"Bibinya Fani kecelakaan. " tanpa basa basi Bima memberitahu Candra ketika dia baru sampai di caffe. "Hhahh.. Maksudnya ?" Candra kurang paham dengan apa yang disampaikan Bima. "Aku sudah sadap WA Ibu, dan anak buahnya mengirim pesan kalau mereka sudah membuat rem mobil Bibi Ike blong , itu yang membuat Bibi mengalami kecelakaan. " dengan suara pelan Bima menjelaskan kepada Candra, dia takut nanti ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. "Apa.. Maksudnya Ibu kamu menyuruh orang untuk membuat Bibinya Fani celaka? " terlihat jelas Candra begitu shock mendengar kabar yang baru saja di sampaikan Bima. "Iya.. " "Ini udah benar-benar kejahatan Bima, kita tidak bisa biarkan ini lebih lama lagi, aku tahu Ibu Ina, Ibu kamu, tapi perbuatan dia benar-benar sudah termasuk tindak kriminal, bahkan karena ulah Ibu kamu Sinta sekarang harus mendekam kepenjara, Awalnya aku juga marah ke kamu, tapi aku sadar kamu juga disini korban, korban ke egoisan Ibu Ina. " ada kilatan marah di mata Candra ketika dia mengatakan semua itu. "Aku tahu itu, makanya apa pun akan aku lakukan demi bisa membuat Sinta bebas kembali. Kita harus bisa menemukan para orang suruh Ibu, dan membuat mereka membantu kita untuk menjerat Ibu kepenjara, " "Kita berdua saja atau libatkan Fani juga? " "Kita berdua saja, keinginan aku dan Fani memang sama tapi tujuan kita berbeda, jadi biar dia usaha sendiri, begitu juga kita berdua. " ujar Bima dengan suara datar. Drrtt.. Drrtt.. Muncul nama Fani di layar ponsel Bima, segera Bima menjawab panggilan tersebut. "Iya, Hallo.." jawab Bima datar, "Apa.. Iya baik aku kesana, kamu kirim saja alamat Rumah sakitnya. " setelah itu Bima segera berlari keluar Caffe kalau saja tidak di hentikan Candra. "Ada apa? " "Bibi Ike sekarang sedang kritis, aku disuruh Fani harus segera kerumah sakit, " ucap Bima cepat, entah kenapa ada rasa khawatir kepada Fani yang menghinggapi hati dia. "Aku ikut.. " ujar Candra sambil mengikuti Bima keluar Caffe setelah tadi menaruh uang untuk membayar minuman mereka. 🔹🔸🔹 Sesampainya di Rumah sakit, nampak Fani tengah menangis dipelukan Paman Haris. Pelan Bima menghampiri mereka, di ikuti Candra dari belakang. "Fani, Paman.. " panggil Bima, mereka berdua bersamaan melihat kearah Bima. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Bibi Ike? " Bima bertanya, hanya untuk memastikan langsung dari mulut Fani. Akhirnya Paman Haris yang menceritakan kronologi kejadian kecelakaan yang menimpa istrinya itu, ada kilatann kemarahan dan nada curiga yang Paman Haris tunjukan selama menceritakan kejadian itu. "Kamu tahu sesuatu Bima? " tanya Paman Haris penuh selidik. "Tahu tentang apa Paman? " dengan tenang Bima justru balik bertanya kepada Paman Haris. "Kata polisi ada yang sengaja membuat rem mobil Ike blong, dan menyebabkan dia mengalami kecelakaan, kasus ini tengah di selidiki oleh polisi, tapi apakah kamu tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini? " lagi Paman Haris berusaha menyelidiki gerak gerik Bima. Bima sadar Paman Haris berusaha mencari tahu tentang kecelakaan yang menimpa istrinya melalui dia, Bima hanya sedang berpura-pura untuk tenang, awalnya Candra ingin memberitahu, tapi ia urungkan mengingat bagaimana sikap Paman Haris kepada mereka tempo hari. "Bukan salah Paman sih kalau selalu mencurigai aku, yang jelas dari pulang kerja aku keluar dengan Candra sedang membicarakan masalah bisnis. " ucap Bima jujur tapi tidak sepenuhnya jujur. Terdengar helaan nafas berat Paman Haris, mungkin yang di katakan Fani. Benar kalau ia terlalu sombong dan merasa paling hebat, andai waktu itu ia mau menekan egonya dan bekerja sama dengan Bima Ibu Ina pasti sudah dipenjara, dan tidak akan ada kejadian seperti ini, entah ini perbuatan Ibu Ina atau orang lain, yang jelas Paman Haris sadar kalau dia butuh bantuan Bima. "Bima.. " panggil seseorang dari belakang Bima, ternyata Ibu Ina dan Mila sedang berjalan kearah mereka. "Ibu kok ada disini? " tanya Bima bingung. "Tadi Ibu sedang antar adikmu cek up ke dokter, Tapi Mila tidak sengaja melihat kamu dan Candra berlari kesini, makanya Ibu menyusul, kamu sedang apa disini? " dengan muka yang dibuat seolah-olah tidak tahu apa-apa Ibu Ina bertanya kepada Bima. "Bibi Ike mengalami kecelakaan, kini keadaan dia sedang kritis dokter sedang berusaha menanganinya. " jelas Bima datar, terlihat Ibu Ina berpura-pura terkejut mendengar kabar tersebut. Bersamaan ponsel milik Bima bergetar, nampak ponsel Ibu Ina juga sama, tapi dia hanya melihat sekilas layar ponselnya tanpa berusaha untuk membuka pesan tersebut, sepertinya dia takut kalau nanti malah dicurigai. "Itu pasti pesan dari anak buah Ibu, aku harus lebih dulu tahu apa isi pesan itu, siapa tahu ada petunjuk tentang keberadaan mereka. " batin Bima. Pelan Bima melihat ponselnya dan benar saja disana ada pesan untuk Ibunya dari anak buahnya. [ Bos, gawat! Sepertinya polisi sudah tahu kalau rem mobil Ibu Ike blong karena ulah kita semua, sementara ini kita sedang bersembunyi di ruko dekat jalan 212, untuk sementara menghindari kejaran polisi, agar tidak mudah kelacak ponsel kita matikan sementara, bos bisa kan datang langsung ketempat persembunyian kita. ] Setelah membaca pesan itu, Bima tersenyum samar, "Akhirnya aku tahu keberadaan kalian juga, siap-siap para cecunguk untuk mendapatkan hadiah dari anak bos mu. " batin Bima. Dia harus mencari alasan agar bisa pergi dari sini dan segera menuju ke ruko tempat anak buah Ibunya bersembunyi sebelum keduluan Ibunya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (795)
Sri Sunarti
bagus banget... aku juga udah baca yg season 2 👍👍👍
bagus banget... aku juga udah baca yg season 2 👍👍👍
27/03
0Bagus
22/03
0saya sangat suku novel ini
17/07/2025
0Lihat Semua