Kini semua murid kelas tujuh tiga memilih Kakak kelas nya masing masing untuk mengajari bola basket. Seperti sudah ditakdirkan, tidak ada yang memilih ka Andara ka Putra dan ka Akmal menjadi mentor nya. Dan ada 3 murid kelas tujuh tiga yang tersisa, diantaranya Maya, Dila, dan gadis kecil itu. "Ayo May," ucap ka Putra membawa bola basket dan mengajari Maya. "Seperti takdir, kita dipertemukan kembali ka Putra, dan aku berharap semoga saja seterusnya aku teh ketemu wae sama ka Putra." batin Maya bersuara, lambaian tangan ka Putra membuyarkan hayalan nya. "Ayo kak Akmal," ajak Dila memberi kode supaya ka Akmal mendekatinya dan mengajarinya dribel bola basket. "Lah siapa yang mau ngajak kamu?" cetus Akmal masih kesal karena kemarin disebut Mala oleh Dila. "Lah. Kan cuman kita berdua yang tersisa, seumpama Adam dan Hawa." ucap Dila menatap sekeliling lapangan yang penuh karena belajar dribel oleh kakak kelasnya. "Adam dan Asep!" cetus ka Akmal, lalu menarik tangan Dila dan mulai mengajarinya dribel. Sementara itu, ka Andara dan gadis kecil itu hanya saling diam dan menatap satu sama lain. Kadang memalingkan muka dan menatap sekitar lapangan. "Ar, ayo kita mulai dari dribel." ucap ka Andara kepad agadis kecil itu. "Emang bisa main basket?" tanya gadis kecil itu. "Heh kamu nantangin kalo aku ga bisa main basket? yang bikin hidung kamu mimisan siapa coba?" cetus ka Andara mengoceh sembari mengambil bola basket dari tangan gadis itu yang sedang dribel bola basket. "Terus Ka An bangga bikin adik kelasnya mimisan?" cetus gadis kecil itu merebut kembali bola basket dari ka Andara. Mereka saling mengoceh sampai bola basket yang dipantulkan oleh ka Andara masuk ring dengan sempurna. "Liat kan?" ucap ka Andara dengan sombongnya memberi senyum meledek. "Idih, aku juga bisa kali, bukan ka An doang. Mana sini!" ucap gadis kecil itu, melalukan dribel bola basket dan memasukannya ke ring dengan jarak dekat sekali, ia memasukan bola basket bukan dipantulkan melainkan dilemparkan keatas, karena posisi gadis kecil itu berada dibawah ring. "Bisa, bener pinter banget, aku bangga kepadamu muridku." ucap ka Andara pasrah melihat gadis kecil itu salah trik sembari mengangkat satu jempolnya lalu mengusap air matanya. "Usap lah air mata mu, aku tak ingin ada kesedihan," ucap gadis kecil itu kepada ka Andara sembari mengambil bola yang bergelinding ke semak semak. Sementara itu ka Akmal dan Dila sedang asik merebut bola basket satu sama lain. "Over sini ayo kak Ak Ak," ucap Dila bersemangat, membuat ka Akmal berhenti menggiring bola basket nya. "Bentar, ka Ak AK siape Jubaedah?" cetus ka Akmal dengan kesal. "Ka Akmal lah, emangnya mau disebut kak Mala? ka Ak AK lebih bagus kok, itu panggilan sayang tersendiri dari Dila," ucap Dila membuat ka Akmal pasrah saja mendengar nama itu di ulang ulang 'ka Ak Ak' "Yaallah mengapa hamba dipertemukan dengan Ade kelas seperti ini, ingin rasanya menjadi burung gagak saja." cetus ka Akmal pasrah sembari mengangkat kedua tangannya seperti sedang berdoa. "Aamiin," ucap Dila, dengan polosnya. "Terserah, Putraa tolongin guaa," lirih ka Akmal tak tahan mendapatkan Ade kelas seperti Dila. Disisi lain ka Putra dan Maya masih saling merebut bola basket dan memasukannya ke dalam ring. "Yess, Alhamdulillah menang. Terimakasih terimakasih, " ucap Maya berteriak senang mengangkat kedua tangannya sembari lari. Kemudian duduk, tak lupa kiss bye dan melambaikan tangan ke sekitar lapangan. Lalu ia mulai beraksi layaknya pemain bola Indonesia yang mencetak Goal. Ia langsung melihat ka Putra. "Hehe," ucap ka putra yang sebelumnya hanya memberi satu jempol lalu diikuti suara itu. "Ka Puput, gimana tadi Maya bagus henteu ngagiring bola na?" ucap Maya khas Sunda nya semakin melekat didirinya. "Puput siape?" tanya ka Putra merasa kebingungan. "Ka Putra atuh, panggilan sayang Maya mah ka Puput," cetus Maya agar ka Putra semakin menyukainya karena mendapatkan panggilan sayang dari Maya. "Panggil aja ka tra," ucap ka Putra tak ingin disebut Puput. "Kenapa ga sekalian Ka- Tro, katro?" ucap Maya polos mengganti ujung huruf a jadi o. "Serah lah mau Puput, Pipit, Papat, Katro, Katra, Katri, Katre, terserah gimana Mayat aja!" ucap ka Putra kesal. "Maya sanes Mayat aa ih," ucap Maya kepada ka Putra. "Itu aa apaan lagi hadeh," ucap ka Putra, karena tidak tau panggilan untuk pria itu AA, perlu di maklum kan, ka Putra pindahan dari Bekasi sama seperti Andri ayahnya bertugas di Bandung. "Itu teh panggilan buat laki laki, kalo perempuan teteh," ucap Maya meluruskan kata katanya. "Oh gitu," cetus ka Putra tak banyak tanya. "Ka Putra tadi marahin Maya, gaakan minta maaf?" ucap Maya memberi kode kepada ka Putra. "Eh iya Maya maaf." ucap ka Putra terpaksa. "Ah bisa aja deh ka Putra," ucap Maya sembari menyenggol tubuh ka Putra dari samping, membuat ka Putra terpental ke tong sampah. "Astaghfirullahaladzim ka Put," ucap Maya panik lalu membantu ka Putra berdiri dan membersihkan daun daunan yang menempel di rambut ka Putra. "May, kalo mau nyenggol tuh ngomong dulu, jangan asal senggol. Kamu pikir saya papan apa bisa disenggol?" cetus ka Putra menahan amarahnya. "Ya masa we atuh ka, Maya ijin dlu kaya gini ' Punteun ka Putra ijin nyenggol sebentar' atuh ga asik," ucap Maya sembari merapihkan seragam ka Putra. "Ya iya juga si, tapi senggolan kamu menyebabkan Mala petaka." cetus ka Putra sembari mengambil bola basket nya. "Nih daripada ngoceh terus," ucap Maya menyodorkan botol dua ribuan yang sudah dibuka bungkusnya. "Jangan di totol." ucap Maya, padahal ka Putra baru saja membuka tutupnya. "Makasih," ucap ka Putra sembari memberikan botol minum itu ke tangan Maya, lalu ia pergi menemui Andara dan Akmal yang dari tadi duduk di koridor. Dila dan gadis kecil itu mendekati Maya di lapangan, dan menariknya ke podium untuk beristirahat. "Kenapa tuh botol tiga ribuan di genggam terus?" ucap Dila kepada Maya. "Bekas minum ka Putra, tangan aku juga ga sengaja ke pegang sama ka Putra, ah fix gaakan aku cuci cuci tangan ini," ucap Maya, membuat Dila dan gadis kecil itu saling menatap dan menggelengkan kepala mereka. "Eh tapi aku juga gaakan nyuci ini baju," ucap Dila membuat Maya dan gadis kecil itu menengok ke arahnya. "Kenapa?" tanya gadis kecil itu kepada Dila. "Bekas ditarik ka Ak Ak," ucapnya membuat gadis kecil itu melongo membuka mulutnya. "Hah Ka Ak Ak?" gadis kecil itu kembali menanyakannya kepada Dila. "Ka Akmal Ar, cuman biasalah panggilan sayang," ucap Dila membuat gadis kecil itu bergidik. "Gini nih kalo udah ke makan suka sama cowok, pada gila!" ucap gadis kecil itu sembari mengikat tali sepatunya yang lepas. Tiga pria itu masih berdiskusi lebih tepanya ghibah tentang Ade kelas yang baru mereka ajarkan dribel bola basket. "Sumpah tuh cewe yang namanya Dila merusak nama gue banget, masa iya sih gue dipanggil ka ak ak? sekalian aja sihir jadi burung gagak." cetus ka Akmal memulai obrolan. "Lah, lu masih mending. Gua di senggol sampe terpental ke tong sampah, mana linu banget pinggang encok," ucap ka Putra menghibahkan Maya. "Hai, capek ya? sama ko aku juga," ucap ka Andara menepuk bahu ka Putra dan ka Akmal. "Ih mana lagi tiap Rabu kita bakal disuruh pak Dadang ngegantiin beliau ngajarin mereka," ucap ka Akmal. "Dah lah, mendingan kita tanding yuk satu lawan satu," ucap ka Andara kepada ka Akmal dan ka Putra. "Gass." ucap ka Putra. "Lah lah kalo satu lawan satu jadi dua dong, lah gue sama siapa?" ucap ka Akmal merasa dirinya tidak dianggap oleh mereka berdua. "Satu lawan satu juga bisa bertiga mainnya set*n." ucap ka Putra kesal kepada salah satu temannya ini. "Heh culun. lo pengen menderita seumur hidup?" Divya mencubit lengan Gadis kecil itu di wc. "Apaan sih kak?" Gadis kecil itu menepis tangan Divya yang mencubitnya. `PLAKK! "Berani lo ya sama gue?" Divya pergi meninggalkan Gadis kecil itu setelah menampar kasar pipinya. Sementara itu, murid kelas tujuh tiga sudah mengganti pakaian olahraga nya, dan kembali melanjutkan belajar. "Hari ini kita ulangan ya, Ibu kasih kalian waktu sepuluh menit untung memahami dua bab kemarin." tegas Bu Alma selaku guru mata pelajaran ips dikelas tujuh. "Wah, otak gua gabisa nyerna kalo kayak gini." bisik Malik kepada Andri. "Alah ips doang gampang," cetus Andri angkuh. Selama sepuluh puluh menit kelas tujuh tiga hening, semua murid pokus kepada soal dikertas ulangan masing-masing. "Udah..." teriak Andri mengeluarkn khodam suara ceweknya. "Cepet banget, Dri nyontek dong." Malik memegang celana Andri. "Punya otak kan? pikir sendiri." ucap Andri sembari berjalan ke meja guru untuk mengumpulkan kertas ulangannya. Setelah semua murid sudah mengumpulkan kertas ulangannya, Bu Alma menyuruh mereka untuk menukar kertas ulangan secara acak untuk diperiksa. "Andika..." ucap Bu Alma menunggu nilai Andika yang sudah diperiksa oleh murid kelas tujuh tiga. "70 Bu." ucap Maya, ia memeriksa kertas ulangan Andika. "Artiuma..." ucap Bu Alma kembali. "100 murni Bu." ucap Ibnu. "Sempurna." Bu Alma mengacungkan dua jempol untuk gadis kecil itu. "Dillanian..." Ucap Bu Alma. "95 Bu." jawab Malik. "Maya..." ucap Bu Alma. "95 Bu." jawab gadis kecil itu. "Malik..." ucap Bu Alma. "85 Bu." jawab Andika "Nah, ibu lupa satu lagi belum disebut. Andri..." ucap Bu Alma. "50 Bu..." teriak Gabriella sontak membuat seisi kelas terkekeh pelan. "Ar, tar gue nyontek ya." lirih Andri. "Punya otak kan? pikir sendiri." cetus Malik, mengulang kalimat yang pernah dilontarkan Andri satu jam yang lalu. "Sialan." cetus Andri.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (150)
Mutiaradp
ceritanya sangat menggugah selera, komedinya pun selalu adaa
ceritanya sangat menggugah selera, komedinya pun selalu adaa
21/05
0nice
20/06/2025
0Bagus kak ceritanya
22/05/2025
0Lihat Semua