Beranda/Bawang Merah Bawang Putih/
Bab 22 Pilihan
Suasana di ruangan itu begitu tegang. Kepala Sekolah menggeleng berulang kali saat mendengar penuturan Ketua RT. Sementara itu, Lastri mengusap air mata dengan sapu tangan karena tak kuasa menahan tangis.
"Kami dari pihak sekolah inginnya Arum tetap masuk dan belajar seperti biasanya," ucap Kepala Sekolah dengan tegas. Tidak ada perlakuan khusus bagi siswa kecuali mengalami sakit parah atau tidak bisa bergerak sama sekali.
"Tapi kalau Dek Arum tetap sekolah, dia akan menjadi bahan olok-olokan temannya, Pak. Kami mohon keringanan, demi mental putri kami," ucap Ketua RT dengan nada memohon.
Kepala Sekolah menarik napas panjang kemudian menatap Guru BK untuk meminta pendapat. Kasus seperti ini sebenarnya pernah terjadi. Hanya bedanya, siswa yang melakukan itu langsung dinikahkan untuk menjaga nama baik orang tua dan sekolah. Sedangkan nasib Arum sungguh memprihatinkan karena tidak ada laki-laki yang mau bertanggung-jawab.
"Bagaimana, Bu?"
"Saya mendukung usul dari Ketua RT, Pak. Saat ini kondisi fisik dan psikis Arum pasti terganggu. Jika ditambah dengan celaan teman-teman yang lain, itu akan berbahaya bagi mentalnya," ucap Ibu Guru BK dengan bijak.
Jangankan Arum, Ayu sendiri mendapatkan ejekan karena sudaranya dikabarkan hamil di luar nikah. Bahkan, saat tadi Lastri datang ke sekolah, ada yang berbisik membicarakan mereka.
"Kalau begitu kami akan mengadakan rapat dewan guru. Jika disetujui, maka Arum akan mendapatkan pengecualian. Dia boleh melaksanakan ujian di rumah dengan diawasi tentunya," ucap Kepala Sekolah setelah menimbang beberapa saat.
"Baik, Pak," ucap Lastri senang, sembari menyalami Kepala Sekolah dan guru BK dengan cukup erat, sebagai ungkapan terima kasih. Lalu, pembicaraan mereka selesai.
"Mulai sekarang Ibu Lastri harus lebih memperhatikan Arum," ucap Ketua RT saat mereka berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Iya, Pak. Saya akan mengawasi Arum dan juga Ayu. Saya ndak mau kejadian seperti ini terulang," ucap Lastri lebih tenang.
"Ini semua harus menjadi pelajaran bagi kita semua Bu Lastri. Terutama warga kampung agar menjaga putra-putri untuk tidak terjebak dalam pergaulan bebas. Karena itu menyangkut masa depan mereka sendiri," lanjut Ketua RT dengan bijak.
Mereka berbincang tentang banyak hal hingga tiba di parkiran depan. Ketika hendak berpisah, Ketua RT mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan bagi Lastri.
"Bu Lastri, baiknya setelah Arum lulus ujian, pindahkan dia ke tempat lain dan jangan tinggal di kampung ini lagi," ucap Ketua RT dengan tak enak hati.
"Kenapa begitu, Pak?" tanya Lastri heran. Bukannya mereka sedang mencari jalan tengah untuk masa depan anaknya.
"Ini saran dari saya pribadi. Baiknya kirim Arum ke tempat lain. Warga sepertinya tidak terima kalau dia masih tinggal di sini." Ketua RT sedikit menekankan ucapan pada kalimat terakhir agar Lastri menuruti. Lalu, dia melanjutkan pembicaraan dengan lebih rinci.
Sejak kejadian hari itu, rumahnya kerap didatangai oleh beberapa orang secara bergantian, dan meminta agar Arum dikeluarkan dari kampung. Mereka percaya bahwa perbuatan yang dilakukan gadis itu bisa menularkan kesi*alan bagi warga yang lain.
Lastri menelan ludah berkali-kali, juga menajamkan pendengaran agar tak salah menangkap maksud dari Ketua RT.
"Saya akan bertemu dengan para tetua setelah ini, Bu. Kemungkinan hasil rembukan yang akan disepakati nanti, bisa sama dengan apa yang saya bicarakan barusan," ucap Ketua RT dengan tenang.
Harusnya Arum tak perlu pergi dari kampung. Hanya saja kecaman dari banyak orang bisa membuatnya trauma. Hinaan dan celaan tetap akan ada sekalipun dia telah menikah nantinya. Namun, jika sudah terlanjur ternoda, maka tak ada satu pun laki-laki di kampung yang mau melamarnya.
"Semoga ada pertimbangan lain, Pak. Kalau Arum memang harus pergi dari sini, kami juga ndak tau harus menitipkannya dia mana," ucap Lastri sedih. Air matanya hendak tumpah kembali, tetapi wanita itu mencoba menahannya.
"Kalau begitu saya pamit. Bagaimana hasilnya nanti akan saya kabari," ucap Ketua RT sembari berjalan menuju mobilnya.
Lastri termenung beberapa saat kemudian mengambil sepeda dan menyusuri jalan pulang. Sepanjang perjalanan, dia tidak berkonsentrasi sehingga hampir menabrak beberapa pejalan kaki. Putrinya Ayu bahkan tidak sekolah hari ini karena ikut menanggung malu atas perbuatan Arum.
***
Arjuna menatap gadis yang berdiri di depannya ini dengan malas. Sejak makan malam keluarga mereka satu bulan yang lalu, Sasya selalu menempel dan mengikutinya ke mana saja.
"Aku bawain Mas Juna makan siang," ucapnya sembari meletakkan sebuah box di meja, lalu mengeluarkan isinya satu per satu.
"Gak usah repot. Aku biasanya delivery kalau gak sempat keluar," tolak Arjuna. Rasanya dia sudah sering mengatakan hal itu, tapi Sasya tetap saja melakukannya.
"Biarin aja sih, Mas. Lagian ini aku yang masak sendiri. Enak lagi," kata Sasya memuji diri.
"Kamu bisa masak?" tanya Arjuna menghentikan pekerjaannya dan mulai menatap aktivitas gadis itu.
"Bisa, dong. Kan, nanti mau jadi istri," ucap Sasya malu-malu sembari melirik Arjuna.
Begitu box terbuka, maka terciumlah aroma harum yang menggugah selera.
"Ya, semoga nanti yang jadi suami kamu senang," lanjutnya basa-basi.
Arjuna kira, Sasya hanya akan mengantarkan makan siang. Namun, ketika gadis itu menata dua piring dan dua sendok di meja, dia tahu bahwa mereka akan makan bersama.
"Ayo cobain dulu, Mas. Ini ada ayam teriyaki sama sayuran," ajak Sasya sembari tersenyum manis.
Arjuna berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah gadis itu. Ketika bagiannya diletakkan di meja, dengan cepat laki-laki itu menghabiskannya agar Sasya segera pulang. Ini hari kerja dan dia tak punya waktu untuk berbincang lama.
"Enak, Mas?"
"Enak," jawabnya jujur. Rasanya cukup cocok di lidah walaupun tak seenak buatan koki di restoran langganannya.
Wajah Sasya berbinar mendengar itu. Dia jadi teringat kata-kata sang ibu, bahwa dalam meraih hati seorang laki-laki, wanita harus menjalani prosesnya dengan sabar. Kelembutan dan dan kasih sayang itulah yang akan meruntuhkannya kelak.
"Kalau gitu, nanti aku bawain lagi, ya."
"Gak usah!" ucap Arjuna cepat, yang seketika langsung membuat wajah Sasya yang ceria menjadi suram.
Arjuna menjadi tak enak hati setelah mengucapkan itu. Lalu, dia meralatnya agar Sasya tidak tersingung.
"Aku sibuk, Sya. Ada banyak laporan yang harus dikerjakan setiap hari. Jadi, mohon kamu mengerti. Aku gak bisa selalu makan siang kayak gini sambil ngobrol," jelasnya panjang lebar.
Arjuna sudah menolak secara halus perjodohan mereka dan mengatakan tetap pada pilihan awal untuk menikahi Arum. Kondisi papanya juga sudah mulai membaik, sekalipun dia belum diberikan izin untuk menjemput sang kekasih hati.
"Yaudah aku pulang. Nanti ganggu Mas Juna kerja." Sasya meletakkan piringnya lalu membereskan semua alat perbekalan tadi.
Arjuna menggelengkan kepala melihat sikap Sasya yang keluar dari ruangannya begitu saja. Tanpa mau memikirkan lebih lanjut, dia kembali bekerja hingga malam menjelang. Laki-laki itu merasa hidupnya sungguh membosankan sejak berada jauh dari Arum.
Keluarganya bahkan kerap mendekatkannya dengan Sasya, padahal sudah jelas dia tak tertarik. Gadis itu memang cantik, tapi kebersamaanya dengan Arum tak bisa dilupakan begitu saja.
Dalam hati Arjuna bertekad, bahwa jika sampai bulan depan izin untuk menjemput Arum belum diberikan, maka dia akan nekat dan membawa gadis itu, dengan atau tanpa persetujuan orang tua.
***
TETESAN air hujan sedang membasahi bumi hari itu. Arum menatap jendela yang tertutup dengan hati gamang. Suara sindiran dan obrolan tetangga yang menghujatnya hampir setiap hari terdengar, sehingga mereka menutup rapat semua pintu. Lamunan gadis itu terhenti saat terdengar suara ketukan.
"Ada apa?" tanya Arum saat wajah Ayu muncul di balik pintu.
"Ada yang datang mencarimu," ucap Ayu berbisik.
"Siapa?"
"Temui saja. Sepertinya penting sampai hujan-hujan begini datang."
"Iya, tapi katakan siapa?" desak Arum karena dia sudah tak punya muka untuk menemui siapa pun. Bahkan setiap berjumpa dengan ibunya maupun Ayu, perasaan malu dan bersalah selalu muncul.
"Kamu keluar saja. Tadi orangnya maksa mau masuk. Aku pikir ada yang mau menyerang rumah kita. Ternyata bukan," jelas Ayu sembari menarik lengan saudaranya.
Arum mengikuti langkah kaki Ayu ke depan dan terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Pakde?" Arum menatap wajah tua yang dulu pernah membocengnya saat pulang mencuci baju di sungai dan memintanya menjadi istri.
"Bisa bicara berdua, Rum?" tanya laki-laki itu sembari melirik Ayu, memberikan kode agar gadis itu segera menyingkir.
"Kalau begitu aku mau ke dapur membuatkan minum," kata Ayu yang langsung berjalan ke belakang, tetapi diam-diam mengintip dari balik pintu.
"Ada apa, Pakde?" tanya Arum sembari menatap laki-laki itu dengan lekat.
"Aku sudah mendengar berita tentangmu. Apa itu benar?" Dia bertanya dengan penasaran.
Ketika Arum menjawabnya dengan anggukan, maka rona kecewa tampak di wajah tua Pakde.
"Kamu ini, Nduk. Ditawari baik-baik menjadi istriku ndak mau. Malah menyerahkan diri dengan orang yang ndak jelas begitu. Piye, toh?" tanyanya dengan nada tinggi. Dada laki-laki itu terbakar amarah. Dia sungguh menyesalkan atas apa yang telah terjadi.
"Pakde mau apa?" tanya Arum blak-blakan.
"Kamu bisa diusir dari kampung, Rum. Kecuali ... kalau mau kunikahi. Walau kamu sudah dinodai orang lain, aku masih mau menerima," kata laki-laki itu dengan tegas.
Arum tersentak mendengar itu, lalu berucap lirih, "Sebaiknya Pakde pulang sekarang. Aku ndak bisa menjawab apa-apa untuk saat ini."
"Pikirkan baik-baik, Rum. Masa depanmu tergantung kepada keputusan yang kamu ambil hari ini."
Arum terdiam hingga laki-laki itu keluar dari rumah dan menghilang dari pandangan. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (766)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Sudah 4 buku yg aku baca, karena emang bukunya bagus² alur ceritanya juga bagus enak dibaca, walaupun banyak konflik tapi itu yg bikin penasaran.. Jangan lupa update yg lain yah kak, Terimakasih ❣️
25/12/2021
2lebih lengkap
07/09
0seruu banget
20/02
0Lihat Semua