BRANDON Tiga bulan kemudian Tubuh rasanya mulai terasa nyaman setelah berhari-hari latihan basket. Bersyukur pertandingan berjalan dengan lancar kemarin. Sekarang saatnya bersiap untuk mengikuti ujian semester dua yang akan diselenggarakan satu minggu lagi. Mulai hari ini hingga selesai ujian, latihan basket ditiadakan sehingga para anggota bisa fokus dengan ujian semester. Setiap pulang sekolah, Iin mampir ke rumahku dulu untuk belajar bersama. Selama tiga bulan ini juga hubungan kami membaik. Kami berdua saling mengenal dan mulai mengerti satu sama lain. Apalagi di sekolah sekarang tidak ada lagi geng Chibie, mereka semua dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah tepat dua hari setelah kejadian yang menimpa sahabatku. Pihak sekolah juga memperketat peraturan, salah satunya benar-benar mengawasi perundungan di lingkungan sekolah. Akhirnya, aku dan Iin bisa bebas istirahat dan pulang bersama-sama. Sekarang aku sedang menunggunya keluar dari kelas. Tak lama kemudian, Iin muncul di sela pintu bersama dengan Lova. “Tuh kembaran lo udah tungguin,” ujar Lova mengerling ke arahku. Sejak siswa di sekolah ini tahu kami bersahabat, mereka kerap menyebut kami kembar. Menurut mereka kesukaan kami hampir sama, termasuk makanan di kantin. Hanya saja Iin lebih suka pedas dan aku suka manis. “Hati-hati ya, Lov.” Iin melambaikan tangan kepada teman satu kelasnya sebelum beranjak mendekatiku. “Pulang sekarang?” tanyanya. Aku menggeleng. “Ke atap yuk!” “Ngapain? Kita harus belajar, Bran,” protes Iin. “Lepas stress dulu di atas, In. Kalau udah fresh baru bisa belajar.” Aku memberi tatapan memelas. Biasanya seperti ini mempan meluluhkan hati Iin agar menuruti permintaanku. Dia mendesah pelan, lantas mengangguk. Yess!! Kami berdua naik ke atap melihat langit kota Jakarta yang cenderung tertutup kabut. Begitu tiba di atas, aku memandang takjub ke arah langit yang kini tampak jelas memperlihatkan rona biru. “Wah, langit hari ini biru banget, In,” seruku mendongakkan sedikit kepala sambil terus melangkah menuju bangku. Aku dan Iin duduk di bangku saling berpunggungan. Beginilah kami berdua menghabiskan waktu di atap. “Tumben ya bisa lihat langit cerah tanpa tertutup asap,” gumam Iin. “Tuh jadi lebih rileks, ‘kan?” Terasa tubuh Iin bergerak di balik punggung. “Banget.” “Gue nervous nih menjelang ujian. Bisa nggak sih dapat nilai bagus?” ungkapku jujur. “Jangan pikirkan nilai, Bran. Fokus aja sama soal dan jawabannya.” “Gitu ya?” “Kalau lo udah mikirin nilai di awal, pasti susah fokus kerjakan soal. Yang ada malah jadi beban. Mulai sekarang stop pikirin itu. Enjoy aja.” Aku manggut-manggut mendengar saran Iin. “Tambahannya kalau bisa jangan pergi dulu sama TTM-an lo itu sampai ujian selesai,” sambungnya membuatku menegakkan tubuh ingin protes. Iin juga melakukan hal sama, sehingga kami berhadap-hadapan sekarang. “Kenapa? Mau protes? Emang bisa menjamin mereka nggak akan ganggu konsentrasi lo belajar?” Mata cokelat lebar Iin semakin membesar sekarang. Kalau sudah begini, aku menjadi ciut. Dia bisa berubah menjadi singa betina yang bisa menerkam kapan saja. Aku menggelengkan kepala pasrah. “Ya udah deh. Gue akan pending janji-janji dengan mereka sampai ujian selesai.” Iin tersenyum, lalu berujar, “Good! Anak baik.” Kami sama-sama hening beberapa saat. “Lo beneran nggak ada minat untuk pacaran, In?” Selama bersahabat dengannya tidak pernah terdengar curhatan Iin tentang pria yang dekat dengannya atau ketertarikan terhadap laki-laki. Iin menggeleng sambil menatap langit. “Kenapa? Nggak mau coba-coba dulu?” Dia menggeleng lagi sambil mengangkat bahu. “Nggak mau aja.” “Lo ada interest nggak sih sama cowok, In?” Aku cekikikan membuat paras Iin memerah. Cubitan diberikan bertubi-tubi di pinggang sebagai pelampiasan amarahnya. “Gue bercanda, In. Habis gue perhatikan lo kayak nggak tertarik gitu sama cowok. Belum lagi hobi lo yang maskulin banget.” “Sembarangan lo! Gue masih suka sama cowok tahu.” “Oya? Buktinya apa?” Aku tak berhenti menggodanya. Dia menarik napas berat. “Buktinya gue masih suka lihatin Jerry Yan daripada Barbie Hsu.” Aku terpingkal mendengar perkataan Iin. “Itu lo sebut bukti?” ledekku. Iin sekarang berkacak pinggang. “Emang harus pacaran dulu baru lo percaya kalau gue suka sama cowok?” “Salah satu yang bisa membuktikannya cuma itu.” Matanya kini menyipit dan memandang tajam ke arahku. “Oke. Gue anggap itu sebagai tantangan.” Arini berdiri sambil menyeka poni yang mulai menempel di kening, karena keringat. “Mau pulang sekarang nggak? Panas nih,” ketusnya sambil mengipaskan tangan ke wajah. Aku ikut berdiri lantas mengangguk. “Yuk, kasihan nanti kalau lo gosong. Nanti nggak ada yang mau sama lo.” “Nyebelin banget sih lo, Bran.” Iin memukul tubuhku dengan kedua tangan yang dikepal. Bukannya sakit, tapi malah tertawa lagi. Pada akhirnya aku merangkul bahu Arini sambil turun menapaki anak tangga. “Jangan marah dong, In. Tambah jelek tuh muka kalau cemberut kayak gitu.” “Bodoh amat!” katanya memasang tampang berkerut. “Dih galak banget. Kasihan yang jadi suami lo ntar.” “Biarin!” “Entar nggak ada yang mau nikah sama lo gimana?” “Nggak peduli!” Langkahnya berhenti saat hampir sampai di anak tangga paling bawah. “Lo ngapain sih bahas itu? Masih lama juga. Gue baru mau naik kelas dua, Bran. Ngeselin banget sih!” “Sorry deh, gue nggak bahas lagi. Janji!” ucapku sungguh-sungguh. Iin memutar bola mata, lalu melanjutkan langkahnya. Kami sama-sama pulang dan belajar di rumah. Beberapa menit kemudian, motor memasuki pekarangan kediaman keluargaku. Seperti biasa aku memarkirnya di depan garasi, karena akan dipakai lagi untuk mengantarkan Iin pulang. “Arini,” sambut Mama tersenyum hangat. Setiap kali ikut denganku ke sini, Mama pasti menyapa Iin terlebih dahulu. Beliau seakan lebih sayangan kepada Arini daripada putranya sendiri. Aku hanya bisa menekuk wajah, meski ada rasa cemburu karena sahabatku merebut perhatian Mama. “Kenapa, Bran?” tanya Mama dengan kening berkerut. Aku menggelengkan kepala. “Nggak kenapa-napa, Ma.” Tidak mungkin kukatakan cemburu dengan Iin, ‘kan? “Kalian makan dulu, nanti baru belajar.” Mama melihatku dan Iin bergantian ketika berada di dalam rumah. Aku mengerling ke arah Iin. “Laper nggak?” “Belum sih. Lo gimana?” “Sama.” Aku mengalihkan paras kepada Mama dan berkata, “Nanti aja deh, Ma. Masih kenyang. Tadi makan nasi goreng di kantin.” “Ya sudah. Mama buatkan camilan untuk kalian dulu.” Mama kemudian beranjak menuju dapur, sedangkan aku dan Iin naik ke lantai atas. “Habis belajar main yuk, In. Gue beli game baru, seru banget.” “Nggak ada game sampai ujian kelar, Bran.” Iin memelotot garang. “Ya deh.” Keinginan untuk bermain game akhirnya diredam. “Entar gue bilang sama Tante, PS ini disimpan dulu biar lo nggak main diam-diam.” Duh! Iin kenapa jadi lebih menyeramkan dari Mama sih? “Jangan dong. Gue janji nggak sentuh PS sampai ujian kelar.” Arini melihatku dengan sudut mata sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Apa jaminannya?” Aku diam tidak bisa menjawab pertanyaannya. “Pokoknya nanti gue minta Tante simpan PS itu!” tegas Iin tidak bisa ditawar lagi. Diri ini hanya bisa mendesah pelan, pasrah tapi tidak rela. Aku melihat Iin dengan tampang memelas saat dia mengeluarkan ponsel entah untuk apa? Dia menatapnya sebentar sebelum melihat ke arahku. “Lo kenal sama orang ini nggak, Bran?” Aku melihat ponsel Iin yang sedang menampilkan profile picture seorang laki-laki, sepertinya wajah itu tampak tidak asing. “Kayak pernah lihat di sekolah. Kenapa?” “Dia mau ngajak gue ketemuan. Katanya ada yang mau dikatakan,” sahut Iin membuatku menelan ludah. Bersambung....
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (663)
RosliMuhammad alif
kak.. salam dari malaysi.. aku mau nanya novel ini kamu ada buat secara fizikal gak?
kak.. salam dari malaysi.. aku mau nanya novel ini kamu ada buat secara fizikal gak?
13/08
0bagus
09/09/2025
0wowwww baguusss
20/05/2025
0Lihat Semua