logo text

Mantan suamiku anak angkat?

selamat membaca, Kak, jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya. Mohon maaf jika tulisanku masih sangat jauh dari sempurna
PoV Diandra
***
Malam ini setelah menidurkan Dona aku tak langsung ikut tidur dengannya. Kurapikan dulu pakaian yang baru tadi sore kuangkat dari jemuran.
Di pikir-pikir lagi, daripada diam, lebih baik aku melicin pakaian. Toh baru pukul delapan ini!
Kutoleh kembali Dona yang sudah tertidur pulas. Dia pasti sangat kangen dengan ayahnya. Biasanya dia dipeluk dan dirangkul penuh cinta sebelum tidur. Sembari kubacakan dongeng kancil dan buaya. Walaupun dia tak begitu mengerti. Tapi Dona mempunyai ketertarikan tersendiri pada cerita itu.
Wajahku menatap sendu putri kecil yang sudah tertidur pulas dengan mata yang sedikit melek, seperti tak sedang tidur.
Seketika bayangan Mas Dani muncul dalam ingatan lagi.
Entah mengapa. Hati ini tak bisa menyimpan kebencian pada Mas Dani. Hanya rasa kecewa, itupun dengan alasan yang sudah mendapat jawaban.
Penasaran. Kuraih gawai yang berada di meja samping ranjang. Sembari menuju tempat licin pakaian. Kutinggalkan Dona sendiri dengan pintu kamar membuka. Tapi biasanya Dona tidak mudah terbangun, hanya jaga-jaga saja.
Hati ini masih berharap kabar dari Mas Dani. Ya Tuhan ... sulit sekali melupakan dia. Aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya.
Apalagi dengan kenyataan dan alasan yang diutarakan oleh Mbak Mira kala itu. Arrkh!
Aku telah berada di depan ruang licin pakaian. Ruangan yang tak terlalu besar namun cukup untuk rebahan sembari melicin pakaian.
"Di, kamu sedang apa?" tanya ibu yang tak sengaja lewat depan ruang licinan.
"Eh, Ibu, Diandra mau lipat pakaian. Terus kalau masih banyak waktu, Diandra mau licin pakaian."
Ibu mengelus lenganku.
"Sudah, biar besok adik kamu saja yang kerjakan. Biar dia juga belajar beres-beres rumah," larang ibu.
"Tak apa, Bu. Lagian Diandra juga belum ngantuk, kasihan kan kalau adik besok harus licin semua pakaian itu. Biar Diandra cicil sedikit. Toh cuma beberapa, kok," jawabku sembari tersenyum.
"Ya sudah, terserah kamu. Dona sudah tidur?" tanya ibu.
Aku mengangguk.
"Ya sudah, biar nanti kalau Dona bangun Ibu yang tepukin dia. Toh Ibu juga masih mau nonton televisi." Demikian kata ibu.
"Iya, Bu."
Ibu melangkahkan kakinya kembali sembari membawa nampan berisi secangkir kopi hitam untuk bapak.
Segera aku masuk dan duduk di kursi dekat alas licinan. Kusimpan gawai di meja samping.
Lanjut, satu persatu pakaian kulicin. Setelah memanaskan licinan beberapa menit.
Satu persatu baju telah tertata rapi dan wangi. Kulipat sesudah kulicin semuanya.
Di pukul delapan empat puluh lima menit.
Gawaiku berdering.
Nampaknya hanya sebuah pesan WhatsApp saja. Jadi kutunda sebentar hanya kutoleh sedikit saja. Tanggung, sebentar lagi juga selesai.
Akhirnya, di lima menit berikutnya, setrikaan sudah kusimpan dan colokannya sudah kucabut.
Sudah kurapikan semuanya. Setrikaan kusimpan di tempatnya lagi. Sedangkan bajunya, masih tertata rapi belum aku masukan ke dalam lemari ibu, adik ataupun lemariku.
Sejenak aku duduk di kursi dan melihat pesan masuk yang ternyata dari Mbak Miranti. Menatap layar dengan santai.
Di pesannya.
[ Mbak Di, saya ada info penting sekali. Tapi, ini percaya atau tidak. Saya akan memberitahu Mbak Di ]
Begitulah isi pesan dari Mbak Miranti. Membuatku penasaran saja. Tanpa salam di awal.
Aku takut Dona terbangun dan mencariku. Jadi aku memutuskan untuk membalas pesan Mbak Mira di kamarku saja.
Kulihat ibu dan bapak sudah ketiduran di kursi sembari menonton sinetron kesukaan mereka.
Kulewati mereka dari jarak kejauhan melintas ke kamar.
Setelah itu aku langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring di sisi Dona. Ternyata putri kecilku masih tertidur pulas.
Pintu kamar telah ku tutup rapat.
Kini aku membalas pesan Mbak Mira yang membuatku penasaran.
[ Memangnya kenapa, Mbak? Kayaknya serius banget ]
Segera kukirim dan tak lama juga pesan yang aku kirim langsung centang dua berwarna biru.
Mbak Mira dengan segera membalas pesan dariku.
Aku pikir dia hanya iseng.
[ Mbak, Mas Dani sudah tidak lagi bekerja seperti itu. Tapi ibu dan bapaknya malah marah-marah. Sampai kedengeran ke rumah saya. Kan mereka mendatangi rumah Mbak Diandra untuk menyergap Mas Dani ]
Aduh, pesan dari Mbak Mira sangat memutar-mutar. Kenapa pula ia tak langsung to the point.
Aku makin penasaran dengan apa yang terjadi pada ayah putri kecilku itu.
Segera kubalas dengan maksud menanyakan inti pembicaraan.
[ Lalu kenapa, Mbak? Langsung intinya saja, ya, biar saya langsung tahu apa maksud dari Mbak Mira ]
Centang dua langsung berwarna biru. Tulisan 'mengetik' singkat kuterima saat itu juga.
[ Mas Dani ternyata anak angkat, Mbak! ]
Teg!
Aku benar-benar syok mendengar apa yang dikatakan Mbak Mira.
[ Mbak jangan bercanda. Saya tahu kalau mantan mertua saya itu jelas-jelas orangtua kandung mas Dani ]
Pasti Mbak Mira bercanda.
Tapi.
Jantungku berdebar kencang. Meskipun Mas Dani sudah jadi mantan, tapi dengan ikatan batinnya bersama Dona, membuatku sangat susah melupakan dirinya.
Apalagi aku makin penasaran dengan cerita Mbak Mira.
[ Suwer, Mbak. Saya enggak bohong. Sekarang mas Dani nampak sedang terpuruk. Tadi mereka bersitegang sangat kencang, hingga suaranya kedengeran ke rumah saya. Saya saja syok. Untung suami saya lagi keluar kota, jadi saya bisa intip dan dengar pembicaraan mereka dengan jelas ]
Liurku tertelan dengan ribuan keanehan.
Aku berniat menelepon Mbak Mira supaya kami bisa bicara secara langsung.
Segera ku telepon Mbak Mira dengan penuh kecemasan menggigit bibir bawah dengan keras menunggu Mbak Mira mengangkat telepon dariku.
Akhirnya Mbak Mira mengangkatnya juga.
"Hallo, Assalamualaikum, Mbak tolong saya mau denger yang lebih jelasnya?" seketika ucapan salamku beriringan dengan pertanyaan. Karena aku benar-benar penasaran.
"Sumpah, Mbak. Saya tadi dengar sendiri. Bapak dan ibu mertua, up maksud saya, mantan mertua Mbak Di datang ke rumah mas Dani. Mereka marah karena Mas Dani tidak memberi mereka uang banyak lagi. Dan usut punya usut, mantan suami Mbak sudah tak bekerja menjadi ***** lagi!" jelas Mbak Mira tergesa-gesa namun bernada pelan sekali.
Tak mungkin kalau Mbak Mira berbohong. Walaupun dia sedikit usil dan tukang bercanda, tapi dia bukan tipe pembohong, apalagi sampai sejauh ini.
"Mbak salah dengar kali?" pastiku.
"Sumpah, Mbak. Gini-gini saya kan bukan tukang bohong!" jawabnya penuh kepastian.
Alhamdulillah, tapi aku senang mendengar Mas Dani sudah keluar dari pekerjaan har*mnya.
"Kok bisa, Mbak, kalau mantan suami saya bukan anak dari mereka, lalu suami saya anak siapa? Jadi selama ini mas Dani mereka manfaatkan? Sampai mereka memaksa mas Dani meminta uang banyak?" tanyaku beruntun.
"Saya kira juga begitu. Saya baru tahu kalau mas Dani itu bukan anak dari mereka. Wong kita kan tetanggaannya juga baru. Mungkin mereka keceplosan saat meluapkan emosinya. Apalagi, ibunya mas Dani masih banyak nyicil utang, ya begitulah, Mbak," jelas Mbak Mira dengan nada sendu di akhir.
Astaghfirullah, kasihan sekali ayah anakku.
Jadi selama ini?
"Lalu, gimana dengan mas Dani sekarang, Mbak? Pantas saja, sudah sehari semalam ini dia tak menelepon Dona."
Mbak Mira menjwab. "Sekarang, mas Dani nampaknya sedang terpuruk. Saya dengar juga tadi dia marah-marah dan syok saat mendengar kalau diriny hanya anak angkat. Mas Dani mengusir bapak dan ibunya lalu ia mengunci pintu sendiri kelihatannya. Dan sampai sekarang belum juga keluar."
Deg!
Aku sangat khawatir dengan keadaan Mas Dani. Tapi? Aku bisa apa?
"Ya ampun, makasih ya, Mbak, atas infonya. Ini benar-benar sangat berarti buat saya. Bagaimanapun juga, mas Dani pernah ada di hati saya. Tapi saya jadi khawatir sama keadaannya. Tolong Mbak caritahu ya, Mbak. Saya juga akan coba caritahu, apa benar kalau ibu dan bapak bukan orangtua mas Dani," paparku pada Mbak Mira.
Detik demi detik berlalu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri panggilan terlebih dahulu.
Kini aku melamun.
Jadi selama ini ibu dan bapak bukanlah nenek kandung Dona?
Kenapa aku baru tahu sekarang? Dan alasan mereka menekan Mas Dani supaya mengganti biaya yang selama ini mereka keluarkan, itu maksudnya?
Ya Tuhan ...
Miris sekali nasib suamiku. Selama ini dia mengirimi kami uang. Dan nampaknya Mas Dani lebih memilih untuk mentransfer uangnya untuk Dona. Dengan mengesampingkan orangtuanya.
Aku benar-benar tak habis pikir kalau Mas Dani hanyalah anak angkat. Pantas saja, wajah dari keduanya sama sekali tak ada yang mirip dengan Mas Dani.
Sama sekali tidak. Dari raut wajah dan dari semuanya.Tak ada yang mirip sama sekali.
Mas Dani nampak seperti pria turunan luar negeri. Seperti ...
Ya Tuhan, tanda itu?
Tanda di pergelangan tangan Mas Dani? Apakah ada kaitannya dengan tanda di pergelangan lengan Bu Susanti?
Ah tidak mungkin. Karena Bu Susanti hanya memiliki dua orang anak. Nessia dan Mas Reza.
Ah tak mungkin.
Tapi aku jadi kasihan dengan nasib Mas Dani. Apalagi saat dia terpuruk menerima kenyataan, aku tak bisa ada di sampingnya.
Orang yang ia cintai, yaitu kami, tak ada di sampingnya. Sedangkan ibu dan bapak mertua, ternyata mereka bukanlah keluarga aslinya?
'Mas? Gimana nasib kamu sekarang? Aku benar-benar khawatir.'
Seketika aku berniat mengirim pesan lewat WhatsApp. Yang kulihat ternyata, terakhir kali dia melihat aplikasi itu sekitar tiga jam yang lalu.
Coba kukirimi dia pesan.
[ Assalamualaikum, Mas, maaf aku menggangu. Dona kangen sama kamu. Dia mau video callan sama kamu ] Begitu isi pesan basa-basiku.
Aku benar-benar khawatir dan syok. Aku tak mau kalau sampai ia berbuat nekad.
Tapi kalau Mas Dani nyatanya memanggilku dengan panggilan vidio, sedangkan Dona sudah tertidur?
Akh, aku sudah terlanjur mengiriminya pesan.
Nihil.
Ternyata, pesan yang aku kirim tak juga centang biru. Namun masih centang dua berwarna abu.
Hatiku resah dan gelisah. Takut sesuatu membuat dia marah dan berbuat yang tidak-tidak.
Malam ini aku tak bisa tidur menunggu balasan pesan dari Mas Dani yang belum juga centang dua. Kekhawatiranku bertambah ketika aku mencoba memanggilnya lewat nomor panggilan biasa.
Mas Dani tak mengangkat panggilanku.
Aku makin syok. Aku makin takut sesuatu terjadi padanya.
Rasa malu sudah hilang. Kini berubah menjadi rasa cemas dan khawatir. Maka dari itu, aku terus mencoba memanggil Mas Dani berulang kali, karena nomornya masih aktif. Namun nihil, tak ada jawaban sama sekali.
Aku makin cemas tak beraturan.
Bagaimana ini?
Aku tahu, Mas Dani pasti sedang terpuruk karena kenyataan yang baru dia ketahui. Aku juga sampai syok berat, apalagi dia.
'Mas, angkat dong teleponnya!'
Bersambung ...

Komentar Buku (99)

  • avatar
    aisaisyahh

    bagus bgt

    30/05/2025

      0
  • avatar
    SepGotho

    gacor

    03/05/2025

      0
  • avatar
    KuanisAnnie

    its great story

    28/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru