“Di mana Bibi Eloise dan Bella?” “Mereka sudah mati.” “Kenapa bisa?” tanya Eve dengan bibir begetar. Pikirannya mulai melanglang buana. Dia meremas tangannya kuat berharap pikiran yang baru saja merasukinya hanya sebuah felling yang salah. “Saya membunuh mereka.” Semua tercengang dengan pengakuan tenang Jevras. Bahkan Mr. Waston sempat terkejut sebelum mengembalikan ekspresinya datar. Plak! Hanya sebuah tamparan yang membalas jawaban dari pengakuan Jevras. Sebab, Eve kini lari meninggalkan kantor dengan tangis yang pecah. Dengan bulir kristal yang menetes di setiap langkah kakinya. Kejadian itu masih terus berputar sampai sekarang. Dia begitu kecewa dan marah dengan kejujuran Jevras. “Hiks, Eve benci Om Jev!” isak Eve menepuk dadanya kuat. Dia meronta memikirkan kalau Bibi Eloise dan Bella sudah meninggal. Meski dia tidak pernah merasakan kasih sayang dua wanita itu, tetap saja Eve sangat berduka cita atas kepergian mereka. Dia tidak mampu untuk menopang tubuhnya sampai sebuah tangan menahannya. “Nona, saya akan antar Anda pulang,” ujar Jack dengan tatapan iba. “Hiks.” Hanya isak tangis Eve yang terdengar membuat Jack menuntun Eve masuk ke dalam mobil dan segera pulang ke rumah. Sesampai di rumah Eve langsung masuk ke kamar dan tidak peduli dengan semua tatapan orang di sekitarnya termasuk Bibi Harmonia yang kini dilanda rasa cemas melihat Eve pulang dengan mata memerah. “Hiks, Ibu,” isaknya bersimpuh di lantai sudut kasur. Ia menunduk merasakan sesak yang bertubi-tubi. Di pikirannya kenapa Jevras yang harus menyebabkan kematian bibi dan sepupunya itu. “Ternyata dia bukan malaikat, Bu, tetapi dia seorang pembunuh,” lirih Eve. Andai lantai keramik itu bisa digenggam mungkin sekarang pecah akibat Eve yang terus memukul lantai dan mencoba mencengkeramnya kuat. “Bunuh saja aku, Tuhan. Aku sungguh lelah.” Tubuh Eve ambruk seketika setelah mengatakan itu. Pandangannya gelap dan kini tubuhnya tidak bergerak sama sekali. *** Sudah seharian ini Bibi Harmonia bolak-balik mengetuk pintu kamar Eve dan hasilnya nihil. Eve tidak menyahuti panggilan Bibi Harmonia itu karena dia masih belum sadar dan Bibi Harmonia tidak tahu itu. “Ya, Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi,” ujar Bibi Harmonia sambil menautkan tangan di depan dada dengan sesekali melirik liar ke arah pintu. Bahkan napasnya terdengar tidak teratur seolah dikejar hewan buas. Sampai dia melihat Jevras pulang dengan keadaan kacau. Bertambah khawatirlah dia karena setahunya tuan mudanya itu sedang sakit dan masih memaksa untuk ke kantor pagi ini. Namun, kepulangannya dengan keadaan teramat kacau membuat Bibi Harmonia menghubungkan dengan keadaan Eve. Dia mulai menebak jika nona dan tuannya itu sedang memiliki masalah. “Bibi, kenapa Bibi berdiri di situ?” tanya Jevras dengan nada lemah. “Eung, itu, anu, Tuan ... Nona Eve belum keluar dari kamar sampai sekarang,” resah Bibi Harmonia. Jevras diam. Tentu saja dia tahu penyebabnya Eve tidak keluar. Dia membuang napas kasar dan mencoba mengetuk pintu kamar Eve. Tok ... tok ... tok .... “Eve!” Masih nihil. “Mundurlah, Bi,” titah Jevras membuat Bibi Harmonia mengambil langkah ke belakang. Brak! Brak! Pintu kamar Eve akhirnya terbuka dan Jevras mulai melangkah masuk. Matanya terbelalak ketika melihat Eve tergelak di lantai. “Astaga! Nona!” pekik Bibi Harmonia. “Eve,” panggil Jevras menepuk pipi Eve, tetapi Eve sama sekali tidak bergerak. Tubuh Eve sangat dingin dan bibirnya begitu pucat membuat Jevras segera membawa Eve ke rumah sakit. “Jack, segera siapkan mobil. Saya mau bawa Eve ke rumah sakit,” titah Jevras. Jack yang sedang duduk merokok langsung berdiri dan kaget melihat Eve di dalam gendongan Jevras. Dia segera bergegas ke parkiran dan mengambil mobil. Mereka akhirnya ke rumah sakit dan di sini Jack beberapa kali mencuri pandang ke belakang. Dia sebenarnya sangat tidak tenang, tetapi mencoba bersikap biasa-biasa saja. “Kita sudah sampai, Tuan,” ujarnya menoleh. Jevras segera turun dan menggendong Eve masuk ke dalam rumah sakit milik Denuca. Para suster yang melihat Jevras mengendong Eve dengan wajah panik segera mengambil bangkar untuk Eve. “Silakan diletakkan di sini, Pak,” ujar salah satu suster. Jevras menurut dan menunggu di luar karena dia sudah tahu prosedur rumah sakit yang tentu melarang orang lain masuk kecuali dokter dan juga suster. Saat dia duduk di kursi besi, kepalanya menunduk menatap ujung sepatunya. Perasannya sesak. “Eve, saya sakit melihat tatapan kebencianmu, tetapi lebih sakit lagi melihatmu berbaring sakit seperti ini. Saya mohon jangan terlalu membenci saya karena sejujurnya saya membunuh mereka karena perlakuan mereka kepadamu sangat kejam,” batin Jevras. Dia meremas tangannya, tetapi kini fokusnya membuat dahinya menyerit. Dia melihat darah di tangannya. Seingatnya dia tidak melihat Eve memegang benda tajam karena sempat dia berpikir Eve bunuh diri dan ternyata tidak. Hanya pingsan, tetapi sekarang benaknya bertanya-tanya. Darah siapa di tangannya? Saat Jevras kebingungan, Jack justru ikut menangkap fokus tuannya itu dan dia meninggalkan sekitar ruangan. Dia sebenarnya menyadari itu darah siapa karena dia melihat darah menetes dari paha Eve. Hal itu yang membuatnya memisah diri dan mencari tempat yang aman untuk segera berbicara dengan Liora. Drttt .... “Halo?” “Selamat malam, Nyonya. Maaf saya mengganggu waktu Anda, tetapi saya ingin melaporkan kalau Eve masuk rumah sakit.” “Apa yang terjadi?” “Nona Eve pingsan dan sepulang sekolah dia bertengkar dengan Tuan Muda Jevras. Saya masih mencari akar masalah mereka, Nyonya.” “Baiklah, kau bungkam mulut dokter dan suster di sana soal kehamilan Eve. Aku akan segera ke sana.” “Baik, Nyonya.” Tutttt .... Jack segera masuk kembali dan soal meminta dokter tutup mulut, dia sudah melakukannya sebelum Liora memerintahkannya. Jack memang paling bisa diandalkan dalam urusan ini. *** Akhirnya dokter keluar bersama suster dan membuat Jevras segera berdiri dan mendekat begitupun dengan Bibi Harmonia. “Bagaimana keadaan Eve, Dok?” tanya Jevras tidak sabaran. Dokter tersenyum. “Eve, baik-baik saja. Hanya butuh istirahat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran,” ujarnya membuat Jevras lega. Jevras akhirnya mengangguk dan dokter pun pergi. Lagi-lagi dia tidak tahu kenyataan tentang kehamilan Eve karena dia tidak sadar orang bekerja sama untuk menutupi hal itu darinya termasuk seorang pria yang mengenakan jas putih tidak jauh darinya dengan tatapan nanar. Dia merasa sedikit beruntung dari Jevras karena dia yang tahu keberadaan anaknya, tetapi kini posisi sahabatnya lebih rumit. Dia tidak tahu kalau sudah menghamili Eve dan sekarang di rahim wanita itu tumbuh anaknya. “Hufhhh ... apa pun yang terjadi, aku akan selalu berada di belakangmu untuk memberimu support walau nanti akan lebih menyakitkan dari ini yang kamu rasa,” gumamnya. Dia mendekat dan menatap sahabatnya dengan senyum tipis. Terlihat sekali Jevras begitu kacau dan dia memberi tepukan pada pundak Jevras. Pria ini terlalu tertutup akan kehidupannya dan hanya berbagi kulit-kulitnya pada Draco dan juga yang tahu sedikit lebih banyak di antara mereka itu Axelio. Namun, pria itu juga tidak punya kuasa apa-apa saat nyonya bosnya meminta mereka bungkam. “Kau boleh masuk menjenguknya,” ujar Denuca. “Baiklah.” Jevras masuk ke dalam sementara Denuca mengajak Bibi Harmonia ke ruangannya untuk memberitahu kondisi Eve. *** “Eve,” lirih Jevras saat dia duduk di kursi dekat bangkar. Eve ternyata terjaga, tetapi dia hanya menoleh sebentar. Lalu, menatap ke langit-langit kamar inapnya. “Saya tahu kamu marah dengan saya. Bahkan mungkin sangat membenci saya.” Eve hanya diam tidak menanggapi dan itu menyesakkan untuk Jevras. Dia berharap Eve tidak terlalu menghakiminya. Dengan sedikit mengatur napasnya yang sesak akan rasa sakit hati yang melebur dia kembali melanjutkan ucapannya. “Saya memang pembunuh jika itu yang kamu pikirkan saat ini. Memang benar saya pembunuh karena saya seorang mafia.” Jevras bisa melihat tubuh Eve tersentak kaget sebelum dia kembali membuang pandangan. Namun, Jevras tetap ingin membuka jati dirinya pada Eve. “Namun, saya bukan orang yang melayangkan nyawa orang lain tanpa alasan Eve. Andai mereka tidak menyiksamu dengan tidak manusiawi, malam itu saya tidak perlu membawa mereka dan berakhir menyiksanya berhari-hari hingga mati,” akunya membuat air mata Eve menetes. “Bencilah saya. Namun, saya tetap akan menyayangimu melebihi besar bencimu pada saya.” Setetes air mata Jevras jatuh di tepak tangan pria itu. Dia berdiri dan mengusap air matanya, sebelum pergi dari ruangan. Entah apa yang Eve pikirkan karena kini rintik-rintik itu kembali berjatuhan di pelupuk matanya dengan guncangan bahu yang kian terlihat hebat bersama isak tangis tertahan. *** Bersambung .... Sorry telat up, ya, Guys. Terima kasih untuk jejak, follow dan tip-nya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
bagussss
28d
0Luar biasaa
20/07
0bagus
09/05
0Lihat Semua