Pagi hari, pak Yanto menemui gadis kecil itu di SMAN Tubaraja, untuk memberikan kacamata baru dan memberi tahu bahwa Deren tidak izin ikut Ayah nya pergi ke Jakarta, mengambil barang barang yang menurut Deren cukup berharga untuk dibawa ke Bandung kota kembang itu. "Mbak Ar, ini kacamata yang kemarin dipesen," ucap pak Yanto memberikan kemasan belanjaan yang di dalamnya terdapat kacamata baru untuk gadis kecil itu. "Makasih pak Yanto, btw Deren ko ngga kesini?" ucap gadis kecil itu karena merasa aneh, padahal jika dikatakan Deren sakit pun mustahil baginya, karena kemarin saja tidak hujan. "Anu, mas Deren pergi dengan pak Ritello untuk mengambil barang barang yang tertinggal di apartemen mereka," ucap pak Yanto. "Oalah, yaudah gapapa pak paling nanti aku kasihin surat ijin nya ya pak," ucap gadis kecil itu semabri mengambil surat keterangan tidak hadir milik Deren yang di asongkan oleh pak Yanto. "Yaudah mbak Ar, saya permisi ya assalamualaikum," ucap pak Yanto berpamitan lalu mengendarai mobil bos nya. "Waalaikumussalam," ucap gadis kecil itu lalu kembali ke kelas menggenggam surat tidak hadir milik Deren, dan menyimpannya dimeja Guru, supaya guru membacanya dan tidak memberikan keterangan 'Alfa'. "Wah si cupu dapet kacamata baru nih," ucap Mayra mengitari meja gadis kecil itu. "Jangan macem macem Mayra!" ucap gadis kecil itu dengan lantang menguatkan dirinya. "Liat, so berani dia gais, mana ATM berjalan Lo si Deren? ko ga sekolah? kayanya dia bangkrut karena ngegantiin kacamata murahan Lo itu!" cetus Mayra membuat mata mereka saling berhadapan. "Mau kamu apa?" ucap gadis kecil itu sembari bersikap santai menanggapi omongan Mayra. "Gamau apa apa si, cuman mau bikin Lo menderita aja si," ucap Mayra kepada gadis kecil itu diikuti tawa dari gengnya itu. "Minggir, bentar lagi pelajaran seni rupa, karena kemaren kelas kita ga belajar," ucap gadis kecil itu menyiapkan alat tulis dan alat gambarnya. "Ya terus gue peduli?" ucap Mayra mencubit bagian lengan dekat pundak gadis kecil itu. Gadis kecil itu hanya berusaha menahan perih nya cubitan pelan Mayra, ia meringis kesakitan. "Wey wey Bu guru mau Dateng, Bu guru mau Dateng," ucap salah seorang pria teman Deren yakni Leo. Semua anak kelas diruangan itu merapihkan tempat duduknya karena Bu guru seni rupa sebentar lagi akan memasuki ruang kelas mereka. "assalamualaikum selamat pagi anak anakku," ucap Bu guru seni rupa didalam ruang kelas sepuluh ips. "Pagi Bu," ucap serentak anak kelas menjawab salam Bu guru seni rupa. "Oke anak anak, sekarang kita belajar seni rupa, harusnya ini kemarin, tapi karna kemarin ada kericuhan mau gak mau diundur jadi hari ini belajar nya," ucap Bu guru seni rupa menatap Mayra dengan penuh kesal. "Keluarkan tugas gambar kalian, yang belum selesai, bisa di selesaikan dahulu, sementara ibu akan berkeliling ruangan ini melihat hasil gambar kalian," ucap Bu guru seni rupa kepada muridnya. Seisi kelas pun kembali beraktivitas menyelesaikan gambar mereka yang hampir setengah jadi, begi juga dengan gadia kecil itu, dia menyelesaikan gambar nya. gambar yang di coret oleh Mayra, sudah dibuat ulang kembali oleh gadis kecil itu dirumah nya saat pulang sekolah. "Ar? itu buatan kamu?" ucap Bu guru seni rupa menghentikan langkahnya lalu mendekati gadis kecil itu yang sedang mencari warna biru di tempat spidolnya. "Iya Bu," ucap gadis kecil itu menundukkan kepalanya sesekali. "Bagus, keren karya yang kamu bikin kaya hidup Ar, kamu mau ga ikut lomba desain tingkat nasional, kamu jadi perwakilan sekolah ini?" ucap Bu guru seni rupa menawarkan perlombaan kepada gadis kecil itu. "Alhamdulillah, boleh ibu," ucap gadis kecil itu sembari menyunggingkan giginya. "Ntar ibu catet nama kamu ya nanti kita mulai seleksi dulu ko besok, biar tau siapa yang bakal jadi perwakilan sekolah," ucap Bu guru seni rupa kepada gadis kecil itu. "Iya Bu," ucap gadis kecil itu kepada Bu guru seni rupa, membuat Mayra semakin panas dan iri kepada gadis kecil itu. "Geng sini deh ngumpul," ucap Mayra berbisik kepada dua orang gengnya. "Gimana kalo kita bikin rencana aja? tujuannya biar si Ar gabisa ikut lomba desain?" ucap Mayra kepada gengnya. "Caranya?" ucap salah satu anggota gengnya, kemudian Mayra membisikkan sesuatu di telinga mereka. "May, itu ga berlebihan emangnya?" ucap salah satu anggota gengnya. "Lo tenang aja, gue jamin ini aman ko," ucap Mayra mengangkat alisnya. terlihat gadis kecil itu sedang makan nasi goreng kesukaannya, kali ini ia benar benar duduk sendiri, Mayra datang duduk di meja berhadapan dengan gadis kecil itu. "Ar, lu dipanggil Bu guru seni rupa, buat persiapan besok," ucap Mayra kepada gadis kecil itu. "Oh makasih yah, dimana ibu nya?" ucap gadis kecil itu tanpa ada rasa curiga kepada Mayra. "Biasa di ruang lukis lah, udah sana cepet lama banget," ucap Mayra. gadis kecil itu mengangguk sembari tersenyum lalu berlari ke ruang lukis untuk bertemu Bu guru seni rupa, tapi tak ada siapapun diruangan, lalu tak lama datang Mayra dan teman temannya, menutup pintu ruang lukisan rapat rapat. "Haii Ar, udah lama?" ucap Mayra mengejutkan gadis kecil itu dibelakang nya. "Kamu ngapain Mayra?" ucap gadis kecil itu cemas karena sudah pasti, ia mendapat hal menyedihkan jika terkepung seperti ini. "Mau mastiin aja mangsa Dateng sih," ucap Mayra mengitari gadis kecil itu. "Mau kamu apa si May," ucap gadis kecil itu kepada Mayra. "Gamau apa apa, cuman gue gamau aja kalo Lo yang bakal jadi perwakilan sekolah di lomba desain tingkat nasional!" ucap Mayra mendorong tubuh gadis kecil itu hingga tersungkur di lantai ruang lukis. "Tapi kan bakalan di seleksi lagi besok," ucap gadis kecil itu menentang perkataan Mayra. "Ya gue ga peduli, yang penting misi gue sekarang bakalan berhasil," ucap Mayra lalu memberi kode kepada kedua temannya untuk memegang tangan gadis kecil itu. "Eh apa apaan nih, lepasin woy," ucap gadis kecil itu berteriak, mengigit salah satu tangan anggotan geng Mayra. "Awwhhh," ucap sala satu anggota geng Mayra sembari melepaskan gadis kecil itu. 'Dem!" "Aaaaaagrrrhhhh," gadis kecil itu berteriak histeris, merasakan sakit karena telapak tangannya terhimpit pintu ruangan dengan cukup keras. "Aduuuh sayang banget, gabisa ngelukis ya? Heem? maafin ya, gue ga bermaksud Ar," ucap Mayra tertawa terbahak-bahak karena misi nya berhasil. "Ayo gais kita cabut, kita tinggalin anak ga guna ini disini, paling bentar lagi mati," ucap Mayra mengajak kedua temannya untuk meninggalkan ruang lukis. 'Jika aku bisa merubah takdir, Akan ku rubah sebaik mungkin' -Isikerang-
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (150)
Mutiaradp
ceritanya sangat menggugah selera, komedinya pun selalu adaa
ceritanya sangat menggugah selera, komedinya pun selalu adaa
21/05
0nice
20/06/2025
0Bagus kak ceritanya
22/05/2025
0Lihat Semua