Beranda/Bawang Merah Bawang Putih/
Bab 11 Cemburu
Sejak pernyataan cintanya diterima oleh sang pujaan hati walaupun karena terpaksa, Arjuna semakin giat bekerja. Arum menjadi penyemangat hidupnya walaupun mereka hanya bisa bertemu di hari libur dan itu hanya sebentar.
Arum sendiri semakin giat belajar semenjak dibantu oleh Ayu, sekalipun saudaranya itu kerap kali marah atau mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar karena pemahamannya yang lambat.
"Pergi dulu, Bu." Arum mencium tangan Lastri dan berpamitan. Dia memang berangkat lebih awal karena harus berjalan kaki. Sementara Ayu akan dijemput oleh salah satu temannya dengan motor.
"Hati-hati. Belajar yang rajin."
Arum berjalan melewati gang dan membalas sapaan para tetangga. Setelah Arjuna rutin menjemputnya setiap minggu, warga gang menjadi lebih ramah jika bertemu. Mereka mulai membandingnya dan Ayu, dan mengatakan bahwa dia lebih beruntung.
Sesampainya di sekolah, Arum terkejut saat Ratih menarik tangannya dan kini mereka berdiri di depan papan majalah dinding.
"Rum. Ini ada lomba gambar. Hadiahnya lumayan. Uang lima ratus ribu," Ratih menunjuk salah satu pengumuman yang baru ditempel pagi ini.
Arum langsung melihat dan membacanya dengan teliti. Lomba melukis dengan tema Kasih Ibu yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten.
"Masih ada waktu satu minggu lagi. Tapi, apa aku bisa?" ucap gadis itu meragu. Sepertinya pihak sekolah dan pengurus mading baru mendapatkan informasi itu, padahal pendaftaran lomba sudah berjalan hampir dua minggu.
"Pasti bisa. Kamu pintar melukis dan menggambar. Nanti aku yang bantu daftarkan. Kamu bikin saja sesuai tema," bujuk Ratih.
Arum menimbang sejenak lalu mengambil buku dan pulpen. Dia mencatat apa saja yang menjadi syarat-syaratnya.
"Sekarang setiap malam, aku harus belajar sama Ayu, karena hari minggu Om Arjuna pasti datang."
"Jadi kamu benar pacaran sama dia?" tanya Ratih penasaran.
Arum mengangguk dan menarik lengan Ratih menuju kelas setelah selesai mencatat. Mereka duduk sambil berbincang karena sebentar lagi jam masuk kelas.
"Terpaksa," katanya lemas.
"Tapi kalian ndak berbuat sesuatu, 'kan?" tanya Ratih penuh selidik.
"Ya ndaklah. Kami cuma jalan-jalan."
"Bagus kalau begitu, Rum. Kita wanita harus bisa menjaga kehormatan diri," nasihat Ratih.
"Om Arjuna itu sebenarnya baik, tapi dia sudah tua," lanjut Arum.
"Harusnya kamu senang ada yang menyukai, Rum. Aku saja ndak dibolehkan Bapak berpacaran. Katanya nanti setelah lulus sekolah, sudah ada yang mau melamar," kata Ratih lesu. Entah siapa yang akan menjadi calon suaminya nanti, semua masih dirahasiakan.
"Kamu mau nikah sama orang yang ndak dikenal?" Lirikan mata Arum membuat Ratih menjadi bimbang.
"Ya mau gimana lagi. Aku anak pertama, jadi menurut saja. Tapi aku yakin, Bapak pasti memilih yang terbaik. Bisa saja kalau aku memilih sendiri, justru nanti malah menyesal," kata Ratih bijak.
Tak lama lonceng berbunyi. Suasana di kelas menjadi riuh seketika. Para murid terutama anak laki-laki berteriak dan berlarian. Ada yang bermain lempar-lemparan, ada yang saling mendorong. Padahal sebentar lagi mereka akan ujian kelulusan, tapi beberapa masih bertingkah kekanakan.
"Rum," sapa Gilang, salah seorang teman sekelas saat menghampirinya.
"Apa?" tanya gadis itu kebingungan.
"Kamu sudah lihat pengumuman di papan mading?" Gilang bertanya dengan wajah merona karena malu.
"Yang mana?" tanya Arum sembari melihat Ratih.
"Lomba gambar," jawab Gilang sambil menggaruk kepala yang tidak gatal untuk menutupi kegugupan.
"Memangnya kenapa?"
"Kamu, kan, suka menggambar. Ayo ikutan," ajaknya.
Arum kembali menatap sahabatnya, bingung hendak menjawab apa.
"Kok, kamu tau kalau Arum suka gambar?" Kali ini Ratih yang bertanya.
"Ka-re-na ... aku memperhatikan," ucap Gilang terbata.
Mata Ratih membulat karena tak percaya. Sementara itu Arum terdiam tak menyangka.
"Aku ... suka." Lalu Gilang berlalu begitu saja dan kembali ke kursinya di belakang.
Arum dan Ratih kembali berpandangan kemudian menutup mulut dan menahan tawa.
"Akhirnya, ada cowok seumuran kita menyukaimu, Rum. Bukan om-om apalagi aki-aki," Ratih tergelak karena merasa lucu.
Arum sendiri ikut tertawa karena tak menyangka bahwa ternyata ada salah satu teman sekelas mereka yang memperhatikannya.
"Aku pikir semua menyukai Ayu karena kecantikannya," kata Arum.
"Itu buktinya ada yang suka, tapi diam-diam. Ndak berani menyampaikan isi hati," sahut Ratih.
Mereka melanjutkan diskusi mengenai lomba itu, hingga seorang guru datang dan jam pelajaran dimulai. Arum benar-benar serius belajar kali ini dan sudah bertekad akan lulus dengan nilai yang memuaskan.
***
"Aku duluan, ya." Ratih melambaikan tangan karena bapaknya sudah menjemput.
Arum berjalan kaki menuju ke depan gerbang ketika Gilang kembali menghampirinya.
"Pulang sama-sama, boleh?"
Mereka berjalan bersisian dalam diam, karena merasa canggung. Arum bahkan menunduk sepanjang jalan sehingga beberapa kali dia tersandung.
"Hati-hati, Rum," kata Gilang sambil meraih lengan gadis itu.
"Eh, iya. Terima kasih."
"Kamu ndak berminat ikutan lomba?" tanya Gilang lagi.
"Maunya sih, ikut. Tapi semoga ada waktu," jawab Arum.
"Aku akan mendukungmu. Kalau perlu pas lomba nanti aku akan hadir," janji Gilang. Selama ini dia memang menyukai Arum hanya saja tak berani mendekati. Gadis itu selalu saja menempel dengan Ratih sehingga sulit untuk diajak bicara.
"Terima kasih."
Dua remaja itu asyik bercerita tanpa sadar bahwa ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka di depan gerbang.
"Rum," panggil Arjuna.
"Om?"
"Aku jemput kamu pulang," kata Arjuna dengan nada tak senang saat melihat sang kekasih bersama orang lain.
"Kalau begitu aku duluan, Rum." Gilang berpamitan menjauhi mereka.
"Bukannya om lagi kerja?" tanya Arum.
"Aku off hari ini. Mau bawa kamu ke suatu tempat," jawabnya.
"Tapi aku mau pulang. Sudah ditunggu Bu Lastri."
"Aku sudah izin mau bawa kamu, Rum. Nanti pulangnya, kita belikan sesuatu buat Ibu sama Ayu."
Arum mengikuti langkah Arjuna menuju mobil dan mengabaikan pandangan kaget dari beberapa teman, juga guru sekolah yang melihat mereka jalan berdua.
"Masuk." Arjuna membukakan pintu mobil dan mereka melaju ke sebuah toko.
"Beli yang kamu mau," kata Arjuna menunjuk beberapa model pakaian. Setiap kali mereka pergi, baju yang dipakai Arum begitu lusuh dan kurang menarik. Itu membuatnya prihatin.
"Ini ndak apa-apa, Om?"
Tatapan mata Arum yang polos membuat Arjuna iba.
"Ya gak apa-apa. Kamu kan pacarku. Jadi aku boleh belikan apa aja yang kamu mau," katanya sambil menarik tangan Arum mengelilingi isi toko.
Arum terlihat senang. Selama ini dia hanya mendapat baju baru saat hari raya, itu pun hanya satu. Jadi, kali ini dia memilih beberapa helai dengan model sederhana dan tidak banyak motif.
"Itu cukup?" tanya Arjuna heran. Selama ini, gadis-gadis yang pernah dikencaninya akan membeli banyak barang saat pergi berbelanja. Bahkan pernah, limit kartu kreditnya langsung habis dalam sehari.
Arum mengangguk dan Arjuna segera melakukan transaksi di kasir. Mereka memutuskan untuk pulang dan berjalan menuju parkiran.
"Itu tadi siapa yang jalan sama kamu, Rum?"
"Teman sekolah, Om."
"Sepertinya dia suka," kata Arjuna dengan nada tak suka. Dia cemburu? Ya, mungkin saja.
"Ndak tau."
"Jangan dekat-dekat sama yang lain, ya. Aku gak suka," tegas Arjuna.
Rona wajah Arum berubah mendengar itu, lalu dia berkata, "Tadi kami bicara soal lomba."
"Lomba apa?"
Arum lalu menceritakan tentang pengumuman yang dipasang di majalah dinding sekolah tadi pagi. Dia mengatakan ingin ikut tapi ragu karena waktu yang terbatas.
"Kamu bisa gambar?"
"Bisa sedikit, Om."
"Kalau begitu ikut. Aku akan mendukungmu. Nanti aku ajari kalau kesulitan," kata Arjuna memberikan respons.
"Om bisa gambar?"
"Bisa sedikit," jawab Arjuna sambil fokus menyetir. Lalu mobil berbelok dan kembali ke arah sekolah.
"Kenapa ke sini lagi?"
"Mampir ke rumahku sebentar. Ada yang ketinggalan. Setelah itu aku antar kamu pulang."
Arum menurut saja ketika mobil terparkir di halaman kontrakan laki-laki itu.
"Ayo, masuk."
"Di sini saja, Om," tolaknya sembari duduk di teras.
"Mau lihat gambarku, gak? Nanti kita coba sama-sama kalau kamu jadi ikut lomba."
Arum meragu namun akhirnya melangkahkan kaki mengekori laki-laki itu.
Arjuna berjalan ke kamar mengambil beberapa barang yang akan dia bawa. Setelah mengantar Arum nanti, dia akan ke lokasi dan menyerahkannya kepada aalah satu tim. Sekalipun hari ini dia off, tetap saja tidak bisa lepas dari pekerjaan.
"Ini." Laki-laki itu meletakkan selembar kertas dan membiarkan Arum terpana melihatnya.
"Bagusnya. Boleh ajari?" tanya Arum penuh harap. Lalu dia membuka tas dan mengambil buku, memperlihatkan hasil gambarnya.
Arjuna duduk di sebelah sang pujaan hati dan mulai menjelaskan secara pelan-pelan. Itu membuat jantung Arum berdetak lebih kencang karena aroma tubuh laki-laki itu menguar ke panca inderanya.
"Kenapa?" tanya Arjuna sambil menatap wajah cantik itu dengan lekat. Dua mata bertautan dengan degup jantung yang tak beraturan.
Arum memalingkan wajah karena malu, tapi Arjuna dengan cepat meraih dagunya. Lalu, laki-laki itu menunduk hendak menyentuh sang kekasih saat tiba-tiba saja ucapan Lastri bergaung di benak Arum.
"Hati-hati. Kalau laki-laki sama perempuan lagi berduaan, maka yang ketiga itu setan. Dia menggoda umat manusia untuk melakukan dosa."
Arum segera menundukkan kepala sehingga Arjuna hanya menyentuh pelipisnya.
"Antar aku pulang, Om," pinta Arum sembari membereskan kertas dan buku dengan tangan gemetaran. Setengah berlari dia keluar rumah dan menunggu di depan.
Arjuna mengusap wajah berulang kali dan TERTAWA geli saat menyadari apa yang baru saja diperbuatnya. Benar, Arum itu memang berbeda dan memang sulit untuk ditaklukkan. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (766)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Sudah 4 buku yg aku baca, karena emang bukunya bagus² alur ceritanya juga bagus enak dibaca, walaupun banyak konflik tapi itu yg bikin penasaran.. Jangan lupa update yg lain yah kak, Terimakasih ❣️
25/12/2021
2lebih lengkap
21d
0seruu banget
20/02
0Lihat Semua