Gracia merebahkan tubuhnya setelah sampai dikamarnya. Tubuhnya lelah karena siang sampe menjelang petang Gracia kuliah. Karena minggu lalu dosen tersebut berhalangan hadir dan terlalu senggang untuk hari ini maka munculah kelas dadakan. Ia membuka layar handphonenya karena sejak tadi sudah ia matikan saat kelas. Notif pertama yang diterima Gracia yaitu pesan dari Shani.
'Ge, hari ini semangat ya kuliahnya.'
'Rencana hari ini kamu ngapain?'
'Aku izin ya, hari ini mau jalan bareng temen aku..' Gracia: 'Iya, maaf ya baru balas tadi ada kelas tambahan.'
Gracia: 'Ga ngapa-ngapain sih udah cape gara-gara kelas tambahan tadi paling ntar ngerjain tugas aja.'
Gracia: 'Iya.. have fun yaaa. Nanti video call ga?' Gracia tersenyum saat melihat foto yang Shani kirim bersama temannya. Cantik juga, batin Gracia.
Gracia memanfaatkan momen ini selagi bisa. Gracia akan terus menciptakan kenangan dan membuat ingatan yang baik untuk hubungan mereka. Biarpun pada akhirnya akan pahit. Tapi kenapa rasanya semakin berat saja bagi Gracia hingga tadi ia menangis dihadapan Xylia yang membuat Xylia curiga dan mempertanyakan soal rencana apa yang sedang ia lakukan. Bersyukur Gracia dapat mengelak dan mengatakan semua baik-baik saja semua tangisnya tadi hanya karena Gracia sedang rindu Shani syukurlah Xylia percaya saja dan tidak ingin bertanya lebih lanjut karena mungkin merasa tidak enak untuk terus bertanya, Xylia memilih untuk mengantar Gracia pulang saat itu.
Suara dering handphone menandakan ada telpon masuk. Gracia mengira Shani tetapi ekspektasinya tidak menjadi kenyataan, yang menelpon adalah Dika. Adik tingkat yang akhir-akhir ini mencoba untuk mendekatinya. Padahal Gracia tidak terlalu menanggapinya. Walaupun nanti jika hubungan Gracia berakhir dengan Shani , Gracia tidak pernah berpikiran untuk membuka hatinya untuk orang lain lagi. Dering itu berganti dengan suara notif chat yang masuk.
'Ka Gracia lagi sibuk ya?'
'Aku mau nanya sesuatu Ka..'
Gracia hanya melihat dalam bar notifikasi tidak ingin membuka pesannya. Sudah tidak merespon masih saja usaha heran, begitu pikir Gracia.
Awal mereka bertemu itu ketika saat Gracia dengan UKM fotografinya sedang melakukan promosi pada angkatan baru. Gracia yang tergabung pada UKM tersebut mau tidak mau untuk mengikuti promosi kata ketua fotografi Aji, Gracia harus ikut untuk menarik minat maba cowo. Malang sekali nasib Gracia menjadi umpan di UKM nya sendiri.
Parahnya semua peminat yang bergabung akan menghubungi Gracia sebagai narahubung, umpan yang sangat bagus.
Sampai ada kejadian Shani menjadi bete sekali ketika banyak nomor yang tidak dikenal mulai mengganggu kekasihnya itu.
"Ge, handphone kamu bunyi terus!" seru Shani.
"Paling dari mereka yang mau gabung UKM Ci." Gracia mengusap wajahnya yang basah dia baru selesai membersihkan diri setelah seharian berada di luar karena survey tempat untuk UKM nya.
"Halah, paling ada yang modus-modus itu, awas ya kalau kamu nanggepin." Peringatan Shani membuat Gracia sedikit tersenyum.
"Kalo aku ga nanggepin bisa diamuk bang Aji ntar Ci."
"Ya,, kamu bedain lah yang mana pertanyaan yang harus kamu jawab mana yang ngga, masa ada yang tanya kamu udah makan apa belum kamu tetep jawab?" Terlihat jelas Shani sedang menumpahkan kekesalannya. Shani cemburu.
"Iya, ga akan aku tanggepin lagi. Marahnya tunda dulu ya, aku kangen pengen peluk kamu semalem penuh."
Kenangan itu tiba-tiba saja merasuk kepikirannya. Membuat sebagian memory bahagia bersama Shani kembali masuk ke dalam pikirannya bergantian.
Panggilan video tiba-tiba masuk tertera disana nama Shani Indira Gracia sebelum menjawab merapikan penampilannya terlebih dahulu. Gracia menggeser ikon hijau lalu tersenyum saat video call itu menampilkan Shani dengan berlatar belakang sedang ada di restoran sepertinya.
"Kamu dimana?" Tanya Gracia. "Ini lagi di restoran, makan siang. Tadi aku beli mantel gitu." "Oh ya? Terus terus?" Gracia antusias dengan cerita Shani selama disana. "Iya beli beberapa buat persiapan musim depan. Oh iya aku ada oleh-oleh buat kamu Ge." "Ciii masa iya, kamu aja belum pulang. " dan belum tentu kita masih sama. Gracia melanjutkan ucapan itu didalam hati. "Bentar Ge," Shani menunduk mengambil paper bag yang berisi oleh-oleh untuk Gracia. "Ini Ge, suka ga?" Tanya Shani. Gracia menelisik detailnya Shani membelikan outer berwarna army yang oversize. "Aku belinya dua, aku warna ini." Shani kembali memperlihatkan sebuah outer yang berwarna broken white. "Tuh, sama kan? Gemes deh." Kata Shani lalu menyimpan kembali oleh-oleh yang mau diberikannya pada Gracia. "Ge kenapa diem?" Saat Shani melihat kembali layar, ia melihat Gracia melamun. "Ge?" Tanya Shani lagi. Lalu Gracia tersadar dari lamunannya sebentar. "Bagus Ci, tapi kamu kan masih lama pulangnya." Terdengar dari nada Gracia menyiratkan kesedihan. Yah.. Shani salah memilih topik obrolan, kenapa tidak bahas kuliah atau keseharian Gracia aja sih rutuk Shani.
"Tunggu aku, nanti libur semester aku akan pulang. Oh iya, kamu belum pernah liat temen yang pernah aku ceritain itu ya?"
Gracia mengangguk. Tapi tadi kamu kirim foto bareng dia kan? Batin Gracia. "Iya. Bukannya kamu jalan sama dia, kok dia ga ada?" "Iya sama dia. Ga tau tuh dia lagi ke toilet tapi lama banget dari tadi." "Ya udah kamu susulin gih takutnya ada apa-apa sama dia. Nanti kita video call-an lagi abis kamu makan siang trus udah sampai unit kamu." "Ngapain di susulin?" Shani memiringkan kepalanya. "Udah dulu yaa..."
"Yah.. Kok udahan? Oh.. Kamu mau ngerjain tugas dulu ya? Ok deh. Semangat ya ngerjainnya. Kabarin kalo udah selesai nanti aku vidcall kamu." "Iya, nanti. Aku tutup ya dadah..." Sambungan itu terputus. Gracia menghela napas, semakin hari rasanya sangat berat, ia sangat berusaha untuk terlihat biasa saja saat dihadapan Shani. Rasanya Gracia tidak siap menjadi orang pengecut dihadapan Shani. Tapi harus ia lakukan karena pilihan ada ditangannya, lebih baik dia yang berkorban dibandingkan mempertaruhkan nama keluarganya, juga ia tak mau adiknya yang terkena dampaknya.
** Baru saja Shani ingin menyusul Chika, batang hidung Chika sudah kembali di kursi dihadapan Shani. "Lama amat Chik, mau gue susul tadi." "Ya, Sorik, tadi ada insiden dikit." "Hah? Insiden apaan?" "Ntar deh, makan dulu gue laper." Baru beberapa hari mengenal Chika rupanya bukan orang yang jaim. Kedepannya pasti seru berteman dengan Yessica Tamara.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (45)
siraitRevalina
sanga saya suka dengan cerita ini dan sya kagum dengan membuat cerita kayak gini dan saya harap sering sering buat nya ya
sanga saya suka dengan cerita ini dan sya kagum dengan membuat cerita kayak gini dan saya harap sering sering buat nya ya
25/01/2025
0bagus cerita nya
10/12/2024
0bagus
10/11/2024
0Lihat Semua