyata kamu lebih cantik dari Poto di Facebook," Hmmmm,aku jadi senyum-senyum sendiri membaca pujiannya. "Kamu juga terlalu manis" jawabku "Haaaa gombal" katanya. Kemudian beberapa emoticon berderet,tanda dia senang namun berakhir ledekan. "Besok aku ada acara ketemu klien,jadi gak bisa ketemu kamu. Mungkin lusa aku ajak kamu keluar sama Alif." lanjutnya "Oke,selama kamu disini aku temenin kamu kalau dibutuhkan" jawabku "Serius kalau dibutuhkan?" desaknya. "oyeee...butuh teman jalan maksudku. Jangan mikir yang lainnya!" ku kirim emoticon marah. "Oke deh kalau gitu,makasih udah menerimaku dengan ramah. Salam buat ibu " katanya mengakhiri chatting nya. Mataku terasa sulit untuk kupejamkan. Bayangan senyumnya,selalu menggoda. Aku mulai berkhayal seandainya dia jadi kekasihku,suamiku. Setiap hari rumah ini akan dipenuhi canda. Dia sering bercerita tentang fantasi nya dalam hubungan suami istri. Aku jadi membayangkan kalau aku jadi pemeran wanita dalam fantasi nya. Dia suka bercinta di alam bebas,di tepi pantai disinari cahaya rembulan. Aaarrrggghhh...kututup mukaku dengan bantal,kenapa aku jadi begini. Sebelum bertemu,tidak sekuat ini perasaanku padanya. Aku memang menyukainya dari awal kami berteman. Dialah yang selalu ada saat-saat aku membutuhkan teman bercerita,berkeluh kesah bahkan ketika aku merindukan sentuhan laki-laki. Selera kami hampir sama,suka musik, bernyanyi, film-film action, cerita-cerita lelucon bahkan selera diatas ranjang... fantasi kami sama. Seperti nya dia pun merasakan hal sama denganku. Tatapan matanya tadi sore,bukan tatapan mata sahabat biasa. Ada getar-getar tersembunyi dibalik senyuman yang dia lempar padaku. Aku merasakan itu. Tapi aku tidak begitu yakin. Mungkin saja hal itu sering dia lalukan kepada semua perempuan. Kalau benar dugaanku,dia tidak akan merasa berdosa bahwa senyumannya telah menjerat hati para wanita. Termasuk aku, sahabatnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
the best story
24/09/2025
0Bagus banget ceritanya antara cinta dan sahabat
29/06/2025
0benar bgt
07/03/2025
0Lihat Semua