logo text

Bab 19 Selokan Sekolah

Mayra memergoki ka Andara dan gadis kecil itu sedang berbincang didepan kelasnya.
"Ko bisa ya. kakel itu akrab sama si cupu." ucap Mayra sembari tangan memutar tipis rambutnya.
"Ya mungkin, mereka pernah deket kali." balas salah satu dari anggota geng Mayra.
"Awas ya cupu, gue bakal bikin hidup Lo ga tenang di sekolah ini." tindas Mayra tersenyum tipis.
Kini seorang guru sejarah Indonesia masuk ke dalam kelas gadis kecil itu, setelah beberapa jam tidak ada jadwal mata pelajaran.
"Selamat siang anak anak. Disini ibu hanya mau menyampaikan beberapa judul bab yang akan kita pelajari dalam satu semester awal ini, ibu harap kalian menyimak dan mengumpulkan tugas dengan tertib tidak ada kata terlambat paham?" ucap Bu guru sejarah Indonesia itu.
"Paham Bu," ucap serentak isi kelas sepuluh ips itu.
"Ada yang tau isi proklamasi? dan cerita singkat dibalik proklamasi? yang tau ibu kasih bintang A dalam keaktifan menjawab." ucap Bu guru sejarah indonesia menyemangati anak didiknya.
"Suatu pagi di bulan puasa, Tujuh belas Agustus tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima. Frans Sumarto Mendur mendengar kabar dari sumber di harian Asia Raya bahwa ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Alexius Impurung Mendur, abangnya yang menjabat kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei, mendengar kabar serupa. Kedua Mendur bersaudara ini lantas membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman Soekarno. Kendati Jepang telah mengaku kalah pada sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap. Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor lima puluh enam, Cikini, Jakarta, tatkala jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Pukul delapan pagi, Soekarno masih tidur di kediamannya lantaran gejala malaria. Soekarno juga masih lelah sepulang begadang merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor satu. Dibangunkan dokternya untuk minum obat, Soekarno lantas tidur lagi dan bangun pukul sembilan pagi. Di Jakarta, pukul sepuluh pagi pada hari Jumat pagi itu Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur bersaudara yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah Indonesia. dan isi proklamasi ini adalah Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan
Kemerdekaan Indonesia
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnya. Djakarta, Tujuh belas Agustus tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima.
Atas nama Bangsa Indonesia
Soekarno - Hatta.
Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan Dokuritsu Junbi Cosakai. Sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah proklamasi itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni itu diterima oleh hadirin. Naskah yang sudah diketik oleh Sayuti Melik, segera ditandatangani oleh Sukarno dan Mohammad Hatta. Lalu Sukarno menyarankan pembacaan Teks Proklamasi dilakukan di serambi rumahnya, di jalan Pegangsaan Timur Lima puluh enam, sekitar pukul sepuluh pagi. Teks Proklamasi kemudian dibacakan Sukarno," ucap gadis kecil itu berdiri tanpa menyebutkan nama, alhasil ia menjadi sorotan teman teman dikelasnya, namun tidak ada tepuk tangan disitu melainkan malah suara teriakan mengejek, Deren adalah satu satunya orang yang mengapresiasi jawaban gadis kecil itu, kemudian diikuti oleh Bu Guru sejarah indonesia." ringkas Gadis kecil itu.
"Siapa nama kamu nak?" ucap Bu Guru sejarah indonesia kepada gadis kecil itu.
"Artiuma Bu," balas gadis kecil itu lalu duduk kembali ditempat duduknya.
"Nah anak anak, apa yang dikatakan Artium ini benar, isi teks proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima ini, bisa dikatan banyak perjuangannya. Kalian harus mencintai negara Indonesia ini," ucap Bu Guru sejarah indonesia menjelaskan kembali apa yang dijawab gadis kecil itu.
"Caper banget si cupu." cetus Mayra merasa tersaingi.
"Masih mengenai proklamasi, ada yang tau siapa yang menjahit bendera merah putih?" tanya Bu guru sejarah indonesia kepada anak didik barunya itu. semua mendadak hening dan menundukkan kepalanya padahal kita tidak sedang mengheningkan cipta.
"Ibu Fatmawati istrinya pak Soekarno Bu," ucap Deren memastikan itu benar.
"Kamu benar Deren," ucap Bu guru sejarah indonesia kepada Deren.
"Pertanyaan terakhir nih untuk menutupi mata pelajaran kali ini, siapa saja yang terlibat dalam membuat perumusan teks proklamasi?" ucap Bu guru sejarah indonesia kepada anak didik barunya itu.
"Sebelumnya ijin menjawab Bu, yang pertama ada pak Soekarno berperan sebagai pembaca teks proklamasi. Ia lahir pada 6 Juni 1901 di Blitar, Jawa Timur. Ia diketahui aktif berjuang sebelum kemerdekaan dengan menjadi anggota Pusat Tenaga Rakyat (Putera), hingga ketua PPKI. kedua ada Drs Mohammad Hatta ikut dalam perumusan teks proklamasi. Ia juga mengajukan usul untuk menandatangani teks proklamasi oleh seluruh tokoh yang hadir di rumah Laksamana Maeda saat itu. Pria yang lahir di Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 ini ikut mendampingi Soekarno saat pembacaan teks proklamasi. Ia pun diangkat menjadi wakil Presiden mendampingi Soekarno sebagai Presidennya. ketiga ada Ahmad Subardjo Pria yang lahir di Karawang pada 23 Maret 1897 ini merupakan pejuang senior dan anggota PPKI. Ahmad Subarjo juga terlibat sebagai penulis proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Bahkan, pria bernama lengkap Raden Achmad Subardjo ini yang menjemput Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok. Ia juga memutuskan bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilaksanakan di Jakarta. keempat ada ibu Fatmawati Istri proklamator ini terlibat sebagai tokoh proklamasi dalam kemerdekaan Indonesia. Fatmawati diketahui yang menjahitkan bendera pusaka Merah-Putih untuk dikibarkan saat upacara 17 Agustus 1945. ke lima ada Soekarni lahir pada 14 Juli 1916 di Blitar. Selama hidupnya, ia aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan pernah bekerja di kantor berita Domei, Sendenbu, dan kantor pusat Seinendan. Diketahui, ia juga yang mengusulkan agar naskah proklamasi kemerdekaan hanya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta, sebagai perwakilan bangsa Indonesia. ke enam ada Sayuti Melik menjadi salah satu tokoh proklamasi dan berperan sebagai pengetik naskah. Sebelumnya, naskah proklamasi ditulis tangan dengan beberapa perubahan, setelah disetujui diserahkan kepada Sayuti. ketujuh Latif Hendraningrat sekaligus pejuang yang tergabung dalam Pembela Tanah Air (Peta). Ia ikut berperan dalam peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan menaikkan bendera pusaka saat upacara 17 Agustus 1945. yang terakhir Laksamana Maeda Pria berkebangsaan Jepang ini juga menjadi tokoh proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan seorang perwira dengan jabatan sebagai Wakil Komandan Angkatan Laut Jepang di Jakarta dan ikut bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Laksamana Maeda mengizinkan para pejuang menggunakan rumahnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi Bu." ucap gadis kecil itu menjawab dengan lantang untuk kedua kalinya
"Tepat. Benar benar tepat, terimakasih Artium sudah mau menjawab pertanyaan terakhir. Baik anak anak untuk mata pelajaran sejarah indonesia dicukupkan dulu, disambung Minggu depan, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatu." ucap Bu guru sejarah indonesia lalu pergi meninggalkan kelas.
Diikuti oleh murid didalam ruangan itu yang juga bersiap siap meninggalkan kelas, hanya tersisa geng Mayra, Deren yang sedang ke ruangguru dan juga gadis kecil itu.
'Plak'
"Lu jangan so pinter Ar!" ucap Mayra sembari menampar pipi gadis kecil itu dengan sangat keras.
"Apa si Mayra?" ucap gadis kecil itu melakukan perlawanan.
"Berani banget lu sama gue sampe ngejawab, gais bawa dia kita eksekusi 'mati," ucap Mayra sembari membisikan kata mati ditelinga gadis kecil itu.
Mayra mencari kolam ikan yang didalamnya ada eligator, dan ia menemukannya dibelakang kantin sekolah.
'Byurr
"Tolooong,, aku gabisa renaaang tolooong," ucap gadis kecil itu berusaha mengangkat kedua tangannya, tapi geng Mayra hanya diam dan menertawakannya.
Setelah tiga menit gadis kecil itu tak sadarkan diri, ia pingsan dan segera dibawa oleh geng Mayra, karena mereka kaget, mereka membawa gadis kecil itu ke Solokan sekolah dimana dekat dengan ruangguru, agar terlihat oleh Deren.
"May, kalodia mati gimana anjir." ucap salah satu anggota gengnya.
"Lu bisa gak, angan bikin gue panik." balas Mayra.

Komentar Buku (150)

  • avatar
    Mutiaradp

    ceritanya sangat menggugah selera, komedinya pun selalu adaa

    21/05

      0
  • avatar
    Nico

    nice

    20/06/2025

      0
  • avatar
    Sustia Ngsh

    Bagus kak ceritanya

    22/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru