Kabur

Aku hanya bisa menelan ludah saat bapak mencoba masuk menghampiriku. Aku benar-benar tidak tahu apa maksud dan tujuannya.
Dia naik ke jendela yang tidak terlalu tinggi itu dan memergokiku yang sedang ketakutan.
Bapak mulai bicara dengan nada yang sangat halus.
"Diandra, kamu boleh keluar dari rumah ini. Asalkan kamu menuruti kemauan Bapak."
Teg!
Apa maksudnya.
Aku jadi makin takut.
"Apa mau Bapak?" tanyaku sambil menahan rasa takut. Berharap bapak benar-benar ingin mengeluarkanku dari rumah ini.
Bapak makin mendekat ke arahku.
Aku tak yakin kalau ia akan memiliki itikad baik. Pandangannya sudah berbicara.
"Kamu harus melayaniku malam ini. Setelah itu, kamu boleh pergi kemanapun."
Teg! Keningku melipat mendengar ucapannya.
Orang tua gil*!
Jelas kalimat yang keluar dari mulutnya membuatku sangat ketakutan. Aku jijik dan geram mendengar kalimat itu keluar dari lelaki bau tanah.
Dadaku naik turun.
Nafas ini benar-benar ngos-ngosan.
Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan?
Jangan sampai mertuaku berhasil menyentuhku dengan kegilaannya.
"Bapak jangan macam-macam. Saya menantu Bapak!" ucapku gemetar. Mencoba membuatnya sadar akan apa yang ia ucapkan.
Bapak malah makin mendekat seperti ingin menangkap seekor tikus.
"Kamu jangan sok jual mahal. Kamu turuti saja inginku. Dan kamu bisa keluar dengan selamat. Ya?" katanya lagi.
Cwuih!
Lingkungan apa ini? Bisa-bisanya bapak merendahkanku terang-terangan.
Kepalaku menggeleng-geleng.
Tapi aku harus berfikir bagaimana caranya aku segera keluar dari kamar tanpa disentuh oleh bapak.
Aku menelan ludah melihat ekspresi bapak yang makin membuatku geram dan jijik.
Bapak malah menyeringai seperti orang saki* jiwa.
Mata ini tak berhenti mencari sesuatu yang dapat melumpuhkan pergerakannya.
"Ayolah Diandra, Bapak tahu kalau kamu merasa kesepian. Ayo, mumpung suami kamu tidak ada," tuturnya sembari terus melangkahkan kaki dengan pelan.
"Astaghfirullah, istighfar, Pak. Bapak tidak pantas berkata seperti itu."
Aku benar-benar tak habis fikir dengan keluarga ini.
Semuanya sama-sama menakutkan. Mereka benar-benar keluarga sak*t.
Bisa-bisanya aku masuk dan terjerumus untuk ada di lingkungan keluarga mas Dani yang ... Arkh!
Bapak makin mendekat. Pandangannya seperti sesosok singa yang ingin menerkam mangsanya.
Ya Tuhan ...
Langkah kaki bapak makin melaju perlahan. Begitupun dengan langkah kakiku. Yang makin mundur hendak meraih sesuatu yang bisa membuat bapak tak bisa lagi bertingkah.
Aku telah melihat sebuah vas bunga dari tanah liat, dan juga sebuah gagang lampu yang semoga saja bisa melumpuhkan bapak.
Ya Tuhan ... tolong hamba-Mu ini!
Dona masih tertidur lelap, karena ia baru saja tidur. Nampaknya Dona tertidur dengan nyenyak. Kalau dia terbangun pasti dia sangat ketakutan.
Bapak makin menggila saja.
Dia berusaha menikamku.
"Tolong! Lepaskan aku, Pak!"
Aku berteriak sekuat tenaga.
Tak disangka.
Bapak melancarkan niatnya dengan mencoba menyentuhku. Aku terus berusaha memberontak sembari menendang perutnya.
Namun tak lama kemudian.
Seseorang datang dan membuka pintu kamar dengan cepat.
Bapak masih mencoba berusaha menggapai dan berniat ingin menodaiku.
Bapak menoleh ke arah pintu masuk.
Tangan ini mulai bisa bergerak.
Segera kuraih vas bunga.
Prak!
"Awkh!" Bapak merintih.
Telah kulandaskan vas bunga yang lumayan bisa membuat kepalanya memar.
Aku makin ketakutan.
"Bapak!" teriak mas Dani saat ia masuk ke kamar dan menghampiriku yang sedang ingin dicumbu paksa oleh bapak.
Mas Dani melotot dan segera meraih tubuh bapak dengan kepala yang sudah memar oleh pecahan vas bunga tadi.
Ini adalah kesempatan untuk kabur.
Mas Dani membawa bapak dan bersitegang dengannya. Nampaknya mas Dani membawa bapak ke luar kamar.
Mereka nampak berseteru.
Pasti dia tak habis fikir dengan apa yang dilakukan bapaknya. Akh, mereka sama-sama sudah tidak war*s!
Aku benar-benar mempunyai kesempatan.
Aku segera membawa Dona yang masih terlelap kabur melewati jendela pendek yang telah bapak buka tadi.
Nafasku ngos-ngosan dan terus mencoba kabur melewati jendela yang tidak terlalu tinggi itu.
Walaupun ada beberapa paku yang bisa saja membuatku terluka di telapak kaki, aku langsung melompat perlahan.
Aku dan Dona akhirnya bisa keluar dari kamar.
Aku sangat lega sekali.
Dona nampak terbangun. Tapi aku berusaha menenangkannya supaya ia tak menangis.
Aku segera lari sekuat tenaga menuju arah jalan raya.
Nampaknya malam sudah semakin larut, namun pasti masih banyak mobil yang melintas di jalan.
Untuk menuju jalan raya aku harus menempuh jarak yang lumayan. Berkisar puluhan meter.
Aku tetap berusaha berlari mumpung mas Dani belum menyadari kalau aku sudah pergi.
Dia pasti sedang berkelahi dengan bapak kandungnya yang sama beja* seperti dirinya.
Aku benar-benar tidak pernah bermimpi untuk hadir di tengah-tengah keluarga seperti mereka.
Aku masih tetap berlari dan menenangkan Dona.
Namun, saat langkahku berhenti sebentar karena kecapean, suara seorang laki-laki teriak memanggil namaku dari arah belakang.
Hah!
Sia*.
Itu suara mas Dani.
Aku lari kembali dengan cepat untuk segera sampai di jalan raya. Berharap ada seseorang yang bisa menolongku dan membawaku untuk sekedar menumpang.
Aku benar-benar kalap dan ketakutan. Aku menangis sambil berteriak meminta tolong.
Nafas ini ngos-ngosan sambil berlari tanpa mengenakan sandal, sandal tipis sekalipun.
Walaupun kaki terasa sakit namun aku terus berusaha lari dan kabur dari mas Dani.
Aku semakin takut kalau ia akan menyakiti Dona seperti apa yang ia katakan.
"Diandra, tunggu!"
Teriakannya makin dekat. Dia pasti marah sekali melihatku yang telah berani kabur tanpa sepengetahuan darinya.
Kalau aku ijin juga itu namanya bukan kabur.
Langkah lariku makin kencang. Namun nampaknya mas Dani lari lebih cepat dariku.
Nafasku sesak dan ngos-ngosan. Tapi aku tidak akan menyerah.
Dona malah menangis ketakutan. Namun aku terua berusaha menenangkan buah hati kecilku itu.
Aku makin lari terbirit-birit ketakutan.
Akhirnya aku sampai di jalan raya.
Aku mencegat mobil-mobil yang lewat sembari melambai-lambaikan tangan.
Belum ada mobil yang berhenti.
Mas Dani semakin mendekat karena ia lari begitu cepat.
Dadaku naik turun dengan nafas yang ngos-ngosan.
Tanganku masih melambai-lambai meminta pertolongan.
Akhirnya, tidt ...!
Klakson mobil berbunyi bermaksud supaya aku menyingkir.
Namun aku berusaha terus meminta tolong pada si supir yang membawa mobil itu.
Mobil itu kuhalangi oleh tubuh gemetar dan capek ini.
Dia pun keluar.
"Mbak, Mbak ke---?"
Dia bertanya dengan nada kebingungan. Namun tak bisa lagi aku menunggu. Kalimatnya segera ku potong.
"Tolong saya, orang itu mengejar untuk menyakiti anak saya!"
Aku makin ketakutan karena mas Dani makin mendekat saja.
Dengan gemetar dan ngos-ngosan, akhirnya orang itu segera membawaku masuk dan naik ke mobilnya.
Dia memapahku dan membukakan pintu mobil.
Mas Dani telah sampai saat itu juga. Namun aku sudah masuk di dalam mobil.
Dia menepuk dan menggedor-gedor pintu mobil yang sudah mulai berjalan.
Berteriak memanggil-manggil namaku dengan lantang.
Aku mulai lega. Setidaknya dia sudah tidak bisa menggapaiku.
Alhamdulillah ...
Nafasku bisa berhembus dengan lapang.
Aku sudah berada di dalam mobil seorang lelaki yang tak kukenal.
Air mataku keluar dengan lega sembari menciumi kening Dona. Tangis haru yang keluar karena aku benar-benar sudah terbebas dari mas Dani dan keluarganya yang sak*t itu.
Nafasku masih ngos-ngosan. Namun sekarang aku sudah berada jauh dari mas Dani. Jadi ia sudah tak lagi bisa menyakiti Dona.
Aku belum mengenal sosok laki-laki kira-kira usianya lebih lima tahunan dariku itu.
Dia telah menolongku.
"Mbak kenapa? Laki-laki tadi siapa?" kata laki-laki yang telah menolongku.
Dia menyetir mobil dalam keadaan heran dan bingung melihatku.
Aku belum bisa menjawab karena masih syok dengan suasana tadi.
"Baiklah, Mbak tenang dulu. Kalau Mbak masih syok Mbak diam saja. Kalau Mbak haus ada air minum di samping Mbak. Lebih baik Mbak minum dulu supaya lebih tenang," begitu katanya.
Aku benar-benar masih belum bisa bicara.
Benar-benar syok.
Aku tak tahu satu mobil dengan siapa, apakah lelaki itu jahat atau tidak aku belum tahu.
Yang penting sekarang aku sudah berada jauh dari mas Dani.
Aku benar-benar lega sekali.
Bagaimanapun juga aku harus meminta maaf dan berterima kasih pada pria yang sudah menolongku itu.
Mulutku mulai bersuara.
"Terima kasih ya, Mas. Maaf kalau saya sudah bikin Mas repot. Saya benar-benar ketakutan sekali," ujarku demikian masih penuh rasa takut.
Tapi pria itu nampaknya orang baik.
Ah entahlah, biar itu jadi urusan nanti. Toh aku hanya numpang di mobilnya sebentar.
Dia menjawab ucapan terima kasihku dengan anggukan dan senyuman saja.
bersambung...

Komentar Buku (99)

  • avatar
    aisaisyahh

    bagus bgt

    30/05/2025

      0
  • avatar
    SepGotho

    gacor

    03/05/2025

      0
  • avatar
    KuanisAnnie

    its great story

    28/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru